10.2.10

Cerita Rasulullah saw : Nilai sedeqah


Rasulullah SAW dalam hadist-nya juga telah memberikan kita kisah teladan tentang sedeqah yang diterima


Rasulullah SAW bersabda:

“Dahulu ada seorang lelaki yang bernazar. “Sungguh aku akan bersedeqah dengan suatu sedeqah”. Kemudian ia keluar dari rumah membawa sesuatu dan menyerahkannya ke tangan seorang pencuri. Melihat hal itu orang-orang pun mencemuh perbuatnnya. Mereka berkata sinis. “Malam ini engkau bersedekah kepada pencuri”. Sungguh aku akan bersedekah dengan yang lain.


Kemudian ia keluar dari rumah membawa sedekahnya dan menyerahkannya ke tangan seorang kaya. Maka orang-orang pun menyalahkan perbuatannya. Mereka berkata ” malam ini engkau bersedekah kepada seorang kaya”. Lelaki itu berkata dengan tenang “Ya Allah segala puji bagi-MU, kerana aku telah bersedekah kepada seorang pencuri, perempuan pelacur, dan orang yang berpunya”.


Pada malam hari, lelaki itu bermimpi mendengar suara mengatakan. “Adapun sedekahmu pada si pencuri, maka mudah-mudahan sedekahmu dapat menjauhkanmu dari perbuatan mencuri. Sedangkan sedekahmu kepada si pelacur, mudah-mudahan menjauhkanmu dari perbuatan zina. Sedekahmu kepada seorang kaya, mudah-mudahan orang itu dapat mengambil pelajaran dari sedekahmu, sehingga ia mau menafkahkan harta yang dianugrahkan Allah SWT kepada orang lain”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


9.2.10

Misteri Tindihan

Masyarakat kita mengenal tindihan sebagai kondisi seseorang saat sedang tidur atau baru terlelap, tiba-tiba merasa seperti tertindih sesuatu yang sangat berat, leher seperti dicekik, dada sesak, sulit untuk bergerak maupun berteriak. KeKadang disertai sedikit rasa dingin atau panas yang menjalar ke seluruh tubuh.

Fenomena ini kerap dikaitkan dengan mistik. Sebab terkadang disertai halusinasi seperti melihat sosok di sekitar tempat tidur, dan ia berlaku dalam beberapa minit Bentuk halusinasi yang muncul seolah menyerupai sesaorang sahabat, keluarga yang telah meninggal, bayangan hitam, atau hantu, tergantung latar belakang kebudayaannya.

Di Barat, fenomena ini disebut tidur lumpuh atau mimpi buruk inkubus atau old hag berdasarkan bentuk bayangan yang muncul. Ada pula yang melaporkan melihat agen rahasia asing atau alien. Pada banyak lukisan abad pertengahan dapat kita lihat gambar roh jahat menduduki dada seorang perempuan, sehingga ia dalam ketakutannya merasa sulit bernapas.

Secara ilmiah, misteri tindihan ini dikenal dengan istilah “Isolated Sleep Paralysis” (ISP). Ramai yang beranggapan ISP adalah sejenis halusinasi


Tahap tidur

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT, seorang " sleep technologist " dari Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran, menjelaskan bahwa tidur terbahagi kepada 4 tahap berdasarkan gelombang otak, iaitu tahap N1, N2, N3, dan R.

Tahap N1 adalah tahap tidur paling ringan (masih setengah sadar). tahap N2 merupakan tahap tidur yang lebih dalam sedangkan N3 paling dalam. R adalah REM, pada tahap ini mimpi terjadi. Urutan tidur biasanya dimulai dari N1-N2-N3-kembali ke N2-R-kembali ke N2-N3-kembali ke N2-R-kembali ke N2-N3 dan seterusnya.

Gelombang otak mimpi mempunyai frekuensi mirip gelombang otak sadar. Ini menjelaskan kenapa kita merasa berada dalam alam kesadaran lain ketika bermimpi.

Kebiasaannya misteri sering terjadi pada orang yang kurang tidur, kelelahan, stres, dan cemas berlebihan. Saat tubuh terlalu lelah atau kurang tidur, gelombang otak tidak mengikuti tahapan tidur yang seharusnya. Dari keadaan sadar (saat hendak tidur) ke tahap tidur paling ringan, lalu langsung melompat ke mimpi (REM). Ketika otak mendadak terbangun dari tahap REM tapi tubuh belum, di sinilah sleep paralysis terjadi.

Kita merasa sadar, tapi tubuh tak bisa bergerak. Ditambah lagi adanya halusinasi muncul sosok lain yang sebenarnya merupakan ciri khas dari mimpi. Rasa sesak dan seperti dicekik muncul karena dalam tahap REM terjadi ketidaksinkronan antara lalu lintas udara dalam sistem pernafasan dengan tingkat kesadaran seseorang.


Penyebab misteri ini terjadi

Sleep paralysis juga disebabkan stres dan beban perasaan yang terbawa ke dalam mimpi. Rasa takut yang sering divisualisasikan dengan keberadaan mahluk lain, juga diduga karena sedang berusaha mengindentifikasikan rasa takut dan teror yang disimpannya dalam kehidupan nyata.

Mereka yang sering mengalami tekanan psikis dan fisik akan lebih banyak mengalami sleep paralysis. Kondisi geologis dan lingkungan kerja juga dapat mempengaruhi. Misalnya mereka yang bekerja dalam shift sehingga kekurangan tidur atau memiliki pola tidur yang tidak teratur. Beberapa penelitian bahkan menemukan, perasaan positif yang sangat kuat, seperti jatuh cinta atau setelah melakukan hubungan seks, dapat pula menyebabkan sleep paralysis.

Misteri tindihan ini juga sering terjadi pada orang yang tidur dengan posisi terlentang, wajah menghadap ke atas. Sleep paralysis bisa muncul pada penderita sleep apnea (mendengkur) karena selalu berada dalam kondisi kurang tidur akibat napas yang terganggu.

Saat ini penelitian juga diarahkan pada pengaruh keadaan geomagnetik dan/atau keadaan geologis terhadap fenomena sleep paralysis. Para peneliti mengemukakan teori, bahwa orang-orang yang tinggal di kawasan yang secara geologis aktif, seperti di daerah sekitar Samudera Pasifik (dikenal sebagai Ring of Fire), lebih sering mengalami sleep paralysis.



Pencegahan dan Cara Mengatasi

Sleep paralysis patut diwaspadai karena boleh jadi merupakan gejala penyakit, seperti narcolepsy (serangan tidur mendadak tanpa tanda-tanda mengantuk), depresi, atau bahkan schizophrenia.

Sleep paralysis kemungkinan ditimbulkan juga oleh aliran darah yang tersumbat sehingga otak dan tubuh tidak lancar terhubung. Akibatnya ketika otak terbangun namun tubuh tidak dapat bergerak karena ada bagian otak yang masih memerintahkan bahwa tubuh sedang tidur. Penyumbatan aliran darah tersebut bisa berbahaya jika dibiarkan terus menerus.


Berikut adalah cadangan bagi mencegah dan menangani Misteri ini

1. Hindari Stres

Stres diduga penyebab terbesar sleep paralysis. Mulailah hidup sehat secara fisik maupun psikis. Jangan merokok, minum alkohol/kafein, dan makan terlalu banyak. Cukupi keb keperluan tidur dan istirahat.

Tenangkan fikiran sebelum tidur. Kunci pintu, jendela, dan padamkan api sebelum tidur. Rasulullah saw bersabda: “Padamkan api sebelum tidur, tutup pintu, bejana, akanan dan minuman” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hindari tidur dengan atap terbuka. “Barangsiapa tidur malam pada rumah yang tak ada atap penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya” (HR. Bukhari dalam Adab Al Mufrad).

Jangan lupa membersihkan ranjang. “Jika kalian akan tidur, maka kibaskan kain tempat tidurnya terlebih dulu, karena ia tidak tahu apa yang ada di atasnya …” dalam riwayat lain, “tiga kali” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berwudhu sebelum tidur sangat membantu menyegarkan tubuh dan pikiran. Sebelum saat berbaring dan terlelap tenangkan fikiran dan muhasabah (evaluasi diri), membaca doa, zikir, ayat Kursi, dua ayat terakhir Al Baqarah, Surah Al Ikhlas, Al Falaq dan An Naas.

Jika bangun mendadak disarankan berdoalah : “A’udzu bikalimatillahit tammati min ghodobihi wa syarro i’baadihi wamin hamazaatisy syayaatiin wa ayyahdurun” (HR. Abu Dawud, dihasankan Al Albani).

Jika mimpi buruk maka meludahlah ke kiri tiga kali, baca ta’awudz Jangan lupa berdoa dan bersyukur saat bangun tidur.


2. Pola Tidur

Buat pola tidur menjadi lebih teratur. Usahakan tidur di waktu awal pada jam yang sama setiap malam, sekitar pukul 8 atau 9 sesudah isya. Aisyah ra: “Rasulullah tidur pada awal malam dan bangun di penghujung malam lalu sholat” (HR. Bukhari dan Muslim).

Posisi tidur terlentang menjadi salah satu penyebab sleep paralysis. Karena itu berbaring miring dapat mengurangi resiko tersebut. Bara’ bin ‘Azib meriwayatkan, Nabi saw bersabda: “Jika kamu akan tidur, berwudhulah seperti akan sholat, kemudian berbaringlah dengan miring sebelah kanan …”. Hindari pula tidur tengkurap (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al Albani).


3. Membuat Gerakan Kecil

Jika mengalami sleep paralysis, beberapa orang menyarankan untuk membuat gerakan mata dengan cepat, agar dapat keluar dari situasi tersebut. Gerakkan hujung kaki, uhjung tangan atau kepala sekencang-kencangnya hingga seluruh tubuh bisa digerakkan kembali. Cara di atas ditambah dengan bernafas sedalam mungkin, tarik napas sedalam mungkin dan keluarkan secara teratur. Begitu anggota tubuh mulai dapat bergerak maka segera bangun dan tenangkan diri.


4. Membuat Gerakan Mental

Kondisi sleep paralysis sering membuat panik dan ketakutan sehingga dapat memunculkan alam bawah sadar tentang ketakutan kita sendiri sehingga terkadang terbayang adanya makhluk halus.

Mulut kelu dan susah bergerak ketika sleep paralysis bukanlah pergerakan fisik yang sebenarnya, melainkan gerakan mental. Para ahli menganjurkan untuk terus berusaha “melawan” dan menggerakkan anggota tubuh melalui kekuatan fikiran

Bertenang dan berpikir positif. Sikap yang tenang akan meminimalkan munculnya ketakutan dan bayangan-bayangan yang buruk. Lakukan gerakan-gerakan kecil seperti yang disampaikan sebelumnya dengan ditopang pergerakan mental. Gerakan mental ini menjadi efektif dengan lantunan zikir yang teratur.

5. Pengobatan Medis

Jika terlalu sering mengalami sleep paralysis, maka selain cara-cara di atas, evaluasi diri pun harus dilakukan. Buat catatan mengenai pola tidur dan susun daftar masalah-masalah yang menyita pikiran. Ini membantu untuk mengetahui faktor pemicu sleep paralysis, sehingga gangguan tidur tersebut dapat diatasi dengan menghindari faktor pemicunya.

Ketenangan mental dan pikiran merupakan faktor utama mengatasi sleep paralysis. Hilangkan rasa was-was, takut dan ketergantungan terhadap makhluk, khusyukkan hati melalui ibadah dan zikir, serta perkuat akidah dengan rutin mengikuti kajian yang membersihkan hati dan mengisi ilmu.


Perempuan Dunia yang Masuk Surga Lebih Mulia daripada Bidadari


Sifat dan keindahan bidadari surga sama ibarat perempuan-perempuan solehah yang memasuki surga.


Firman Allah swt : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waaqi’ah: 35-37).

Ibnu Abbas berkata, “Wanita-wanita yang dimaksud adalah wanita-wanita dunia yang (diantaranya ada yang) tua dan beruban.”

Qatadah dan Sa’id bin Jubair berkata, “Mereka diciptakan sebagai makhluk baru yang belum pernah ada sebelumnya”.

Tafsir ini diperkuat hadits Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Wanita-wanita surga adalah wanita-wanita kalian yang dulunya sudah kabur penglihatannya dan kotor bulu alisnya” (HR. Ats Tsauri).


Apabila perempuan masuk surga, maka Allah swt akan mengembalikan usia muda dan kegadisannya.

Seorang wanita tua datang kepada Nabi Muhammad saw meminta didoakan agar masuk surga. Nabi menjawabnya dengan sedikit bergurau: “Sesungguhnya tidak ada wanita tua yang masuk surga.”

Kemudian terdengar wanita tua itu menangis, lantas beliau saw bersabda, “Beritahu wanita itu, bahwa dia tidak akan memasuki surga dalam keadaan tua. Saat itu adalah hari muda.” Lalu beliau saw membacakan Al Waaqi’ah: 35-37. (HR. At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, dan Ath-Thabrani).


Perempuan dunia yang masuk surga lebih mulia daripada para bidadari.

Ibnu Katsir saat membahas surat Al Waaqi’ah mengangkat hadits dari Abul Qasim ath Thabrani yang meriwayatkan bahwa Ummu Salamah berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Terangkan padaku tentang firman Allah: uruban atrooban.’

Rasulullah saw menjawab, ‘Mereka adalah perempuan-perempuan dunia, meskipun ketika wafat dalam keadaan tua renta, namun Allah swt menjadikan mereka perawan-perawan yang lemah lembut, muda dan sebaya, serta besar rasa cintanya.’

Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapa yang lebih utama antara perempuan dunia dan bidadari surga?’

Rasulullah saw menjawab, ‘perempuan-perempuan dunia (yang beriman) lebih utama dari bidadari surga seperti keutamaan yang tampak dari yang tidak tampak, hal itu karena ibadah dan ketaatan mereka di dunia, Alloh swt akan mengenakan cahaya pada mereka, mereka kekal dan dalam keridhaan.’

Tiada Bidadara bagi Perempuan Penghuni Surga?

Al Quran banyak memberi kabar gembira bagi kaum lelaki dengan balasan bidadari, sementara tidak disebutkan bidadara bagi kaum wanita.

(Lihat Tafsir Ibnu Katsir dalam pembahasan surat Al-Waqi’aah)


Ustazah : ^_^ ........ tak apa kalau tiada bidadara, coz wanita dunia lebih dimuliakan dari bidadari kerana Sifat serta keindahan bidadari surga akan melekat pula pada perempuan-perempuan solehah yang memasuki surga, persoalannya layakkah kita menjadi wanita solehah?

8.2.10

SOLAT - sujud diatas kain


Sujud di atas kain, baju atau sebagainya


Walaupun diperintah agar sujud dengan tujuh anggota, namun dibolehkan mengalas dahi atau tangan jika ada sebab dan keuzuran. Sebagaimana keterangan dari hadis Rasulullah sallallhu ‘alaihi wa-sallam:

“Dari Anas Radiallahu ‘anhu berkata: Kami pernah melakukan solat bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam pada hari yang sangat panas. Ketika salah seorang antara kami tidak sanggup meletakkan dahinya di atas bumi, maka dia membentangkan pakaiannya dan sujud di atas pakaiannya”.
(Hadith Bukhari 385, 542 dan 1208)



7.2.10

Kisah Nabi Musa ingin melihat Allah

Al-A’raf [143]

Dan ketika Nabi Musa datang pada waktu yang Kami telah tentukan itu dan Tuhannya berkata-kata dengannya, maka Nabi Musa (merayu dengan) berkata: Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah kepadaku (ZatMu Yang Maha Suci) supaya aku dapat melihatMu.


Allah berfirman: Engkau tidak sekali-kali akan sanggup melihatKu, tetapi pandanglah ke gunung itu, maka kalau dia tetap berada di tempatnya, nescaya engkau akan dapat melihatKu.


Setelah Tuhannya “Tajalla” (menzahirkan kebesaranNya) kepada gunung itu, (maka) “TajalliNya” menjadikan gunung itu hancur lebur dan Nabi Musa pun jatuh pengsan. Setelah dia sedar semula, berkatalah dia: Maha Suci Engkau (wahai Tuhanku), aku bertaubat kepadaMu dan akulah orang yang awal pertama beriman (pada zamanku


6.2.10

Velentine day



SEJARAH VALENTINE:


Ada beberapa pandangan dari beberapa cerita berkaitan Velentine :-

1. Valentine merujuk kepada seorang paderi yang kerana kesalahan dan bersifat 'dermawan' maka dia diberi gelaran Saint. Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi pada waktu itu iaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.


2. Dikatakan juga 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno. Ia adalah ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan 'Feast of Lupercalia.'


3. Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani(Kristian), pesta 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.


4. Ada satu pandangan lagi yang berkaitan. "VALENTINE" adalah nama seorang paderi. Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Sepanyol. Paderi ini umumkan atau isytiharkan hari tersebut sebagai hari 'kasih sayang' kerana pada nya Islam adalah ZALIM!!!


Kalau benarlah ceritanya begini maka Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga kita Semua berfikir!!! mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini kerana hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Spanyol.



PANDANGAN ISLAM

Sebagai seorang muslim tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam ?

kita renungkan firman Allah s.w.t.: “ Dan janganlah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36)

Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.

Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.



KENAPA ISLAM MENGHARAMKAN VELENTINE DAY


1. PRINSIP / DASAR VELENTINE DAY

Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.


2. SUMBER ASASI VELENTINE DAY


Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.

Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.

Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.


3. TUJUAN VELENTINE DAY

Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.



4. PERAYAAN VELENTINE DAY

Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.
Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)

Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “…walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.


KESIMPULAN

walau apa pun cerita disebalik velentine day dan walau Apapun alasannya, kita tidak dapat menerima kebudayaan import dari luar yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan (akidah) kita. Janganlah kita mengotori akidah kita dengan dalih toleransi dan setia kawan. Kerana kalau dikata toleransi, Islamlah yang paling toleransi di dunia.

Keliru antara sunat, sunnah dan hadith


di Malaysia selalu digunakan ayat " itu hukumnya sunat "
dan " itu sunnah Rasulullah"


Ada yang keliru dengan tafsiran sunat dan sunnah, dan sukar membezakannya sehingga ada yang beranggapan tidak mengapa meninggalkan pesanan dari hadith Rasulullah saw kerana itu cuma hukumnya sunat.


Sedikit info berkaitan Perbezaan antara sunat dengan sunnah.

Sunat :

Sunat Termasuk dalam kategori hukum menurut syarak islamiah iaitu : wajib, haram, sunat makruh dan harus.

Sunat ialah sesuatu yang dituntut drpd seorang supaya melakukannya, tetapi tuntutan itu tidaklah mesti dilakukan, walaubagaimanapun jika kita melakukan nya akan di beri pahala dan tidak berdosa jika meninggalkannya


Sunnah:

Sunnah merupakan sumber kedua perundangan Islam selepas al-Quran. Sunnah di sini bermaksud : Sesuatu yang lahir dari Rasulullah s.a.w., samada perkataan, perbuatan dan pengakuan.

Sunnah yang mengandungi sabdaan, perbuatan dan taqrir/pengakuan dari Rasulullah s.a.w. yang memberi petunjuk Hukum, adalah dari wahyu Allah Taala, bukan dari hawa nafsu baginda.

Kenapa Kita ambil sunnah, mengapa ia dimasukkan di bawah kata `khitab Allah'? Kerana pada hakikatnya sunnah/sabda Rasulullah s.a.w. itu kembali kepada Allah Taala. Sekalipun lahirnya dari Rasulullah s.a.w. tetapi ia diperolehi melalui jalan wahyu.

Berpegang kepada al-Quran ialah mengambilnya sebagai sumber hukum. Begitu juga dengan sunnah, apabila dikatakan berpegang kepada sunnah Rasulullah s.a.w. bermaksud mengambilnya sebagai sumber hukum.

Kedudukan sunat dalam sunnah

Sunat adalah sebahagian kecil dari maksud sunnah dalam ertikata ia sebagai salah satu dari sumber hukum Islam. Tetapi sekarang ini sebahagian dari umat Islam di negara kita bersungguh-sungguh di dalam mengamalkan sunah yang bermaksud sunat dan dalam masa yang sama mereka terlupa untuk memperjuangkannya sebagai salah satu dari sumber hukum Islam.


Kedudukan hadith dalam sunnah

Hadith terbit dari perilaku Rasulullah saw samaada sebutan, perbuatan atau keizinannya kemudian telah diceritakan oleh orang lain. Maknanya Hadis ialah himpunan pengisahan dan keizinan.

Hadis-hadis dikelaskan mengikut statusnya berhubungan dengan teks (matan) dan rentetan penyampainya atau perawi ( orang yang menceritakan atau pun isnad. )

Cendekiawan-cendekiawan Hadis telah mengaji Sunnah, baik dari segi konteks (matn) mahupun dari segi penyampainya untuk menentukan apa yang benar dan apa yang palsu dalam hadis-hadis itu.

Melalui penyelidikan tentang para penyampai Hadis (isnad), cendekiawan-cendekiawan Hadis telah mencipta sebuah sistem untuk mengetahui kategori-kategori Hadis yang berbeza, serta bagaimana menilai teksnya (matan) supaya dapat menentukan adakah teks itu betul, baik, lemah, atau palsu.


KESIMPULAN

Pendapat yang salah jika beranggapan bahawa dengan memahami bahawa mengamalkan sunnah dalam ertikata menunaikan hukum sunat yakni, melakukannya dapat pahala meninggalkannya tidak berdosa. Apatah lagi lebihlah salahnya jika beranggapan hukumnya cuma sunat jika meninggalkan pesanan dari hadith Rasulullah saw

Hadith -AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

Abu Umamah r.a., berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."

Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?"

Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"
Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."

Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.

Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"

Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."

Hadith : Malaikat tak masuk rumah yang ada anjing

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian dengan Jibril bahwa Jibril akan datang.

Ketika waktu pertemuan itu tiba, ternyata Jibril tidak datang. Sambil melepaskan tongkat yang dipegangnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Allah tidak mungkin mengingkari janjinya, tetapi mengapa Jibril belum datang ?"

Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menoleh, ternyata beliau melihat seekor anak anjing di bawah tempat tidur. "Kapan anjing ini masuk ?" tanya beliau.

Aku (Aisyah) menyahut : "Entahlah".

Setelah anjing itu dikeluarkan, masuklah malaikat Jibril. "Mengapa engkau terlambat ? tanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada Jibril.

Jibril menjawab: "Karena tadi di rumahmu ada anjing. Ketahuilah, kami tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan gambar (patung)."
( Hadits riwayat Muslim )

5.2.10

velentine day in Islam





buat sahabat2 sekalian

In Islam every day ialah hari hari " velentine day"
itu pun kalau V-Dy itu ditafsirkan sebagai hari menyambung silaturahim dalam ertikata hablum minnannas )

Ya lah, setuju sekali
kata kan tidak.... say no the
February 14's Valentine's Day
say noo say nnooo nooo.. (no no no 10000000000000000000000000000000000000000000000000000000000000 X )


Sahabat2 ku,

my special date untuk bersilaturahim is every day
( kecualikan 14 Febuari )

why??...

thanks to Allah..
becoz of His Greatest Bless and Kindness...
He send me to dis World...
to have you all my frens..hehe
to see your all my frens!!....
to know all of you!!..
to have a relationship wif you all in the name of "ukhuwah fillah"
mengeratkan silaturahim... saling berbagi
hebatnya khazanah ilmu ini..
..very..very.. Alhamdulillah....

InsyaAllah...

we want to be full and real servant of Allah...
thats the main pointz Allah send kita here...



apa yang anda fikirkan semasa solat?

ALAM JIN


Alam ini selain dihuni oleh manusia, ia juga dihuni oleh makhluk ghaib yang bernama jin. Alam kedua-dua makhluk ini letaknya sangat berdekatan bahkan boleh dikatakan letaknya saling bertindih (Cuma dimensinya sahaja yang berbeza. Dan ada antaranya hidup berkeliaran dengan manusia di rumah-rumah, menyerupai kucing dan ular).


Sesuatu tempat itu, mungkin tempat kediaman jin ataupun mungkin perkampungannya. Sebab itu bila berada di tempat yang kita belum kenal keadaanya, janganlah bertindak sebarangan atau bercakap besar dan takbur. Ini kerana selain dosa takbur dan belagak, takut nanti perlakuan kita itu sacara tidak sengaja akan menganggu ketenteraman jin dan menjadikan ia marah. Harus diingat, jika sesama manusia pun mungkin akan melukakan hati jika kita berlagak dan takbur, begitu juga dengan jin. Mereka juga ada kehidupan dan ada pelbagai perangai sama ada baik atau jahat.


Kebanyakan manusia walaupun percaya adanya makhluk ini disekelilingnya, tapi kerana tidak nampak, maka mereka mudah terkena tipuan dan godaannya. Dengan ini patutlah kita sedari, bahawa syaitan itu selalu mengintip manusia bagi mencelakakan serta membinasakan anak adam. Sesungguhnya, jin adalah makhluk yang juga mempunyai akal seperti manusia. Ia tidak dapat kita lihat dalam bentuk aslinya. Manusia hanya dapat melihatnya apabila mereka menjelma dalam bentuk berjirim.


Menurut kejadiannya, jin ini merupakan makhluk yang perkasa yang boleh menunduk dan mengalahkan manusia. Namun mereka dengan izin Allah s.w.t tidak mempunyai ruang untuk menyambar manusia kerana Allah s.w.t menjadikan bagi manusia (yang sentiasa mengingatiNya) malaikat-malaikat penjaga yang lebih gagah lagi daripada jin. Dan dengan dua orang malaikat yang sentiasa berada disampingnya, manusia dengan izin Allah s.w.t dapat mengalahkan jin dengan mudah. Jika Allah s.w.t berkehendakkan sesuatu perkara terjadi atau bagi menyempurnakan Qadha atau Qadarnya maka akan berengganglah (menjauhkan) malaikat itu daripada manusia. Pada ketika itulah dikala manusia lalai, maka jin berpeluang untuk menundukkan manusia.


Sesungguhnya tubuh jin dan manusia itu terbina daripada bahan yang boleh musnah, maka terjadinya kemusnahan dan kematian itu, turut sama dialami oleh kedua-dua makhluk ini kecuali iblis yang dilaknat. Kerana dijanjikan Allah s.w.t akan kematiannya sebelum sangkakala yang pertama ditiupkan.


