Memaparkan catatan dengan label Bidaah. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Bidaah. Papar semua catatan

6.3.10

Masalah “at-Talaffudz bin Niyyah”


Masalah “at-Talaffudz bin Niyyah"


Dimanakah tempatnya niat? Ahlul Ilmi ber-ijma’ tanpa ada khilaf di antara mereka bahwa tempatnya niat adalah hati (al-Qolbu), dan barangsiapa yang bertekad dalam hatinya berarti ia telah berniat. Ibnu Hubairoh[*] mengatakan ijma’ imam yang empat tentang hal tersebut, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh (juga) mengatakan ijma’ ‘ulama tentang hal tersebut. Jadi ya ikhwan, para ‘ulama telaj ber-ijma’ bahwa barangsiapa yang berniat dalam hatinya, maka telah tercapailah yang dimaksud (yakni niatnya sah, pent), tanpa ada khilaf.

Akan tetapi tentang masalah melafadzkan niat, apakah melafadzkan niat itu mustahab (disukai), atau tidak mustahab? Para ‘ulama telah ber-ijma’ bahwa barangsiapa tidak melafadzkan niat maka niatnya sah, akan tetapi apakah mustahab bagi mereka untuk melafadzkan niatnya?

Kami katakan bahwa perkataan ini ada perinciannya. Mustahab bagi seorang muslim untuk melafadzkan niatnya dalam dua perkara : pada an-Nusuk dan pada an-Naski.

Pada an-Nusuk dan an-Naski, pada an-Nusuk yaitu haji dan umroh, dan pada an-Naski yaitu penyembelihan (atau) menyembelih kurban. Disukai bagi seseorang untuk melafadzkan sesuatu yang menunjukkan niat. Misalnya dalam umroh disukai agar seseorang mengucapkan “Labbaikallohumma umroh”, dan dalam haji disukai agar seseorang mengucapkan “Labbaikallohumma hajjan” jika hajinya ifrod, atau mengucapkan “Labbaikallohumma umrotan wa hajjan” jika hajinya qiron, atau pada awal manasiknya mengucapkan “labbaikallohumma umroh” lalu di Makkah mengucapkan “labbaikallohumma hajjan” jika hajinya tamattu’.

Ini merupakan masalah ijma’ di antara ahlul ilmi, bahwa masalah ini mustahab karena telah shohih dalilnya dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam.

Akan tetapi para ‘ulama berbeda pendapat, apakah (ucapan labbaikallohuma … dst, pent) ini merupakan talaffudz bin niyyah (pengucapan niat) atau dzikir?

Diantara ahlul ilmi ada yang mengatakan ucapan ini adalah talaffudz bin niyyah, yang telah diniatkan dalam hatinya lalu diucapkan dengan lisannya. Dan di antara ahlul ilmi ada yang mengatakan ucapan ini adalah dzikir yang khusus dan mereka mengatakan wajib untuk mencukupkan berdasarkan apa yang telah datang (shohih dari Nabi, pent), dan tidak disyari’atkan untuk mengubahnya, dalam umroh seseorang mengucapkan “labbaikallohumma umroh” dan tidak disyari’atkan seseorang mengucapkan “Allohumma inni nawaitul umrota fayassirha lii”; dalam haji seseorang mengucapkan “labbaikallohumma hajjan” dan tidak disyari’atkan seseorang mengucapkan “Allohumma inni nawaitul hajja fayassirhu lii”.

Adapun orang yang mengatakan bahwa ucapan ini adalah talaffudz bin niyyah, maka sebagian mereka berpendapat bahwa tidak mengapa bagi seseorang untuk mengungkapkan niat, lalu berkata “allohumma inni nawaitu kadza, allohumma inni nawaitu kadza”.

Begitu pula dalam udh-hiyyah (penyembelihan), seseorang mengatakan ketika akan menyembelih “allohumma hadza minka wa laka”, “allohumma hadza anni wa an ahli baiti”, dan masalahnya adalah sebagaimana yang telah kami sebutkan dalam masalah an-Nusuk (manasik). Dan ini merupakan kesepakatan.

Kemudian ahlul ilmi berbeda pendapat, apakah mustahab untuk melafadzkan niat pada amal-amal yang selainnya (selain an-Nusuk & an-Naski), seperti sholat, wudhu’ dan lain-lain?

Yang benar dari perkataan ahlul ilmi yang tidak diragukan lagi adalah bahwa melafadzkan niat pada selain kedua amal ini (an-Nusuk & an-Naski) adalah tidak disyari’atkan, bahkan melafadzkan niat padanya adalah bid’ah, karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam melakukan amalan-amalan dan tidak dinukil bahwa baliau melafadzkan niat.

Dan orang-orang yang menukilkan dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam pergerakan-pergerakan tubuhnya dalam sholat tidak akan meninggalkan pengucapan niat tanpa menukilnya, (sehingga) ketika mereka tidak menukilnya, kita menjadi tahu bahwa Nabi sholallahu alaihi wa sallam tidaklah melafadzkan (niat) dan begitu pula para shobabat ridhwanallohi alaihim. Maka yang benar, bahwasanya tidak disunnahkan bagi seorang muslim melafadzkan niat pada selain an-Naski dan an-Nusuk.


Dan yang terpandang bagi saya ( Wallahu A’lam ) ialah ;

bahwasanya wajib mencukupkan berdasarkan apa yang telah datang (dari Nabi, pent), dan tidak mengubah-ubah dan tidak pula menambah-nambah, baik jika kita katakan bahwa ucapan itu adalah talaffudz bin niyyah atau kita katakan bahwa ucapan itu adalah dzikir, karena ucapan ini adalah perkara yang sudah tetap dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam, sehingga wajib untuk mencukupkan dengan apa yang sudah tetap/shohih.

Rujukan :

[Diterjemahkan dari Dars al-Qowa'idul Fiqhiyyah oleh asy-Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili –hafidzohulloh- pada Dauroh Masyayikh Madinah di Kebun Teh Wonosari Lawang Malang 2006 file : 04_kaidah fiqh3.mp3 menit 09:30 - 15:55]
Catatan kaki:

[*] Ibnu Hubairoh, Abul Mudzoffar Yahya bin Muhammad bin Hubairoh asy-Syaibani al-Hanbali (499 – 560 H). Adz-Dzahabi berkata tentangnya : “al-Wazir al-Kamil, al-Imam al-’Alim al-’Adil, ‘Aunuddin, Yaminul Khilafah, … (lalu beliau menyebutkan nama lengkapnya, pent) … Shohibut Tashonif.” [Lihat as-Siyar 20/426]

20.2.10

Azan Pada Bayi Baru Lahir


Sehingga kini, dari sumber yang saya diperolehi, amalan ini tiada sandaran hadis yang sahih.


Mereka yang menyokongnya berdalil dengan hadis berikut:

Hadis 1

"Dari Abu Rafi' ia berkata : Saya pernah melihat Rasulullah s.a.w. membaca azan (seperti azan sembahyang) pada telinga Hussain apabila dia dilahirkan oleh Fatimah." (Riwayat Imam Ahmad)

Hadis ini diriwayatkan juga oleh imam Al-Hakim dan Al-Baihaqi. Imam Abu Daud dan Tirmizi dengan org yg dibacakan azan adalah Hasan, bukan Hussain. Hadis ini disahkan oleh Imam Tirmizi. Kemudia diriwayatkan pula oleh imam Abu Nu'aim dan Tabarani dengan lafaz "Beliau (Rasulullah s.a.w.) membaca azan pada telinga Hasan dan Hussain r.a."

Keterangan

Masaalah kepada hadis ini ialah hadis yang diriwayatkan oleh imam2 tersebut melalui jalan 'Ashim bin Ubaidillah, yang dituduh keras oleh Imam Syu'bah sebagai pendusta. Imam Bukhari, Abu Zarah dan Abu Hatim pula berkata bahawa riwayatnya mungkar. Imam Daraquthi berkata riwayatnya tidak boleh diterima sebab kelalaiannya. Imam Ibnu Khuzaimah berkata: Aku tidak suka berdalil dengan riwayatnya kerana ingatannya tidak kuat. Hadis ini juga dilemahkan oleh Imam Ibnu 'Adi.

Dengan alasan ini tertolaklah hadis ini.


Hadis 2

"Dari Hussain bin Ali bin Abi Tholib, dia berkata : Nabi s.a.w. pernah bersabda : Barangsiapa yang mempunyai anak yang baru dilahirkan, kemudian dibacakan azan pada telinga kanan dan iqamah pada teling kiri, dia tidakakan diganggu Ummu Syibyan." (Riwayat Abu Ya'la)

Imam sayuti telah melemahkan hadis ini dalam kitabnya Al-Jami'ush-Shaghir (juz 2, muka 182) Kesimpulan pernyataan ini, azan hanya untuk panggilan sembahyang. bukan anak kecil.


Kesimpulan

Meninggalkan amalan ini adalah betul kerana memberi keadilan kepada ilmu hadith. Tetapi jika masyarakat Islam ingin terus melakukan adalah dibolehkan kerana ia lebih kepada amalan menjampi, cuma ia tidak boleh dikaitkan dgn sunnah memandangkan hadith hadithnya bermasalah. Amalan ini popular (azan pada telinga bayi/baby) dan ahli ilmu tidak membantahnya.

kita kena memberitahu kepada masyarakat umum, mengazankan bayi yang baru lahir tidak ada kaitan dgn hadith/sunnah, cuma amalan itu dipandang baik oleh sebahagian fuqaha' sebagai perlindungan tambahan kepada bayi. al-Hafidz Ibn Qayyim menjelaskan demikian dalam kitabnya Tuhfah.