Kewujudan Jin dan Iblis


Orang-orang arab zaman jahiliah mempercayai kewujudan makhluk-makhluk ini dan kemudiannya diperkuatkan lagi bila datangnya agama Hanif (pengikut agama tauhid), walaupun begitu terdapat satu golongan daripada puak muktazilah yang mengingkarinya. Islam mengwajibkan pengikutnya beriman akan adanya jin. Orang yang mengingkari kewujudan jin dianggap kafir, sebabnya ianya telah menolak sebahagian isi kandungan Al-Quran.


Allah s.w.t telah mencipta jin sebelum Adam a.s dijadikan, dimana dikalangan mereka yang disebut ‘al-Bun’ telah terlebih dahulu mendiami bumi. Tetapi makhluk al-bun ini telah melakukan kerosakkan di muka bumi sehinggalah Allah memerintahkan malaikat yang diketuai oleh iblis memerangi mereka. Mana-mana yang tidak mati dalam peperangan diusir sehingga mereka lari dan tinggal di dalam lautan. (Sebab itu terdapat berbagai-bagai penunggu yang mendiami pulau-pulau terpencil di tengah laut)


Dalam Al-Quran, surah yang ke-72 iaitu Al-Jinn (diturunkan Di Mekah), yang mengandungi 28 ayat. Banyak membicarakan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan perkara ini. Jin tidak sama dengan manusia dan tidak pula dengan malaikat (dari segi jisim dan asal kejadian). Namun demikian, jin lebih dekat dengan manusia persamaannya dengan manusia iaitu dari segi akal dan dapat membezakan baik dan buruk sesuatu perkara itu. Mereka juga hidup seperti manusia, makan minum, berkelamin, mempunyai keturunan, berilmu, mempunyai akal, usaha dan ikhtiar. Serta dipertanggungjawabkan untuk beribadat kepada Allah s.w.t (taklif) dan ditegah melakukan kekufuran dan kemaksiatan.



Asal Usul Jin


IBN Abbas r.a meriwayatkan bahawa sesungguhnya di antara langit dan bumi di tengah-tengahnya terdapat lautan api yang tidak berasap dan dikatakan jin dan syaitan diciptakan oleh Allah s.w.t dari bahagian lautan api tersebut. “Dan Allah telah ciptakan Jaann daripada nyalaan api yang sangat panas,”- (Ar-Rahman: 15) ramai yang mentafsirkan kata ‘maarij’ di atas lidah api.


Ibnu Mas’ud telah berkata, “Angin Samuun di dunia ini hanyalah sebahagian daripada 70 bahagian daripada angin yang sangat panas yang daripadanya Allah menjadikan Jaann.” Ada keterangan dalam hadis bahawa angin ini adalah daripada pembakaran neraka jahanam.


Jaann adalah bapa segala jin, sebagaimana Adam ialah bapa sekalian manusia. Manakala syaitan adalah sebahagian daripada jin kafir. Mereka yang menjadi syaitan, lazimnya bersifat ingkar malah tugasnya mendorong atau membawa manusia kepada kerosakkan akidah. Hatinya sudah tertutup untuk mencari jalan kebenaran. Jin yang mukmin tidak dinamakan syaitan. Iblis juga dikatakan dari keturunan jin, walaupun ada sesetengah pendapat yang mempertikaikan dan mengatakan iblis itu asalnya daripada golongan malaikat.


Pendapat ini berdasarkan kepada Ayat Al-Quran surah ‘al-Baqarah’ ayat 34. Ibn Kathir bagaimanapun menolak hujah ini kerana surah ‘Al-Kahf’ ayat 50 lebih jelas menyebut iblis itu dari golongan jin. “Dan apabila kami berkata kepada malaikat, sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis. Ia adalah daripada golongan jin, lalu ia ingkar akan perintah Tuhannya.”


Umur Jin / Syaitan


Umur jin tidaklah dikirakan menurut hari (siang dan malam), tetapi dikira menurut ratusan dan ribuan tahun. Ada di antaranya yang berusia tiga ribu tahun, ada yang empat ribu, lima ribu dan ada yang mencapai enam ribu tahun. Bahkan ada yang hampir dengan umur dunia walaupun sedikit jumlahnya. Akan tetapi dikalangan syaitan ada yang seperti iblis hidup sejak dahulu lagi. Misalnya kelima-lima anak iblis yang sampai hari ini mereka masih lagi hidup.


Makhluk jin termasuk syaitan dipanjangkan umur mereka sehingga bila dagu dan lutut mereka sudah bersentuhan lantaran sangat tua, mereka akan menjadi muda kembali. Biar pun Allah s.w.t memanjangkan umur mereka, namun mereka juga akan mati. Sebagaimana manusia, setelah mati akan kembali menjadi tanah, jin kembali kepada api, kecuali apabila jin-jin ini menjelma kepada tubuh ketanahan (seperti manusia, ular, anjing dan kucing) dan apabila dia dibunuh oleh manusia pada masa itu dalam bentuk jelmaannya, maka ia akan mati dalam bentuk yang dijelmakannya itu.


Tetapi iblis berumur panjang sehingga ke hari kiamat. “Panjangkanlah umurku sampai hari mereka dibangkitkan.” Allah s.w.t menjawab, “Sesungguhnya engkau termasuk di antara mereka yang dipanjangkan umurnya.” – (al-A’raf: 14-15). Sebahagian ahli tafsir berkata, iblis akan dimatikan sebelum tiupan sangkakala pertama lagi. Dalam dunia jin, usia perkahwinan berkisar antara 170 hingga 250 tahun. Usia ini dipandang sebagai usia perkahwinan yang paling baik.


Terdapat hadis yang menyatakan Allah s.w.t telah menjadikan malaikat, jin dan manusia kepada 10 bahagian. Nisbah bilangan manusa hanyalah 1%, bilangan jin 9% manakala malaikat ialah 90%. Rasulullah s.a.w pernah bersabda (maksudnya) “Sesungguhnya Allah mencipta malaikat, jin dan manusia itu 10 bahagian. Kadar keramaian malaikat ialah 9 bahagian, sedangkan jin dan manusia itu hanya 1 bahagian. Kemudian dari satu bahagian itu dipecahkan kepada 10 bahagian kecil. Sembilan bahagian daripadanya adalah bilangan jin, manakala hanya satu bahagian sahaja bilangan manusia.


Berhujah dengan ilmu - sambutan Maulidur Rasul



SEJARAH RINGKAS

Perayaan Maulidur rasul telah diasaskan oleh kerajaan Fatimiah di Mesir. Kerajaan Fatimah telah merayakan perayaan ini secara besar-besaran. Bukan hanya hari kelahiran Rasulullah saw sahaja yang dirayakan, tetapi juga ahli keluarga Nabi saw seperti Zainab, Hassan, Hussain (r.a.). juga dirayakan. Bahkan mereka juga merayakan kelahiran Nabi Isa as.


Walaubagaimanapun, semua perayaan ini telah dihentikan pada tahun 488 atas perintah Perdana Menteri al-Afdal Shahindah pada ketika itu yang berpegang kuat pada sunnah seperti tercatit di dalam buku Al-Kamel, karangan Ibnu Al-Atheer. Masyarakat berhenti merayakannya sehingga Al-Ma’moon Al-Bataa’ni memegang kuasa kerajaan. Beliau telah yang memulakan kembali perayaan yang telah dihentikan sebelum itu.


Apabila Kerajaan al-Ayubbiah merampas kuasa, semua perayaan telah dihentikan. Namun begitu, masyarakat tetap merayakannya dikalangan keluarga mereka di dalam rumah. Pada Abad ke 7, Putera Muzafar Al-Deen Abi Sa’d Kawakbri Ibn Zein Ed-Deen `Ali- Ibn Tabakatikin telah mewartakan perayaan Maulid Nabi di Bandar Irbil. Beliau merupakan seorang sunni. Muzafar mengambil berat akan perayaan ini sehingga memerintahkan agar persediaan seperti mendirikan khemah, menghias khemah dan pelbagai lagi dilaksanakan seawal dan sebaik mungkin. Setiap kali selepas solat Asar, Muzafar akan menyaksikan perayaan ini di dalam khemah yang telah didirikan itu.


Perayaan diadakan pada 8 Rabiulawal dan kadang-kadang 12 Rabiulawal. Sambutannya diisikan dengan pelbagai acara antaranya membaca sejarah Nabi (s.a.w.) sehinggalah kepada menghias binatang ternakan untuk disembelih kemudian diadakan jamuan besar-besaran.


Berkata Ibnu Haajj Abu Abdullah Al-Abdari, perayaan tersebut tersebar luas di seluruh Mesir pada zaman pemerintahan Putera Muzafar ini. Beliau menentang akan perayaan yang diadakan. Banyak buku telah ditulis mengenai perayan Maulidur Rasul ini antara penulisnya ialah Ibn Dahya, meniggal dunia pada 633, Muhy Ed-Deen Ibn Al-`Arabi, meniggal di Damascus pada 683, Ibn Taghrabik, meniggal di Mesir pada 670, dan Ahmad Al-`Azli dan anaknya Muhammad, meniggal di Sebata pada 670.


Oleh kerana amalan bid’ah yang banyak ketika perayaan itu, ulama’ telah berbeza pendapat akan kebolehan merayakan Maulid Nabi ini. Pendapat pertama membolehkan perayaan ini manakala pendapat yang kedua mengatakan sebaliknya. Antara yang membolehkan ialah As-Siyooti, Ibn Hajar Al-`Asqalaani dan Ibn Hajar Al-Haythmi. Walaupun mereka bersetuju dengan perayaan ini, mereka tetap membangkang aturcara ketika Maulid itu(pada zamannya).



HUKUM MAULID - APA PANDANGAN ANDA ?

Seperti yang telah diketahui, perayaan Maulidur Rasul ini merupakan satu perayaan yang kontroversi. Ulama’ berbeza pendapat akan kebolehan perayaan ini. Kita sebagai masyarakat awam tersepit antara dua pendapat. Yang mana perlu kita turuti. Sedangkan kedua-dua belah pihak terdiri daripada ulama’-ulama’ yang hebat dan tidak boleh ditolak lagi akan kewibawaan mereka.

Sebelum kita berhujah, marilah kita isikan diri kita dengan khazanah ilmu anugerah Allah ini..
Di dalam artikel ini, akan dilampirkan kedua-dua belah hujah setakat mana yang mampu dikumpulkan.
Melalui cara ini, kita dapat menilai sendiri yang manakah mempunyai hujah yang kuat. Dan insya Allah, kita akan berada di jalan yang benar.




HUJAH MEMBOLEHKAN MAULIDUR RASUL

Antara ulama’ yang menyokong akan Maulidur Rasul ialah Imam Jalaluddin Sayuti dan Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan.

Telah berkata Imam Jalaluddin Sayuti: "Ibadat macam itu adalah bid'ah Hasanah (bid'ah baik) yang diberi pahala mengerjakannya kerana dalam amal ibadat itu terdapat suasana membesarkan Nabi, melahirkan kesukaan dan kegembiraan atas lahirnya Nabi Muhammad SAW yang mulia".


Dan berkata Sayid Ahmad bin Zaini Dahlan: “Telah berlaku kebiasaan bahawa orang apabila mendengar kisah Nabi dilahirkan, maka ketika Nabi lahir itu mereka berdiri bersama-sama untuk meghormati dan membesarkan Nabi Muhammad saw. Berdiri itu adalah hal yang mustahsan (bai) kerana dasarnya ialah membesarkan Nabi Muhammad saw dan sesungguhnya telah mengerjakan hal serupa itu banyak dari ulama-ulama ikutan umat.”


Berkata pula Syeikh Atiah Saqr: “Saya berpendapat tidak menjadi kesalahan untuk menyambut maulid. Apatah lagi di zaman ini pemuda pemudi Islam semakin lupa dengan agama dan kemuliannya. Perlu juga diingat sambutan tersebut janganlah dicemari oleh perkara-perkara haram dan bid’ah. Seperti pergaulan antara lelaki dan wanita tanpa batas. Kita juga tidak sewajarnya menjadikan sambutan ini sebagai satu tradisi yang khusus, sehingga timbul dalam kefahaman masyarakat jika sesuatu acara tidak dilansungkan maka seseorang itu dikira telah berdosa dan melanggar syariat.”


Syeikh Yusuf Qardawi juga telah memberi komen mengenai maulid ini.
Beliau berkata: “Semua telah sedia maklum bahawa sahabat-sahabat Rasulullah saw tidak merayakan hari kelahiran Rasulullah saw. Ini adalah kerana mereka telah menyaksikan secara langsung setiap gerak-geri Rasulullah saw dan seterusnya ingatan terhadap Rasulullah saw itu kekal di dalam hati dan juga ingatan. Sa’d Abi Waqas mengatakan bahawa beliau begitu ghairah untuk menceritakan mengenai Rasulullah saw kepada kanak-kanak sama sepertiman keghairahan mereka mendidik anak-anak itu Al-Quran. Oleh kerana mereka sering menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah saw, maka tidak perlulah mereka merayakan sepertimana dirayakan Maulid ar-Rasul kini.


Walaubagaimanapun, generasi terkemudian telah mula melupakan kegemilangan sejarah Islam dan kesannya. Dengan itu, perayaan Maulid Rasul ini diadakan bertujuan untuk mengingati sejarah Islam ketika Rasulullah saw masih hidup. Tetapi malangnya, Maulid Rasul ini telah bercampur dengan amalan bid’ah yang ditentang oleh Islam. Sebenarnya, meraikan hari kelahiran nabi bermakna meraikan hari kelahiran Islam.

Maka dibolehkan meraikan Maulid nabi ini dengan syarat tidak dicampur-adukkan dengan perkara-perkara bid’ah. Tetapi sebaliknya diisi dengan ceramah yang menceritakan akan sejarah Islam.”



Berikut adalah antara dalil-dalil yang menjadi hujah bagi yang membolehkan Maulid ini:


Allah berfirman: “maka orang yang beriman kepadanya (Muhammad saw) memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Quran) mereka itulah yang beruntung.” - Al-Araf: 157
Keterangan: Tujuan maulud diadakan adalah untuk memuliakan Nabi Muhammad saw. Maka perayaan maulud masuk dalam umum ayat tersebut.



Firman Allah: “Dan ingatkanlah mereka dengan hari-hari Allah.”-Ibrahim. Ayat 5 Keterangan: Al-Baihaqi di dalam “Syakbu al-Iman” daripada Ubai bin Kaab daripada Nabi saw, sesungguhnya baginda menafsirkan ‘hari-hari Allah’ ialah hari-hari nikmat dan kurniaan Allah. Al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani menjelaskan lagi dengan katanya “kelahiran Nabi saw merupakan nikmat yang paling besar.”


Bahawasanya Nabi Muhammad saw datang ke Madinah maka beliau mendapati orang-orang yahudi berpuasa pada hari Asyura iaitu hari 10 Muharram,
maka Nabi bertanya kepada orang yahudi itu: “Kenapa kamu berpuasa pada hari Asyura?” Jawab mereka: “Ini adalah hari peringatan, pada hari serupa itu dikaramkan Firaun dan pada hari serupa itu Musa dibebaskan, kami berpuasa kerana bersyukur kepada Tuhan.” Maka Nabi berkata: “Kami lebih patut menghormati Musa berbanding kamu.”
– [Riwayat Bukhari dan Muslim.]


Ibnu Hajar Al-Asqalani pengarang Syarah Bukhari yang bernama Fathul Bari berkata bahawa dari hadis ini dapat dipetik hukum: - Umat Islam dibolehkan bahkan dianjurkan memperingati hari-hari bersejarah, hari-hari yang dianggap besar umpamanya hari-hari maulud, mi’raj dan lain-lain. - Nabi pun memperingati hari karamnya Firaun dan bebasnya Musa dengan melakukan puasa Asyura sebagai bersyukur atas hapusnya yang batil dan tegaknya yang hak.


Dalam sahih Muslim daripada Abi Qatadah al-Ansari berkata: Nabi (s.a.w.) telah ditanya tentang puasa pada hari Isnin lalu baginda bersabda: “Di hari tersebutlah aku dilahirkan dan di hari tersebut jugalah aku diutuskan.”
Keterangan: Rasul saw menegaskan kelebihan hari kelahirannya berbanding hari-hari lain. Oleh itu setiap mukmin sewajarnya berlumba-lumba beramal dan bersyukur dengan kelahiran baginda saw yang membawa rahmat kepada seluruh alam.




HUJAH MENENTANG MAULIDUR RASUL


Berikut antara pendapat yang menentang bersertakan hujah mereka:

Nabi Muhammad saw tidak pernah merayakan atau menyuruh umatnya untuk merayakan hari kelahirannya. Nabi saw telah menekankan agar jangan memperbesarkannya sepertimana orang kristian memperbesarkan Nabi Isa as. Ini dijelaskan di dalam hadis riwayat Bukhari:
Baginda bersabda, “Jangan memperbesarkan mengenai aku seperti Kristian memperbesarkan mengenai anak Maryam. Aku hanyalah hamba, jadi katakanlah, ‘hamba Allah dan pesuruh Nya.”(Au Qoma Qol)


Apa yang telah disuruh Rasulullah saw hanyalah menyuruh umatnya menjadikan hari kelahirannya satu hari untuk beribadat yang mana berbeza dengan perayaan.

Bertepatanlah dengan hadis di bawah:
Dalam sahih Muslim daripada Abi Qatadah al-Ansari berkata: Nabi (s.a.w.) telah ditanya tentang puasa pada hari Isnin lalu baginda bersabda: “Di hari tersebutlah aku dilahirkan dan di hari tersebut jugalah aku diutuskan.”
“…Dan hendaklah kamu menjauhi perkara-perkara yang diada-adakan , kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid’ah , dan setiap bid’ah itu adalah sesat “ . [Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud]


Para sahabat Rasulullah dan juga umat Rasulullah saw pada 3 abad kemudian tidak pernah merayakannya walaupun merekalah orang yang lebih mencintai Rasulullah saw lebih dari umat terkemudian..

Hadis Imran bin Husain r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesungguhnya yang terbaik dari kalangan kamu ialah sezaman denganku, kemudian orang yang hidup selepas zaman aku, setelah itu orang yang hidup selepas mereka.

Imran berkata: Aku tidak mengetahui kenapakah Rasulullah s.a.w menyebut selepas kurunnya sebanyak dua atau tiga kali. Selepas itu datang satu kaum yang di minta memberi penyaksian tetapi tidak di beri penyaksian, yang berkhianat sehingga tidak boleh dipercayai, yang suka bernazar tetapi tidak melaksanakannya dan sukakan kemewahan. Perayaan Maulid Nabi datang beberapa abad kemudian yang mana ciri-ciri Agama Islam yang sebenar sudah hilang dan bid’ah berleluasa.


Allah berfirman di dalam Al-Quran:
Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu,Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. "
Katakanlah, "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir". (QS. 3:31-32)


Ayat di atas menerangkan cara menunjukkan kasih sayang yang sebenar yang patut dilakukan kepada Rasulullah saw. Ayat yang pertama di atas menjelaskan bahawa cinta itu hanyalah pengakuan, tetapi buktinya ialah menuruti apa yang Rasulullah saw bawakan. Manakla ayat kedua menekankan kepentingan dalam menuruti kehendak Allah dan Rasul Nya. Allah menyudahi ayat di atas dengan ancaman yang keras bahawa sesiapa yang tidak mahu mentaati adalah kafir dan Allah tidak mencintai orang kafir.

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. 5:3)
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33:21)


Kata-kata sahabat Rasulullah saw:
Huzaufah Ibnu Al-Yamaan ra berkata : "Setiap ibadah yg tidak dilakukan oleh sahabat Rasulullah saw, maka janganlah melakukannya"

Dan berkata Ibnu Mas'ud :"Ikutlah (sunnah) dan jangan menambah, dan telah cukup bagi kamu - perbuatan yg lama (kekal dengan cara lama)"



4.2.10

Subhanallah Alhamdulillah Allahuakbar




Mengambil ibarat menambah ilmu.
Berzikir menambah Cinta.
Bertafakur menambah khauf (takut)

SUBHANALLAH ALHAMDULILLAH ALLAHUAKBAR

Zikrullah





SOLAT : Bangun Dari Sujud Dan Kaedah Duduk Isterahah


Bangun Dari Sujud kedua , duduk isterehah dan Bersiap sedia untuk bangun ke rakaat kedua dan ke empat



Dalam perilaku solat dilakukan bangun dari sujud yang kedua dan bersiap sedia untuk bangun ke rakaat kedua dan keempat. Duduk sebentar ini setakat meluruskan badan dengan betul.


Di kalangan ahli fiqh duduk ini dinamakan duduk istirehat . Itulah yang dinyatakan oleh Imam Syafie dan Imam Ahmad . Pendirian beliau lebih tepat kerana dia dikenal sebagai orang yang kuat mengikuti sunnah Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam dan tidak mahu menyalahinya. (
Lihat: Sifat Solat Nabi, (nota kaki) Hlm. 191. al-Albani)


Berkata Ibn Baz rahimahullah: "(Kemudian) duduk iaitu duduk yang seketika sebagaimana duduk antara dua sujud. Dinamakan duduk istirehat dan ia sunnah menurut qaul yang paling sahih, jika meninggalkannya tidak ada kesalahan. Dan tidak ada zikir atau doa (ketika duduk istirehat)". ( Lihat: Hlm.12. Ibn Baz. )



KAEDAH DUDUK ISTIREHAH

Ada dua kaedah duduk ini yang boleh kita lakukan mengikut kesesuaian iaitu duduk secara iftirasy atau duduk diatas kedua tumit. Berikut adalah perinciannya


1. Kaedah duduk iftirasy


Melalui hadith di bawah kaedah ini dilakukan oleh Rasulullah saw ketika hendak bangkit (bangun) dari sujud baginda saw duduk seketika (berehat seketika) dan kemudian bangun dengan bertumpu pada kedua tangannya ke tanah untuk melanjutkan ke rakaat seterusnya.
Baginda saw duduk tegak iaitu duduk di atas telapak kaki kiri dengan tegak sampai ruas tulang punggungnya mapan.


“Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam bangun dari sujudnya sambil bertakbir”. (Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)


Kemudian duduk iftirasy, membentangkan kaki kiri dan duduk di atasnya, menegakkan kaki kanan, meletakkan kedua tangan di atas lutut, hujung tangan ada di atas lutut, tidak menggerakkan jari. (Rujuk: Tuntutan Rasulullah dalam ibadah. Hlm. 25. Ibnu Qaiyim)


“Baginda terkadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan ucapan takbir”.
(hadith riwayat Ahmad dan Abu Daud dengan sanad sahih)


" Kemudian baginda membentangkan kaki kirinya, kemudian baginda duduk di atas telapak kakinya dengan tenang”. (Hadith riwayat Bukhari dan Abu Daud)


“Tidak sempurna solat seseorang sehingga dia sujud sampai ruas tulang belakangnya mapan,
kemudian mengucapkan Allahu Akbar, kemudian bangun dari sujud sampai duduk dengan
tegak”. (Hadith riwayat Abu Daud dan Hakim disahkan olehnya dan disetujui oleh Zahabi)


“Baginda menegakkan telapak kaki kanannya”. (hadith Bukhari dan Baihaqi)


“Menghadapkan jari-jemari kaki kanannya ke arah kiblat”. (Hadith Nasaii dengan
sanad sahih)



2. Kaedah duduk diatas dua tumit

Sabda Rasulullah saw : “Kadang kala baginda duduk iq’a, iaitu duduk dengan menegakkan telapak kaki dan tumit kedua kakinya”. (Hadith Muslim, Abu ‘Awanah dan Abu Syekh dalam kitab Hadis yang diriwayatkan oleh Abu Zubir dari Jabir, hlm. 104-106 dan Baihaqi. Rujuk: Sifat Solat Nabi. Hlm. 187. al-Albani)


Walaupun Ibnul Qayim rahimahullah hanya mensahihkan duduk secara iftirasy, namun pendapatnya dikomentar oleh Nasruddin al-Albani rahimahullah.
Menurut Nasruddin al-bani : “Ibnul Qaiyim telah melakukan kesalahan kerana setelah menerangkan Nabi duduk Iftirasy antara dua sujud ia berkata: Duduk cara dua sujud yang sah dari Nabi sallallahu ‘alaihi wasallalm hanya dengan cara ini (iftirasy), tidak ada cara lain.


Kemudian berkata Al-Albani:
“Bagaimana boleh dikatakan seperti itu padahal hadis tentang duduk di atas kedua tumit

( Hadith riwayat Ibnu Abbas dalam sahih Muslim, Abu Daud, Tirmizi, disahkan
olehnya dan oleh yang lain. Bacalah kitab As-Sahihah no.383. Juga riwayat hadis dari Ibnu
Umar dengan sanad hasan yang tersebut pada Baihaqi disahkan oleh Ibnu Hajar )


Dirawayatkan pula oleh Abu Ishaq al-Harbi dalam kitab Gharibul Hadis, juz 5/12/1 dari
Thawus, bahawa ia pernah melihat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas duduk antara sujud dengan
duduk di atas kedua tumitnya. Hadis ini sanadnya sahih.


Ustazah: Keduanya sah dan sunat dilakukan, apa yang diperselisihkan oleh para ulamak adalah mana yang lebih afdal sahaja.


Terkepung dengan ajal




Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, meskipun engkau bersembunyi di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (QS 4:78).


Malaikat Maut yang diserahkan tugas mencabut nyawamu akan mematikanmu untuk dikembalikan kepada Rabbmu (QS 32:11).


Maka apabila ajal kematian telah datang , tidaklah dapat mengundurkan barang sesaatpun dan tidak pula medahulukannya (QS 16:61).


Kalau sekiranya kamu dapat melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dari belakang mereka (dan berkata):


"Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar", (tentulah kamu akan merasa sangat ngeri) (QS 8:50)


Jika nafas seseorang telah mendesak sampai ke kerongkongan (QS 75:26)


Malaikat akan memukul dengan tangannya kepada orang yang sedang sakaratul maut seraya berkata "Keluarkanlah Nyawamu" hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan
(karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.(QS 6:93).

Dan itu terjadi jika orang orang tersebut adalah orang dzolim dalam tekanan-tekanan sakratulmaut. Maka jika orang tersebut adalah orang yang bertakwa, Malaikat akan mencabut nyawanya dengan keadaan yang baik, dan Malaikatpun berkata kepada mereka: "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan (QS 16:31-32).


Dan disaat saat kematiannya orang orang yang benar benar istikomah dalam ketaatan, para malaikat akan turun sambil menghibur dan berkata : "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu" (QS 41:30).

Sadar kah kitaa?














Sedarkah anda bahawa apabila kita membersihkan najis seperti darah, kita perlu berhati hati supaya air basuhan tersebut tidak memercik ke anggota badan atau pakaian kita kerana air tersebut kurang dari 2 kolah dan akan menyebabkan anggota badan kita turut bernajis.


Sedarkah anda bahawa kita perlu bernafas semasa minum air (utk mengelakkan sakit jantung) dan udara hembusan pernafasan kita perlulah di luar gelas. (Kerana H20 + CO2 = H2CO3, maka cuka terhasil dan menyebabkan minumaan menjadi acidic)




Sadarkah kitaa?


1. Sedarkah anda bahawa air yang mampu dikandung oleh washing machine adalah kurang dari 2 kolah dan sekiranya pakaian anda bernajis (terdapat air kencing, tahi cicak, etc), seluruh pakaian yg bersih pun akan turut menjadi najis atau tidak suci. (berdasarkan hukum air mutanajjis)



2. Sedarkah anda bahawa hampir setiap telur ayam terdapat najis di kulitnya dan sekiranya tangan kita basah atau telur itu sendiri basah semasa kita hendak memecahkannya, tangan kita akan turut bernajis. Dan sekiranya sebahagian dari telur tersebut termasuk dalam masakan kita, maka kita turut memakan najis tersebut. (Roti canai telur, anyone?)




2.2.10

My Soul said to me

Soul said to me
O you who have been busy by
Fatamorgana world .....
What you want to search from the world ...?
Look ... there is no person who memandangmu
Lights also are reluctant to brighten your
Yourself yourselves dikala morning
Tuhanpun fed up with sin sin
Tingkahlakumu ...............
You to worship Him
But you also engage in immoral acts to him
Are you sure ibadahmu received by him?
Are you sure tobatmu in ampuni by Him?
Tangisilah yourself weeping with sorrow
Throughout the life

Soul said to me
What you want to search from the theatrical world
Are you looking for love ....?
Look of love ...
Look how many people are injured
Because of love
Look of love ...
Do you want to find love
Until when you will be busy with matters of love?
Before the soul menasehatiku
I say ........
Love is dihatiku
Seutas like a thin thread attached by pegs
Menasehati soul and mengajariku
For those who love membenciku
And to establish friendships with those who memusuhiku
Shows the soul to me, the love itself
Not only to those who love,
But also to those who loved
But now you have become
Halation without beginning or end
The love of man and girth slowly akan merengkuh all

Before the soul menasehatiku
I see beauty like a rock torch
Among the smoke pillar ...
However manakal smoke was lost tersapu wind
I do not see anything but
Fire up the flame

Menasehatiku soul and teach me
To hear a voice that nobody heard
By ear, by the tongue takterucapkan
Human mouth and throat
Before the soul menasehatiku
I do not hear any sound
Except cry and cry
However, now I find the silence and
Able to hear the songs and rhymes toss
Age and to the sky and the dream
To reveal the secret is not visible from the

Soul menasehatiku
To touch impianku
That has not materialized
Soul said to me that
Whatever we touch is
Actually part of our desire
But now jemariku no power
To paint all existing in khayalanku
And write everything in my heart
Mixed with the restlessness that is not visible

Soul menasehatiku
Do not you measure the time and say
"Where is the past and
Tomorrow is a dream
Before the soul that
I imagine
Past as a repeated Tech
And the future is something that is not teraih

Soul said to me
What you want from this world
Do you not see the power of your Lord
Look .....
Sweep the heavens without pillars
planet and the planet moves in accordance calculation
and water dipertemukan
but there are differences between them
see the power of your Lord
He made the human berpasang pair
And He created the pasanganmu's own jenismu
So that you will be pleased that
Do you not see heaven
That told in the book sucimu
The water flowing underneath susu and wine
That at any time you can meneguknya
No you will feel satisfied that
What you need to ragukan again
In heaven there are beautiful woman there, woman
Clear-eyed that has not been in touch by anyone
And you is halal akan nymph
all that is created for me, for you and for us

soul said to me before akan it
I tried to give up Grace Lord
that has been in anugrahkan to me
so that the heart can hear all that you say
I try to be grateful on the grace of my Lord ....

mengajariku soul and menasehatiku
about many things ......
as the soul brother menasehatimu
Indeed, you and myself is the One
there is no difference between us
unless the decision is in diriku
that you keep a secret
is in your hearts

Isu kalimah "Allah" di Malaysia

Satu pandangan semata:

sumber : Tengku Ahmad Azman


Penggunaan perkataan ‘Allah’ dalam Alkitab (Bible) dan tulisan-tulisan Kristian di Malaysia memang MENDATANGKAN KEKELIRUAN, bukan sahaja kepada umat Islam, tetapi juga kepada penganut agama Kristian (1) sendiri. Sepatutnya perkataan ‘Allah’ ataupun ‘Tuhan Allah’ digantikan sahaja dengan Tuhan, ataupun Yahweh, ataupun Yehovah, El, Eloah, Elohim ataupun apa saja istilah lain (umat Kristian tentu lebih tahu) yang ada kaitan dengan The Old Testament (Perjanjian Lama) dan The New Testament (Perjanjian Akhir).

Apakah agama Kristian kekurangan perkataan hingga terpaksa menggunakan perkataan ‘Allah’ yang lebih sinonim dengan kitab suci Al-Quran (The Last Testament/ Perjanjian Akhir)? Ataupun… ada sesuatu di sebaliknya?


Sepatutnya perkataan ‘Allah’ tidak digunakan oleh penganut agama Kristian untuk menggambarkan Tuhan mereka walau di mana saja. Walau bagaimanapun, tulisan ini lebih menjurus dalam KONTEKS ‘MALAYSIA’.

Perlu kita fahami, Bahasa Melayu Malaysia ada banyak juga perbezaan berbanding Bahasa Melayu Indonesia. Contohnya ‘tewas’ di Malaysia bermaksud ‘kalah’ sedangkan di Indonesia bermaksud ‘mati’. Sebab itu jangan mudah-mudah menyebut ‘pemain badminton Indonesia telah tewas di tangan pemain Malaysia’ kepada saudara-saudara kita dari Indonesia- nanti ‘bisa bikin ribut’. : )

Di Malaysia, ‘Allah’ ialah Tuhan YANG ESA bagi orang-orang Islam (dan Tuhan Yang Esa bagi semua manusia). ‘Allah’ ini langsung tidak sama dengan makhluk. Sebelum mana-mana makhluk wujud, Dia sudah SEDIA ADA. Sebelum tempat, ruang, warna, kecerahan, gelap, bentuk, sempadan, rupa, arah dan lain-lain (yang semuanya makhluk) wujud (diciptakan-Nya), Dia sudah sedia ada. Apa sahaja yang terpengaruh dengan tempat, ruang, warna, kecerahan, gelap, bentuk, sempadan, rupa, arah dan lain-lain adalah makhluk. Apa sahaja yang lebih muda atau ‘datang kemudian’ daripada-Nya- bukan Allah. Begitulah hebatnya Allah, satu-satunya Tuhan sebenar.

Allah tidak dapat dibayangkan oleh makhluk. Apa saja yang tergambar dalam fikiran kita bukan Allah. Jika Tuhan boleh dibayangkan, hilanglah kehebatannya. Allah suci daripada segala kelemahan seperti mengantuk, lapar, dahaga, lupa, tersilap, berehat, tidak tahu, sakit, tua dan sebagainya. Jauh sekali untuk Dia diseksa ataupun mati. Dia SEMPURNA.
Dia tidak dapat diperintah atau diarah-arah kerana Dialah Pemerintah- Raja Segala Raja. Dia tidak dapat diutus kerana Dialah Pengutus. Dialah sahaja yang tahu bila saatnya Kiamat. Siapa sahaja yang tidak tahu tarikh dan saat Kiamat, itu bukan Allah. TIDAK TAHU menunjukkan kelemahan dan sifat makhluk. Mustahil Tuhan ‘tidak tahu’ dan lemah. Siapa saja yang ‘tidak tahu’ dan lemah tidak layak menjadi Tuhan. Allah tidak layak memohon kerana Dialah Tempat Permohonan.

Allah tidak dapat dipecah-pecahkan, dipisah-pisahkan atau dibahagi-bahagikan- Dia Esa (Satu). Sesiapa yang menyembah Tuhan yang boleh dipecah-pecahkan dipisah-pisahkan atau dibahagi-bahagikan, maksudnya orang itu tersembah selain daripada Allah iaitu makhluk. Hal ini kerana Dia sudah ‘sedia ada’ sejak ruang dan pembahagian belum dicipta. Jadi, mustahil Dia boleh dibahagi-bahagikan. Allah sentiasa ada, tidak pernah ‘tidak ada’ ataupun ‘belum ada’. Dia sentiasa muncul, mustahil Dia baru muncul ataupun belum muncul dan kemudiannya menghilang ataupun mati. Zat Diri-Nya tidak pernah berubah atupun bertukar. Apa sahaja yang MENGALAMI PERUBAHAN (umat Islam menyebutnya ‘baharu’), bukan Allah tetapi makhluk.

Inilah sebahagian daripada ciri-ciri ‘Allah’ yang disebut dalam Perjanjian Terakhir- Al Quran. Dan Allah ini memiliki begitu banyak persamaan dengan Tuhan bagi umat Kristian yang berfahaman Unitary (Unitarian). (2)

Apabila penganut agama Kristian tempatan menggunakan perkataan ‘Allah’ untuk ‘Tuhan’ mereka, memang menimbulkan masalah. Hal ini kerana sifat-sifat ‘Allah Kristian’ itu jauh berbeza dengan Allah. Jangan kita diperbodohkan oleh sebahagian golongan Iselam Liberal yang mendakwa Allah sebagai ‘Tuhan Sembahan’ semua agama.

Allah sebagai TUHAN SEBENAR SEMUA MANUSIA memang benar, tetapi mengatakan Allah sebagai TUHAN SEMBAHAN semua agama ternyata jauh menyimpang. Hanya Muslim yang menyembah Allah TUHAN SEMUA MANUSIA itu, yang tertera sifat-sifatnya sebagaimana yang dijelaskan di atas tadi. Sesiapa yang menyembah Tuhan yang memiliki semua sifat-sifat tersebut, maksudnya dia menyembah Allah. Jika Sembahannya itu tidak memiliki sifat-sifat itu, maksudnya dia menyembah SELAIN ALLAH. Jadi, sesiapa yang menyembah SELAIN ALLAH, sepatutnya gunakanlah nama lain bagi ‘Tuhan Sembahan’ mereka itu. Selesai masalah.

Kita sedia maklum, Tuhan Sembahan umat Kristian itu boleh dipecah-pecah dan dibahagi-bahagikan walaupun dikatakan ‘3 oknum dalam satu’. Jesus sebagai Tuhan menunggu wahyu di bumi, Roh Kudus sebagai Tuhan sedang turun ke bumi membawa wahyu manakala Bapa yang juga Tuhan sedang berada di syurga (3). Hal ini memang jelas bertentangan dengan ALLAH kerana Dia tidak dapat dipecah-pecahkan, dipisah-pisahkan atau dibahagi-bahagikan- Dia Esa (Satu).

Tuhan umat Kristian itu memerlukan ‘rehat’ selepas mencipta tetapi Allah tidak pernah berehat. Berehat adalah satu kelemahan. Tuhan Kristian pernah kalah bergusti dengan manusia tetapi Allah tidak pernah kalah. Tuhan sembahan Kristian tidak tahu di mana Adam menyorok tetapi Allah Maha Mengetahui. Sembahan Kristian itu dilahirkan tetapi Allah sudah sedia ada sebelum pembahagian, jasad dan ruang dicipta. Jesus yang Tuhan dan Roh Kudus yang juga Tuhan tidak tahu tarikh Kiamat sedangkan Allah Maha Mengetahui. Tuhan Sembahan itu boleh menyesal (menunjukkan Dia tidak Maha Mengetahui) sedangkan Allah mustahil menyesal kerana Dia Maha Mengetahui.

Lihatlah betapa jauh bezanya antara Allah dengan Tuhan Sembahan penganut agama Kristian. Kita tidak mahu umat Islam dan umat Kristian di negara ini terkeliru lalu menyangka yang mereka sedang MENYEMBAH TUHAN YANG SAMA. Persamaan yang wujud hanyalah Muslim dan Kristian percaya kewujudan Tuhan dan semua orang mesti menyembah Tuhan.

TAPI Islam dan Kristian ada begitu BANYAK PERSAMAAN jika ‘Allah’ yang dimaksudkan oleh Kristian itu ialah BAPA, sebagimana faham para Unitary. Sekiranya HENDAK SANGAT, Alkitab (Bible) dan tulisan-tulisan Kristian di Malaysia boleh saja menggunakan perkataan ‘Allah’ asalkan kena dengan tempatnya. Gantikan saja perkataan ‘Bapa’ dalam Bible dengan ‘Allah’. Jangan nisbahkan ‘Allah’ kepada Jesus ataupun Roh Kudus tetapi untuk Bapa sahaja.

1.2.10

KEKEMASAN DIRI ( berkhitan, istihdad, menggunting misai, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak )

Iaitu kekemasan diri yang menjadi sunnah Nabi s.a.w., antaranya yang disebut beliau dalam sabdanya; “Fitrah itu ada lima; iaitu Berkhitan, Istihdad (mencukur bulu ari-ari), Menggunting misai, Memotong kuku dan Mencabut bulu ketiak” (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Maksud fitrah di dalam hadis di atas menurut Imam al-Khatthabi ialah as-Sunnah, yakni lima perkara yang tergolong dalam sunnah Nabi. Ada ulamak berkata; yang dimaksudkan ialah sunnah-sunnah para Nabi. Ada juga yang berpandangan; yang dimaksudkan ialah agama, yakni; lima perkara dari suruhan agama.[1]


Apa maksud berkhitan? Dan apa hukum berkhitan?


Hukum berkhitan adalah wajib mengikut pandangan Imam Syafi’ie dan ramai ulamak yang lain.
Bagi Imam Syafi’ie; wajib berkhitan adalah atas kedua-dua golongan lelaki dan wanita.

Majoriti ulamak (antaranya Imam Malik) berpandangan; ia sunat sahaja.



Apa maksud Istihdad? Apa hukumnya?

Istihdad bermaksud mencukur bulu di kawasan ari-ari ( العانة ) iaitu kawasan di atas alat kelamin dan di sekitarnya sama ada lelaki atau wanita. Hukumnya adalah sunat. Tujuannya ialah untuk membersihkan kawasan tersebut. Yang terbaik ialah dengan mencukur. Namun harus dengan menggunting atau mencabutnya.

Menurut al-‘Abbas bin Suraij; termasuk dalam pengertian bulu ari-ari ialah bulu yang tumbuh di sekitar lubang dubur. Jadi dengan mengambil kira pandangan beliau, maka disunatkan kita mencukur keseluruhan bulu yang tumbuh di kemaluan depan dan dubur serta di kawasan sekitar keduanya.[2]


Apa hukum memotong kuku? Bagaimana cara yang disunatkan?

Memotong kuku hukumnya adalah sunat. Sunat memotong di tangan terlebih dahulu, berikutnya baru kaki. Sunat dimulai dengan tangan kanan iaitu bermula dari jari telunjuk, kemudian jari tengah, kemudian jari manis, kemudian jari kelingking dan seterusnya ibu jari. Setelah itu pergi pula ke tangan kiri dengan bermula dari jari kelingking, kemudian jari manis dan berikutnya hinggalah ke ibu jari. Berikutnya pergi pula ke jari-jari kaki dengan bermula dari jari kelingking kaki kanan dan tamat di jari kelingking kaki kiri.[3]


Apa hukum mencabut bulu ketiak? Haruskah mencukurnya?

Hukumnya sunat. Yang terbaik ialah dengan mencabut bagi sesiapa yang mampu. Jika tidak, memadai dengan mencukurnya. Sunat dimulai dengan ketiak kanan, kemudian baru ketiak kiri.[4]


Apa hukum menggunting misai? Adakah harus dilakukan oleh orang lain untuk kita?

Hukumnya adalah sunat. Sunat dimulai dengan misai sebelah kanan. Harus sama ada kita menggunting sendiri atau menyuruh orang lain melakukannya untuk kita. Adapun mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari tadi tidak harus dilakukan oleh orang lain kerana ia merosakkan maruah dan kehormatan.[5]



Pada had manakah misai perlu digunting? Adakah sunat mencukurnya?

Para ulamak berbeza pandangan;[6]

a) Pandangan pertama; menurut ulamak-ulamak mazhab Hanafi dan Hanbali; yang terbaik ialah mencukurnya (yakni membuang habis). Mereka berdalilkan beberapa sabda Nabi s.a.w. antaranya;

جُزُّوا الشَّوَارِبَ، وَأَرْخُوا اللِّحَى، خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Potonglah misai (hingga nampak kulit) dan biarkanlah janggut. Hendaklah kamu berbeza dengan orang Majusi”. (Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Menurut ulamak, perkataan al-jazz dalam hadis di atas memberi makna menggunting misai dan bulu hingga sampai ke kulit.

Di dalam hadis yang lain, Nabi s.a.w. bersabda;

خالفوا المشركين: وفروا اللحى، وأحفوا الشوارب
“Hendaklah kamu berbeza dengan orang-orang Musyrikin; kerana itu biarkanlah janggut dan buanglah misai”. (Riwayat Imam al-Bukhari)

Berkata Imam Ibnu Hajar; perkataan al-Jazz dan al-Ihfa’ menunjukkan kepada tuntutan agar bersungguh-sungguh dalam membuang misai. Al-Jazz bermaksud; menggunting hingga ke kulit. Al-Ihfa’ pula bermaksud; membuang habis. Kerana itu Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad mensunatkan dibuang habis misai dengan mencukurnya.[7]

b) Pandangan kedua; menurut ulamak-ulamak mazhab Syafi’ie dan Maliki; yang disunatkan hanyalah mengguntingnya sahaja sehingga kelihatan bibir mulut (yakni menggunting bahagian yang memanjang ke atas bibir mulut). Adapun mencukurnya adalah dilarang, di mana hukumnya adalah makruh.[8]

c) Pandangan ketiga; menurut Imam Ibnu Jarir at-Tabari; harus kedua-duanya, yakni kita boleh memilih sama ada hendak mengguntingnya sahaja atau mencukurnya kerana kedua-duanya sabit di dalam hadis Nabi s.a.w..[9]



Bilakah masanya kita dituntut untuk mencukur bulu ari-ari, memotong kuku dan sebagainya tadi?

Iaitu pada bila-bila masa mengikut keperluan dan apabila ia panjang asalkan jangan membiarkannya melebihi empat puluh hari. Ini berdasarkan cerita Anas bin Malik r.a.;

وُقِّتَ لَنَا فِي قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الْأَظْفَارِ وَنَتْفِ الْإِبِطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لَا نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Telah ditetapkan tempoh untuk kami bagi menggunting misai, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu ari-ari iaitu kami tidak membiarkannya melebihi 40 hari”. (Riwayat Imam Muslim)[10]


Nota Kaki

[1] Syarah Soheh Muslim, 3/151.
[2] Syarah Soheh Muslim, 3/153.
[3] Syarah Soheh Muslim, 3/152.
[4] Syarah Soheh Muslim, 3/152.
[5] Syarah Soheh Muslim, 1/152.
[6] Syarah Soheh Muslim, 1/152-155, Faidhul-Qadier, hadis no. 3586 dan Fiqh al-Albisah Wa az-Zinah (Abdul-Wahhab Abdus-Salam Tawilah, hlm. 276-280.
[7] Faidhul-Qadier, hadis no. 3586.
[8] Syarah Soheh Muslim, 3/152, Fiqh al-Albisah Wa az-Zinah (Abdul-Wahhab Abdus-Salam Tawilah, hlm. 278 dan 280.
[9] Fiqh al-Albisah Wa az-Zinah (Abdul-Wahhab Abdus-Salam Tawilah, hlm. 280, Syarah Soheh Muslim, 1/155.
[10] Syarah Soheh Muslim, 3/152.


31.1.10

Bertaqlid Menilai Kesahihan Hadith

BERTAQLID DALAM MENILAI KESAHIHAN HADITH –NASIHAT UNTUK PENDOKONG SUNNAH

sumber : Adlan Abd Aziz

Ini sekadar nasihat, terpulang kepada anda untuk menerima atau menolaknya. Ia ditujukan kepada pendokong sunnah yang masih belum menghayati perbezaan ilmu antara muhaddith salaf dan muhaddith selepas mereka. Mungkin ia terlihat tidak tersusun kerana dikarang secara spontan. Namun ia masih berada di bawah tajuk manhaj ahli hadith salaf lebih hebat dan lebih tepat. Selamat membaca.


Sedar atau tidak, kita hanya bertaqlid dalam menilai kesahihan atau kedhaifan sesuatu hadith. Apabila kita menyebut ’hadith riwayat al-Bukhari’ atau ’hadith ini dinilai sahih oleh Muslim’ atau ’hadith ini dinilai dhaif oleh al-Tirmidzi’, sebenarnya kita telah bergantung penuh kepada apa yang telah dikaji dan ini menandakan kita taqlid kepada mereka.

Begitu juga apabila ada dalam kalangan pendokong al-Sunnah masa kini yang asyik mengulangi perkataan ’dinilai sahih oleh al-Albani’, ’didhaifkan oleh al-Albani’ atau menggunakan nama ulama lain seperti Ahmad Syakir, Ahmad al-Ghumari, Syu’aib al-Arnaout, Abd. Aziz al-Torifi, Abdullah al-Sa’d dan lain-lain lagi – ini menandakan kita mengambil bulat-bulat kajian mereka. Ini juga salah satu bentuk taqlid.

Tanpa mahu menegaskan apakah jenis-jenis taqlid dan yang manakah taqlid yang dibenarkan dan ditegah, apa yang paling penting ialah – kita telah lama bertaqlid dalam menilai kesahihan hadith. Kalau tak nak taqlid al-Bukhari, kenapa anda taqlid al-Albani?

Kenapa kita bertaqlid? Dalam masa yang sama kita (atau sebahagian kita) amat tegas dalam melarang orang bertaqlid. Saya tidak mahu mengulas panjang tentang persoalan taqlid, ittiba’ dan ijtihad. Itu bukan topik artikel ini.
Jika ada dalam kalangan anda yang menjawab : saya tidak taqlid! Saya mengambil pendapat mereka dalam keadaan mengetahui apa hujah mereka! Jika ini jawapan anda, ia amat melucukan sebenarnya. Adakah anda telah mengkaji SEPENUHNYA hujah al-Bukhari (sebagai contoh) ketika beliau menilai sesuatu hadith? Adakah anda telah membuat perbandingan dengan ulama hadith lain sebelum al-Bukhari dan juga selepasnya untuk menilai hujah yang mana lebih kuat dan lebih rajih? Pelbagai soalan boleh dikemukakan untuk meragui dakwaan bahawa anda telah mengetahui hujah al-Bukhari. Soalan yang paling tepat untuk ditanya sebelum semua soalan tadi ialah – adakah anda layak untuk memahami bagaimana al-Bukhari menilai hadith?

Sepatutnya anda menjawab: Ya! Saya bertaqlid kepada al-Bukhari atau saya mengikut pendapat al-Bukhari kerana beliau adalah mujtahid mutlaq (dengan disaksikan oleh guru dan muridnya di zaman beliau) yang layak mengeluarkan pendapat. Beliau layak dan saya tidak layak. Malah beliau amat berkelayakan dalam memberikan pandangan terhadap kesahihan sesuatu hadith tanpa ragu lagi. Itu yang sepatutnya anda jawab. Itu tanda anda mengiktiraf kehebatan ahli hadith dan juga bukti bahawa anda tidak layak untuk diletakkan sebaris dengan ahli hadith salaf terutamanya. Tetapi...

Mungkin anda setuju dan mungkin tidak terhadap apa yang telah saya coretkan di atas tadi.

Adakah anda tidak setuju kita bertaqlid kepada imam-imam hadith terkemuka seperti al-Bukhari, Ahmad Ibn Hanbal dan sebagainya? Kenapa? Kerana anda merasakan ada orang yang lebih tahu daripada mereka?

Atau anda sendiri tidak mahu betaqlid kepada sesiapa lantas dengan sendirinya anda mengkaji sanad dengan semua periwayatnya dan juga mengkaji matan untuk memastikan tiada ’illah dan tidak syadz? Adakah semua hadith anda lakukan seperti itu? Semua hadith? Adakah itu yang dilakukan oleh ulama selepas al-Bukhari? Adakah itu yang dilakukan oleh ulama hadith sepanjang zaman? Adakah dengan cara itu anda dapat keluar daripada unsur TAQLID? Mustahil sama sekali!

Kerana apa saya katakan mustahil? Kerana untuk mengkaji sanad untuk SATU hadith sahaja anda perlukan buku-buku yang telah dikarang oleh ulama salaf juga! Antara mereka yang memberikan pendapat tentang periwayat (dipercayai atau dhaif) adalah imam-imam salaf juga. Siapa lagi orang yang anda akan gunakan pendapat mereka dalam menilai periwayat?

Ada yang menyatakan bahawa dia akan menggunakan buku Taqrib al-Tahdzib karya Ibnu Hajar al-’Asqlani (852H). Mungkin anda lupa bahawa semua maklumat dalam buku Taqrib itu diringkaskan daripada bukunya sebelum itu iaitu Tahdzib al-Tahdzib. Tahdzib al-Tahdzib pula meringkaskan atau menyusun buku Tahdzib al-Kamal karya al-Mizzi. Dari mana maklumat itu disusun oleh al-Mizzi (742H)? Daripada buku al-Kamal Fi Asma’ al-Rijal karya Abd. Ghani al-Maqdisi (600H). Dari mana pula al-Maqdisi mendapat maklumat? Daripada buku-buku ahli hadith sebelumnya dan akhirnya...akhirnya kita akan dapati ia akan terhenti pada nama-nama besar dalam kalangan ahli hadith salaf. Nah! Bagaimana anda ingin keluar daripada taqlid para imam salaf?

Satu persoalan lagi yang ingin diajukan di sini...kenapa anda menerima pendapat imam salaf tentang periwayat..orang ini thiqah, orang ini dhaif, orang ini mudallis dan sebagainya. Kenapa diterima begitu sahaja? Jawapannya ialah kerana mereka lebih tahu, lebih awal dan lebih mampu. Tapi kita? Kita hanya mampu menyusun, menghuraikan dan membandingkan maklumat yang telah sedia ada. Alangkah lemahnya ilmu kita. Alangkah lemahnya ilmu ulama terkemudian dibandingkan dengan ahli hadith salaf!