16.2.10

Motivasi untuk kita agar mengikuti sunnah rasulullah saw dan berhati hati dengan perkara bid'ah



Ada beberapa nash dari kitab dan sunnah yang menunjukan motivasi untuk mengikuti sunnah dan berhati-hati dari bid’ah, telah banyak atsar-astar dari para salaf umat ini yang mengikuti Kitab (Al-Quran) dan sunnah (Al-Hadits) dari para sahabat dan tabi’in serta generasi setelah mereka, yang didalamnya adalah anjuran untuk mengikuti sunnah dan waspada terhadap bid’ah dan penjelasan bahayanya, diantaranya:

Pertama:
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Ikutilah dan janganlah kalian membuat hal-hal yang baru, sungguh kalian telah cukup (dengan hal itu)”, diriwayatkan oleh Ad-Darimi.

Kedua:
Usman bin Khaadir berkata: “Aku datang kepada Ibnu ‘Abbas, maka aku berkata padanya: Nasehatilah aku, maka beliau menjawab: “Ya! Wajib bagimu untuk bertaqwa kepada Allah dan beristiqomah (konsisten), ikutilah dan janganlah membuat hal-hal yang baru”, diriwayatkan oleh Ad-Darimi.

Ketiga:
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Barangsiapa yang ingin bertemu dengan Allah dalam keadaan Muslim maka haruslah ia menjaga sholat pada waktunya, karena sesungguhnya Allah telah mensyariatkan bagi Nabi kalian dengan sunnah petunjuk, dan sesungguhnya hal itu termasuk dari sunnah-sunnah petunjuknya, sekalipun kalian sholat dirumah kalian sebagaimana sholatnya orang yang menyelisihi sunnahnya yaitu sholat dirumahnya maka pastilah kalian engkau telah meninggalkan sunnah Nabi kalian, dan jika kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian maka kalian telah tersesat…”, diriwayatkan oleh Muslim.

Keempat:
Abdullah bin Umar r.a berkata: “Setiap Bid’ah adalah sesat walaupun orang-orang melihatnya baik”, diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashir al-Maewazi dalam sunnah.

Kelima:
Mu’adz bin Jabal berkata: “Jauhilah oleh kalian dan setiap apa-apa yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap apa-apa yang diada-adakan pastilah sesat”, diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Keenam:
seseorang menulis surat kepada Umar bin Abdul ‘Aziz yang bertanya tentang Qodar, maka beliau menulis padanya: “Amma ba’du, aku wasiatkan padamu dengan bertaqwa kepada Allah dan mencukupkan diri dalam urusan itu serta mengikuti sunnah Nabinya SAW dan meninggalkan apa-apa yang dibuat-buat oleh para pembuat hal-hal yang baru setelah datangnya sunnah, dan cukup engan apa yang telah ada, maka wajib atasmu untuk mengikuti sunnah, karena ssesungguhnya ia akan memberikan kemudahan dan keselamatan bagimu…”, diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Ketujuh:
Sahl bin Abdullah At-Tastiri berkata: “Apa-apa yang dikatakan seseorang dalam hal ilmu kecuali ia pasti akan ditanyakan tentangnya dihari kiamat, jika hal itu sesuai dengan sunnah maka ia selamat, dan jika tidak maka ia tak selamat”, Fathul Baari (13/290)

Kelapan:
Abu usman An-Naisabuuri berkata: “Barangsiapa yang menyuruh untuk mengikuti sunnah dengan perkataan dan perbuatan maka sungguh ia telah berkata dengan hikmah, dan barangsiapa yang menyuruh dengan hawa nafsunya dengan perkataan dan perbuatan sungguh ia telah berkata dengan bid’ah”, hilyatul auliya’ (10/244)

Kesembilan:
Imam Malik rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang mengada-adakan sebuah urusan dalam Islam maka ia telah bid’ah walaupun manusia melihatnya sebagai hal yang baik dan telah menuduh bahwa Muhammad mengkhianati Ar-Risalah, karena sesungguhnya Allah berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu”, maka jika pada saat itu belum menjadi sebuah agama maka saat itu[un tidak menjadi agama”, Al-I’tishom milik Asy-Syatibi (1/28)

Kesepuluh:
Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Cabang-cabang sunnah yang ada pada kami adalah berpegangteguh yang ada pada sahabat rosulullah SAW serta mengikuti mereka, dan meninggalkan bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat”, Penjelasan cabang-cabang keyakinan Ahlu Sunnah milik Al-kaa’i (317).


11.2.10

TIADA SIAL PADA BULAN SAFAR

Oleh Mohd Yaakub bin Mohd Yunus

Masyarakat Arab pada zaman jahiliyah iaitu sebelum kedatangan agama Islam sememangnya terkenal dengan amalan-amalan yang bercanggah dengan syarak. Perjalanan kehidupan seharian mereka sentiasa dibayangi oleh amalan-amalan syirik, tahyul dan khurafat.

Sebagai contoh sekiranya mereka ingin memulakan perjalanan mereka akan melihat gerakan-gerakan sesetengah jenis binatang seperti burung mahupun busur panah yang dilepaskan sama ada ke kiri atau ke kanan.

Mereka beranggapan arah gerakan tersebut boleh mempengaruhi keburukan atau kebaikan yang mungkin akan dihadapi dalam perjalanan tersebut. Sekiranya pada tanggapan mereka gerakan tersebut menunjukkan alamat yang tidak baik maka mereka membatalkan hasrat untuk meneruskan perjalanan tersebut. Perkara sebegini disebutkan tathayyur atau meramalkan sesuatu kejadian yang buruk disebabkan oleh sesuatu perkara. Sebagai contohnya Imam al-Syafi’i r.h pernah berkata:

Dahulu golongan jahiliyah apabila ingin bermusafir akan mengambil burung dan melepaskannya ke udara. Sekiranya ia terbang ke kanan maka mereka pun keluar atas tanggapan tuah tersebut. Jika ia terbang ke kiri atau ke belakang, maka mereka akan menganggap sial lalu berpatah balik. Maka apabila Nabi s.a.w. diutuskan, baginda menyeru orang ramai: “Kekalkan burung pada sarangnya.” – Riwayat Abu Nu’aim al-Asfahani di dalam Hilyah al-Auliya’

Islam menyelar budaya tathayyur ini dan menganggap ianya merupakan satu perbuatan yang mencemar kemurniaan tauhid kerana ketergantungan hati seseorang kepada sesuatu perkara selain daripada Allah S.W.T. dengan menyakini perkara tersebut boleh membawa mudharat atau manfaat kepada kita.

Islam meletakkan kejadian sesuatu perkara itu bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Allah S.W.T semata-mata.

Firman-Nya: Katakanlah (wahai Muhammad): "Tidak sekali-kali akan menimpa kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dia lah Pelindung yang menyelamatkan kami, dan (dengan kepercayaan itu) maka kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal". – al-Taubah (9) : 51

Menyandarkan sesuatu musibah bakal menimpa terhadap kerana sesuatu perkara seperti gerakan binatang, kedudukan bintang, waktu atau masa yang tertentu dan lain-lain adalah perbuatan yang tercela kerana segala sesuatu itu ditetapkan oleh Allah S.W.T. tanpa ada faktor lain yang mempengaruhi keputusan-Nya.

Firman Allah S.W.T.: Ketahuilah, sesungguhnya nahas dan malang mereka itu hanya di tetapkan di sisi Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. – al-A’raaf (7) : 131

Oleh itu bagi sesiapa yang membuat sesuatu keputusan berdasarkan tathayyur maka dia telah terjebak dalam lembah kesyirikkan.


Daripada ‘Abdullah ibnu ‘Umar r.a dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ

Barangsiapa yang menangguhkan hajatnya kerana al-Thayrah (ramalan buruk kerana sesuatu) maka dia telah berbuat syirik. - Hadis riwayat Imam Ahmad, no: 6748


Daripada ‘Abdullah Ibnu Mas’ud bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاَثًا وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ.

Al-Thiyarah (menyandarkan keburukan kepada sesuatu) itu syirik, al-Thiyarah itu syirik tiga kali. Dan tidak ada seoarang pun dari kita, kecuali (telah terjadi dalam dirinya pengaruh al-Thiyarah tersebut) akan tetapi Allah menghilangkannya dengan tawakal – Hadis riwayat Imam Abu Dawud, no: 3411.

Melalui hadis di atas kita dapati sedikit sebanyak setiap manusia akan berhadapan dengan perasaan tathayyur ini akan tetapi jika kita bertawakal kepada Allah dalam segala perkara yang mendatangkan manfaat dan menjauhi musibah, maka Allah akan menghilangkan perasaan tersebut dari jiwa kita.

Sekiranya kita telah terjebak dalam perlakuan tathayyur ini, untuk menebusnya Rasulullah s.a.w. telah mengajar kita untuk mengucapkan:

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada kesialan kecuali kesialan daripada-Mu dan tidak ada Tuhan selain-Mu. - Hadis riwayat Imam Ahmad, no: 6748.

Namun apa yang menyedihkan setiap kali ketibaan bulan Safar, budaya jahiliyah yang diperangi oleh Islam ini seakan-akan muncul semula. Safar adalah bulan kedua dalam kalendar hijrah dan Safar bermaksud kosong atau meninggalkan sesuatu tempat. Penamaan bulan yang kedua ini sebagai Safar adalah kerana kebiasaan orang Arab meninggalkan rumah mereka pada bulan ini bertujuan memerangi musuh-musuh dan mereka juga suka mengembara pada bulan ini.