Ada satu lagi keadaaan yang berlaku dalam kalangan pendokong sunnah – bertaqlid kepada ulama hadith moden. Bertaqlid kepada al-Albani, ulama-ulama Arab Saudi, Syu’aib al-Arnaout dan ulama-ulama negara arab lain seperti Jordan, Maghribi, Syria dan sebagainya. Kenapa anda asyik bertaqlid kepada mereka? Jawapan anda ialah mereka ahli hadith terkemuka dan tokoh yang hebat. Mereka mampu mengeluarkan pendapat tentang sesuatu hadith dengan tepat. Itu kata anda. Saya tidak menyalahkan anda kerana bertaqlid kepada mereka kerana ulama-ulama pernah menyatakan bahawa taqlid dibenarkan ketika kita tidak mampu mengkaji atau tidak sempat mengkaji seperti kata Ibnu Taimiyyah.

Tapi apa yang menyedihkan ialah anda bertaqlid kepada muhaddith moden seolah-olah mereka itu sebaris, setaraf, sehebat, semampu para imam salaf yang kita kenali sepanjang zaman! Siapa anda untuk mendakwa mereka sedemikian rupa? Mereka sendiri tidak mendakwa perkara tersebut! Kalau anda masih lagi menganggap sedemikian, (malah ada yang menganggap bahawa muhaddith akhir zaman lebih hebat daripada muhadddith salaf disebabkan faktor teknologi dan perkembangan zaman, Subhanallah! ) jelas sekali anda belum mengenali siapakah tokoh-tokoh hadith salaf. Jelas sekali anda belum lagi faham bagaimana mereka menghasilkan kajian masing-masing. Jelas sekali anda tidak mendapat gambaran tentang kemampuan mereka dalam mengkaji hadith. Amat jelas dan tidak syak lagi anda belum mengenali mereka!

Juga terang dan nyata anda tidak mengambil kira kemampuan mereka berbanding ulama selepas mereka. Anda mungkin berada dalam kalangan orang yang bermimpi bahawa Ibnu Sirin (110H) sama sahaja seperti muridnya Ayyub al-Sakhtiyani dan sama sahaja dengan murid Ayyub (131H) , Syu’bah Ibn al-Hajjaj (160H), sama sahaja dengan murid-murid Syu’bah - Abd. Rahman Ibn Mahdi (198H) dan Yahya Ibn Sa’id al-Qattan (198H). Mereka pula sama sahaja dengan Ahmad Ibn Hanbal (241H), al-Bukhari (256H), Muslim (261H) dan sebagainya. Mereka sama sahaja dengan al-Khatib al-Bahgdadi (463H), al-Baihaqi (458H), al-Nawawi (676H), al-Iraqi (806H), Ibnu Hajar al-Asqalani (852H), al-Suyuthi (911H), al-Syaukani (1255H), al-Albani (1421H), Syu’aib al-Arnaout dan lain-lain lagi. Ini adalah mimpi di siang hari! Tidak mungkin mereka sama! Bahkan imam-imam hadith yang terkemudian sentiasa memandang tinggi kepada ulama hadith salaf dan juga ulama sebelumnya. Terlalu banyak faktor yang membezakan ilmu ahli hadith salaf dan ilmu ahli hadith ulama-ulama selepas mereka. Apatah lagi ulama hadith masa kini, apatah lagi SAYA dan ANDA yang hanya tahu itu dan ini sahaja!

Ini adalah sekadar luahan hati saya apabila mendengar kata-kata atau membaca tulisan-tulisan yang saya dapati cenderung ke arah dua kesilapan besar:

1- Pertama, Menyamakan sahaja taraf muhaddith salaf dengan muhaddith selepas mereka seterusnya muhaddith moden.

2- Kedua, Tidak memperdulikan apa kata muhaddith terdahulu. Apa yang penting ialah kata-kata muhaddith zaman sekarang. Kalau dikatakan kepada orang ini ’al-Bukhari kata dhaif’, dia akan jawab ’tak apa, al-Albani kata sahih’.

Apa sebabnya? Sebabnya saya ringkaskan kepada dua perkara juga iaitu:

1- Pertama, Kurang kesungguhan untuk mencari apa kata muhaddith salaf tentang sesuatu hadith. Dengan mudahnya kita membuka buku moden atau menekan butang pada komputer untuk mencari apa kata ulama hadith moden. Ia menjimatkan masa dan memudahkan urusan. Sedangkan apa yang berlaku ialah kita telah mengabaikan pendapat-pendapat awal tentang hadith tersebut yang lebih hebat dan tepat.

2- Kedua, Tidak memberikan perhatian kepada sejarah perkembangan hadith. Lalu tidak mengenali siapa muhaddith salaf. Ditambah pula dengan tidak mengenali metodologi penulisan ulama-ulama salaf. Ini akan menjadikan kita tidak pandai menggunakan buku rujukan yang awal lalu kita ’skip’ dan terus menuju kepada kajian moden.

Apa akibatnya? Juga dua perkara:

1- Pertama, Berlaku kesilapan dalam menilai hadith. Yang telah didhaifkan oleh ulama-ulama salaf telah dinilai sahih. Begitu juga sebaliknya, ada hadith yang telah disahihkan oleh ulama salaf tetapi didhaifkan oleh ulama moden. Adakah mereka layak untuk melakukan perkara tersebut?

2- Kedua, Secara tidak sedar, kita telah memandang remeh dan memperlekehkan imam-imam salaf lalu kita hanya mengambil pendapat mereka dalam aqidah, akhlak, fiqh dan lain-lain tetapi kita tinggalkan fatwa mereka tentang hadith dan penilaian hadith.



Masalah khilafiyah : Menyebut sayyidina dalam selawat ( solat )


Sumber : Insan Kamil



Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika solat maupun di luar solat. Hal itu termasuk amalan yang utama, kerana merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:

الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ

“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).


Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:

عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ
وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ


“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).


Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat.


Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:

“Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang difahami oleh sebahagian orang dari beberapa riwayat hadits ’saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.’ Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)


Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Kerana memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.


Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam solat?


لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ

“Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”

Ungkapan ini memang diklaim oleh sebahagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.


Akan tetapi mengikut pandangan sebahagian ulamak yang lain pula, ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ , Sehingga tidak boleh dikatakan لَاتُسَيِّدُوْنِي


Oleh itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak boleh dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam solat?

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam solat.

Wallahu alam bishowab.


Ustazah : menyebut " sayyidina " tidak ada dalam peraturan solat yang disebutkan dalam sifat solat nabi.

Masalah khilafiyah - Persoalan basmalah


Ulama sepakat mengatakan bahawa ‘basmalah’ adalah merupakan sebahagian daripada surah An-Naml , tetapi berselisih pendapat mengenai adakah diwajibkan membacanya dalam solat.


Abu Hanifah dan Ahmad
mengatakan ianya adalah sunat sahaja kerana mereka beranggappan bahawa basmalah bukanlah satu ayat dari surah Al-Fatihah.


Imam Syafie
mewajibkan membacanya

Para Qurra Makkah dan Kufah
basmallah adalah merupakan sebahagian dari surah Al-Fatihah

para Qurra Madinah , Basrah dan Syam
tidak menganggap basmalah adalah ayat daripada surah al-Fatihah.Mereka mengatakan bahawa basmalah hanya merupakan pemutus antara setiap surah-surah yang terdapat dalam al-Quran.


Pendapat para Qurra Madinah , Basrah dan Syam ini dikuatkan dengan dalil daripada hadis Nabi saw sebagaimana berikut :

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان لا يعــرف فصــل السور حتى ينــزل عليه
( بسم الله الرحمن الرحيم)

“Sesungguhnya Rasulullah saw tidak mengetahui akan pemutus antara surah-surah sehinggalah diturunkan Bismillahir Rahmanir Rahim.

[HR Abu Daud : 788 , Al-Hakim : 1/231. Disahkan dan dipersetujui oleh Az-Zahabi]




Walaubagaimana pun terdapat juga dalil yang mengatakan bahawa Basmalah bukanlah sebahagian daripada al-fatihah sebagaimana hadis daripada Anas bin Malik ra :

أن النبي صلى الله عليه وسلم وأبا بكر وعمر كانوا يفتتحون الصلاة ب
(الحمد لله رب العالمين)

“Adalah Rasulullah saw dan Abu Bakar serta Umar memulai solat dengan (Alhamdulillahi rabbil ‘Alamin) [H.Muttafaqun ‘Alaih , Bukhari :743 dan Muslim : 399]



Dalam Riwayat Imam Muslim terdapat tambahan yang menyebutkan bahawa mereka iaitu Rasulullah saw , Abu Bakar dan Umar tidak menyebut Basmalah samada diawal bacaan ataupun diakhir bacaan al-Fatihah sebagaimana berikut :

لا يــذكرون ( بسم الله الرحمن الرحيم) في أول قراءة ولا في آخرها



Malah menurut Asy-Syaikh Abdullah bin Abd Rahman Al-Bassam , terdapat hadis sahih yang jelas menunjukkan bahawa Basmalah bukanlah merupakan ayat daripada surah Al-Fatihah sebagaimana berikut :

أن الله قال: قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين ، فإذا قالالحمد لله رب العالمين ، قال : حمدني عبدي …. إلخ

“Nabi saw bersabda : Sesungguhnya Allah swt telah berfirman : Aku membahagi dua solat hambaku , separuh untuk untuk-Ku dan separuh untuk hamba-Ku.(Untuk hamba , apa yang ia minta)…..Ketika hambu-Ku membaca (Alhamdulillahi rabbil ‘Alamin) , Aku berfirman : Hamba-Ku memuji-Ku………hingga akhir.

[HR Imam Muslim : 395]


Hadis di atas jelas menunjukkan bahawa permulaan al-Fatihah adalah (Alhamdulillah….) bukannya basmalah ….Allahu A’alam…



Rujukan :

- Taudhih Ahkam min Bulughil Maram , Asy-Syaikh Abdullah Abd Rahman Al-Bassam. Fathul Qadir
- Al-Ahkam Asy-Syar’iyyah li qurra al-Quran al-Karim , Asy-Syaikh Dr. Mahmud Ahmad Sa’id al-Atrash.


30.1.10

RUKUN SOLAT : SALAM


Mengucap salam yang pertama adalah rukun solat yang menandakan berakhirnya solat yang dilakukan.



Membaca Salam


Nabi SAW mengucapkan salam dengan menoleh ke kanan seraya mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum warahmatullah”, sehingga terlihat pipi kanannya yang putih. Juga menoleh ke kiri seraya mengucapakan “Assalaamu ‘alaikum warahmatullah”, sehingga terlihat pipi kirinya yang putih.
( diriwayatkan oleh Muslim, Abu Daud, Nasa’i dan Tirmidzi )


Menurut riwayat Abu Daud terkadang Nabi SAW menambahkan dengan
“Wabarokaatuh” pada salam pertamanya.


Dalam hadits riwayat Nasa’I disebutkan bahwa ketika menoleh ke kanan, terkadang Beliau SAW
mengucapakan “Assalaamu ‘alaikum warahmatullah”, dan ketika menoleh ke kiri hanya
mengucapakan “Assalaamu ‘alaikum”.

Terkadang Beliau SAW mengucapkan salam sekali saja dengan ucapan “Assalaamu ‘alaikum” dengan sedikit memalingkan wajahnya ke kanan.
( diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)


Semasa mengucap salam dilarang menggerakkan tangan

Ketika mengucapkan salam para sahabat ada yang mengisyaratkan (menggerakkan) dengan tangan mereka waktu menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini dilihat oleh Rasulullah SAW, lalu Beliau SAW bersabda, ”Mengapa kamu menggerakkan tanganmu seperti ekor kuda yang gelisah? Bila seseorang diantara kamu mengucapkan salam, hendaknya ia berpaling kepada temannya dan tidak perlu menggerakkan tangannya”. (Ketika mereka melakukan shalat berikutnya bersama Rasulullah SAW, mereka tidak melakukannya lagi.


Dalam riwayat lain dikatakan ”Seseorang diantara kamu cukup meletakkan tangannya diatas
pahanya, kemudian mengucapkan salam dengan menoleh ke saudaranya yang ada disebelah
kanannya dan saudaranya disebelah kirinya”. (HR. Abu Uwanah dan Thabrani).



RUKUN SOLAT : DUDUK DAN MEMBACA TASYAHHUD AKHIR

Apa yang dimaksudkan duduk Tahiyyat/Tasyahhud akhir ?

Duduk Tahiyyat/Tasyahhud akhir bermakna duduk di hujung rakaat akhir solat.


Apa hukum duduk Tahiyyat/Tasyahhud Akhir?

Hukum duduk tahiyyat akhir adalah wajib dan merupakan rukun solat. Jika ditinggalkan batallah solat. Cara duduk ini dinamakan duduk tawaruk. Manakala duduk semasa membaca tahiyyah awal dan duduk antara dua sujud dinamakan duduk iftirasy.



Perbezaan duduk iftirasy dengan duduk tawaruk


Perbezaan antara dua jenis duduk tersebut berdalilkan hadis dari Abu Humaid r.a. yang menceritakan sifat solat Nabi s.a.w.;

“Apabila baginda duduk sesudah dua rakaat, baginda duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan tapak kakinya yang kanan. Apabila baginda duduk pada rakaat yang akhir, baginda mengulurkan tapak kakinya yang kiri (ke bawah betis kanan) dan menegakkan tapak kakinya yang kanan dan baginda duduk di atas punggungnya” (Riwayat Imam Bukhari).


Duduk semasa membaca tasyahhud akhir ialah dengan meletakkan punggung di lantai. telapak kaki kiri menempel ke lantai, hujung kaki kiri dan kaki kanan berada pada satu sisi. Sehingga menjadikan kaki kiri berada di bawah paha dan punggung betis kaki kanan.

Juga dengan menegakkan telapak kaki kanannya tetapi kadang mendatarkannya.

Beliau SAW menahan tubuhnya pada lutut kirinya dengan telapak tangan kirinya.


Pandangan lain berkaitan cara duduk ini


Sebahagian ulamak yang lain (antaranya Imam Abu Hanifah) berpandangan;
cara duduk semasa Tahiyyat Akhir adalah sama seperti cara duduk semasa Tahiyyat Awal iaitu Iftiraysh.
Mereka berdalilkan hadis dari Saidatina Aisyah r.a. yang menceritakan sifat solat Nabi s.a.w.; “…Nabi membaca tahiyyat setiap selesai dua rakaat. Baginda (duduk tahiyyat dengan) menghampar kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan…”
(Riwayat Imam Muslim).

Dalam hadis ini ‘Aisyah r.a. hanya menyebutkan satu jenis duduk sahaja bagi Tahiyyat/Tasyahhud iaitu duduk Itiraysh.


Ikut fatwa dari Imam Syafie
yang paling menepati sunnah iaitu duduk 'tawaruk'
(duduk tahyat akhir yang banyak orang kita buat di Malaysia ni).




Apakah yang dibaca semasa duduk Tahiyyat akhir ?

1. Bacaan Tahiyyat
2. Bacaan Selawat

Bacaan tahiyyat ialah;


التَّحِيَّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ لِلَّهِ،
السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ،

السَّلامُ عَلَيْنا وعلى عِبادِ اللّه الصَّالِحينَ،
أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ


Maksudnya : “Segala kerajaan/kekuasaan, limpahan barakah, selawat dan kalimah-kalimah yang baik adalah milik Allah. Selamat sejahtera ke atas engkau wahai Nabi serta rahmat Allah dan juga keberkatan-keberkatanNya. Selamat sejahtera juga ke atas kami serta ke atas hamba-hamba Allah yang soleh. Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu adalah Rasul Allah”.

(Riwayat Imam Muslim dari Ibnu ‘Abbas r.a.)


Bacaan Selawat pula ialah;

اللَّهم صلِّ عَلَى مُحمَّدٍ وعَلَى آلِ مُحمَّدٍ كما صلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وعَلَى آل إِبْرَاهِيْمَ
وباركْ عَلَى مُحمَّد وعَلَى آلِ مُحمَّدٍ كما باركتَ عَلَى إِبْرَاهِيْم وعَلَى آل إِبْرَاهِيْم في العالمينَ إنَّكَ حميدٌ مجيدٌ


Maksudnya : “Ya Allah, kurniakanlah selawat ke atas Muhammad dan ke atas ahli Muhammad sebagaimana kamu mengurniakan selawat ke atas Ibrahim dan ke atas ahli Ibrahim. Serta kurniakanlah barakah ke atas Muhammad dan ke atas ahli Muhammad sebagaimana engkau kurniakan barakah ke atas Ibrahim dan ahli Ibrahim dalam seluruh alam. Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha mulia”.
(Riwayat Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud)


Bagaimana kedudukan jari-jari tangan kita semasa Tahiyyat/Tasyahhud itu?

Ketika duduk tahiyyat, kita meletakkan tangan kanan di atas paha kanan
dalam keadaan jari hujung (yakni kelingking), jari manis dan jari tengah digenggam, sementara jari telunjuk dilepaskan dan diangkat serta diisyaratkan (menghala ke arah kiblat)
ketika menyebutkan (إلا الله) sambil meniatkan di dalam hati tauhid dan ikhlas di mana ia terus diluruskan tanpa meletak atau menjatuhkannya sehingga salam. Ibu jari diletakkan pada jari tengah. Adapun tangan kiri, hendaklah diletakkan di atas paha kiri.



Cara kedudukan tangan di atas adalah berdalilkan hadis-hadis berikut;

Hadis Ibnu ‘Umar r.a. yang menceritakan;
“Adalah Rasulullah s.a.w. apabila duduk di dalam solat, baginda meletakkan tapak tangannya yang kanan di atas paha kanannya dan baginda menggenggam semua jarinya dan memberi isyarat dengan jarinya bersebelahan ibu jari (yakni jari telunjuk). Adapun tapak tangan kirinya, baginda letakkan di atas paha kirinya”
. (Riwayat Imam Muslim)


Diriwayatkan dari Abdullah bin az-Zubair r.a. yang menceritakan;
“Adalah Rasulullah s.a.w. apabila duduk berdoa (semasa tasyahhud) baginda meletakkan tangannya yang kanan di atas pahanya yang kanan dan tangannya yang kiri di atas pahanya yang kiri. Baginda melakukan isyarat dengan jari telunjuknya, sementara ibu jari baginda letakkan pada jari tengahnya. Adapun tangan kiri, maka baginda meratakannya di atas lutut kirinya”.
(Riwayat Imam Muslim)



Kewajiban Membaca Shalawat Nabi pada Tasyahhud Akhir

Nabi SAW pernah mendengar seseorang mengucapkan do’a dalam solatnya tetapi tanpa
mengucapkan pujian kepada Allah dan shalawat kepada Nabi SAW,
lalu Beliau SAW bersabda kepadanya, : “Orang ini tergesa-gesa”.
Kemudian Beliau SAW memanggil orang itu lalu bersabda
: kepadanya dan orang yang lainnya, “Bila seseorang solat, hendaklah ia memulainya dengan bacaan tahmid dan pujian kepada Allah ‘azza wa jalla. Kemudian mengucapkan shalawat Nabi lalu memanjatkan do’a yang diinginkannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Hakim).

Rasulullah SAW melihat seseorang sedang solat. Kemudian ia membaca hamdalah dan memuji
Allah lalu mengucapkan shalawat Nabi. Beliau SAW bersabda kepadanya ”Memohonlah niscaya
akan dikabulkan dan mintalah niscara akan diberi.” (HR. Nasa’i).


Bacaan doa selepas selesai membaca tahyiyyat/ tasyahhud akhir

Kewajiban Memohon Perlindungan dari 4 Macam Hal

Nabi SAW bersabda, ”Bila seseorang selesai membaca tasyahhud (akhir), hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 perkaraiaitu :
" Allahumma innii a’uudzubika min ’adzaabi jahannam wamin ’adzaabil qobri,
wamin fitnatil mahyaa wal mamaat, wamin syarri fitnatil masiihid dajjaal "

Maksudnya : (Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka Jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dari fitnah Dajjal’. Selanjutnya hendaklah ia berdo’a memohon kebaikan untuk dirinya sesuai kepentingannya”.
(HR. Muslim, Abu Uwanah, dan Nasa’i).

Menurut Abu Daud dan Ahmad, Nabi SAW biasa membaca do’a tersebut dalam tasyahhudnya.
Nabi SAW mengajarkan do’a tersebut kepada para sahabatnya seperti Beliau SAW mengajarkan
surah Al-Qur’an kepada mereka.

CARA DUDUK & BACAAN TASYAHHUD AWAL



CARA DUDUK TASYAHHUD AWAL



Apa yang dimaksudkan duduk Tahiyyat/Tasyahhud awal ?

Duduk Tahiyyat/Tasyahhud awal bermakna duduk di hujung rakaat kedua .

Tujuan duduk ialah untuk membaca tasyahhud atau tahiyyat awal dan juga selawat. Duduk tahiyyat awal; iaitu duduk di hujung rakaat kedua solat.



Apa hukum duduk Tahiyyat/Tasyahhud Awal?


Para ulamak berbeza pandangan;

Pandangan yang mengatakan duduk tahiyyat awal adalah sunat

Pandangan Imam Abu Hanifah, Malik dan Syafi’ie; duduk Tahiyyat/Tasyahhud dan juga membaca Tahiyyat/Tasyahhud semasa duduk itu hukumnya sunat sahaja (tidak wajib).

Jika ditinggalkan tidak membatalkan solat, namun hukumnya makruh dan disunatkan sujud sahwi.

Dalil mereka ialah dalam hadis Musi’ as-Solah yakni hadis berkenaan seorang lelaki yang salah dalam menunaikan solat, lalu diajar oleh Nabi, Nabi s.a.w. tidak menyebutkan tentang tahiyyat/tasyahhud awal tatkala menerangkan kaifiyat solat.

Selian itu, ada hadis menceritakan bahawa Nabi pernah tertinggal tasyahhud awal, namun baginda tidak mengulanginya, akan tetapi menggantinya dengan sujud sahwi sahaja.



Pandangan yang mengatakan duduk tahiyyat awal adalah wajib

Pandangan Imam Ahmad; ia adalah wajib.

Dalil mereka arahan Nabi s.a.w.; “Apabila kamu duduk pada setiap dua rakaat, bacalah; “at-Tahiyyatul lillahi was-Solawati wat-Thaiyyibati…” (Riwayat Imam Ahmad, an-Nasai dan at-Thabrani dengan sanad yang soheh).

Selain itu, ia tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi s.a.w.. (al-Mughni, 1/373)



Apakah cara duduk yang disunatkan ketika duduk Tahiyyat/Tasyahhud?

Ketika tahiyyat awal duduk secara iftriraysh . Berikut ialah cara duduk tahiyyat awal mengikut pandangan sebahagian ulamak termasuk mazhab Syafi’ie.

Duduk iftiraysh ialah dengan menghamparkan kaki kiri sebagai hamparan bagi punggung dan memacakkan kaki kanan. Adapun duduk tawarruk pula ialah dengan mengeluar/menghulurkan kaki kiri ke bawah kaki kanan dan pangkal paha (yakni punggung) diletakkan di atas lantai, adapun kaki kanan dipacakkan/ ditegakkan, jari kaki dilenturkan mengadap kiblat.


hadis dari Abu Humaid r.a. yang menceritakan sifat solat Nabi s.a.w.;
“Apabila baginda duduk sesudah dua rakaat, baginda duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan tapak kakinya yang kanan. Apabila baginda duduk pada rakaat yang akhir, baginda mengulurkan tapak kakinya yang kiri (ke bawah betis kanan) dan menegakkan tapak kakinya yang kanan dan baginda duduk di atas punggungnya” (Riwayat Imam Bukhari).


Muslim dan Abu Uwanah meriwayatkan bahwa apabila duduk tasyahhud, Nabi SAW meletakkan tangan kanan diatas paha kanannya dan meletakkan telapak tangan kirinya pada paha kiri ( dalam riwayat lain disebutkan meletakkan tangan kanan pada pada lutut kanannya dan meletakkan tangan kiri pada lutut kirinya )


Merenggangkan telapak tangannya diatas lutut.


Menurut Nasa’i, Nabi SAW meletakkan siku kanan diatas paha kanannya. Nabi SAW melarang
bertumpu pada tangan kirinya pada waktu duduk tasyahud dalam sholat sebagaimana sabdanya
”Cara semacam itu adalah cara sholat orang Yahudi.” (HR Baihaqi dan Hakim).

Dalam hadits lain disebutkan ”Janganlah engkau duduk seperti itu karena duduk seperti tiu adalah duduknya orang yang sedang diazab.” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Dalam hadits lain disebutkan ”Duduk seperti itu adalah cara duduk orang-orang yang dimurkai Allah.” (HR Abdur Razzaq).



Apakah yang dibaca semasa duduk Tahiyyat awal ?

Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabatnya berbagai macam bacaan tasyahhud.
ada yang dikenali sebagai Tasyahhud Ibnu Mas’ud, Tasyahhud Ibnu Abbas, Tasyahhud Ibnu Umar dan lain lain.

Cara bacaan tahiyyat awal yang diamalkan oleh masyarakat kita :


التَّحِيَّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ لِلَّهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّهَا النَّبيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنا وعلى عِبادِ اللّه الصَّالِحينَ،
أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ

“Segala kerajaan/kekuasaan, limpahan barakah, selawat dan kalimah-kalimah yang baik adalah milik Allah. Selamat sejahtera ke atas engkau wahai Nabi serta rahmat Allah dan juga keberkatan-keberkatanNya. Selamat sejahtera juga ke atas kami serta ke atas hamba-hamba Allah yang soleh. Aku bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahawa Muhammad itu adalah Rasul Allah”. (Riwayat Imam Muslim dari Ibnu ‘Abbas r.a.)

di sambung dengan bacaan Selawat pula ialah;

اللَّهم صلِّ عَلَى مُحمَّدٍ وعَلَى آلِ مُحمَّدٍ
“Ya Allah, kurniakanlah selawat ke atas Muhammad dan ke atas ahli Muhammad
(Riwayat Imam Muslim dari Ibnu Mas’ud)


Bagaimana kedudukan jari-jari tangan kita semasa Tahiyyat/Tasyahhud itu?