Kebanyakan orang Arab pada zaman jahiliyah beranggapan terdapat kesialan pada bulan Safar ini. Ternyata pemikiran jahiliyah ini masih diwarisi oleh segelintir kecil umat Islam pada zaman ini akibat lemahnya keimanan dalam jiwa dan kejahilan mereka terhadap ilmu tauhid.

Mereka beranggapan bulan Safar merupakan bulan di mana Allah menurunkan kemarahan dan hukuman ke atas dunia. Oleh itu banyak musibah dan bencana terjadi pada bulan Safar khususnya pada hari Rabu minggu terakhir. Sesetengah umat Islam menghindarkan diri dari melakukan perjalanan pada bulan safar melainkan terdapat keperluan yang mendesak.

Sebagai contohnya dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniy, penulis kitab tersebut memilih untuk menahan diri dari keluar berjalan pada bulan ini dan menasihati agar semua pengikut tarekat tersebut untuk tidak meninggalkan rumah melainkan sekiranya benar-benar perlu. Dalam kitab tersebut dikhabarkan bahawa Syaikh tarekat tersebut ‘Abdullah Faiz Daghestani berkata: “Pada hari Rabu terakhir bulan Safar, 70,000 penedritaan (bala) akan menimpa dunia.

Barangsiapa yang mengekalkan adab ini yang disebut (beberapa amalan yang tertentu), dia akan dilindungi oleh Allah yang Maha Kuasa.” Bagi orang Melayu pula mereka menghindari dari melakukan majlis perkahwinan pada bulan Safar kerana dipercayai jodoh pasangan pengantin tersebut akan tidak berkekalan dan kelak akan susah untuk mendapatkan zuriat.

Ada juga yang beranggapan bayi yang lahir pada bulan Safar bernasib malang dan hendaklah dijalankan satu upacara khas untuk membuang nasib malang tersebut. Kesemua ini merupakan perkara-perkara tahyul dan khurafat yang harus dibanteras sehingga ke akar umbi.

Firman-Nya: Tidak ada kesusahan (atau bala bencana) yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah; dan sesiapa yang beriman kepada Allah, Allah akan memimpin hatinya (untuk menerima apa yang telah berlaku itu dengan tenang dan sabar); dan (ingatlah), Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. – al-Taghaabun (64) : 11

Lantaran itu beberapa amalan bidaah telah dicipta sempanan bulan Safar ini untuk menghindari sebarang bentuk malapetaka yang berkaitan dengan kedatangan bulan tersebut.


MANDI SAFAR

Orang Melayu satu ketika dahulu mengamalkan Mandi Safar atau mandi beramai-ramai ditepi sungai mahupun pantai yang dianggap sebagai satu ritual untuk menolak bala pada bulan Safar serta menghapuskan dosa. Orang Melayu berarak menuju ke destinasi terpilih diiringi dengan alunan muzik, nyanyian, jampi serapah dan alunan zikir tertentu. Setelah itu mereka mambaca jampi tertentu atau menulis ayat-ayat tertentu di atas kertas lalu memasukkannya ke dalam bekas berisi air dan mandi dengannya. Sebenarnya amalan mandi Safar ini diwarisi dari budaya Hindu. Walaupun Pesta Mandi Safar ini semakin terhakis dalam umat Melayu terdapat sesetengah pihak yang melakukan pembaharuan dalam upacara ini. Maka diarahnya penulisan ayat-ayat tertentu di atas kertas atau papan dan direndam di dalam kolah ataupun tangki berisi air untuk seluruh ahli keluarga bermandi dengannya. Syaikh Muhammad ‘Abdussalam al-Syaqiry berkata:

Orang-orang awam biasa menulis ayat-ayat tertentu tentang keselamatan di atas kertas, misalnya ayat:

"Salam sejahtera kepada Nabi Nuh dalam kalangan penduduk seluruh alam! " (al-Saaffaat (37) : 79) pada hari Rabu terakhir bulan Safar, kemudian meletakkannya di dalam bekas (berisi air) untuk diminum airnya dan untuk mencari keberkatan kerana mereka berkeyakinan bahawa hal ini akan menghilangkan nasib buruk. Ini adalah keyakinan yang sama sekali salah dan harus ditentang. – Rujuk al-Sunnan wa al-Mubtada’aat al-Muta’alliqahbi al-Adzkaar wa al-Shalawaat karya Syaikh Muhammad ‘Abdussalam al-Syaqiry, edisi terjemahan dengan tajuk Bidaah-Bidaah Yang Dianggap Sunnah, Qisthi Press, Jakarta (2004), ms. 149

Upacara yang disebut oleh Syaikh Muhammad ‘Abdussalam ini biasanya dikerjakan di Masjid di antara solat Maghrib dan Isyak pada hari Rabu terakhir bulan Safar.


SOLAT SUNAT

Pada hari Rabu terakhir bulan Safar kononnya disunatkan untuk mengerjakan solat sunat empat rakaat. Waktu mengerjakannya adalah setelah terbit matahari dan sebelum masukya waktu Zuhur. Pada setiap rakaat hendaklah dibaca surah al-Fatihah sekali, surah al-Kautsar tujuh belas kali, al-Ikhlas lima kali, Surah al-Falaq dan al-Naas sekali dengan dikerjakan dengan hanya satu tahiyat. Setelah selesai solat ini hendaklah membaca doa seperti berikut:

" Ya Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, wahai zat yang kerana kemuliaan-Mu semua makhluk-Mu menjadi hina. Jauhkan aku dari kejahatan makhluk-Mu. Wahai zat yang Maha Baik, Indah dan Mulia, wahai Pemberi Nikmat dan Kemuliaan, wahai Zat yang tiada Tuhan kecuali Engkau, kasihanilah aku dengan rahmat-Mu wahai zat yang Maha Pengasih. Ya Allah dengan rahsia Hassan, saudaranya, ayah, ibu dan keturunnanya, jauhkan aku dari kejahatan hari ini dan apa turun pada hari ini, wahai zat yang memenuhi segala keperluan dan penolak segala bencana. Semoga Allah menjauhkannya kerana Dia yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Semoga selawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya. "

– Doa ini bersumber dari Risalah Rawi al-Dzam’an fi Fadhaail al-Asyhur al-Ayyam, ms. 4. Penulis nukil dari kitab al-Bida’ al-Hauliyyah karya ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz al-Tuwaijiry, edisi terjemahan dengan tajuk Ritual Bidaah Dalam Setahun, Darul Falah, Jakarta (2003), ms. 139

Ternyata tidak ada dalil yang sah menunjukkan solat suna serta bacaan doa tersebut disunatkan. Apatah dalam doa tersebut terdapat lafaz-lafaz tawassul yang dilarang oleh syarak iaitu menjadikan Hassan (r.a), Hussain (r.a), Ali (r.a), Fathimah (r.a) serta keturunan mereka sebagai perantara dalam berdoa. Allah S.W.T. memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa secara terus kepada-Nya tanpa perantaraan sebagaimana firman-Nya:

Dan Tuhan kamu berfirman: "Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. – al-Ghaafir (40) : 60


BACAAN SURAH DAN ZIKIR TERTENTU

Dalam buku al-Futuhat al-Haqqaniy pengikut tarekat tersebut diajar amalan tertentu untuk hari Rabu terakhir bulan Safar bertujuan untuk menolak bala. Di antara amalan-amalannya adalah membaca kalimah syahadah sebanyak tiga kali, beristighfar tiga ratus kali, membaca ayat al-Kursi tujuh kali, suraf al-Fiil tujuh kali dan dihadiahkan kepada diri sendiri dan juga ahli keluarga.


MEMBERI SEDEKAH

Konnonnya dianjurkan untuk memperbanyakkan sedekah pada bulan Safar bertujuan untuk menjauhkan diri dari penderitaan dan nasib malang.


BERKORBAN

Terdapat juga segelintir pihak yang beranggapan dianjurkan untuk mengerjakan ibadah korban pada tarikh 27 Safar.

Ternyata kesemua amalan yang dikhususkan sempena bulan Safar di atas tidak pernah diperintah oleh Rasulullah s.a.w. serta tiada seorang sahabat mahupun para al-Salafussoleh yang mengamalkannya. Sabda Rasulullah s.a.w.:

Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama) apa-apa yang tidak ada padanya, maka tertolaklah ia.” - Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 2697

Barangsiapa yang melakukan satu amal yang bukan dari suruhan kami (iaitu di dalam perkara berkaitan agama), maka tertolaklah ia. - Hadis riwayat Imam Muslim, no: 1718

Lantaran itu hendaklah seluruh umat Islam menghindarkan diri dari melakukan amalan-amalan bidaah tersebut. Rasulullah s.a.w. telah menegaskan bahawa segala tanggapan bahawa bulan Safar adalah bulan yang penuh dengan musibah dan bencana buruk adalah tidak benar.


Daripada Abu Hurairah r.a berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ.

Tiada penyakit yang berjangkit (dengan sendiri), tiada (keburukan ataupun kesialan pada bulan) Safar dan tiada (kecelakaan yang bersangkutan dengan) burung hantu. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 5717

Dugaan bahawa bulan Safar mahupun hari Rabu terakhir bulan Safar merupakan bulan ataupun hari yang malang merupakan sebahagian dari tathayyur yang dicela oleh syarak sebagaimana yang telah dibahaskan pada bahagian awal risalah ini. Menurut Ibnu Rajab r.h:

Menganggap sial bulan Safar adalah termasuk jenis tathayyur yang dilarang, begitu juga menganggap sial sesuatu hari seperti hari Rabu dan anggapan golongan jahiliyah terhadap bulan Syawal sebegai bulan sial secara khusus untuk dalam nikah. – Dinukil dari kitab Fathul Majid : Syarah Kitab Tauhid karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hassan Alu Syaikh, edisi terjemahan bertajuk Fathul Majid Penjelasan Kitab Tauhid, Pustaka Azzam, Jakarta (2004), ms. 580

Harus kita fahami bahawa mencela waktu yang tertentu adalah seolah-olah mencela Allah S.W.T kerana semua waktu itu adalah ciptaan Allah S.W.T.. Bagi setiap waktu termasuk bulan Safar ini sekiranya dipenuhi dengan aktiviti yang bermanfaat serta amal soleh adalah termasuk dalam waktu yang baik dan penuh keberkatan.