Ketika duduk tahiyyat, sunat kita meletakkan tangan kanan di atas paha kanan dalam keadaan jari hujung (yakni kelingking), jari manis dan jari tengah digenggam, sementara jari telunjuk dilepaskan dan diangkat serta diisyaratkan (menghala ke arah kiblat) ketika menyebutkan (إلا الله) sambil meniatkan di dalam hati tauhid dan ikhlas di mana ia terus diluruskan tanpa meletak atau menjatuhkannya. Ibu jari diletakkan pada jari tengah. Adapun tangan kiri, hendaklah diletakkan di atas paha kiri.


Cara kedudukan tangan di atas adalah berdalilkan hadis-hadis berikut;


1. Hadis Ibnu ‘Umar r.a. yang menceritakan; “Adalah Rasulullah s.a.w. apabila duduk di dalam solat, baginda meletakkan tapak tangannya yang kanan di atas paha kanannya dan baginda menggenggam semua jarinya dan memberi isyarat dengan jarinya bersebelahan ibu jari (yakni jari telunjuk). Adapun tapak tangan kirinya, baginda letakkan di atas paha kirinya”. (Riwayat Imam Muslim)


2. Dari Ali bin Abdirrahman al-Maghafiri yang menceritakan dari Abdullah bin ‘Umar r.a. yang melihat seorang lelaki mengerak-gerakkan batu dengan tangannya ketika ia sedang solat. Apabila lelaki selesai solat, Abdullah berkata kepadanya; “Jangan mengerak-gerakkan batu semasa kamu berada dalam solat kerana itu adalah dari Syaitan. Akan tetapi lakukanlah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah s.a.w.. Lelaki itu bertanya; “Bagaimana yang dilakukan baginda?”. Abdullah menjelaskan kepadanya; “Baginda meletakkan tangannya yang kanan di atas paha kanannya, mengisyaratkan jarinya yang bersebelahan ibu jari ke arah kiblat dan melontarkan pandangan matanya ke arah jari tersebut. Begitulah yang aku lihat dilakukan Rasulullah s.a.w.”. (HR Imam an-Nasai).

3. Diriwayatkan dari Abdullah bin az-Zubair r.a. yang menceritakan; “Adalah Rasulullah s.a.w. apabila duduk berdoa (semasa tasyahhud) baginda meletakkan tangannya yang kanan di atas pahanya yang kanan dan tangannya yang kiri di atas pahanya yang kiri. Baginda melakukan isyarat dengan jari telunjuknya, sementara ibu jari baginda letakkan pada jari tengahnya. Adapun tangan kiri, maka baginda meratakannya di atas lutut kirinya”. (Riwayat Imam Muslim)

4. Dalam hadis riwayat Abu Daud dan an-Nasai, seorang sahabat bernama Wail bin Hujrin r.a. tatkala menceritakan sifat solat Nabi s.a.w., beliau memberitahu; “…Semasa Tahiyyat, Rasulullah s.a.w. meletakkan tangan kanannya (bermula dari siku) di atas paha kanannya, kemudian baginda menggenggam dua jari dari jari-jari tangannya (iaitu jari kelingking dan jari hantu) dan membentuk gelungan (dengan jari tengah/telunjuk dan ibu jarinya), kemudian mengangkat jari (telunjuk)nya. Aku melihat beliau menggerak-gerakkan jari telunjuknya itu sambil berdoa dengannya” (HR Imam an-Nasai dan Abu Daud).

Di dalam hadis Abdullah bin az-Zubair tadi, diceritakan bahawa Nabi s.a.w. hanya meletakkan sahaja ibu jarinya pada jari tengahnya. Sedang di dalam hadis ini, baginda membentuk gelungan dengan dua jari tersebut.


Perlukah jari telunjuk kanan tadi digerak-gerakkan ketika mengangkat dan mengisyaratkannya tadi?

Hal ini terdapat khilaf di kalangan ulamak;

a) Pandangan pertama;
tidak perlu digerak-gerakkan kerana Nabi s.a.w. tidak melakukannya sebagaimana hadis riwayat Abu Daud dari Abdullah bin az-Zubair r.a. yang menceritakan; “Nabi s.a.w. memberi isyarat dengan jarinya (yakni jari telunjukkan) tatkala berdoa (semasa tasyahhud) dan baginda tidak menggerak-gerakkannya”.

b) Pandangan kedua;
perlu menggerak-gerakkannya berdalilkan hadis dari Wail bin Hujrin r.a. yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan an-Nasai tadi yang menceritakan; “…Aku melihat beliau (yakni Nabi s.a.w.) menggerak-gerakkan jari telunjuknya itu (semasa Tasyahhud) sambil berdoa dengannya”.

Menurut Imam al-Baihaqi; kedua-dua hadis tersebut adalah soheh. (Lihat; Mughni al-Muhtaj, jil. 1, hlm. 240).


Dalil perlunya menggerakkan Jari Telunjuk Ketika Duduk Tasyahhud.

Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa Nabi SAW merenggangkan
telapak tangan kiri diatas lutut kirinya. Tetapi Beliau SAW menggenggam semua jari tangan
kanannya dan mengacungkan telunjuknya ke kiblat. Lalu mengarahkan pandangan mata ke
telunjuknya.

Pada riwayat yang sama disebutkan bahwa ketika Beliau SAW mengacungkan telunjuknya ibu
jarinya memegang jari tengah.

Terkadang ibu jari dan jari tengahnya membentuk lingkaran.

Abu Daud dan Nasa’i meriwayatkan bahwa Nabi SAW menggerak-gerakkan jari telunjuknya
sembil berdoa.

Beliau bersabda : ”(Gerakan jari telunjuk) lebih ditakuti syaitan daripada pukulan
besi.” (HR Ahmad dan Bukhari).

Sebahagian sahabat Nabi SAW telah mengambil suatu perbuatan atau meniru perbuatan sahabat yang lain iaitu menggerakkan telunjuknya sambil berdoa. Beliau SAW melakukan ini dalam dua tasyahhudnya (tasyahhud awal dan akhir).

Dalam hadits riwayat Ibnu Abi Syaibah dan Nasa’i disebutkan bahwa Nabi SAW pernah melihat
seorang sahabat berdoa sambil mengacungkan dua jarinya. Lalu Beliau SAW bersabda sambil
mengacungkan telunjuknya kepada orang itu ”Satu saja! Satu saja!.”


PANDANGAN JUMHUR ULAMAK :
memberi isyarat jari tanpa digerak2kannya lebih kuat dan lebih ramai yang meriwayatkan


Kedua dua cara pergerakan jari telunjuk semasa membaca tasyahud akhir adalah sunat dan bukan bidaah. Cuma perselisihan dikalangan ulamak hanyalah perihal yang mana lebih afdal sahaja.

Pandangan jumhur ulamak ialah sunat memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika mengucap kalimah syahadah dan tidak menggerak-kannya kerana hadith yang menyatakan Nabi saw memberi isyarat jari saja tanpa digerak2kannya lebih kuat dan lebih ramai yang meriwayatkan


Bangkit Ke Rakaat Ketiga Dan Keempat

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi SAW bangkit ke rakaat ketiga
seraya mengucapkan takbir. Beliau SAW bersabda:, ”Kemudian lakukanlah seperti itu pada setiap rakaat dan sujud”.

Nabi SAW mengucapkan takbir ketika bangkit dari duduk, kemudian Beliau SAW berdiri. Beliau
SAW kadang mengangkat kedua tangannya bersamaan dengan mengucapkan takbir.
( di riwayatkan oleh Bukhari dan Abu Daud )


Apabila Beliau SAW hendak bangkit ke rakaat keempat, Beliau SAW mengucapkan ”Allahu
akbar”. Beliau SAW mengangkat kedua tangnnya bersamaan saat takbir. Kemudian Beliau SAW duduk tegak diatas kaki kirinya sampai ruas tulang punggungnya mapan (lurus). Lalu, Beliau SAW bangkit seraya bertumpu dengan tangannya ke tanah. ( diriwayatkan Bukhari dan Abu Daud)

kAEDAH TURUN SUJUD dalam solat , TANGAN ATAU LUTUT DAHULU?

Persoalan yang merujuk kepada hadith dan cara 'duduk' unta semasa melakukan perbuatan ketika hendak sujud merupakan satu perkara di diperselisihkan oleh ulama'-ulama'. Hadith yang rujuk tadi tarafnya sahih dikalangan beberapa ulama' hadith dan ia juga digunakan oleh beberapa ulama bagi menjustifikasikan kaedah bagaimana hendak turun melakukan sujud. Sebelum kita melihat penerangan mereka yang berpegang kepada hadith, rasanya eloklah kita lihat hadith dan perbuatan sujud yang dipegang oleh kebanyakkan ulama.


Menurut mazhab Hanafi, Syafie dan satu pandangan yang diriwayatkan dari Ahmad, seseorang yang ingin sujud hendaklah menurunkan lututnya dahulu, kemudian barulah tangannya.

Al-Tirmudzi menganggap walaupun ini adalah amalan kebanyakkan ulama, sebagaimana yang beliau ucapkan didalam Sunannya (2/57) "[Ini adalah] amalan kebanyakkan ulama' " mereka merasakan bahawa seseorang itu harus turun dengan lututnya sebelum meletakkan tangannya dibahawa, dan bila ia bangun ia harus mengangkat tangannya dahulu sebelum lututnya.

Mereka menggunakana hadith Waa'il ibn Hajar yang berkata :
"Aku melihat Nabi saw apabila beliau sujud, dia meletakkan lututnya sebelum tangan, dan bila beliau naik, beliau akan mengangkat tangannya sebelum lutut" (Riwayat Abu Daud, Al-Tirmudzi, Al-Nasaai', Ibn Majah (1/345). Tirmudzi berkata bahawa hanya seorang yang meriwayatkannya ialah Yazid ibnm Harun dari Shurayk. Tiada siapa yang meriwayatkan dari 'Aasim ib Kulab melainkan Shurayk, dan Shurayk bukanlah kuat. Dan berkata Al-Baihaqi didalam Al-Sunan (2/10): Isnad ini dhai'f (lemah). Albani mengkelaskan hadith ini sebagai dhai'f didalam al-Mishkaat (898), al-Irwa' (2/75).

Lain-lain ulama mengkelaskan hadith ini sebagai Sahih, seperti Ibn al-Qayyim (Zaad al-Ma'aad). Mereka yang mendokong bahawa harus turun sujud menggunakan lutut dahulu ialah Sheikh Al-Islam Ibn Taimiyah, Ibn Al-Qayyim, dan juga beberapa ulama zaman ini seperti Sheikh Abdul Aziz bin Baaz, Sheikh Muhammad ibnu Saalih Al-Uthsaimin dan Al-Jibrin.


Kata bin Baaz didalam Majmu' fatwa:

"Yang terbaik : Dua lutut dahulu, kemudian kedua-dua tangan dan kemudiannya muka, dari hadith Waa'il dan apa yang datang dengan maknanya"[4/234][1].

Malik, al-Awzaai dan ulama' hadith yang lain yang berpandangan sujud harus dahulukan tangan berdasarkan oleh hadith Abu Hurairah yang berkata:

"Rasulullah :saw bersabda : 'Apabila seseorang itu sujud, janganlah turun kamu seperti unta, dan letakkanlah tangan sebelum lutut' (Riwayat Ahmad (2/381), Abu Daud, Al-Tirmudzi dan Al-Nasaai'. Al-Nawawi didalam Kitab Al-Maj'mu' (3/241) berkata bahawa Isnaadnya Sahih dan Al-Nassai mengatakan Jayyid Isnaad (Isnad yang baik). Al-Albani didalam al-Irwa' (2/78) telah mengkelaskan hadith ini sebagai Sahih.

Jelas Al-Albani didalam nota kaki didalam buku Sifat Solaat Nabi (ms 141) bahawa :

"Ketahuilah bahawa unta berbeza [dari perbuatan turun seorang yg bersolat] dari meletakkan kedua tangan sebelum lutut! Unta meletakkan lututnya [dahulu], dan kedua-dua tangannya. Sebagaimana didalam buku "Lisanu Al-Arab" dan kitab-kitab bahasa yang lain."[2]

Maka cara turun untuk sujud menurut Al-Albani [Sifat Solat Nabi, 140] dan didalam Talkhis Sifat Solat Nabi ialah :

" kemudian ia harus turun bawah sujud dengan tangannya, meletakkan ia kebawah sebelum lutut. Ini adalah sebagaimana perintah Rasulullah saw dan thabit baginda melakukannya, dan dilarang meniru cara unta duduk, cara duduk dengan lutut dahulu."[3]


KESIMPULAN iBNU tAIMIYAH

Didalam penyelesaian hal ini, Sheikh Al-Islam Ibnu Taimiyah telah mengatakan didalam buku Al-fatawa (22/449) bahawa :

"Jika melakukan Solat meletakkan lutut sebelum tangan, dan jika melakukan Solat meletakkan tangan, kemudiannya lutut, solatnya SAH menurut persetujuan ulama', cuma mereka beselisih antara mana yang afdal"[4]

Rujukan :

1. Sheikh Ahmad bin Abdul Aziz bin Bazz. Majmu' Fatawa Samaahah Abdul Aziz Bin Baaz - 4 Riyad : Dr Al-Watan, 2000.
2. Sheikh Nasyiruddin Al-Albani. Sifat Solaat al-Nabi (saw) Cetakan ke 2. Riyad : Maktab Al-Ma'arif, 1996.
3. Sheikh Nasyiruddin Al-Albani. Talkhees Sifat Solaat al-Nabi (saw) min al-Takbeer ila al-Tasleem ka annaka turaahaa url : http://al-ahkam.com.my/forum/showflat.php?Cat=&Board=pelbagai&Number=10647&page=0&view=collapsed&sb=5&o=&fpart=1
4. Abdul Rahman Muhammad bin Qaasim. Majmu' Fatawa Sheikh Ibnu Taimiyyah. Beirut : Resalah.



TAMBAHAN SEBAGAI KESIMPULAN


Secara ringkasnya ada 2 kelompok ulama’ di dalam masalah ini :

KELOMPOK PERTAMA :

Mereka mengatakan bahawa apabila hendak turun sujud , maka hendaklah dengan meletakkan lutut terlebih dahulu kemudian barulah tangan .

Kata mereka lagi , kalau dibuat sebaliknya , maka jadilah turun itu seperti unta dan inilah cara yang dilarang oleh Baginda Rasulullah s.a.w .

Golongan ini juga menggunakan hadis yang diriwayatkan ataupun dipergunakan oleh al-Imam Abu Hanifah rh , al-Imam Muhammad Idris asy-Syafi’e rh , al-Imam Ahmad Bin Hanbal rh ( menurut salah-satu pandangannya ) , al-Imam at-Tirmidzie ( dengan mengatakan cara ini adalah cara yang dipraktikkan oleh majoriti ulama’ ) , al-Imam Abu Daud rh , al-Imam an-Nasaie rh , al-Imam Ibnu Taimiah rh , al-Imam Ibnul Qaiyim rh dan beberapa ulama’ terkini seperti Syeikh ‘Abdul Aziz Bin Baz rh ( bekas Mufti Arab Saudi ) , Syeikh Muhammad Bin Soleh al-‘Utsaimin rh dan Syeikh Ibnu Jibrin rh .

KELOMPOK KEDUA :

Kelompok ini pula mengatakan bahawa apabila hendak turun sujud , maka hendaklah diletakkan kedua-dua tapak tangan terlebih dahulu , kemudian kedua-dua lutut dan diakhiri dengan muka .

Menurut mereka pula , jika dibuat sebaliknya maka itulah dia cara unta turun sujud dan itulah cara yang dilarang .

Golongan ini diwakili oleh al-Imam Malik Bin Anas rh , al-Imam al-Auza’ie rh dan muhaddis di zaman moden , Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani rh serta beberapa orang ulama’ .

Kelompok ini adalah kelompok minoriti .


PANDANGAN : KAEDAH TURUN SUJUD :

( pandangan penulis blog dari soalsolatumum )



Setelah diperhatikan hujah kedua-dua pihak maka yang nyata di sini ialah LARANGAN MENIRU CARA UNTA TURUN merupakan topik yang disepakati bersama di kalangan mereka . Cuma , yang menjadi pertikaiannya sekarang ialah bagaimanakah cara unta turun ( menderum ) ke bumi ? .


Namun setelah saya bertemu semula dengan beberapa rakan saya yang belajar di Pakistan , mereka mengatakan bahawa amalan saya itu tidak betul , yang betul ialah sebagai mana hadis yang dijadikan alasan oleh golongan ulamak kedua itu .

Setelah saya meneliti perbahasan tersebut ( sekitartahun 1990 ) di dalam kitab “ SILSILAH al-AHADITS ad-DHO’IEFAH “ oleh Syeikh Muhammad Nasiruddin al-Albani rh ( Jilid kedua ) nyatalah bahawa beliau rh telah mentadh’iefkan ( melemahkan ) hadist yang dipegang oleh kelompok ulama’ pertama . Ertinya di sini , cara yang paling tepat dengan cara yang ditunjukkan oleh Baginda Rasulullah s.a.w ialah dengan turun sujud dengan kedua-dua tapak tangan terlebih dahulu , kemudian barulah lututnya . Dan semenjak hari itu , saya telah menukar cara turun sujud saya dengan cara yang dipegang oleh para ulama’ kelompok kedua itu . :smirk:

Kemudian , pada pertengahan tahun 90’an , saya telah ditaqdirkan Allah Ta’ala untuk melanjutkan pengajian di Mesir ini ( alhamdulillah ) dan setelah beberapa sampai saya sendiri telah berkesempatan ke Piramid di Giza dengan beberapa orang teman-teman sepengajian .

Di situ terdapat beberapa ekor unta yang memang dijadikan tunggangan dan disewa untuk tujuan itu oleh para pengunjung Piramid di Giza . Kebetulan di situlah saya telah berkesempatan melihat unta turun dan daripada situlah saya teringat kembali perbahasan ulama’ sekitar masalah itu .

Unta merupakan binatang berkaki empat . Kita anggap sahajalah kedua-dua kaki depannya seperti kedua-dua tangan kita ( sbg manusia ) dan kedua-dua kaki unta pula seperti kedua-dua kaki ini . Ini demi memudahkan kita memahami permasalahan ini .

Apakah yang saya lihat ? . Saya melihat unta tersebut turun ke bumi dengan cara melatakkan kedua-dua kaki hadapannya terlebih dahulu , Maknanya cara sujud yang dilarang kerana menyerupai unta ialah meletakkan kedua-dua tangan terlebih dahulu .

Memang saya terkejut kerana selama ini saya menyangka ( kerana tidak pernah berpeluang memerhatikan cara unta turun ke bumi bagaimana ) unta turun dengan kedua-dua kaki belakangnya terlebih dahulu . Rupa-rupanya yang sebenarnya ialah cara yang berlawanan pula.

Bukan sekali saya perhatikan cara unta turun , kali kedua saya berkesempatan melihat unta turun ke bumi ketika ke Semenanjung Sinai ( sempadan Palestin ) pada tahun 1997 . Sah dan confirm ….memang unta turun dengan cara meletakkan kaki hadapannya terlebih dahulu . Bukan setakat cara unta turun , saya sendiri berpeluang juga melihat bagaimanakah unta bangun pula ( iaitu dengan cara mengangkat kaki belakang ) terlebih dahulu .

Semenjak itu ( semenjak peristiwa di Piramid lagi ) , saya rujuk semula kepada amalan lama saya iaitu meletakkan kedua-dua lutut terlebih dahulu , kemudian tangan apabila hendak turun sujud .

Menurut pandangan saya ( berdasarkan ilmu yang sedikit ini dan pengalaman tersebut ) cara yang paling sesuai dan paling tepat dengan sunnah yang ditunjukkan oleh Baginda Rasulullah s.a.w sendiri ialah cara yang dipegang oleh majoriti ulama’ rh ( kelompok pertama ) dan itulah sebenarnya kaedah yang dituntut iaitu “ tidak boleh menyerupai cara unta turun dan bangun “ .

Bukan itu sahaja , malahan akal yang waras juga akan mengatakan bahawa cara yang cantik dilihat dan indah dipandang ialah meletakkan kedua-dua lutut terlebih dahulu , kemudian barulah kedua-dua tangan ke bumi apabila hendak sujud . Dan apabila hendak bangun ke rakaat berikutnya ialah dengan mengangkat kedua-dua lutut terlebih dahulu , bukannya sebaliknya.



Ustazah : Kalau dalam kamus dewan, unta disebutkan ada 4 kaki, tidak pula disebutkan ada dua tangan dan dua kaki.


SOLAT : Menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud


Menggerak-gerakkan jari telunjuk



Menggerak-gerakkan jari telunjuk ketika tasyahhud sudah menjadi sunnah matrukah (sunnah
yang ditinggalkan). Sedangkan Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam mengamalkannya:


“Nabi menggerak-gerakkan jari telunjuknya sambil membaca doa”. (Hadith Abu Daud, Nasaii, Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqa (208), Ibnu Khuzaimah (1/86/1-2), Ibnu Hibban dalam Sahihnya (485)

Hadis menggerak-gerakkan telunjuk ini mempunyai syahid pada rawi Ibnu Adi (287/1).
(Rujuk: Sifat Solat Nabi. Hlm. 196. al-Albani)


Menurut Nasruddin al-Albani: “Mengikut sunnah telah menunjukkan bahawa menggerak-gerakkan jari telunjuk berlangsung sampai dengan salam. Inilah pendapat Imam Malik dan lain-lain”.


Beliau menjelaskan lagi: “Menggerak-gerakkan jari telunjuk dalam tasyahhud merupakan perbuatan yang sah dari Nabi sallallahu ‘alaihi wa-sallam”.


Dilakukan oleh Imam Ahmad dan Imam-imam ahli hadis lainnya. Oleh kerana itu, hendaklah
takut kepada Allah orang yang beranggapan bahawa perbuatan ini sia-sia, tidak patut
dilakukan dalam solat. Kerana anggapan itu mereka tidak mahu menggerakkan telunjuknya
dalam solat, padahal mereka tahu riwayatnya sah. Mereka mencari-cari alasan untuk
mentakwilnya dengan menyalahi ketentuan bahasa Arab dan pengertian yang difahami oleh
para imam.


Hal yang aneh sebahagian dari mereka biasanya membela pendirian imamnya dalam masalah
yang lain sekalipun pendapat imam tersebut bertentangan dengan sunah Nabi. Alasannya
ialah menyalahkan imam sama ertinya dengan mencela dan tidak menghormatinya.


Akan tetapi, mereka kemudian melupakan masalah ini dan mereka menolak hadis yang sudah sahih serta mencela orang-orang yang melaksanakan perbuatan ini. Padahal dia tahu bahawa
mencela perbuatan tersebut bererti pula mencela para imam mereka yang biasanya mereka
bela mati-matian walaupun membelanya batil. Padahal para imam tersebut perbuatannya
sejalan dengan sunnah, bahkan celaan yang mereka lakukan itu mengenai Nabi sallallahu
‘alaihi wa-sallam. Kerana Nabilah yang mengajarkan hal itu kepada kita.


Oleh kerana itu, mencela perbuatan menggerak-gerakkan jari telunjuk sama halnya dengan
mencela Nabi sallallahu ‘alaihui wa-sallam.


Adapun mengacukan telunjuk sebentar, lalu berhenti atau mengacukannya pada waktu
tertentu sahaja, semuanya itu tidak mempunyai dasar dari hadis, bahkan menyalahi hadis
sahih.


Beliau menjelaskan bahawa hadis yang menyatakan: “Nabi tidak menggerakkan jari telunjuknya”. Sanad hadis tidak sah. Jika hadis ini sah, isinya menyangkal (membatalkan) adanya mengacukan telunjuk. Dalam kaedah “Ditetapkan” maka menetapkan didahulukan dari
menyangkal, seperti yang dikenal oleh para ahli fikh, maka hujjah untuk menyangkal
menggerak-gerakkan jari telunjuk tidak dapat dijadikan hujjah”. (Rujuk: Sifat Solat Nabi. Hlm.
197. Nota kaki. Sheikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)


PANDANGAN JUMHUR ULAMAK :
memberi isyarat jari tanpa digerak2kannya lebih kuat dan lebih ramai yang meriwayatkan


Kedua dua cara pergerakan jari telunjuk semasa membaca tasyahud akhir adalah sunat dan bukan bidaah. Cuma perselisihan dikalangan ulamak hanyalah perihal yang mana lebih afdal sahaja.

Pandangan jumhur ulamak ialah sunat memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika mengucap kalimah syahadah dan tidak menggerak-kannya kerana hadith yang menyatakan Nabi saw memberi isyarat jari saja tanpa digerak2kannya lebih kuat dan lebih ramai yang meriwayatkan



Adakah Sujud Wanita TIDAK SAMA Dengan Sujud Lelaki




Kita mungkin diajarkan demikian oleh guru-guru kita pada waktu masih kecil. Namun, setelah mempelajari bagaimana sebenarnya Sifat Sholat Nabi yang benar, maka tahulah kita, bahwa sujud wanita itu SAMA dengan sujud kaum Adam. Tidak ada bedanya!

Lantas darimana asalnya pengajaran sujud wanita itu harus dirapatkan ke badan, yang menyelisihi perintah Nabi bahwa ketika sujud itu harus dilebarkan?

ternyata asalnya dari hadits dibawah ini;

Dari Zaid bin Abi Habib, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wasallam pernah melewati dua orang wanita yang sedang melaksanakan sholat. Maka beliau bersabda,"Bila kalian berdua sujud, hendaknya sebagian tubuh dirapatkan ke bumi, karena dalam hal ini wanita tidak seperti laki-laki." (Subulussalam 1:351)


Dari Zaid ibn Abi Habieb : Bahwa An-Nabiy shallallahu 'alaihi wa sallam melewati dua orang wanita yang sedang shalat, lantas beliau bersabda : "Apabila kalian berdua sujud, maka rapatlah sebagian tubuh ke tanah, karena sesungguhnya (shalat) seorang wanita pada keadaan itu tidak seperti (shalat) seorang lelaki."

Berkata Al-Baihaqiy : Riwayat ini Mursal lebih baik daripada dua riwayat maushuul tentangnya. (Ash-Shan'aniy berkata) yaitu dari dua hadiets maushuul yang disebutkan oleh Al-Baihaqiy dalam sunannya, dan kedua riwayat itu dha'ief.

[Kami katakan] Belakangan kami menemukan pernyataan Ibn Hajar Al-'Aqalaaniy rahimahullah dalam Talkhiesul-Habier setelah menukil hadiets di atas, beliau berkata : Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dari dua jalan secara maushuul akan tetapi semua jalan dari keduanya MATRUUK (terdapat perawi Matruuk).

Lihat : Talkhiesul-Habier no.363 (1/242) cet.Madienah th.1384, tahqieq : As-Sayyid 'Abdullah Haasyim Al-Yamaaniy Al-Madaniy. Atau terbitan lain no.364 (1/436) cet.1/1416H/1995M, Daarul Misykaah dan Muasasah Al-Qurthubah, tahqieq atau pemberi catatan kaki : Abu 'Aashim Hasan ibn 'Abbaas ibn Quthb.


Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan ibn Daawud, telah menceritakan kepada kami Ibn Wahb, telah mengabarkan kepada kami Haiwah ibn Syuraih, dari Saalim ibn Ghailaan, dari YAZIED ibn Abi Habieb, Bahwa Rasuulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati dua orang wanita yang sedang shalat, lantas beliau bersabda :

"Apabila kalian berdua sujud maka rapatkanlah sebagian daging tubuh kalian ke arah tanah, karena sesungguhnya (shalat) seorang wanita itu dalam keadaan ini tidaklah sama dengan (shalat) seorang lelaki!"


Derajat Hadiets : DHA'IEF dinyatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam :
1. Dha'ief Al-Jaami' Ash-Shaghier no.544 (hal.7-78)
2. Silsilah Al-Ahaadiets Adh-Dha'iefah no.2652 (6/163)

Kritik Perawi :
[Kami katakan] Riwayat ini MURSAL atau munqathi', karena Yazied ibn Abi Habieb Suwaid Al-Qurasyiy (kunyahnya Abu Rajaa') adalah seorang generasi Ash-Shughraa Minat-Taabi'ien (W128H). Walaupun dia seorang perawi Asy-Syaikhaan (Al-Bukhaariy dan Muslim), namun dia tidak pernah berjumpa dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Dia kebanyakan meriwayatkan dari para Taabi'en senior.

Lihat : Rijaal Shahieh Al-Bukhaariy, oleh Al-Kalaabaadziy (323-398H) no. 1356 (2/807-808); Rijaal Shahieh Muslim, oleh Ibn Manjuwaih (347-428H) no.1866 (2/355-356).


PENDAPAT ADA BEZA SUJUD ANTARA LELAKI DAN PEREMPUAN

Mengenai permasalahan ini, ada dikalangan sarjana berpendapat bahawa terdapat beberapa perbezaan diantara solat lelaki dan wanita, akan tetapi ulama' hadith mengatakan pandangan tersebut berdasarkan kepada beberapa riwayat yang dha'if. Ulama' hadith mengatakan bahawa bahawa hadith dha'if ini tidak boleh dijadikan sebagai dalil untuk menentukan perbezaan solat wanita. Berikut adalah beberapa contoh hadith-hadith yang digunakan :-

i. Riwayat dari 'Ata' ibn al-'Ajlaan, dari Abu Nadrah al-'Abdi, dari Abu Sa'ed al-Khudri sahabat Rasulullah saw, bahawa Nabi saw :

أنه كان يأمر الرجال أن يتجافوا في سجودهم ، ويأمر النساء ينخفضن في سجودهن ، وكان يأمر الرجال أن يفرشوا اليسرى وينصبوا اليمني في التشهد ، ويأمر النساء أن يتربعن

"memerintahkan kaum lelaki meluaskan lengan tangan mereka ketika sujud, dan memerintahkan kaum wanita supaya menjaga (merapatkan) lengan mereka ketika mereka sujud, baginda memerintahkan kaum lelaki meluaskan kaki kiri dan meletakkan kaki kanan lurus semasa tashahud, dan memerintahkan kaum wanita duduk diatas kaki mereka" - [al-Baihaqi mengatakan hadith ini mungkar].

ii. Riwayat dari Abu Mutee' al-Hakam ibn Abdullah al-Balkhi, dari Umar ibn Dharr, dari Mujahid, dari Abdullah ibn Umar berkata : Rasulullah saw bersabda :

إذا جلست المرأة في الصلاة وضعت فخذها على فخذها الأخرى وإذا سجدت ألصقت بطنها في فخذيها كأستر ما يكون لها وإن الله تعالى ينظر إليها ويقول يا ملائكتي أشهدكم أني قد غفرت لها

'"Apabila seorang wanita duduk, maka dia hendaklah meletakkan pehanya diantara kedua2nya, dan apabila sujud dia menekan perutnya terhadap pehanya, merapatkan dirinya didalam keadaan tertutup, kerana Allah swt melihatnya dan berkata :'Ya Malaikatku, Aku memanggil kamu agar kamu menyaksikan sesungguh aku telah mengampunkan dosanya'". - [Sunan al-Baihaqi al-Kubra, 2/222]. Hadith ini dikatakan dha'if kerana diriwayatkan oleh Abu Mutee' al-Balki. al-Bukhari nberkata bahawa beliau adalah dha'if dan al-Nasaa'i juga mengatakan dia adalah dha'if [Lisaan al-Mizaan, 2/334].

iii. Riwayat dari Yazid ibn Abi Habib, berkata bahawa Rasulullah melalui 2 orang wanita yang sedang bersolat, baginda bersabda :

إذا سجدتما فضمَّا بعض اللحم إلى الأرض ؛ فإن المرأة ليست في ذلك كالرجل

"Apabila kamu sujud, tekankan daging (badan) kamu kebumi, kerana sesungguhnya wanita tidak sama seperti lelaki didalam itu" -[di riwayatkan oleh Abu Daud (al-Maraasiil, ms 118) dan al-Baihaqi, 2/223]. Hadith ini tarafnya mursal yang dikelaskan sebagai dha'if.


TIADA BEZA SUJUD ANTARA LELAKI DAN PEREMPUAN

Komentar Ibn Utsaimin mengenai kenyataan bahawa wanita tidak harus meluaskan lengannya, itu merapatkan ketika sujud dan ketika sujud menakankan perut ke peha, beliau menjawab :-

1. Alasan ini tidak boleh ditegakkan lebih-lebih lagi Nabi saw bersabda dengan maksud umum kepada lelaki dan wanita dengan sabdanya : صلوا كما رأيتموني أصلي "Solatlah sebagaimana kamu melihat aku bersolat".

2. Alasan ini juga tidak diperlukan kerana biasanya wanita bersolat dirumah, dan didalam keadaan ini tidak perlu mereka merapatkan anggota badan selagi mana tiada lelaki yang melihat mereka.

3. Dimasa takbir, wanita dibenarkan mengangkat tangan, mengangkat tangan kemungkinan besar akan membukanya lebih dari meluaskan lengan semasa sujud. Disamping itu juga mereka berkata mengangkat tangan itu sunnah, kerana prinsip asasnya merujuk kepada lelaki dan wanita sama didalam amalan perbuatan solat.


Pandangan yang rajih menurut al-Utsaimin ialah :-

أن المرأة تصنع كما يصنع الرجال في كل شيء فترفع وتجافي ، وتمد الظهر في حال الركوع ، وترفع بطنها عن الفخذين ، والفخذين عن الساقين في حال السجود ... وتفترش في الجلوس بين السجدتين ، وفي التشهد الأول ، وفي التشهد الأخير في صلاة ليس فيها إلا تشهد واحد ، وتتورك في التشهد الأخير في الثلاثية والرباعية ..
إذاً لا يُستثنى من هذا شيء بالنسبة للمرأة .

"Wanita hendak melakukan perkara yang sama dengan lelaki didalam solat, maka mereka hendaklah mengangkat tangan dan meluaskan tangan semasa sujud, menjadi belakang mereka selari semasa ruku', mengangkat perut mereka dari peha, dan peha mereka diangkat semasa sujud...mereka hendaklah duduk diatas kaki kiri, dan menjadikan kaki kanan menegak apabila duduk antara dua sujud, dan didalam tashahhud awal. Juga didalam tashahhud akhir, jika cuma terdapat satu tashahhud. Mereka hendaklah duduk mutawarrikan (kaki kiri dibumi, dan kaki kanan menegak) semasa Tashahhud akhir bagi solat yang mempunyai 3 atau 4 rakaat. Tidak ada pengecualian untuk wanita didalam perkara-perkara ini" - [Al-Sharh al-Mumti’, 3/304, 303]

Syeikh Nasyiruddin al-Albani didalam penutup kitab Sifat Solaat al-Nabi saw, menyatakan :

كل ما تقدم من صفة صلاته صلى الله عليه وسلم يستوي فيه الرجال والنساء ، ولم يرد في السنة ما يقتضي استثناء النساء من بعض ذلك ، بل إن عموم قوله صلى الله عليه وسلم " صلوا كما رأيتموني أصلي " يشملهن، وهو قول إبراهيم النخعي قال : تفعل المرأة في الصلاة كما يفعل الرجل.

"Semua yang telah dinyatakan didalam sifat solatnya Nabi saw menunjukkan sama diantara lelaki dan wanita, tidak ada apa-apa didalam sunnah yang memberi pengecualian bagi wanita dari mana-mana bahagian tersebut, bahkan sesungguhnya makna umum sabda Nabi saw :'Solatlah sebagaimana kamu melihat aku bersolat' temasuklah kaum wanita. Pendapat Ibrahim al-Nakhai berkata : Perbuatan wanita didalam solat adalah sebagaimana perbuatan lelaki." -[Sifat Solaat al-Nabi saw, ms 189].


Namum demikian, ulama'-ulama' Mazhab mengatakan secara keseluruhan kaifiat solat memang tidak terdapat perbezaan, cuma Al-Hafiz Imam Al-Nawawi rh. menyebut bahawa Imam al-Syafie rh. ada mengatakan didalam al-Mukhtasar :

ولا فرق بين الرجال و النساء في عمل الصلاة إلا أن المرأة يستحب لها أن تضم بعضها إلى بعض وأن تلصق بطنها بفخذيها في السجود كأستر ما تكون وأحب ذلك لها في الركوع وفي جميع الصلاة .

"Tidak ada perbezaan diantara amalan solat lelaki dan wanita melainkan wanita mustahab baginya menjaga bahagian badannya berdekatan diantara sama yang lain, dan hendaklah menjadikan perut mereka menyentuhi pehanya semasa sujud. Ini lebih tertutup dan disukai, didalam ruku' dan juga keseluruhan solat"-[al-Majmu' 3/429].

Ibn Qudamah rh. juga menyebut :

أنَّ المرأة تجمع نفسها في الركوع والسجود بدلاً من التجافي … لأنه أستر لها
"Sesungguhnya wanita hendaklah mendekatkan (anggota2nya) pada dirinya didalam ruku' dan sujud dan tidak meluaskan/melebarkannya...sesungguhnya ia lebi tertutup" [al-Mughni 2/258].

Bagi menutup perbincangan bab kaifiat solat ini, mari kita lihat komentar Syeikh Saleh al-Munajjid, seorang penceramah dan ulama' Saudi yang mengatakan bahawa :

وعلى فرض أن المرأة صلت في مكان عام قد يشاهدها فيه الرجال كالحرم المكي ، أو حديقة عامة – إذا احتاجت – فإنها تحذر من كل فعل يؤدي إلى الانكشاف ، وتحتاط في هذه الحال بما لا تفعله عادة .

"jika kita andaikan kaum wanita bersolat di tempat awam dimana lelaki mungkin melihatnya, sepertimana Masjid al-Haram, atau di Taman - Jika dia bersoalt disana, maka hendaklah mereka menjaga diri pada setiap perbuatan mereka yang boleh membawa kepada terbukanya sebahagian dari bahagian mereka, dan perlu mengambil perhatian yang lebih didalam kes ini"


PENJELASAN DAN KESIMPULAN

Jelas bahwa dalil yang digunakan sebagai dasar sujud wanita harus merapatkan ke tubuh derajatnya adalah LEMAH.

Apabila dasarnya LEMAH, maka ini tidak boleh dipakai sebagai dasar/dalil. Maka kemudian harus dikembalikan lagi kepada asal perintah dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam ketika sujud;

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak membentangkan kedua lengannya (HR Bukhari & Abu Daud), akan tetapi Beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam MENGANGKAT KEDUA LENGANNYA, menjauhkan dari sisinya sehingga tampak bulu ketiak putihnya dari belakang (HR Bukhari & Muslim. Desebutkan dalam Irwa'u al-Ghalil (354)).

dan juga pada hadits ini;

"Janganlah kamu membentangkan kedua lenganmu (seperti binatang). Tetapi tegakkanlah lenganmu dan jauhkanlah dari lambungmu. Karena bila engkau melakukan seperti itu maka setiap anggota badan ikut bersujud denganmu." (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim).

wallahualam.. Moga Allah memberi petunjuk dan hidayahnya.

RUKUN SOLAT : DUDUK ANTARA DUA SUJUD

Bangkit Dari Sujud

Rasulullah SAW mengangkat kepalanya dari sujud seraya mengucapkan takbir.

Sabda Rasulullah saw :
”Tidak sempurna solat seseorang hinga sujud sampai tulang punggungnya tenang, kemudian mengucapkan Allhu Akbar. Lalu bangkit dari sujud sehingga duduk dengan tegak.”
(HR Ahmad dan Abu Daud).

Terkadang Beliau SAW mengangkat kedua tangannya seraya mengucapkan takbir. Kemudian
membentangkan kaki kiri dan duduk diatas telapaknya dengan tenang.


Keadaan kaki semasa duduk antara dua sujud


Sabda Rasulullah saw : ”Jika kamu bersujud maka hendaknya kamu menekan. Apabila bangkit dari sujud maka duduklah diatas betis kirimu.” (HR Bukhari dan Baihaqi).

Keadaan duduk antara dua sujud Rasulullah saw dengan menegakkan kaki kanannya dan menghadapkan jari-jari kanannya ke arah kiblat.

Terkadang Rasulullah SAW duduk dengan menegakkan telapak kaki dan tumit kedua kakinya.


Thumuninah Ketika Duduk Diantara Dua Sujud

Rasulullah SAW melakukan duduk diantara dua sujud dengan thumuninah sehingga tulang
belakangnya rata dan mapan.

Sabda Rasulullah SAW : ”Tidak sempurna sholat seseorang diantara kamu sehingga dia melakukan yang demikian.” (HR Abu Daud dan Hakim).

Beliau SAW melamakan duduknya sehingga hampir sama dengan sujudnya. Demikian yang
diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Terkadang Beliau SAW diam lama sampai ada yang
mengatakan ”Beliau telah lupa.”

Doa Ketika Duduk Diantara Dua Sujud

Ketika duduk diantara dua sujud Rasulullah SAW membaca doa sebagai berikut :

1. ”Rabbighfirlii warhamnii wajburnii warfa’nii, wahdinii, wa’aanifinii, warzuqnii.” (”Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku, cukupkanlah aku, angkatlah derajatku, berilah aku petunjuk, jadikanlah aku sehat dan berilah rizki.” (HR Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

2. ”Rabbighfirlii rabbighfirlii.” (Wahai Tuhan, ampunilah aku, ampunilah aku”)

Beliau kadang membaca kedua doa tersebut ketika sholat malam. Kemudian Beliau bertakbir dan sujud yang kedua kalinya.


Sujud selepas duduk antara dua sujud

Setelah duduk antara dua sujud dan thumakninah, Selanjutnya Beliau SAW bersabda :

”Kemudian hendaknya kamu mengucapkan Allahu Akbar. Lalu sujud sehingga ruas-ruas tulang punggungmu rata atau mapan. Kemudian melakukan hal itu dalam semua sholat kamu.” (HR Abu Daud dan Hakim).

Beliau mengangkat kepalanya dan bertakbir. Beliau mengatakan kepadanya ”Kemudian
lakukanlah hal itu dalam setiap ruku dan sujud. Jika kamu melakukannya maka sempurnalah
sholatmu. Tapi jika kamu menguranginya sedikit saja dari hal itu maka kamu telah mengurangi
sholatmu.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Duduk isterahah dan bangun ke rakaat berikutnya

Setelah sujud Beliau SAW bangun dan duduk tegak. Cara duduk ialah dengan duduk diatas telapak kaki kirinya dengan tegaksampai setiap ruas tulang punggungnya mapan. ( seperti duduk antara dua sujud juga ) , Kemudian Nabi SAW bangkit ke rakaat kedua dengan tangan bertumpu ke tanah. Demikian diriwayatkan Bukhari dan Syafi’i.

29.1.10

kita serupa tapi tak sama


dongaklah ke atas kepalamu

kita berkongsi mentari yang sama
tapi kenapa panasmu
berbeza dengan panasku?

kita berkongsi bulan yang sama
tapi kenapa malammu
berbeza dengan malamku?

kita berkongsi bintang yang sama
tapi kenapa sinar untukmu
berbeza dengan sinar untukku?

kita berkongsi bumi yang sama
tapi kenapa musim untukmu
berbeza dengan musim untukku?

kita berkongsi Tuhan yang sama
tapi kenapa imanmu
berbeza dengan imanku?

28.1.10

satu hari di tanah perkuburan


Bagaimanakah
Ingin dikembalikan sesuatu
Yang telah hilang?

Bagaimanakah
Ingin ditatapi sesuatu
Yang telah pergi?

Bagaimanakah
Ingin dihayati sesuatu
Yang tidak ada di sisi?

Bagaimanakah?
Bagaimanakah kita ingin mengulangi
Sesuatu yang telah hilang dan
Ada mungkinnya tidak akan kembali?

Bagai arus air yang mengalir
Tidak akan berpatah ia
Sebagaimana dunia yang berlalu bersama masa
Tidak akan berbalik kepada waktu asalnya.

Demikianlah dunia
Apabila kita merasa kehilangan!


Demikianlah dunia
Sifatnya yang sementara

Adakala akan datang mendera!

Demikianlah kita
Semuanya tidak kekal lama
Tidak mampu menahan masa!

27.1.10

RUKUN SOLAT : SUJUD

TATA CARA TURUN BERSUJUD

Setelah i’tidal Rasulullah SAW bertakbir dan turun bersujud. Sabda Rasulullah SAW : Tidaklah sempurna solat seseorang sampai ia mengucapkan ’Sami’ Allahu liman hamidah’ sampai tegak berdiri. Kemudian mengucapkan takbir, lalu bersujud sampai ruas tulang belakangnya kembali sempuran.” (HR Abu Daud & Hakim)

Dalam hadits riwayat Abu Ya’la dan Ibnu Khuzaimah disebutkan bahwa jika hendak sujud, Nabi SAW mengucapkan takbir (dan Beliau SAW merenggangkan tangannya dari lambungnya), lalu bersujud.

Dalam riwayat Nasa’i dan Daruquthni disebutkan bahwa kadang Beliau SAW mengangkat
kedua tanganya bila hendak bersujud.


SUJUD

Turun Bersujud Dengan Mendahulukan Lutut atau Kedua Tangan


Hadith mendahulukan lutut:
"Aku melihat Rasulullah saw ketika hendak sujud meletakkan kedua lututnya sebelum kedua tangannya dan apabila bangkit mengangkat dua tangan sebelum kedua lututnya." - Hadits dikeluarkan oleh Al Imam Abu Dawud, Tirmidzi An-Nasa'i, Ibnu Majah dan Ad-Daarimy)"


hadith mendahulukan tangan :
Rasulullah SAW meletakkan kedua tangannya di atas tanah sebelum kedua lututnya. Beliaupun
memerintahkan sahabatnya melakukan hal demikian "Apabila seseorang dari kalian hendak bersujud, hendaknya tidak melakukannya seperti duduknya unta. Tetapi hendaknya meletakkan tangannya sebelum meletakkan kedua lututnya.” (HR Abu Daud dan Nasa’i).

Boleh dilakukan antara keduanya
Untuk makluman tambahan, tidak ada hadith yang sahih tentang turun sujud sama ada turun dengan mendahulukan tangan atau mendahulukan lutut. Oleh itu didapati para sahabat Nabi SAW ada yang mendahulukan lutut dan ada yang mendahulukan tangan.
Sumber : viewtopic.php?f=165&t=36409

Syeikh Torifi menyatakan bahawa ulama’ telah berbincang panjang mengenai masalah ini. Perkara ini mudah. Orang yang berat badannya kemungkinan akan memilih tangan dulu baru lutut, dan begitulah sebaliknya orang yang kurus akan menurunkan lututnya dahulu baru tangan. Tidak perlu pertikaikan oleh kerana hadith-hadith mengenai permasalahan tidak sampai kepada status sahih.


Kedudukan badan ketika sujud

Telah diriwayatkan bahawa semasa bersujud Rasulullah saw meletakkan telapak tangannya, mengembangkannya ( 1), serta mengarahkannya ke arah kiblat (2). Beliau meletakkan kedua tangannya sejajar dengan kedua bahunya ( 3), dan terkadang sejajar dengan kedua telinganya (4).

(1) HR Abu Daud dan Hakim serta dibenarkan olehnya serta disetujui oleh Zahabi. (2) HR Ibnu Khuzaimah, Baihaqi dan Hakim serta dibenarkan olehnya dan setujui oleh Zahabi. (3) HR Baihaqi dengan sanad yang sahih, Ibnu Abi Syaibah (1/82/2) dan Siraj dari jalur lain. (4) HR Abu Daud dan Tirmidzi serta dibenarkan olehnya dan Ibnu Mulqin (27/2). Disebutkan dalam kitab Irwa’u al-Ghalil


sujud dengan 7 anggota sujud


Semasa bersujud Rasulullah saw menekan kedua lututnya dan ujung kedua telapak kakinya. Menghadapkan ujung jarinya ke arah kiblat, merapatkan tumitnya dan menegakkan telapak kakinya. Inilah tujuh anggota yang dipergunakan Nabi SAW untuk bersujud, iaitu dua telapak tangan, dua lutut, dua kaki, dahi dan hidung. Rasulullah SAW menjadikan dua anggota terakhir (dahi dan hidung) menjadi satu dalam sujud.

Sabda Rasulullah saw : "Kami diperintahkan untuk bersujud dengan menggunakan 7 anggota badan : Dua telapak tangan, dua lutut, ujung kedua telapak kaki, dan kami tidak boleh menyelak baju dan rambut).” (HR Bukhari, Muslim, Abu Uwanah dan Ibnu Hibban).

Rasulullah saw bersabda : ”Tidak sah solat seseorang yang hidungnya tidak menyentuh tanah sebagai mana halnya dahinya.” (HR Daruquthni, Thabrani dan Abu Na’im).


Kedudukan tangan ketika sujud

Beliau SAW memerintahkan melakukan hal itu dalam sabdanya ”Apabila engkau bersujud, letakkanlah tanganmu dan angkatlah kedua sikumu.” (HR Muslim dan Abu Uwanah).


”Janganlah kamu membentangkan kedua lenganmu (seperti binatang). Tetapi tegakkanlah
lengamu dan jauhkanlah dari lambungmu. Karena bila engkau melakukan seperti itu maka setiap anggota badan ikut bersujud denganmu.” (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim)


Larangan menyelak rambut dan baju apabila bersujud

Menyelak lengan baju dan rambut agar tidak terurai ke bawah pada waktu ruku dan sujud telah disebutkan dalam kitab an-Nihayah. Larangan inii tidak hanya pada waktu sholat. Bahkan apabila sebelum masuk sholat dia melakukannya, maka menurut jumhur ulama tidak dibolehkan.

Hal ini diperkuat oleh larangan Nabi SAW pada seorang laki-laki yang menyibak rambutnya saat sujud.

Kewajiban Thumuninah Dalam Sujud

Rasulullah SAW selalu memerintahkan agar menyempurnakan ruku dan sujud. Orang yang tidak melakukannya diperumpamakan seperti orang yang lapar. Ia memakan satu atau dua butir kurma yang tidak mengenyangkan sama sekali. Beliau SAW bersabda ”Orang yang demikian itu adalah pencuri yang paling buruk.”

Bacaan semasa Sujud

Dalam sujudnya Rasulullah SAW membaca beberapa zikir dan doa yang berbeda-beda,
diantaranya sebagai berikut :

1. ”Subhana rabbiyal a’la” (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi”), tiga kali atau lebih.

2. ”Subhaana rabbiyal a’la wabihamdih.” (”Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi dan segala
puji bagiNya”).

3. ”Subbuuhun qudduusun rabbul malaaikati warruuhu.” (”Mahasuci dan Mahakudus, Tuhan
malaikat dan ruh).

4. ”Subhaanaka allahumma rabbanaa wabihamdika allahummaghfirlii.” (”Mahasuci Engkau,
wahai Tuhan, Tuhan kami dan dengan memujiMu wahai Tuhan, ampunilah aku”). (HR
Bukhari dan Muslim). Bacaan ini banyak Beliau SAW baca pada saat ruku dan sujudnya
sebagaimana yang diperintahkan al-Qur’an.

Rasulullah SAW bersabda ”Seorang hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud maka perbanyaklah doa (dalam sujud).” (HR Muslim, Abu Uwanah dan Baihaqi).


Keutamaan Sujud

Rasulullah SAW bersabda ”Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada
hari kiamat kelak.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana Anda mengenal mereka padahal mereka berada diantara banyak makhluk?”

Beliau bersabda ”Bagaimana pendapatmu jika diantara kumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahinya dan pada kaki-kakinya” Bukankah engkau dapat mengenalinya?” Jawab mereka ”Ya.”

Beliau bersabda ”Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya
yang bekas sujud dan cahaya putih diwajar, tangan dan kaki yang bekas wudhu.” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Beliau SAW juga bersabda ”Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka maka Allah
memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allah lalu malaikat
mengeluarkan mereka. Mereka dikenal karena ada bekas sujud pada wajahnya dan Allah
mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka dikeluarkan dari
neraka. Semua anggota anak Adam akan dimakan oleh api neraka kecuali tanda bekas sujud.”
(HR Bukhari & Muslim).


Sujud Diatas Tanah Dan Tikar

Rasulullah SAW biasa sujud diatas tanah karena masjid Beliau tidak beralaskan tikar atau lainnya. Banyak hadits yang menerangkan hal ini diantaranya hadist Abu Said al-Khudri.
Dalam hadits riwayat Muslim dan Abu Uwanah disebutkan bahwa para sahabat melakukan sholat berjamaah bersama Beliau ketika cuaca sangat panas. Jika diantara mereka ada yang tidak sanggup menempelkan dahinya ke tanah, maka dia membentangkan kainnya dan sujud diatas kain tersebut.