Oleh itu hendaklah bulan Safar ini dilihat seperti bulan-bulan yang lain dalam kalendar hijrah dan kita terus mengerjakan amal-amal ibadah yang disunnahkan seperti bulan-bulan lain tanpa mengkhususkan amalan tertentu yang tidak ada nas dari al-Qur’an dan al-Sunnah.

Hendaklah kita menghindarkan diri dari melakukan ramalan bahawa akan datang sesuatu perkara yang buruk disebabkan sesuatu perkara (tathayyur) kerana ianya termasuk dalam kategori amalan syirik. Ternyata syirik merupakan satu perbuatan yang zalim dan Allah S.W.T. tidak akan mengampunkan golongan yang mengsyirikannya melainkan bagi mereka yang bertaubat.

Firman-Nya: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, semasa ia memberi nasihat kepadanya:" Wahai anak kesayanganku, janganlah engkau mempersekutukan Allah (dengan sesuatu yang lain), sesungguhnya perbuatan syirik itu adalah satu kezaliman yang besar". - Luqman (31) : 13

Firman-Nya lagi: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampunkan dosa orang yang mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan akan mengampunkan (dosa) selain kesalahan (syirik) bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. Sesiapa yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat jauh." – Surah al-Nisa' (4) : 116.


16.1.10

Khazanah ilmu - hujah dan dalil niat solat tidak dilafazkan


MASALAH KHILAFIYAH
- MELAFAZKAN NIAT, BAGAIMANA SIKAP KITA?

Dalam bermasyarakat, sering kita temui perbedaan pendapat hal mensabitkan ketentuan hukum. . Misalnya dalam soalat, menjaharkan basmalah atau tidak, memakai qunut atau tidak, dan lain-lain. Kadang masalah ini bisa menjadi masalah yang besar jika tidak secara arif menanggapi. Masing-masing pihak saling mempertahankan pendapatnya sendiri-sendiri. Karena masing-masing mempunyai dalil sendiri-sendiri yang sama-sama kuat. Sering saya dengar bahwa ini adalah masalah khilafiyah, tidak perlu dibesar-besarkan.

Sepatutnya sebelum merungkai persoalan khilafiyah ini kita harus tahu Apa yang dimaksud dengan khilafiyah? Apa saja yang termasuk masalah-masalah khilafiyah ini? Apa hujah hujah di kedua dua pihak? dan akhir sekali Bagaimana sikap kita dalam menghadapi masalah-masalah khilafiyah yang ada?

Melafazkan niat sebelum solat adalah masalah khilafiyah.

Melafazkan niat sebelum solat adalah masalah khilafiyah. Masalah khilafiyah adalah masalah yang hukumnya tidak disepakati para ulama. Terkadang ketidaksepakatan itu hanya pada tataran yang sempit, bahkan seringkali hanya perbedaan penggunaan istilah.

perbedaannya tidak serius mana, bukan beza antara halal dan haram.


Munculnya perbedaan pendapat tentang hukum suatu masalah sebenarnya hak para ulama saja. Sebab mereka itulah yang punya alat dan otoritas untuk menyimpulkan sebuah hukum agama. Kita sebagai orang awam, tentu tidak punya perangkat dan alatnya, juga tidak punya spesifikasi yang minimal untuk melakukan pengambilan kesimpulan hukum.

Sebagai orang awam sebelum kita menyokong mana mana pihak kita haruslah mengetahui perkara yang dihujahkan. Tidak adil kalau kita mendengar sebelah pihak sahaja.

Catatan saya di sini bukan untuk mengelirukan atau untuk melaga lagakan. Cukup sebagai pertambahan khazanah ilmu kita berkenaan persoalan, hujah dan dalil yang di perkatakan ada golongan yang menentang dan ada golongan yang mempertahankan.


HUJAH DAN DALIL NIAT ITU TIDAK DILAFAZKAN. MALAH ADA YANG MENGATAKAN BIDAAH JIKA DILAFAZKAN

Niat adalah salah satu daripada rukun sembahyang. Rukun bererti tiang. Rukun sembahyang bererti asas sembahyang, di mana ia merangkumi amalan, juga perkataan yang dimulakan dengan takbir, iaitu Allahuakbar dan disudahi dengan salam, iaitu assalamualaikum. Sekiranya rukun ini ditinggalkan, maka sembahyang yang dilakukan itu tidak sah.

Niat ialah azam atau tekad melakukan sesuatu disertakan dengan tindakan.
Dalam sebuah hadis daripada Umar bin Al-Khattab r.a, beliau berkata, aku telah mendengar

Rasulullah bersabda:

"Segala amalan ibadah itu hanya sah dengan niat dan bagi setiap manusia diberi ganjaran menurut apa yang diniatkan."
-
(hadis riwayat Bukahari dan Muslim.)

HUJAH :

Tempat niat ialah dalam hati. Tidak wajib menyebut niat dengan lidah. Menurut kitab al-Qaul Al-Mubin Fi Akhtai `l-Musallin, menyebut niat dengan kuat tidak wajib, juga tidak dihukumkan sunat, bahkan amalan menguatkan suara ketika berniat adalah bid'ah menyalahi syarak. Menurut Al-Qadi Abu Ar-Rabi Sulayman bin Umar Asy-Syafie, berniat dengan suara kuat di belakang imam bukan daripada amalan sunah, bahkan makruh. Sekiranya apa yang dilakukan itu menyebabkan gangguan kepada orang lain, maka perbuatan itu adalah haram.

Menurut Abu Abdullah Muhammad bin al-Qasim, At-Tunisiyi Al-Maliki,
niat adalah amalan hati. Menguatkan suara ketika berniat adalah bid'ah.

Amalan ini akan menyebabkan berlaku waswas di kepala orang lain.


Hukum Mulai Sembahyang Dengan Takbir

Ali bin Abi Thalib memberitakan: Bahawa telah bersabda Rasulullah saw

“ Anak kunci sembahyang itu suci, pentahrimnya takbir dan pentahlilnya taslim.”

(Riwayat Ahmad,Abu Daud,Tarmidzi,Syafie dan Ibnu Majah)

Hadis ini menyatakan bahawa suci itu ialah suci dari hadas, sebagai syarat sah sembahyang. Takbiratul-ikhram, permulaan sembahyang mesti dibuka dengan takbir, "Allahu-Akbar” dan penutupnya dengan "salam". Jelas dan tegas hadis ini menyatakan bahawa sembahyang tidak boleh dibuka dengan lain-lain bacaan.

Pendapat Para Fuqaha

Imam Bukhari mewajibkan takbir di kala sembahyang kerana mengingat hadis yang disampaikan oleh Aisyah r.a.

“ Adalah Nabi s.a.w. mulai sembahyang dengan takbir.” Juga hadis yang disampaikan Ibnu Umar iaitu: “Aku lihat Nabi mulai sembahyang dengan takbir.”


Banyak hujah-hujah jamhur ulama yang menegaskan ketiadaan boleh kita mulai sembahyang selain takbir, “ Allahu-Akbar".

Takbir itu menurut pendapat yang banyak ialah hukum atau sendi sembahyang.

Menurut pendapat ulama Hanafiah ialah merupakan satu syarat. Menurut Mazhab Syafie, Ahmad dan Malik berpendapat bahawa tidak sah sembahyang dengan ketiadaan takbir. Belum dipandang masuk ke dalam sembahyang jika belum bertakbir. Dan takbir itu pula wajib dengan ucapan ‘Allahu-Akbar’, tidak boleh dengan lainnya.

Terang dan jelas hadis yang diterangkan itu, iaitu dimulai sembahyang dengan ucapan "Allahu-Akbar.” Perlu diketahui bahawa Rasulullah saw menyuruh kita membaca apa yang beliau baca.

Sebagaimana yang disabdanya:

Sembahyanglah kamu sebagimana kamu lihat aku sembahyang".


Allah berfirman bermaksud:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Apa jua yang dibawa oleh Rasulullah kepada kamu maka terimalah ia, dan apa jua yang dilarang kamu melakukannya maka patuhilah larangannya. Dan bertakwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah amatlah berat azab seksa-Nya."

(Surah Al-Hasyr: 7)

Dalam masyarakat Melayu, persoalan lain yang sering timbul ialah tentang sebutan ``usalli'', yang juga disebut sebagai ``talaffuz bi `n-niyyat'', iaitu sebutan niat dengan lisan. Seperti yang diketahui, lafaz ini bukan niat kerana niat itu terletak pada hati, bukan di lidah.

Nabi s.a.w. tidak pernah membaca ‘naiwaitu usalli’ atau ‘usalli fardu…’.Yakni Nabi tiada membaca lafaz niat dan nabi tidak menyuruh para sahabat membacanya.

Oleh itu kita berhak minta dalil kepada mereka yang mendakwa Nabi ada membaca ‘usalli..’


Dari manakah warta berita itu datang ?

Selama mereka tiada membaca dalil-dalil yang terang maka kita tetap menolak amalan melafaz niat kerana asal permulaan syariat Solat, malaikat jibril datang menunjukkan batas waktu awal dan akhir tanpa mengajar lafaz niat.