Rasulullah SAW bersabda ”Bumi seluruhnya telah dijadikan sebagai masjid dan alat untuk
bersuci (tayamum) bagiku dan seluruh umatku. Untuk itu dimana saja seseorang dari umatku
menemui waktu sholat maka disitulah masjidnya dan alat bersucinya. Sebelumku mereka tidak
dapat melakukan demikain kerana meraka solat di gereja-gereja dan kuil-kuil.” (HR Ahmad dan Baihaqi).

Beliau SAW pernah melaksanakan solat diatas tanah yang becek. Hal ini pernah terjadi pada pagi hari tanggal 12 Ramadhan ketika turun hujan dan halaman masjid tergenang air sedangkan atapnya terbuat dari pelepah kurma. Sehingga Rasulullah SAW terpaksa sujud diatas tanah yang becek.

Abu Sa’id al-Khudri dalam riwayat Bukhari dan Muslim berkata ”Saya melihat Rasulullah dan dikening serta hidung Beliau terlihat bekas lumpur.”

Sementara itu dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa kekadang Rasulullah
SAW solat diatas khumrah (tikar atau anyaman selebar sapu tangan) atau diatas tikar kecil. Nabi SAW pernah sujud diatas tikar yang sudah hitam karena sudah lama dipakai.

RUKUN SOLAT : I 'TIDAL


Bangun dari Ruku lakukan I'tidal

Kemudian Rasulullah SAW bangkit dari ruku sambil mengucapkan ”Sami allahu liman hamidah”
(Allah mendengar orang yang memujiNya”) (HR Bukhari & Muslim)


Sabda Rasulullah SAW : "Tidak sempurna sholat seseorang sehingga bertakbir. Kemudian ruku lalu mengucapkan Sami’a Allahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memujiNya) sampai berdiri dengan tegak” (HR Abu Daud dan Hakim)


Rasulullah SAW juga bersabda ”Sesungguhnya imam dijadikan tiada lain untuk diikuti. Jika imam mengucapkan ’Sami’a Allhu liman Hamidah’, maka ucapkanlah Allahumma walakal hamdu.’ Pasti Allah mendengar ucapan kalian. Sesungguhnya Allah berfirman melalui ucapan RasulNya, ’Sami’a Allahu liman Hamidah’.” (HR Muslim, Abu Uwanah, Ahmad & Abu Daud)


Sabda Rasulullah saw lagi : ”Sesungguhnya barangsiapa yang ucapannya itu beriringan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosa-dosa yang telah dilakukannya sebelumnya.” (HR Bukhari & Muslim)


Rasulullah SAW mengangkat tangan saat berdiri i’tidal ddengan mengucapkan bacaan berikut :

1. "Rabbanaa walakal hamdu” (HR Bukhari & Muslim). Masalah mengangkat tangan ini
sanadnya benar dari Rasulullah SAW. Pendapat ini juga diperkuat oleh jumhur ulama
dan sebagian penganut mazhab Hanafi.

2. "Rabbana lakal hamdu” (HR. Bukhari & Muslim).

3. ”Allahumma rabbana walakal hamdu” (HR Bukhari & Muslim)


Rasulullah SAW bersabda : "Apabila imam mengucapkan ’Sami’a Allahu liman hamidah’ maka ucapkanlah ’Allahumma Rabbana lakal hamdu’. Barangsiapa yang ucapannya bersamaan dengan ucapan malaikat niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari & Muslim)


Berdiri maksudnya berdiri betul luruskan tulang belakang. Lama berdiri i’tidal Rasulullah SAW sama seperti rukunya, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Bahkan kekadang Rasulullah SAW berdiri lama sampai dianggap lupa oleh sahabatnya karena lamanya Beliau berdiri. Demikian yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Ahmad.


Rasulullah SAW bersabda ”Kemudian tegakkanlah kepalamu sampai engkau berdiri tegak
(sampai semua tulang kembali menempati tempatnya masing-masing). (Dalam sebuah riwayat
dikatakan : Apabila kamu berdiri i’tidal, maka tegakkanlah kepalamu sampai tulang-tulang
kembali kepada posisinya semula).” (HR Bukhari, Muslim, Hakim & Ahmad)


Sabda Rasulullah saw lagi : ”Allah tidak akan melihat sholat seorang hamba yang tidak meluruskan tulang punggungnya antara ruku dan sujudnya.” (HR Ahmad & Thabrani)

RUKUN SOLAT : RUKU '

TATA CARA RUKU DAN BACAANNYA

Setelah membaca surah al fatihah dan ayat al-Qur’an, Baginda SAW diam sejenak. Lalu mengangkat kedua tangannya sebagaimana yang telah dijelaskan pada penjelasan di depan dalam Takbiratul Ihram. Kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu ruku.


Semasa Ruku' Rasulullah SAW meletakkan kedua telapak tangannya pada kedua lututnya . Kedua telapak tangan nya menekan kedua lututnya (seakan-akan mencengkam keduanya). Baginda merenggangkan jari-jarinya.

Sabda Rasulullah saw : ”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tangnmu di atas lutut mu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mapan ditempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).

Rasulullah SAW merenggangkan kedua sikunya dari lambungnya. Ketika ruku baginda
membentangkan dan meluruskan punggungnya sehingga jika dituangkan air dari diatasnya tidak akan tumpah.

SabdaRasulullah saw : ”Jika engkau ruku, letakkanlah tangamu pada kedua lututmu. Lalu, bentanglah punggungmu dan tekanlah tanganmu dalam rukumu.” (HR Ahmad & Abu Daud).

Rasulullah SAW tidak membungkuk terlalu kebawah dan tidak pula mendongakkan terlalu keatas. Akan tetapi tengah-tengah di antara keduanya.

Wajib Thumaninah Dalam Ruku

Sabda Beliau SAW ”Sempurnakanlah ruku dan sujudmu. Demi jiwaku yang berada dalam genggamanNya, sesungguhnya aku benar-benar melihat kamu dari balik punggungku saat kamu ruku dan sujud.” (HR Bukhari & Muslim).

Dalam riwayat Ath-Thayalisi dan Ahmad, Abu Hurairah berkata ”Kekasihku Rasulullah SAW melarangku bersujud dengan cepat seperti halnya ayam yang mematuk makanan, menoleh seperti musang dan duduk sepeti kera.”


Rasulullah SAW juga bersabda ”Pencuri yang paling jahat adalah pencurian yang mencuri dalam sholatnya.” Para sahabat bertanya ”Wahai Rasulullah bagaimana yang dimaksud dengan
mencuri dalam sholat itu?” Rasulullah menjawab ”Yaitu orang yang tidak sempurna ruku dan
sujudnya dalam sholat.” (HR Thabrani dan Hakim).


Sabda Rasulullah SAW : ”Wahai kaum muslimin, sesungguhnya tidak sah sholat
seseorang yang tidak meluruskan punggungnya dalam ruku dan sujud.” (HR Ibnu Majah &
Ahmad).

Bacaan-Bacaan Ruku

Dalam ruku Rasulullah SAW membaca bacaan yang beragam. Terkadang membaca sebuah bacaan dan di lain kesempatan membaca bacaan lain.

Diantara bacaan Beliau SAW adalah :

" Subhana rabbiyal’adhim”bermaksud : ”Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung”, Dibaca 3 kali atau lebih (HR. Ahmad, Abu Daud & Ibnu Majah).


" Subhana rabbiyal’adhimi wabihamdih” bermaksud :”Mahasuci dan Mahaagung Allah, segala puji bagiNya”Dibaca 3 kali (HR Abu Daud, Daruquthni, Ahmad & Thabrani).

" Subhanaka allahumma wabihamdika allahummagh firli” bermaksud : ”Mahasuci Engkau wahai Thuhan dan dengan memujiMu ampunilah aku”. Rasulullah SAW memperbanyak doa ini dalam ruku dan sujudnya.


Larangan Membaca Al-Qur’an Saat Ruku

Beliau SAW melarang membaca al-Qur’an saat ruku dan sujud dalam sabdanya ”Ketahuilah sesungguhnya aku melarang bacaan al-Qur’an saat ruku. Hendalah kalian mengagungkan Tuhan Yang Mahaperkasa. Sedangkan dalam bersujud hendaknya bersungguh-sungguhlah berdoa karena doa itu tentu dikabulkan.”
(HR Muslim & Abu Uwanah)

26.1.10

RUKUN SOLAT : MEMBACA SURAH FATIHAH

MEMBACA TA AWWUDZ

Rasulullah SAW membaca ta’awwudz dengan mengucapkan ”A’udzubillahi
minasyaithonirrojim min hamazihi wanafkhihi wanafatsihi” (Aku berlindung kepada Alloh dari
godaan setan yang terkutuk dari semburannya, kesombongannya, dan hembusannya)
(HR Abu Daud, Ibnu Majah, Daruquthni & Hakim).


MEMBACA BISMILLAH


Rasulullah SAW membaca ”Bismillahir-rahman-nirrahim” (Dengan nama Allah Yang
Maha pengasih dan Maha penyayang) (dengan tanpa mengangkat/mengeraskan suara).
(HR Bukhari, Muslim & Ahmad)



MEMBACA SURAH FATIHAH DARI AYAT KE AYAT

Membaca al-Faatihah adalah Sebagai Rukun

Sabda Rasulullah saw : ”Tidak sah sholat seseorang apabila belum membaca surah al-Faatihah (dan seterusnya).
(HR Bukhari, Muslim dan Baihaqi)

Membaca Surat al-Faatihah, Ayat per Ayat Kemudian Rasulullah SAW membaca surat al-Faatihah dengan memotong setiap ayat . Baginda tidak menyambung ayat dengan ayat berikutnya. ( riwayat Abu Daud dan Sahmi. )



PERIHAL PENCERITAAN MEMNACA SURAH AL FATIHAH


keutamaan dan kewajipan membaca surah al Fatihah:

Sebelumnya Rasulullah SAW membolehkan makmum membaca al-Fatihah dengan nyaring
Tetapi pada suatu solat Subuh Beliau SAW merasa terganggu oleh bacaan seorang makmum.
Setelah selesei solat Beliau SAW bersabda ”Apakah kalian tadi ikut membaca bacaan
imam?” Mereka menjawab “Benar, akan tetapi dengan cepat wahai Rasulullah” Rasulullah
berkata “Janganlah kalian lakukan kecuali kalian membaca al-Fatihah. Sesungguhnya tidak
sah solat seseorang kecuali membacanya.”
(HR Bukhari, Abu Daud & Ahmad).


Larangan menyaringkan bacaan al-fatihah dibelakang Imam

Tetapi kemudian membaca cara ini dilarang oleh Nabi SAW. iaitu ketika Rasulullah SAW
kembali dari solat jahr (sholat yang dibolehkan membaca al-Qur’an dengan keras). Dalam
sebuah riwayat dikatakan pertisiwa itu terjadi pada solat Subuh.

Beliau bersabda ”Adakah tadi kalian mengikutiku membaca al-Qur’an dengan suara keras?” Seseorang menjawab ”Aku wahai Rasulullah” Nabi SAW berkata ”Kenapa ada yang membaca demikian sehingga mengganggu bacaanku?”


Abu Hurairah berkata ”Maka para sahabat berhenti membaca al- Qur’an dengan keras dalam solat dimana Rasulullah mengeraskan bacaannya ketika mereka mendengar teguran dari Rasulullah. (Mereka membaca tanpa suara pada solat dimana imam tidak mengeraskan bacaan)” (HR Malik, Humaidi, Abu Daud dan Bukhari).

Apabila Imam membaca nyaring surah Al Fatihah, makmum hendaklah diam

Maka berdiam saat imam membaca al-Qur’an menjadi syarat kesempurnaan bermakmum.
Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya dijadikannya imam itu agar diikuti oleh makmum, maka apabila mengucapkan takbir, ikutilah mengucapkan takbir. Janganlah membaca al- Qur’an, diam dan dengarkanlah.” (HR Abu Daud, Muslim & Abu Uwanah).


Oleh karena itu makmum yang mendengarkan bacaan imam tidak perlu lagi turut membacanya.
Sabda Rasulullah SAW ”Barang siapa yang solat bermakmum maka bacaan imam adalah
menjadi bacaannya juga.” (HR Daruquthni, Ibnu Majah & Ahmad).
Ini untuk solat yang jahr (imam mengeraskan bacaannya).


MEMBACA SURAH FATIHAH SECARA SIR ( PERLAHAN )


Adapun pada solat yang harus membaca tanpa suara, Rasulullah SAW telah
menetapkan keharusan membaca al-Qur’an padanya. Jabir berkata ”Kami membaca al- Faatihah dan surah al-Qur’an pada solat Dzuhur dan Asar dibelakang imam pada dua rakaat pertama, sedangkan pada dua rakaat berikutnya membaca surah al-Faatihah saja.”
(Riwayat Ibnu Majah).


MEMBACA ' AMIIINN '

Imam Mengucapkan Amin Dengan Mengangkat Suara Dalam hadits riwayat Bukhari dan Abu Daud disebutkan bahwa ketika Rasulullah SAW selesai membaca al-Faatihah, Baginda SAW mengucapkan amin dengan suara jelas dan panjang. Orang orang yang berkemampuan dianjurkan untuk mengucapkannya. Sabda Baginda, "Apabila imam sholat mengucapkan ”Ghoiril maghdhuubi’alaihim waladhaaliin” maka katakanlah ”Amin”. (Sesungguhnya malaikiat berkata ”Amin” dan imam pun mengucapkan ”Amin”).


Dalam lafaz lain disebutkan telah bersabda Rasulullah saw :
Apabila seseorang mengucapkan amin dalam solat, dan para malaikat di langit mengucapkan amin dengan bersamaan) nescaya dosa-dosanya akan diampuni.” (HR Bukhari, Muslim & Nasa’i).


Rasulullah SAW juga bersabda ”Tidak ada suatu yang paling menjadikan orang-orang Yahudi iri kepada kalian kecuali ucapan salam dan amin (dibelakang imam).” (HR Bukhari Ibn Majah dan Ahmad).


Solat jangan di tempat terbuka

pembatas / dinding bagi solat


Pembatas di sini dimaksudkan sempadan di depan orang yang bersolat. Bersolat mestilah ada pembatas seperti dinding. Tidak dibenarkan solat di tempat terbuka, yang dihadapannya tempat orang lalu lalang.

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Ahmad, Rasulullah SAW berdiri di dekat pembatas. Jarak antara beliau dan pembatas sekitar 3 hasta. Menurut Bukhari dan Muslim, jarak antara tempat sujudnya dan tembok cukup untuk dilalui seekor kambing.

Rasulullah SAW bersabda ”Janganlah engkau solat kecuali dengan pembatas, dan janganlah
engkau membiarkan seseorang lewat di depanmu dikala solat. Jika dia memaksakan
kehendaknya lewat di depanmu, bunuhlah dia karena sesungguhnya ia bersama dengan setan.”
(HR. Ibnu Khuzimah)

Sabda Rasulullah saw : ”Jika seseorang dari kalian melakukkan solat pada pembatas

hendaknya mendekatkan pada batas itu sehingga setan tidak dapat memutus solatnya.”
(HR Abu Daud, Bazzar dan Hakim).

Apabila Baginda SAW bersolat di tempat terbuka, tidak ada sesuatu sebagai pembatas (didepan tempat solat), maka beliau menancapkan tombak didepannya. Lalu beliau melakukan solat menghadap pembatas itu, sedangkan orang-orang bermakmum dibelakangnya.


Sabda Rasulullah SAW, "Apabila seseorang diantara kalian meletakkan tiang sepanjang pelana di depannya, maka sholatlah menghadapnya dan hendaknya tidak menghiraukan orang yang lewat dibelakang tiang itu.” (HR Muslim dan Abu Daud).


Rasulullah SAW tidak pernah membiarkan sesuatu yang melewati antara dirinya dan pembatasnya. Pernah Beliau SAW solat lalu lewat didepannya seekor kambing. Maka Rasulullah SAW mendahuluinya maju sampai perutnya menempel di dinding (sehingga kambing itu melewati belakang Beliau).
( Hadith riwayat Ibnu Khuzimah, Thabrani dan Hakim )


Suatu ketika Rasulullah SAW solat fardhu, Beliau SAW menggenggam tangannya. Selesai solat
mereka bertanya “Wahai Rasulullah, adakah sesuatu yang baru dalam solat?” Beliau menjawab
“Tidak, hanya saja syaitan hendak lewat di depanku. Lalu aku cekik sampai lidahnya terasa dingin di tanganku. Demi Allah, seandainya saudaraku, Nabi Sulaiman tidak mendahuluiku, maka aku akan ikat setan itu pada sebuah tiang masjid sehingga dapat dilihat anak-anak kecil penduduk Madinah.” (HR Ahmad, Daruquthni dan Thabrani).


Rasulullah SAW bersabda ”Apabila seseorang melakukkan solat menghadap sesuatu sebagai pembatas dari orang lain, maka apabila seseorang melampaui batas didepannya itu maka hendaknya mendorong sekuatnya atau semampunya (dalam riwayat lain disebutkan : hendaknya menghalanginya dua kali). Jika ia tetap menerobos maka bunuhlah ia. Sesungguhnya dia adalah syaitan.” (HR Bukhari dan Muslim)


Sabda Rasulullah saw : ”Apabila orang yang lewat di depan orang yang sholat itu mengetahui dosanya, niscaya dia akan lebih baik berdiri 40 (empat puluh) tahun daripada berlalu didepan orang yang sholat.” (HR Bukhari dan Muslim)


Abu Dzar berkata ”Wahai Rasulullah, apakah bedanya anjing hitam dan anjing berwarna
merah?” Beliau menjawab ”Anjing hitam adalah syaitan.” (HR Muslim, Abu Daud & Khuzaimah).


Rasulullah SAW melarang bersolat menghadap kubur dengan sabdanya :
”Janganlah kalian sholat menghadap kubur dan janganlah duduk diatasnya.”
(HR Muslim, Abu Daud & Ibnu Khuzimah).



RUKUN SOLAT - BERDIRI BETUL

Dalam sholat fardhu dan sunnah Rasulullah SAW melakkukannya sambil berdiri sesuai dengan
perintah Allah SWT dalam al-Baqarah ayat 238 yang bermaksud :


”Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan khusyu.”



Dalam sebuah riwayat Tirmidzi dan Ahmad disebutkan bahwa Rasulullah SAW melakukan sholat menjelang datang ajalnya sambil duduk. Dalam kesempatan lain Beliau melakukan sholat sambil duduk, iaitu ketika dalam keadaan sakit. Sedangkan orang-orang dibelakangnya mengikutinya sambil berdiri. Lalu Rasulullah SAW memberikan isyarat agar mereka duduk, maka merekapun duduk.

Setelah selesai sholat Beliau bersabda ”Kalian tadi hampir saja melakukan apa yang telah dilakukan oleh bangsa Romawi dan Persia, dimana mereka berdiri di depan rajanya sedangkan rajanya duduk. Maka janganlah kalian melakukannya.

Sesungguhnya keberadaan imam adalah agar diikuti. Bila ia ruku, maka rukulah; bila berdiri maka berdirilah; dan jika sholat sambil duduk maka duduklah bersama-sama”.
(Hadith riwayat Muslim).


Solat dalam keadaan duduk

Sholat orang sakit sambil duduk, seperti sabda Beliau
”Solatlah dengan berdiri. Bila tidak boleh, sambil duduk. Bila tidak boleh juga sambil terlentang.” (HR. Bukhari, Abu Daud & Ahmad).


Beliau bersabda ”Barangsiapa melakukannya dengan berdiri, maka itu lebih utama. Adapun bagi
yang melakukannya sambil duduk maka baginya separuh pahala yang berdiri.


Barangsiapa yang solat sambil tidur (terlentang) baginya separuh pahala orang yang sholat sambil duduk. Yang dimaksud disini adalah orang yang sakit.” (HR. Bukhari, Abu Daud & Ahmad).


Suatu ketika Rasulullah SAW mengunjungi orang yang sakit lalu melihat orang itu melakukan
solat diatas bantal. Rasulullah SAW mengambil bantal itu dan melemparkannya. Orang itu lalu
mengambil ’ud (papan kayu) untuk sholat diatasnya. Tetapi Nabi SAW mengambil dan
membuangnya lalu bersabda ”Solatlah diatas tanah bila engkau mampu. Bila tidak cukuplah
dengan isyarat, dan hendaknya isyarat sujudnya lebih rendah dari rukukmu.”
(HR. Thabrani, Bazzar dan Baihaqi).


25.1.10

SATU KAJIAN BERKENAAN JIN DARI SUDUT SAINTIFIK

Hantu dari sudut fizik

Oleh Nasron Sira Rahim

Kajian sains kuantum dapati makhluk ghaib terbentuk daripada ion positif, alah kepada cahaya


Berbeza dengan ahli agama, penyelidik cuba memecahkan teka-teki makhluk paranormal itu dengan mencari penjelasan saintifik dengan mengkaji unsur kewujudan hantu dan jin daripada sudut sains. Hasil kajian selama puluhan tahun itu memang tidak diduga kebanyakan kita!

Penyelidik yang juga Dekan Fakulti Sains Warna Universal, Universiti Perubatan Antarabangsa Sri Langka; Prof Dr Sir Norhisham Wahab, berkata hantu dan jin tidak memiliki unsur jasad menyebabkan mereka tidak dapat dilihat sebaliknya kewujudan mereka terbukti menerusi sains fizik kuantum dan mampu dikesan menggunakan teknologi gelombang.

“Hantu dan jin wujud secara tidak nyata kerana tidak terikat kepada jisim, graviti bumi serta bebas daripada ikatan karbon, molekul dan zarah. Berbeza dengan manusia yang terbentuk daripada partikel halus atom atau unsur yang menyusun semua benda.

“Hantu dan jin bagaimanapun termasuk dalam ghaib nisbi dan boleh diukur menggunakan gelombang bunyi dan gema,” katanya yang menjalankan kajian dalam bidang itu selama sembilan tahun.

Katanya, apabila kajian sudah memahami bagaimana unsur hantu dan jin daripada sudut fizik, usaha terpenting iaitu membantu manusia menghindari gangguan jin dan makhluk ghaib dapat dilakukan menerusi penciptaan penawar dan kaedah pemulihan menggunakan teknologi.

Dr Norhisham berkata, berikutan jin dan hantu terdiri daripada unsur gelombang, mereka dapat menguasai ruang dan masa di dalam tubuh manusia yang mampu memberi impak negatif terhadap kesihatan sehingga ke tahap kerohanian.

Malah, badan manusia yang memerangkap gelombang ‘tidak sihat’ mampu memberikan kesan terhadap ‘animasi kehidupan’ seseorang iaitu kesan negatif terhadap jiwa seperti mengalami kelesuan kronik, hilang interaksi pada deria kehidupan, malah cenderung mencederakan diri sehingga membunuh diri.

Kesan pada sistem tubuh secara fizikal pula boleh merosakkan organ dalaman tetapi punca keracunan dalam darah atau sebarang bentuk aktiviti kuman tidak dapat dikesan kerana ia terselindung di sebalik gas beracun.

“Apabila keadaan ini berlaku, pesakit pergi membuat pemeriksaan doktor tetapi doktor mengesahkan tiada kuman atau bakteria yang menyebabkan kecederaan dan pesakit adalah normal. Tetapi pesakit berasa sakit, ini adalah antara tanda gangguan jin,” katanya yang mengusahakan kaedah rawatan menerusi syarikat Colour Vibration Therapy (CVT).

Beliau berkata, bagi merawat gangguan jin dan hantu, kaedah pemulihannya adalah dengan mengambil kembali ruang dan masa pada tubuh atau organ manusia yang diresap jin atau hantu.

Suatu gelombang infrasonik berfrekuensi amat rendah namun lebih kuat dirakam secara tetap dan berterusan, dipancarkan sehingga mengganggu gelombang hantu yang sudah meresap ke suatu bahagian; apabila hantu itu berasa tidak selesa, mereka akan keluar dengan sendirinya dan pesakit kembali pulih.

“Bagi saya gangguan hantu tidak berbahaya jika dapat dirawat pada peringkat awal.

Amalan bacaan surah Yasin pula akan mengaktifkan reaksi kimia di dalam darah dan ini didapati memberi tekanan kepada hantu yang tidak dapat bertahan apabila peningkatan oksigen di dalam aliran darah sebagai tenaga murni dan suci, berlaku.

“Walaupun pada peringkat awal rasukan, tubuh pesakit seperti menjadi medan pertempuran untuk mengusir hantu yang menyelinap ke dalam ruang tubuh tersembunyi, namun akhirnya keadaan akan kembali seperti asal.

“Sebaiknya untuk merawat rasukan, hanya sapukan air sejuk atau ais yang akan memberi keseimbangan semula melalui rakaman gelombang infrasonik yang bersamaan dengan frekuensi doa yang ikhlas. Ia sudah cukup untuk mengeluarkan gelombang hantu serta mengembalikan ruang dan masa pada tubuh mangsa,” katanya.

Katanya, berbanding rasukan atau gangguan hantu, perkara lebih bahaya adalah sihir yang mampu menyebabkan kematian dengan izin Allah, isteri membenci suami secara tiba-tiba, gangguan terhadap kesihatan fizikal dan menyebabkan pasangan tidak mendapat anak.

Dalam kes pasangan tidak mendapat anak akibat sihir, beliau berkata, ruang dan masa pada rahim isteri sudah dikuasai jin yang akan memakan benih suami atau isteri. Pihaknya akan memasukkan gelombang berfrekuensi rendah yang bersamaan frekuensi ovum dan sperma, secara berterusan untuk menghalau gelombang jin daripada rahim isteri.

“Banyak kes rawatan yang saya jalankan menemui pelbagai benda asing pelik seperti habuk kayu, kala jengking dan permata terkeluar secara ghaib apabila gelombang dimasukkan ke dalam badan mangsa malah ketumbuhan yang terjadi pada organ juga ghaib apabila gelombang berfrekuensi rendah dirakamkan ke dalam air mandiannya,” katanya.

Usaha memancarkan gelombang bagi merawat gangguan makhluk halus juga sebenarnya tidaklah sesukar seperti kita bayangkan, tidak perlu peralatan menyerupai senjata, mesin yang besar sebaliknya gelombang boleh diperangkap dalam medium seperti air dan unsur sesuai.

“Kami menciptakan alat radionik iaitu teknologi merakamkan 99 frekuensi gelombang berdasarkan 99 getaran tenaga atom di dalam sukros dan pesakit hanya perlu memakan pil itu secara berterusan untuk memancarkan gelombang ke dalam badan,” katanya.