Dalam Al Umm As Syafie tidak menulis seperti dalam kitab perukunan, ini ialah lafaz niat fardu Zohor…ini ialah lafaz niat fardu Asar….dan pelbagai jenis lagi sehingga hendak shalat mayat yang paling mudah pun ramai tidak mahu shalat kerana tidak ingat lafaz niat.

Niat urusan hati manusia, Allah Maha Mendengar apa yang tersurat dalam hati manusia. Berilmulah dahulu sebelum beribadat. Ada ilmu mudahlah kita meluruskan niat kita kepada Allah.


Erti Niat

Erti niat sepanjang bahasa adalah dari kata kerja yang ertinya sengaja, kehendak, cita-cita atau ketetapan di hati. Erti kata niat sepanjang syariat menurut sebagaimana yang biasa dikemukakan oleh kebanyakan ulama Syafieyah, ialah niat itu disengajakan atau bermaksud kepada sesuatu berserta dengan pekerjaannya.

Tentang tempat pelaksanaan niat sepanjang penjelasan para ulama Ahli Fiqih, terutama dari ulama yang bermazhab Syafie sendiri, antara lain ialah:

Dan tempat niat itu di hati, jika ia berniat dengan hatinya, tidak dengan lidahnya telah memadai dan dari sebahagian para sahabat kami (ulama syafieah) ada yang berkata berniat dengan hati dan melafazkan dengan lidah itu tidaklah sesuatu dalam kebenaran, kerana niat itu ialah kehendak hati.

Di dalam kitab ‘Al-Umm” karangan Imam As Syafie sendiri, tidaklah ada beliau berkata bahawa melafaz niat dengan lidah itu Sunah atau Mustahab atau Nadab.

Para ulama Hanafiah sebagaimana tersebut dalam kitab “Al-Fiqu Allal Mazahibil Arbaa’ (Fiqih empat mazhab) berkata bahawasanya melafazkan niat itu bid’ah, kerana tidak terbit dari Rasulullah saw dan tidak pula dari sahabat-sahabat.

Pendapat Para Fuqaha

Para ulama Hanafiyah, Malikiyah, Hanbaliyah, berpendapat bahawa niat itu dilakukan sebelum pekerjaan dimulai.

Pendapat para ulama Syafieah: Niat itu harus dilakukan berserta dengan pekerjaannya.

Sahabat Ibnu Mas’ud pernah berkata:

Allah tidak akan menerima sesuatu perkataan melainkan dengan amal perbuatan dan ia tidak akan menerima sesuatu perkataan dan perbuatan melainkan dengan niat. Dan ia tidak akan menerima sesuatu perkataan amalan dan niat melainkan dengan apa yang disetujui dengan kitab dan sunah (Quran dan Hadis).


Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Barangsiapa mengamalkan sesuatu pekerjaan yang tidak kami kerjakan, maka amalan itu tertolak”.

(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

Tempat niat itu di hati. Melafaz adalah Bid'ah. Lidah menolong hati batil sebab ucapan lidah mesti dimulai diingat dihati.

Wallahu 'alam bis-shawab. Wasalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

5.1.10

KHURAFAT MENYELEWENG AKIDAH.

KHURAFAT MENYELEWENG AKIDAH.

Perkataan khurafat ini berasal dari bahasa arab :
kharafa-yakhrifu-kharfan khurafatan. Dari pandangan bahasa Inggerisnya merujuk kepada "superstition". Dari segi bahasa khurafat didefinisikan sebagai sebaris kata yang membawa erti kepercayaan yang karut, dongeng dan tahyul.







Manakala menurut istilah syarak pula mengertikan perkara ini sebagai semua kepercayaan yang diyakini kegiatannya memiliki dasar dan bersumber daripada ajaran agama Islam walaupun pada hakikatnya perkara tersebut adalah bertentangan dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. Pengertian khurafat dalam Islam ialah semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran., pantang-larang, adat istiadat, ramalan-ramalan. pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam. Khurafat merangkumi cerita dan perbuatan yang direka dan bersifat karut dan dusta.

Ramai di antara umat Islam terlepas pandang atau tidak mengambil berat akan perkara ini, namun hakikatnya gejala ini telah menular di dalam agama Islam dalam pelbagai sudut, aspek dan bentuk sehingga ia telah meliputi konsep ibadah dan kehidupan masyarakat Islam sendiri.


BERTAPAKNYA AMALAN KHURAFAT

Lipatan sejarah telah memaparkan bahawa manusia yang menduduki rantau ini memulakan keagamaan mereka dengan fahaman
dinaisme - animisme. Fahaman dinamisme ialah satu faham yang merujuk suatu kepercayaan yang meyakini adanya tenaga atau kuasa ghaib yang tidak berperibadi pada tumbuh tumbuhan, benda-benda, haiwan ataupun manusia sendiri. Contohnya ia pretasi luar biasa yang dimilik seperti pokok yang lebih besar atau banyak buahnya dipercayai mempunyai kuasa yang lebih banyak daripada lainnya.

Manakala
fahaman animisme pula merupakan kepercayaan akan adanya jiwa dan roh yang dapat mempengaruhi kepercayan akan kewujudan jiwa dan roh yang dapat mempengaruhi alam manusia. Seperti yang dapat kita lihat, animisme biasanya akan menonjolkan sesuatu praktis seperti pemujaan dan perhambaan diri kepada sesuatu kuasa ghaib yang berperibadi, dengan mengharapkan perlindungan atau pertolongan bagi daripada kuasa tersebut di mana pertolongan makhluk halus berkenaan sebenarnya adalah jin.

Pengaruh Hinduisme – Buddhaisme
Sebelum kedatangan Islam, Hinduisme dan Buddhaisme telah terlebih dahulu tersebar di rantau ini. Disebabkan kedua-dua agama ini membawa unsur dinaisme dan anamisme yang tersendiri maka ini telah menyuburkankan lagi fahaman anisme dalam kalangan masyarakat.

Kedatangan Islam
Walaupun Islam agama yang cukup ketat dan tegas amalan tauhidnya, namun cara dan pendekatan yang digunakan oleh mubaligh dari arab dalam proses penyebaran agama tauhid ini ialah dalam bentuk penuh toleransi, At-tadarruj atau beransur-ansur dan tidak mengubah, bahkan menyesuaikan sebahagian. Hal ini bagi memudahkan masyarakat untuk menerima ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. Dengan itu terwarislah elemen-elemen fahaman animisme dan Hindu-Buddha yang terdapat di dalam adat masyarakat kita lantas bercampur-aduk dengan ajaran Islam sehingga ke hari ini dan tidak dihapuskan. Contohnya persembahan dan jamuan kepada roh diubah kepada kenduri tahlil dan makan bersama, adat membakar kemenyan dan becaan mentera kepada roh-roh selepas mati diubah kepada upacara tahlil serta dia dengan nada yang panjang dan sedih.

Pengekalan tradisi campur-aduk seumpama inilah yang menjadikan ajaran Islam yang dihayati dan diamalkan oleh sebahagian umat Islam di seluruh dunia, termasuk di negara kita, menjadi tercemar dan tidak murni. Perlu diingatkan bahawa satu sikap yang amat terlarang menurut hukum Islam ialah sikap meminta-minta pelbagai jenis hajat daripada makhluk jin walaupun yang diseru itu datangnya daripada golongan jin Islam yang sahih.

Perkara ini dilihat sebagai bermasalah dari segi pandangan Islam yang murni kerana ia memesongkan akidah yang menyeru pemusatan kepada Allah s.w.t. Lebih-lebih lagi jika makhluk tersebut dari golongan jin kafir.

Firman Allah :
"Dan bahawa sesungguhnya adalah ( amat salah perbuatan ) beberapa orang daripada manusia, menjaga dan melindungi dirinya dengan meminta pertolongan kepada ketua-ketua golongan jin, kerana dengan permintaan itu mereka menjadikan golongan jin bertambah sombong dan jahat."
( Surah Al-Jin : Ayat 6 )


AMALAN KHURAFAT MASIH BERTERUSAN

Dalam kalangan masyarakat sekarang, terdapat banyak gejala khurafat, ia adalah hasil budaya orang kita yang terlalu percayakan hal-hal yang bawa oleh orang terdahulu daripada mereka tanpa merujuknnya secara mendalam di dalam Al-Quran dan As-Sunnah serta para alim ulama kerana iman yang kurang mantap termasuk sikap masyarakat yang inginkan jalan mudah dalam mencari kesenangan dan kebahagiaan hidup serta sikap orang kita yang amat kuat berpegang kepada adat. Buktinya peribahasa yang berbunyi
“Biar mati anak, jangan mati adat.”

Gejala khurafat ini terdidik dari kecil, contohnya di dalam budaya masyarakat kita adalah menjadi kebiasaan kanak-kanak sering ditakutkan dengan hantu pada malam jumaat sedangkan pada malam tersebut Allah s.w.t menurunkan rahmat untuk semua hamba-Nya pada malam tersebut. Bahkan ada lagi satu situasi di mana kanak-kanak takutkan dengan hantu apabila tidak mendengar ibu bapa, kenapa sahaja tidak katakan kepada anak tersebut bahawa Tuhan akan marah? Rasanya itu lebih baik dan akan memupuk semangat takut akan Maha Pencipta.

Walau bagaimanpun khurafat juga boleh berlaku secara tidak sengaja oleh pelakunya atau sebaliknya. Hal ini boleh berlaku terhadap sesuatu individu, kelompok dan istitusi masyarkat masa kini kerana lemahnya mereka yang bersangkutan untuk menolak godaan khurafat atau ada maksud-maksud tertentu. Mungkin tanggungjawab terhadap Allah s.w.t jauh lebih berat dan besar dibandingkan dengan pelanggaranpelanggaran lainya yang dilakukan dengan sengaja.
Khurafat secara tidak sengaja lazimnya berlaku disebabkan oleh kejahilan pelakunya bahawa hal berkenaan tidak dibenarkan oleh Islam dan terpesong dari landasan yang benar. Namun, bagi mereka yang melakukan perbuatan khurafat ini dengan sengaja ataupun tidak, pintu taubat masih terbuka untuk mereka asalkan mereka mahu bertaubat.


BENTUK KHURAFAT

Khurafat masih wujud di dalam masyarkat Islam sekarang, bahkan ia juga telah muncul dalam bentuk-bentuk yang berbagai-bagai samada dalam bentuk perbuatan tertentu, ungkapan tertentu, cerita atau kisah tertentu, bilangan tertentu, serta konsep, prinsip atau mazhab tertentu. Amalan mengunjungi kubur yang dianggap keramat mempercayai binatang seperti burung boleh membawa tuah atau sial membuang ancak bagi menghalau hantu adalah sebahagian bentuk gejala khurafat.

SMS Atau Surat Berantai
Tercetus daripada kemajuaan teknologi yang dikecapi oleh masyarakat masa kini. Mungkin ramai dalam kalangan kita yang tidak perasan, terlepas pandang dan tidak mengambil berat perkara ini bahawa bentuk amalan ini mempunyai unsur-unsur khurafat yang amat halus.
Jika kita selidiki setiap surat berantai atau SMS berantai pastinya dimulakan dengan cerita-cerita yang menginsafkan dan mengingatkan kembali seseorang akan tuntutan Islam namun sebaliknya pula di akhir helaian atau pun SMS. Contoh pengakhiran suatu SMS atau surat berantai lebih kurang begini :
“Barang siapa yang tidak menyebarkan SMS kepada sepuluh orang ini atau mengabaikannya, maka dia akan ditimpah kesusahan selama tujuh hari. Manakala siapa yang mereka menyebarkannya pasti ada akan dilimpahi kesenangan daripada Allah s.w.t selama tujuh minggu.”

Justeru, orang yang menerima SMS atau surat tersebut pun terpedaya dan menyebarkannnya kepada sepuluh orang kerana takut dengan kesusahan yang diperkatakan itu sama ada secara terpaksa atau tidak. Namun itu bukanlah persoalannya utamanya, persoalannya di sini mereka
yang mempercayai perkara ini telah dipesongkan akidahnya. Sama ada percaya atau tidak, mereka yang termakan dengan ayat seperti di atas sebenar telah meletakkan kekuasaan untuk menentukan takdir hidup mereka pada SMS atau helaian berkenaan bukannya Allah s.w.t. Susunan ayat seperti di atas telah mengalihkan keyakinan mereka daripada Maha Pencipta secara halus. Kemungkinan gejala terbaru ini adalah sebahagian rancangan musuh-musuh Islam tidak boleh diambil ringan.


AKIBAT MEMPERCAYAI ATAU MENGAMALKAN PERBUATAN KHURAFAT

Gejala khurafat boleh menyeleweng akidah seorang invidu muslim dengan mengalihkan pergantungan manusia daripada Khalik (Pencipta/Allah) kepada makhluk (yang dicipta). Hal ini ditegaskan boleh menjatuhkan kepada seorang individu muslim kepada syirik kerana apabila kita merujuk kepada Al-Quran terdapat beberapa ayat yang menyeru kepada pergantungan kepada Allah s.w.t dan menolak kepercayaan terhadap yang selainnya sama ada bagi mendapat kebaikan atau menolak keburukan. Yang memberikan kenikmatan dan keyakinan hanya Allah s.w.t. kepada- Nya seluruh makhluk bergantung.

Firman Allah :
“Katakanlah apakah kamu tidak melihat kepada apa yang kamu memohon kepadanya selain daripada Allah bahawa jika sekiranya Allah mengkehnedaki ke atas kamu sesuatu kemudaratan adakah mereka itu boleh menghindari dari kemudaratan itu. Atau jika Allah mengkehendaki sesuatu rahmat itu dianugerahkan kepada ku adakah mereka itu boleh menahan rahmat itu. Katakanlah adalah memadai Allah itu bagiku untuk segala-galanya. Kepada-Nya bertawakkal semua orang yang bertawakal.”
( Surah Al-Zumar : Ayat 38 )

Khurafat boleh membatalkan iman seorang muslim dan menggugurkan syahadah yang telah diucapkannya disamping membazir masa, tenaga dan harta dengan perkara sia-sia serta menyekat akal berfikir secara logik dan sistematik disamping boleh menjatuhkan seorang muslim kepada syirik.

Hadis Nabi :
“Sesiapa yang mengada-adakan sesuatu perkara dalam agama kami, yang tidak termasuk dalam ajaran Islam yang suci, maka apa yang diamalkan itu tertolak (tidak diterima amalan berkenaan oleh Allah dan tidak diberikan pahala)”
( Hadis riwayat Bukhari dan Muslim )

Masyarakat yang mengamalkan amalan khurafat akan mengalami banyak krisis kemunduran terutama sekali amalan akhlak. Situasi ini boleh kita lihat apabila merenung bagaimana keadaan masyarakat jahiliah pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. Pelbagai perkara telah disempitkan oleh gejala khurafat. Fikiran pun kolot. Oleh yang demikian tidak beruntunglah sesuatu bangsa suatu umat selagi mana amalan khurafat ini masih bertapak di dalam kelompok mereka walaupun mereka dapat mengecapi nikmat dunia.

KESIMPULAN

Pada hari ini usaha untuk membendung amalan khurafat merupakan suatu usaha yang mencabar. Memang benar masyarakat kita pada hari ini sudah lebih matang berbanding dulu, tapi lebih kepada hal keduniaan, kalau tidak masakan gejala maksiat boleh berleluasa.

Usaha-usaha untuk membasmi dan membanteras gejala khurafat boleh dilakukan melalui kerjasama di antara masyarakat dengan majlis agama bagi menangani semua perkara yang boleh menggugat keteguhan akidah umat Islam.

Diantara langkah yang perlu diambil ialah menanamkan keyakinan kepada masyarakat kita agar tidak mudah mempercayai benda-benda tahyul, mendalami ilmu agama dan jangan mudah terpengaruh dengan kelebihan seseorang atau sesuatu benda

Manakala jalan penyelesiannya ialah setiap umat Islam hendaklah mendalami ilmu agama sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis nabi S.A.W yang bermaksud : " Aku telah tinggalkan kamu 2 perkara selama mana kamu berpegang teguh dengannya, tidak akan sesat selama-lamanya iaitu al-Quran dan sunnahku"

28.12.09

Hukum Ruqyah, Cara, dan Bacaannya


Jampi/mentera dalam Islam dikenal ‘RUQIYAH’, iaitu satu cara untuk mengusir jin dan segala macam gangguannya dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran Al-Karim. Bagi jin yang mengganggu dan jahat, bacaan Al-Quran terutama pada ayat tertentu yang dibaca dengan baik dan benar oleh orang yang sholeh dan bersih imannya, akan sangat ditakuti. Mereka akan merasakan panas yang membakar dan keluar dari tubuh pesakit.

Kerana itu bila orang yang memahami tentang jin itu menggunakan Ruqyah seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW secara benar, maka hukumnya harus dalam Islam.

Tetapi bila orang itu menggunakan cara-cara yang menyimpang, apalagi dengan melanggar syariat dan aqidah, tidak boleh dilakukan. Kerana tujuan jin ketika mengganggu manusia tidak lain adalah untuk menyesatkan manusia agar syirik kepada Allah.

Contohnya, bila sesaorang ( dukun/ bomoh ) itu menghalau jin dan meminta sajian, minta bunga buangaan, atau dikorban- kan haiwan sembelihan sebagai balasan, itulah syirik yang sangat sesat dan bertentangan dengan syariat dan hukum Allah.

Pada dasarnya bila dibacakan Ruqiyah, jin itu sangat takut dan tidak berani meminta itu danminta ini itu. Kerana pembacaan ayat-ayat Al-quran itu membuatnya kesakitan yang sangat, sehingga dalam proses Ruqyah, tidak ada permintaan dari jin kecuali harus pergi dan berhenti dari menganggu manusia.

Kerana itu pastikan bahawa orang yang anda minta bantuannya adalah seorang muslim yang soleh, mengerti ajaran syariah dengan benar, kuat aqidahnya, benar ibadahnya, lurus fikrahnnya dan yang penting diperhatikan, dia hendaknya punya pengalaman sebelumnya dalam menghadapi jin, agar mengenal tipu daya dan trik-trik yang digunakan jin untuk berpura-pura pergi padahal tidak dan sebagainya.

Nabi SAW bersabda: ” Tidak apa-apa ruqyah itu selama tidak mengandung syirik” (HR Muslim).

Beliau SAW juga bersabda: “Barangsiapa menggantungkan sesuatu, maka dirinya akan diserahkan kepadanya” (HR Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud dan Al-Hakim).

Agar pelaksanaan ruqyah tersebut sesuai dengan syariah islamiah maka perlu diperhatikan hal hal sebagai berikut:

  • Bacaan rukyah berupa ayat-ayat Alqur‘an dan Hadits dari Rasulullah saw.
  • Do‘a yang dibacakan jelas dan diketahui maknanya.
  • Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya, tetapi dengan takdir Allah SWT.
  • Tidak isti‘anah dengan jin ( atau yang lainnya selain Allah).
  • Tidak menggunakan benda-benda yang menimbulkan syubhat dan syirik.
  • Cara pengobatan harus sesuai dengan nilai-nilai Syari‘ah.
  • Orang yang melakukan terapi harus memiliki kebersihan aqidah, akhlak yang terpuji dan istiqomah dalam ibadah.