Sesuatu yang menarik adalah teori drakula akan terbakar jika didedahkan kepada matahari adalah benar. Hantu adalah gelombang tidak seimbang manakala cahaya matahari berfungsi menyeimbangkan gelombang alam. Apabila gelombang tidak seimbang terdedah kepada matahari, ia akan musnah menjadi seimbang dan hantu itu akan terbakar.

“Besi pula mampu memerangkap gelombang buruk dan hantu tidak menyukai medan elektrik, jadi konsep hantu ditembak dengan elektrik untuk dicederakan dan disimpan dalam kotak besi seperti filem Ghostbuster adalah benar.

“Begitu juga amalan meletakkan gunting besi berhampiran mayat kerana besi mampu memerangkap atau menarik muatan elektrik bercas positif yang terhasil apabila seseorang itu meninggal dunia.

“Cermin pula mampu menyerap cahaya termasuk gelombang elektromagnetik yang mempunyai kesan radiasi yang mencemarkan. Keadaan ini akan menghindarkan hantu dan jin yang gemar menimbulkan perkara yang tidak diingini. Perkara seperti ini bukan kurafat tetapi kita perlu memahami konsepnya,” katanya.

Suatu fakta ironi adalah kebanyakan manusia takutkan hantu walaupun hakikatnya, hantu juga takut berhadapan dengan manusia kerana penglihatan manusia memiliki foton cahaya yang cenderung mengeluarkan atau menderma elektron untuk membentuk ion positif.

“Hantu juga terbentuk daripada ion positif dan apabila ion positif bertemu dengan ion positif dalam kesatuan tenaga elektrik, ia mampu mencederakan atau menghindarkan mereka,” katanya.

FAKTA: Hantu dan jin

Daripada sudut sains, hantu atau jin alah kepada cecair gas nitrogen, ais, garam mentah, oksigen, cahaya, karbon dioksida, frekuensi kurang satu Hertz dan wangian.

Daripada sudut sains juga, hantu gemar kepada cuka, cendawan, bahan yang cepat busuk, bahan yang tinggi kandungan serat, gas beracun, bahan yang cepat teroksida (bertindak balas dengan oksigen), tinggi kandungan natrium, busuk dan najis.

Zikir memiliki gelombang tetap dan apabila diamalkan secara berterusan, gelombang zikir akan menguasai ruang kosong pada tubuh manusia dan menjadikannya ‘pejal’ menyebabkan tiada lagi ruang untuk dimasuki gelombang asing seperti hantu atau jin.

DI UJI ALLAH ..


23/01/10
benAR BENAR DIUJI aLLAH...

Semasa perjalanan ke surau ehsaniah, untuk kelas pengajian muslimah disana...
saya diuji terseSAT DI DUNIA INI. Dengan keadaan trafik yang sesak, keadaan jalan yang bersimpang siur... ingat taklah jadi masalah coz sudah pernah pegi sana.. tak sangka boleh sesat...Saya ni kalau jalan sekitar KL boleh tahan lagi , tapi kalau sekitar PJ n Kelana Jaya..... huh...

Terpusing2 cari lokasi... hinggalah akhirnya my girl yg jemput saya untuk ke lokasi. sampai di sana... sudah ramai ahli muslimah menunggu... cuma sempat setengah jam saja beri kuliah kelas tafaqquh... banyak banyak minta maaf..

kita cuma merancang.... dan sebaik baik perancang adalah Allah swt... .... sesungguhnya kita semua diuji Allah....


Ustazah: Tidak mengapa tersesat di dunia, jangan tersesat diakhirat.

Kajian Saintifik ke Atas Air



Seorang ilmuan Jepun Dr. Masaru Emoto dari Universiti Yokohama telah merintis kajian saintifik tentang molekul air. Beliau dengan tekun melakukan penyelidikan tentang perubahan molukel air. Hasil kajiannya mendapati air ternyata boleh “mendengar” kata-kata, “membaca” tulisan dan boleh “mengerti” pesanan.



Dalam bukunya The Hidden Message in Water, Dr Masaru Emoto menghuraikan bahawa air bersifat boleh mera-kam pesanan, seperti pita magnetik atau compact disk. Apabila kata-kata yang baik diungkapkan pada air, didapati molukel air terbentuk seperti krsital yang sangat indah dan bersinar. Manakala apabila kata-kata kesat dan buruk diungkap-kan kepadanya, molukelnya berubah menjadi buruk rupanya dan menggerunkan seperti sel barah. Ketika musik heavy metal diperdengarkan, kristal hancur.


Beliau juga telah telah membuat kajian ke atas air-air yang dibacakan ayat-ayat suci Quran dan mendapati hasilnya molekul air tadi seperti berlian yang berkilau-kilau, cantik bercahaya.


Mengikut hasil kajiannya juga, antara molukel air yang paling cantik bercahaya ialah air zam-zam.Molekulnya tersusun cantik, seperti berlian bersegi-segi, bersinar-sinar dan berwarna-warni melebihi dua belas warna !


Tidak hairanlah air zam-zam menjadi begitu berkhasiat kerana ianya menyimpan doa jutaan manusia selama ribuan tahun sejak Nabi Ibrahim a.s. Demikianlah juga dengan air kolah masjid yang telah merakam suara azan, bacaan ayat-ayat Quran, zikir, doa dan pengajaran ilmu agama di masjid tersebut.


Semakin kuat konsentrasi orang yang berkata-kata atau berdoa pada air, semakin kuat kesannya yang terhasil pada molekul air. Air boleh memindahkan bacaan tadi melalui molekul air yang lain. Barangkali penemuan ini dapat menjelaskan kenapa air biasa yang dioakan boleh menyembuhkan penyakit.

24.1.10

Muslim dengan Muslim lainnya Ibarat Satu Bangunan"



"Muslim satu dengan Muslim lainnya Laksana Satu Bangunan"

Manusia pada hakikatnya insan sosial, saling memerlukankan untuk memenuhi keperluannya dan meningkatkan taraf hidupnya. Fitrah inilah yang ditegaskan oleh Islam. Islam memerintah kan agar kita saling tolong menolong dalam kebaikan dan manfaat.

Lebih lagi terhadap sesama umat muslim. Bahkan Islam mengibaratkan persaudaraan dan pertalian sesama muslim itu seperti satu bangunan, di mana struktur dan unsur bangunan itu saling membutuhkan dan melengkapi, sehingga menjadi sebuah bangunan yang kokoh, kuat dan bermanfaat lebih.

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra. dari Nabi Muhammad saw bersabda:

“Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain. Kemudian Nabi Muhammad menggabungkan jari-jari tangannya. Ketika itu Nabi Muhammad duduk, tiba-tiba datang seorang lelaki meminta bantuan. Nabi hadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Tolonglah dia, maka kamu akan mendapatkan pahala. Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki.”
( Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i. )



Firman Allah swt.:

“Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
( An Nisa’: 85 )


At Thabrani meriwayatkan dengan sanad shahih dari Mujahid berkata:
“Ayat di atas berbicara tentang tolong menolong sesama manusia. Kesimpulan maknanya adalah bahwa orang yang memberikan pertolongan kepada orang lain, maka ia mendapatkan bagian kebaikan, dan barang siapa tolong menolong dalam kebatilan maka ia mendapatkan bagian dosa.

Syafaat hasanah yang disebutkan dalam ayat di atas adalah pertolongan dalam kebaikan, melindungi hak sesama muslim, menghilangkan keburukan atau mendapatkan kebaikan, mencari redha Allah, tidak ada risywah atau rasuah. Pada masalah yang mubah atau boleh atau tidak terlarang, tidak untuk menggagalkan salah satu had atau hukum yang telah Allah tetapkan, tidak pula untuk menghilangkan hak orang lain.


Qadhi Iyadh berkata:
Tidak ada pengecualian dari ruang pertolongan yang dianjurkan kecuali dalam masalah had atau pidana yang telah Allah tetapkan. Maka dalam masalah yang tidak ada ketentuan had terutama bagi orang yang tidak sengaja, dan dikenal sebagai orang bersih, pertolongan sangat dianjurkan. Selanjutnya ia mengatakan: Adapun bagi orang yang terbiasa dengan tindakan destruktif, terkenal sebagai ahlul bathil maka tidak berlaku syafaat bagi mereka, agar dapat menjadi pencegah kemaksiatannya.


Ungkapan Iyadh ini didukung oleh riwayat Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab shahihnya dari Aisyah ra

“Bahawa suku Quraisy disibukkan oleh seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri pada masa Rasulullah saw. Lalu mereka mencari siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah saw. Maka Usamah menyampaikan hal ini kepada Rasulullah saw.

Rasulullah saw bersabda: Apakah kamu hendak memberi pertolongan dalam hukum pidana Allah?
Kemudian Rasulullah berdiri dan berkhutbah: “Sesungguhnya hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada orang mulia yang mencuri mereka biarkan, dan jika ada orang yang lemah mencuri mereka tegakkan hukum pidana.
Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya.”

Dan Allah menetapkan lewat lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki, artinya meluluskan hajat atau tidak meluluskannya adalah ketentuan dan takdir Allah.


Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, di antaranya:

Keutamaan tolong menolong antara sesama mukmin, saling menguatkan satu dengan yang lain dengan pertolongan pada hal-hal yang berguna dan bermanfaat.
Rasulullah saw telah bersabda: المؤمن للمؤمن كالبنيان

Anjuran kepada kebaikan dengan dikerjakan langsung, atau memfasilitasinya. Rasulullah saw menganjurkan syafaat atau memfasilitasi orang lain untuk berbuat baik.

Syafaat ditujukan kepada pembesar atau pembuat kebijakan untuk menghilangkan kesulitan, memberi manafaat dan membantu yang lemah. Sebab tidak semua orang dapat berkomunikasi dengannya, dan mampu mendesaknya, atau menjelaskan keinginannya. Pernah ada orang yang meminta syafaat atau pertolongan kepada Rasaulullah saw. padahal beliau tidak pernah menolak seorangpun- namun beliau menawarkan kepada para sahabatnya untuk membantu orang tersebut.

Allahu a’lam

aTPN ter^_^ bakar....

ATPN di gegarkan dengan kedatangan sepasukan ahli bomba yang datang menyerbu dengan membunyikan siren . Seramai 4 orang ahli bomba kelihatan berlari menaiki bangunan bilik pelajar hingga ke tingkat dua.

Mereka membawa paip bomba dan membuat semburan air dari tingkat dua

..... rupa rupanya itu adalah salah satu demontrasi bagi program ceramah bomba yang diadakan pada hari ini, 24 hb Januari, 2010.

Tapi beberapa orang pelajar yang masih berada diatas cuma terpinga pinga tetapi tidak bergegas turun ke bawah walaupun sudah diarahkan untuk berbuat demikian... macam tau tau jer itu satu lakonan...














Satu lagi program Asrama Yayasan Selangor Kuala Lumpur ( ayskl )

Ceramah Bomba

Tarikh : 24/1/10
Masa : 3.00 - 4.30 ptg
Tempat : Dewan ATPN

sukan freshie ayskl 2010

sukan freshie (form1)
ayskl 2010


Tarikh : 24 hb Januari, 2010
Masa : 8.30 - 1.00 th
Tempat : Padang AYSKL

view menarik dari ayskl


View menarik dari Asrama Yayasan Selangor Kuala Lumpur. kelihatan Bangunan kebanggaan malaysia KLCC, KL Tower dan Times Square

Program Mentor-mentee PMR & SPM AYSKL 2010

Program mentor mentee PMR & SPM AYSKL tahun 2010

Penyerahan mentee mentee kepada mentornya.
Tarikh : 22 hb Januari 2010
Masa : 3.00 petang
tempat : Dewan ATPN

Foto : Mentee ustazah ( PMR & SPM ATPN 2010 )

Ketua : Fatin Atikah 5SAB
Nurul Nadhirah 3SAPJ

23.1.10

Solat yang di Qadha


Menurut hukum syarak, setiap solat fardhu yang ditinggalkan wajib diqadha' disebabkan perkara berikut:-

1. terlupa

2. tertidur

3. murtad yang kembali semula kepada Islam


Dari segi istilah fuqaha, qadha' ialah sesuatu (ibadah) yang dilakukan selepas berlalu waktu tunainya untuk mendapatkan sebagaimana yang sebelumnya dengan melakukannya secara qadha' atau mengerjakan semula ibadat-ibadat yang tidak sah, atau yang tertinggal atau senghaja ditinggalkan pada waktu-waktu yang lain.

Dalil Hadis

Dari Anas bin Malik Radhiallahu 'anhu , Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam bersabda:

Maksudnya : Jika tertidur seseorang daripada kamu sehingga tertinggal solatnya ataupun terlupa mengerjakannya, maka hendaklah dia mendirikan solat yang tertinggal itu apabila dia sudah teringat, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:"Dirikanlah solat untuk mengingati Aku". (Hadits riwayat Muslim)

Hukum harus mengqadha' solat itu bukanlah sebagai satu kelonggaran yang membolehkan seseorang itu meninggalkannya dengan senghaja sehingga luput waktunya walaupun berhasrat untuk mengqadha'nya pada waktu yang lain. Adapun anggapan bahawa meninggalkan solat dengan senghaja dan boleh menggantinya pada waktu yang lain asal saja kewajipan itu tidak terus ditinggalkan atau dilupakan adalah satu anggapan yang salah.

Meninggalkan solat Fardhu

Orang yang meninggalkan solat tetapi tidak ingkar akan kewajipannya kadang-kadang disebabkan keuzuran yang diiktiraf oleh syara'. Kadang-kadang pula disebabkan oleh alasan yang bukan syari'e dan inilah yang sering berlaku. Sebab-sebab meninggalkan solat itu boleh dibahagikan kepada dua bentuk yang masing-masing ada kaitan dengan hukum, iaitu:

  • Pertama : Meninggalkan solat kerana keuzuran. Orang seperti ini tidaklah berdosa kerana terluput waktu solat bukan dengan kehendak atau kelalaiannya, akan tetapi wajib ke atasnya qadha' solat yang luput itu dan sunat disegerakan qadha'nya.
  • Kedua : Meninggalkan solat tanpa ada keuzuran seperti malas atau melalai-lalaikan sehingga luput waktunya. Maka orang seperti ini berdosa tanpa diragukan lagi.

Contoh meninggalkan solat kerana keuzuran atau tanpa disenghajakan itu seperti tertidur, terlupa dan seumpamanya sehingga luput waktu. Namun apabila terbangun daripada tidur atau teringat daripada lupa, maka dia wajib melakukan solat tersebut kerana kewajiban solat masih lagi ditanggungnya.

Dalam sebuah hadits shahih , Abu Qatadah Radhiallahu 'anhu menceritakan mengenai dengan perjalanan mereka bersama Rasullullah Shallallahu 'alaihi wassalam . Dalam perjalanan itu mereka keletihan lantas tertidur.

Apabila mereka terbangun daripada tidur waktu solat sudah pun berlalu. Mereka bertanya sesama sendiri, apakah kaffarah yang mesti dibayar atas kelengahan mereka melakukan solat. Rasullullah Shallallahu 'alaihi wassalam mendengar bisikan mereka lantas bersabda:

Maksudnya: Sesungguhnya di dalam tidur tidak ada kelalaian. Sesungguhnya kelalaian itu ke atas seseorang yang tidak melakukan solat sampai habis waktunya.

Maka sesiapa yang melakukan demikian, segeralah dia solat ketika dia ingat akannya. Maka pada hari esoknya hendaklah ia menunaikan solat ketika waktunya. (Hadits riwayat Muslim)

Walaupun terdapat pengecualian dalam melaksanakan tanggungjawab solat bagi orang yang sedang tidur, ini bukanlah bermakna senghaja tidur atau ditidur-tidurkan untuk mengelak atau mencari helah daripada melakukan solat pada waktunya.

As-Sayyid Muhammad Abdullah al-Jurdani Rahimahullah dalam kitabnya Fath al-'Allam ketika bercakap mengenai tidur dan hubungannya dengan solat, beliau menyatakan adalah harus tetapi tidak digalakkan tidur selepas masuk waktu solat dan sebelum menunaikan solat, jika mengikut sangkaannya bahawa dia akan bangun dari tidurnya, sama ada bangun dengan sendirinya atau dikejutkan oleh orang lain, dan masih ada waktu untuk dia menunaikan solat.

Jika tidak, maka hukumnya adalah haram. Bahkan baginya dua dosa; dosa kerana meninggalkan solat dan dosa kerana tidur. Maka jika dia bangun dari tidur (sebelum tidur dia menyangka bahawa jika bangun dari tidur tidak ada waktu baginya untuk menunaikan solat) tetapi dia sempat mengerjakan solat, maka terangkat dosa meninggalkan solat. Manakala dosa yang wujud disebabkan dia tidur tidak akan terangkat kecuali dengan beristighfar.

Adapun meninggalkan solat tanpa uzur syari'e atau meninggalkannya dengan senghaja seperti melalaikannya sehingga masuk waktu yang lain adalah berdosa dan wajib baginya mengqadha' dengan segera solat yang luput itu.

Sibuk dengan apa urusan sekalipun bukanlah alasan untuk meninggalkan solat sehingga luput waktu, begitu juga dengan alasan tidak dapat melakukan solat kerana tidak mampu untuk berdiri atau rukuk atau lain-lain alasan kerana sakit.

Sakit tidaklah termasuk antara sebab-sebab yang membolehkan seseorang itu tidak menunaikan solat sebagaimana yang diriwayatkan daripada Imran bin Hushain Radhiallahu 'anhu , beliau berkata:

Maksudnya: Aku menghidap buasir, maka aku bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wassalam tentang solat. Maka Baginda bersabda: "solatlah berdiri, dan jika engkau tidak mampu, maka duduklah, dan jika engkau tidak mampu, maka solatlah dengan mengiring". (Hadits riwayat al-Bukhari)

Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasullullah SAW.


Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa ia berkata: Ketika ajal Rasulullah SAW sudah dekat, baginda mengumpul kami di rumah Siti Aisyah ra. Kemudian baginda memandang kami sambil berlinangan air matanya, lalu bersabda:

"Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kamu semua, semoga Allah menyayangi, menolong dan memberikan petunjuk kepada kamu. Aku berwasiat kepada kamu, agar bertakwa kepada Allah.

Sesungguhnya aku adalah sebagai pemberi peringatan untuk kamu. Janganlah kamu berlaku sombong terhadap Allah." Allah berfirman: "Kebahagiaan dan kenikmatan di akhirat. Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan dirinya dan membuat kerosakan di muka bumi. Dan kesudahan syurga itu bagi orang-orang yang bertakwa."

Kemudian kami bertanya: "Bilakah ajal baginda ya Rasulullah?

Baginda menjawab: Ajalku telah hampir, dan akan pindah ke hadhrat Allah, ke Sidratulmuntaha dan ke Jannatul Makwa serta ke Arsyi la’ la."

Kami bertanya lagi:

"Siapakah yang akan memandikan baginda ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Salah seorang ahli bait.

Kami bertanya: "Bagaimana nanti kami mengafani baginda ya Rasulullah?" Baginda menjawab: "Dengan bajuku ini atau pakaian Yamaniyah." Kami bertanya: "Siapakah yang mensolatkan baginda di antara kami?" Kami menangis dan Rasulullah SAW pun turut menangis.

Kemudian baginda bersabda:

"Tenanglah, semoga Allah mengampuni kamu semua. Apabila kamu semua telah memandikan dan mengafaniku, maka letaklah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kamu semua dari sisiku.

Maka yang pertama-tama mensolatkan aku adalah sahabatku Jibril as. Kemudian Mikail, kemudian Israfil kemudian Malaikat Izrail (Malaikat Maut) beserta bala tenteranya. Kemudian masuklah anda dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mula solat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian yang wanita-wanitanya, dan kemudian kamu semua."

Semenjak hari itulah Rasulullah SAW bertambah sakitnya, yang ditanggungnya selama 18 hari, setiap hari ramai yang mengunjungi baginda, sampailah datangnya hari Senin, di saat baginda menghembus nafas yang terakhir.

Sehari menjelang baginda wafat yaitu pada hari Ahad, penyakit baginda semakin bertambah serius. Pada hari itu, setelah Bilal bin Rabah ra. selesai mengumandangkan azannya, ia berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW, kemudian memberi salam: "Assalamualaikum ya Rasulullah?"

Kemudian ia berkata lagi "Assolah yarhamukallah." Fatimah menjawab: "Rasulullah dalam keadaan sakit?" Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika bumi terang disinari matahari siang,

Bilal datang lagi ke tempat Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataan yang tadi. Kemudian Rasulullah memanggilnya dan menyuruh ia masuk. Setelah Bilal bin Rabah masuk, Rasulullah SAW bersabda: "Saya sekarang dalam keadaan sakit, Wahai Bilal, kamu perintahkan saja agar Abu Bakar menjadi imam dalam solat."

Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangan di atas kepalanya sambil berkata: "Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku?" Kemudian ia memasuki masjid dan berkata kepada Abu Bakar ra. agar beliau menjadi imam dalam solat tersebut. Ketika Abu Bakar ra. melihat ke tempat Rasulullah SAW yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia pingsan.

Orang-orang yang berada di dalam masjid menjadi ribut sehingga terdengar oleh Rasulullah SAW. Baginda bertanya:

"Wahai Fatimah, suara apakah yang ribut itu? Fatimah rha. menjawab: "Orang-orang menjadi ribut dan bingung kerana Rasulullah SAW tidak ada bersama mereka."

Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali bin Abi Thalib dan ibnu Abbas ra, sambil dibimbing oleh mereka berdua, maka baginda berjalan menuju ke masjid. Baginda solat dua rakaat, setelah itu baginda melihat kepada orang ramai dan bersabda:

"Ya ma’aasyiral Muslimin, kamu semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan Allah,

sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kamu semua setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kamu semua agar bertakwa kepada Allah SWT, kerana aku akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia ini."

Malaikat Maut Datang Bertamu Pada hari esoknya, yaitu pada hari Senin,

Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut supaya ia turun menemui Rasulullah SAW dengan berpakaian sebaik-baiknya.

Dan Allah menyuruh kepada Malaikat Maut mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun jika Rasulullah SAW tidak mengizinkannya, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja. Maka turunlah Malaikat Maut untuk menunaikan perintah Allah SWT. Ia menyamar sebagai seorang biasa.

Setelah sampai di depan pintu tempat kediaman Rasulullah SAW, Malaikat Maut itupun berkata: "Assalamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!"

Fatimah rha berkata kepada tamunya itu: "Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan sakit." Kemudian Malaikat Maut itu memberi salam lagi: "Assalamualaikum. Bolehkah saya masuk?"

Akhirnya Rasulullah SAW mendengar suara Malaikat Maut itu, lalu baginda bertanya kepada puterinya Fatimah: "Siapakah yang ada di muka pintu itu? Fatimah menjawab: "Seorang lelaki memanggil ayah, saya katakan kepadanya bahwa ayahanda dalam keadaan sakit.

Kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma." Rasulullah SAW bersabda: "Tahukah kamu siapakah dia?"Fatimah menjawab: "Tidak wahai baginda." Lalu Rasulullah SAW menjelaskan: "Wahai Fatimah, ia adalah pengusir kelazatan, pemutus keinginan, pemisah jemaah dan yang meramaikan kubur."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Masuklah, Wahai Malaikat Maut. Maka masuklah Malaikat Maut itu sambil mengucapkan `Assalamualaika ya Rasulullah." Rasulullah SAW pun menjawab: Waalaikassalam Ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?"

Malaikat Maut menjawab: "Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawa. Jika tuan izinkan akan saya lakukan, kalau tidak, saya akan pulang. Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril? "Saya tinggal ia di langit dunia?" Jawab Malaikat Maut.

Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril as datang kemudian duduk di samping Rasulullah SAW.

Maka bersabdalah Rasulullah SAW: "Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat?

Jibril menjawab: Ya, Wahai kekasih Allah." Seterusnya Rasulullah SAW bersabda: "Beritahu kepadaku Wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku di sisinya?

Jibril pun menjawab: "bahwa pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu."

Baginda SAW bersabda: "Segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apa lagi yang telah disediakan Allah untukku?

Jibril menjawab lagi: bahwa pintu-pintu Syurga telah dibuka, dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungai telah mengalir, dan buah-buahnya telah ranum, semuanya menanti kedatangan rohmu."

Baginda SAW bersabda lagi: "Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahu lagi wahai Jibril, apa lagi yang di sediakan Allah untukku?

Jibril menjawab: Aku memberikan berita gembira untuk tuan. Tuanlah yang pertama-tama diizinkan sebagai pemberi syafaat pada hari kiamat nanti." Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Segala puji dan syukur, aku panjatkan untuk Tuhanku.

Wahai Jibril beritahu kepadaku lagi tentang khabar yang menggembirakan aku?" Jibril as bertanya: "Wahai kekasih Allah, apa sebenarnya yang ingin tuan tanyakan?

Rasulullah SAW menjawab: "Tentang kegelisahanku, apakah yang akan diperolehi oleh orang-orang yang membaca Al-Quran sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan sesudahku? Apakah yang akan diperolehi orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?"

Jibril menjawab: "Saya membawa khabar gembira untuk baginda. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan Syurga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu." Maka berkatalah Rasulullah SAW: "Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku.

Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku?" Lalu Malaikat Maut pun berada dekat Rasulullah SAW.

Ali ra bertanya: "Wahai Rasulullah SAW, siapakah yang akan memandikan baginda dan siapakah yang akan mengafaninya?

Rasulullah menjawab: Adapun yang memandikan aku adalah engkau wahai Ali, sedangkan Ibnu Abbas menyiramkan airnya dan Jibril akan membawa hanuth (minyak wangi) dari dalam Syurga.

Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh baginda sampai di pusat perut, baginda berkata: "Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut." Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril as memalingkan mukanya.

Lalu Rasulullah SAW bertanya: "Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku? Jibril menjawab: Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka baginda, sedangkan baginda sedang merasakan sakitnya maut?" Akhirnya roh yang mulia itupun meninggalkan jasad Rasulullah SAW.

Kesedihan Sahabat Berkata Anas ra: "Ketika aku melalui depan pintu rumah Aisyah ra aku dengar ia sedang menangis, sambil mengatakan: Wahai orang-orang yang tidak pernah memakai sutera. Wahai orang-orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum. Wahai orang yang telah memilih tikar dari singgahsana. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam kerana takut Neraka Sa’ir."