Ruqyah : Cara Dan Bacaannya

‘RUQIYAH’, dalam prakteknya adalah satu cara untuk mengusir jin dan segala macam gangguannya dengan membacakan ayat-ayat Al-Quran Al-Kariem. Bagi jin yang mengganggu dan jahat bila dibacakan ayat Al-Quran, terutama pada ayat tertentu yang dibaca dengan baik dan benar oleh orang yang soleh dan bersih imannya, akan sangat ditakuti oleh jin. Mereka akan merasakan panas yang membakar dan keluar dari menganggu sipesakit

Di antaranya yang paling sering digunakan adalah ayat kursi, beberapa petikan ayat dalam surah Al-Baqarah (tiga ayat terakhir), Surat Ali Imron, Surat Yasin, Surat Al-Jin, surat Al-Falaq dan Surat An-Naas. Selain itu masih banyak ayat dan doa-doa lainnya yang diriwayatkan kepada kita untuk dibacakan kepada orang yang kesurupan.

Pada dasarnya bila dibacakan Ruqiyah, jin itu sangat takut kerana pembacaan ayat-ayat Al-quran itu membuatnya kesakitan yang sangat, sehingga dalam proses Ruqyah, tidak ada permintaan dari jin kecuali harus pergi dan berhenti dari menganggu manusia. Ruqyah adalah salah satu cara untuk mengusir gangguan setan dan sihir.

Abdul Khalik Al-Atthar dalam bukunya “Menolak dan membentengi diri dari sihir” menyebutkan bahwa untuk bebas dari pengaruh jahat jin, boleh dilakukan beberapa cara, antara lain:

1. Metode Istinthaq

Methode istinthaq adalah mengajak berbual dengan jin/syaitan yang ada di dalam tubuh orang yang terkena sihir. Dan menanyakan kepadanya tentang namanya, nama tukang sihir yang memanfaatkan jasanya, nama orang yang membebani tukang sihir untuk melakukan sihir, menanyakan tempat penyimpanan sihir serta barang-barang yang digunakan untuk menyihir. Meskipun demikian, kita dituntut untuk tetap waspada dan tidak mempercayai sepenuhnya akan apa yang diucapkan oleh jin/syaitan yang ada di dalam tubuh pesakit, sebab bioleh jadi jin itu berbohong dengan tujuan untuk menimbulkan fitnah dan memecah belah hubungan baik diantara sesama manusia.

2. Metode Istilham

Melalui Istilham adalah memohon ilham dan petunjuk yang benar dari Allah swt) agar Ia berkenan memberikan isyarat lewat mimpi, sehingga sihir yang menimpa seseorang bisa terdeteksi dan kemudian dilenyapkan.

3. Metode Tahshin

Methode Tahsin adalah pembentengan, yaitu dengan membentengi dan melindungi korban sihir dengan menggunakan bacaan Al-Qur?an, zikir dan ibadah-ibadah tertentu.

Syaikh bin Baaz mengatakan bahwa cara yang paling efektif dalam mengobati pengaruh sihir adalah dengan mengerahkan kemampuan untuk mengetahui tempat sihir, misalnya di tanah, gunung dan lain-lain. Dan bisa diketahui lalu diambil, maka lenyaplah sihir itu.

Pengubatan sihir yang diharamkan adalah menyingkirkan sihir dengan sihir juga, ini sesuai dengan perkataan Rasul yang melarang keras seorang muslim pergi ke rumah dukun dan tukang sihir untuk meminta bantuan kepadanya.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan bahwa mengeluarkan sihir dan memusnahkannya adalah pengobatan yang paling efektif, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Rasulullah saw bahwasanya beliau memohon kepada Allah untuk dapat melakukan hal itu. Allah memberi petunjuk kepada beliau, sehingga beliau pernah mengeluarkan sihir dari sebuah sumur.

4. Hijamah

Cara yang lainnya adalah dengan hijamah (berbekam) pada anggota tubuh yang terasa sakit akibat pengaruh sihir, karena sihir bisa berpengaruh pada tubuh, dan melemahkannya.

5. Obat-obatan

Pengobatan sihir dapat juga dilakukan dengan menggunakan obat-obatan yang mubah (dibolehkan) seperti dengan memberi kurma ?Ajwah kepada si penderita.

Diriwayatkan dari Amir bin Sa’ad dari bapaknya bahwasanya Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa setiap pagi hari memakan kurma ‘Ajwah maka tidak akan membahayakan dirinya baik racun maupun sihir pada hari itu hingga malam hari”. (HR. Bukhari)

Tentang keistimewaan kurma ini Imam Al-Khattabi berkata: Kurma ‘Ajwah memiliki hasiat dan manfaat yaitu bisa menjadi penangkal racun dan sihir karena berkat do’a Rasulullah saw terhadap kurma Madinah, dan bukan karena keistimewaan kurma itu sendiri.

6. Ruqyah

Cara yang lainnya yang dapat dilakukan untuk mengeluarkan sihir adalah dengan membacakan ruqyah syar’iyyah (pengobatan melaui bacaan Al-Quran, zikir dan do’a).

Imam Ibnu Qayyim mengatakan: Diantara obat yang paling mujarab untuk melawan sihir akibat pengaruh jahat setan adalah dengan pengobatan syar’i yaitu dengan zikir, do?a dan bacaan-bacaan yang bersumber dari Al-Quran. Jiwa seseorang apabila dipenuhi dengan zikir, wirid dan mensucikan nama Allah niscaya akan terhalangi dari pengaruh sihir. Orang yang terkena sihir bisa sembuh dengan membaca ruqyah sendiri atau dari orang lain dengan ditiupkan pada dada atau tubuh yang sakit sambil membaca zikir dan do’a.

Berikut ini adalah antara bacaan-bacaan yang diyakini mampu menolak dan menghilangkan bahaya sihir, di antaranya:

  • Surat Al-Fatihah.
  • Surat Al-Baqarah, khususnya ayat-ayat 1-5, 254-257 dan 284-286.
  • Surat Al-Imran khususnya ayat 1-9 dan 18-19
  • Surat An-Nisa khususnya ayat 115-121
  • Surat Al-A’raf khususnya ayat 54-55.
  • Surat Al-Mu’minun khususnya ayat 115-118.
  • Surat Yasin khususnya ayat 1-12.
  • Surat As-Shaffat khususnya ayat 1-10.
  • Surat Ghafir khususnya ayat 1-3, dan masih banyak lagi ayat-ayat lainnya.

doa-doa yang dianjurkan diantaranya:

اللهم رب الناس اذهب البأس اشف أنت الشافى لا شافي إلا أنت شفاء لا يغادر سقما.

Ya Allah, Rabb bagi semua manusia, hilangkanlah rasa sakit, berila kesembuhan, Engkau zat yang menyembuhkan tiada yang bisa menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tiada menimbulkan sakit sedikitpun.

بسم الله أرقيك من كل شيء يؤذيك ومن شر كل نفس أو عين حاسد الله يشفيك بسم الله أرقيك.

Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari kejahatan setiap jiwa atau pandangan orang yang dengki, Allah yang memberi kesembuhan padamu, dengan nama Allah saya meruqyahmu.

أعيذك بكلمات الله التامة من شر ما خلق.

Saya mohon untuk kamu perlindungan kepada Allah dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan apa yang diciptakan.

Bin Baz mengatakan: Hendaklah seorang muslim meminta kesembuhan hanya kepada Allah dari segala kejahatan dan bencana, dengan membaca doa-doa berikut ini:

بسم الله الذي لا يضر مع اسمه شيء في الأرض ولا في السماء وهو السميع العليم.

Dengan menyebut nama Allah yang dengan keagungan nama-Nya itu menjadikan sesuatu tidak berbahaya baik yang ada di langit atau di bumi, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui? (Dibaca 3x pada pagi dan sore hari)

Dan dianjurkan pula untuk membaca Ayat Kursy ketika hendak tidur dan sehabis salat fardhu, disamping membaca surat Al-Falaq, Al-Nas dan Al-Ikhlash setiap selesai melakukan salat subuh dan salat maghrib serta menjelang tidur.

Seluruh cara di atas hanyalah sekedar do’a dan usaha, sumber kesembuhan hanyalah dari Allah semata, Dialah yang Maha mampu atas segala sesuatu dan di tangan-Nya segala obat dan penyakit, dan segala sesuatu bisa terjadi berdasarkan ketentuan dan takdir Allah swt.

Pada dasarnya membantu pengobatan dengan ruqyah adalah amal tathowu‘i ( sukarela) yang dibolehkan menerima hadiah dan bukan kasbul maisyah (mata pencaharian rutin).

sumber : pelbagai


25.12.09

Taklid Buta Dan Taksub Kepada Imam Mazhab

Di-Edit semula dari tulisan:

Ust. Mohd. Noor Tahir & Kapten Hafiz Firdaus Abdullah


Sikap taklid buta terhadap para imam mazhab secara melampau perlu dihentikan. Ini kerana, semua imam mazhab menjadikan sunnah yang sahih sebagai pegangan utama dan meninggalkan pendapat individu jika menyanggahi sunnah baginda.


Sebahagian pengikut mazhab yang fanatik menolak bulat-bulat pendapat mazhab lain. Seolah-olah, mazhabnya sahaja yang betul. Sedangkan dalam beberapa perkara, mereka sebenarnya mengamalkan pendapat imam lain atas alasan darurat.

Ada riwayat menyebut, Khalifah Abu Ja’far al-Mansur dan Harun al-Rasyid ingin menjadikan Mazhab Malik dan Kitab al-Muwatta’ karangan Imam Malik sebagai sumber perundangan dan rujukan kerajaan Abbasiyyah.

Tetapi, cadangan ini ditentang oleh Imam Malik sendiri. Alasan beliau ialah kebenaran itu hanya satu, iaitu melalui Rasulullah s.a.w. Pendapat seseorang boleh ditolak apabila bertentangan dengan sunnah Rasulullah s.a.w


Para salafussoleh bersepakat, wajib berpegang dan kembali kepada al-Quran dan sunnah yang sahih serta meninggalkan setiap pendapat yang menyalahi kedua-duanya. Walaupun ia diutarakan oleh seorang pakar, ulama, tokoh ilmuan atau sarjana. Ini kerana, Rasulullah s.a.w lebih afdal untuk diikuti dan dicontohi berbanding individu yang tidak terlepas daripada salah dan silap.


Jika mendapati sesuatu yang bertentangan dengan amalan harian masyarakat kita di dalam sesebuah pendapat yang diutarakan, maka janganlah terus membuat kesimpulan yang singkat, lalu mentohmah sesuatu pendapat yang mungkin baru di mata kita dengan tuduhan yang tidak benar. Sebaliknya saya mengesyorkan agar kita semua mengkaji dan meneliti semula setiap nukilan dan pendapat yang diutarakan itu. Ini lebih baik agar kita membuat sesuatu kenyataan berdasarkan hujah dan tidak mudah diselewengkan.


Hal ini merupakan satu contoh amalan Rasulullah s.a.w yang telah ditinggalkan. Semoga ALLAH memberi hidayah kepada sesiapa yang dikehendaki-NYA kepada ajaran Islam yang murni. Sesungguhnya meninggalkan amalan yang dipenuhi sangkaan atau taklid buta adalah suatu yang dituntut oleh syarak.



Pengertian Taklid

Dan Segi Bahasa

Taklid merupakan kata terbitan daripada (قلد) yang bermaksud menyerah, menghias, menyeleweng, meniru, menurut seseorang atau menerima hutang. Antara pengertian taklid menurut sebahagian ulama salafussoleh ialah:

Imam al-Syaukani r.h berkata: “Taklid ialah menerima pendapat seseorang yang tidak berdiri berdasarkan hujah.”

Imam al-Son’ani r.h berkata: “Taklid ialah mengambil pendapat orang lain tanpa dalil.”



Dan Segi Istilah

Imam Abu Abdullah Khuwaz Mandad r.h berkata:

“Taklid menurut pengertian syara’ ialah kembali (menyandarkan perbuatan kepada perkataan yang tidak ada hujah bagi orang yang mengatakannya serta tiada dalil (berhubung dengan) apa yang dikatakan itu, malah orang yang berkata tidak mampu membawa dalil.”


Taklid Pendapat Generasi Salafussoleh

Para Sahabat

Sebenarnya, isu taklid telah lama ditegahkan oleh para sahabat Nabi s.a.w. Bukan hanya imam empat mazhab sahaja.

Hakikatnya, terdapat banyak perbezaan pendapat dalam memahami hadis Rasulullah s.a.w. Contohnya, dalam bab menguatkan bacaan basmalah ketika solat. Sebahagian sahabat menguatkannya, manakala, sebahagian yang lain pula memperlahankannya. Namun, kedua-dua pendapat ini sahih kerana ia pernah dilakukan oleh Nabi s.a.w. Oleh itu, para ulama mengharuskan kedua-dua perbuatan ini.


Para sahabat juga melarang bertaklid kepada seseorang. Antara mereka yang menyatakan seperti itu adalah:

Abu Bakar al-Siddiq r.a berkata:

“Taatilah aku selagi aku mentaati ALLAH. Apabila aku tidak lagi mentaati ALLAH, janganlah kamu semua mentaatiku.

Au bin Abi Talib r.a berkata:

“Mengenai orangjang berilmu itu,jika ia mendapatpetunjuk (sekalipun) janganlah kamu bertaklid kepadanya tentang agama kamu.”

Ibn Mas’ud r.a berkata:

“Jadilah orang yang berilmu atau orang yang belajar dan janganlah sesekali kamu menjadi pengikut kepada pendapat seseorang.”



Imam Mazhab

Para imam mujtahid melarang kita bertaklid kepada mereka kerana bimbang apa yang mereka ijtihadkan itu menyalahi hadis-hadis Rasulullah s.a.w yang sahih.

Mereka memerintahkan para pengikutnya agar berpegang pada hadis jika ijtihad mereka jelas menyanggahi sunnah Rasulullah s.a.w yang sahih. Ijtihad mereka hanya boleh dipegang jika melibatkan hadis yang kurang jelas serta terdapat perbezaan pendapat padanya.


Namun, jika sesuatu hadis itu sahih, jelas makna serta lafaznya, ijtihad tidak diperlukan dan seluruh umat Islam wajib beramal dengan hadis itu. Walaupun para imam amat menekankan agar kembali kepada hadis yang sahih serta meninggalkan pendapat mereka, masih ada pengikutnya yang terkemudian begitu lantang bersuara dan lebih memartabat dan mempopularkan hadis daif dan palsu.


Mereka menyandarkan perkataan kepada para imam dan menjadikannya sebagai hujah yang batil (sesat) demi membenar dan mempertahankan kehendak hawa nafsu mereka. Perhatikanlah sebahagian daripada pendapat para imam mujtahid mengenai hukum bertaklid.


Imam Abu Hanifah r.h (80 H 150 H) berkata:

“Seseorang tidak boleh mengambil (berpegang) pada pendapat kami jika dia tidak mengetahui dari mana sumber itu diambil.”


Imam Malik bin Anas r.h berkata:

“Tidak ada seorang pun selepas Nabi s.a.w (wafat) melainkan perkataannya boleh diambil atau ditolak. (Kecuali) perkataan Nabi s.a.w sahaja (yang boleh diterima dan tidak boleh ditolak).”


Imam Syafie r.h berkata: ‘‘Apabila hadis itu sahih, itulah mahabku.”

Tambahnya lagi: “Umat Islam telah berjmak, tidak boleh meninggalkan sesuatu yang telah pasti dan menepati sunnah Rasulullah s.a.w. Bukan semata-mata berpegang pada pendapat seseorang.”

Imam Ahmad bin Hanbal r.h berkata: “Sesiapa yang menolak hadis Rasulullah s.a.w dia telah berada di tepi jurang kebinasaan.”

Itulah pendirian para imam mazhab. Mereka melarang keras perbuatan bertaklid kepada pendapat mereka. Mereka sendiri meninggalkan perbuatan itu jika menemui hadis yang sahih.


Ibn Hazm r.h telah menyatakan pendapat Imam Syafie mengenai larangan bertaklid:

“Sesungguhnya semua ulama fikah itu telah membatalkan taklid. Mereka melarang sama sekali sahabat-sahabat mereka (para pengikutnya mazhab) bertaklid kepada mereka. Antaranya al-Imam al-Syafi’e. Beliau sampai ke taraf berpendirian tegas dalam menentukan kesahihan sesuatu hadis dan berpegang pada hujah yang tepat. Beliau juga tidak suka (orang lain) mengikut semua pendapatnya.”


Perlu diingatkan, semua para imam saling menghormati pendapat satu sama lain. Imam Malik sezaman dengan Imam Abu Hanifah. Manakala, Imam Syafie pula sempat menuntut ilmu daripada Imam Malik di Madinah. Manakala, Imam Ahmad bin Hanbal pula sempat berguru dengan Imam Syafie di Iraq.


Dalam masa yang sama, kita tidak mengatakan Imam Syafie bermazhab Maliki atau Imam Ahmad bin Hanbal bermazhab Syafie. Kelebihan para imam mempunyai ilmu yang luas untuk rnenyanggahi pendapat gurunya sebagai faktor mereka sanggup keluar daripada belenggu mazhab (mengikut pendapat seseorang).


Oleh itu, terdapat pengikut yang terkemudian keluar daripada pendapat mazhabnya kerana ilmu mereka amat luas sehingga mampu memilih pendapat yang paling tepat. Jadi, apa kurangnya ulama kontemporari yang terbuka fikiran dan ilmunya menukilkan pendapat ulama silam lalu mengamalkannya.


Namun, mereka tidak pernah menyalahkan pendapat imam yang lain. Bahkan, Imam Syafi’e sendiri mewasiatkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal agar menceritakan kepadanya setiap hadis sahih yang ditemui. mi bermakna, tidak semua hadis dimiliki atau ditemui oleh Irnam Syafie. Jika tidak, mana mungkin seorang guru meminta hadis daripada anak muridnya.


Oleh itu, janganlah berpecah-belah semata-mata mempertahankan fahaman yang disandarkan kepada para imam. Bukankah mereka telah berlepas diri terhadap perbuatan fitnah yang dilemparkan kepada mereka.


Mereka tidak pernah mengajar kita mengamalkan hadis dhaif walaupun ia adalah ijtihad mereka. Ini kerana, ijtihad mereka mungkin betul dan mungkin juga salah. Bahkan mereka menggalakkan kita meninggalkan pendapat yang menyanggahi sunnah yang sahih.


Bagi kita yang telah diberi kemudahan mengkaji kitab-kitab karangan mereka, sudah pasti mudah bagi kita untuk mencari kesahihan pendapat. Inilah hasil usaha yang ditinggalkan oleh mereka pada agama ALLAH.



Pesanan Imam Syafie

Ramai di kalangan para kelompok masyarakat yang mengaku bermazhab Syafi’e tidak tahu tentang cara mengerjakan solat mengikut mazhabnya. Ada yang mengangkat tangan melebihi kepala dan ada yang meletakkan tangan ke tepi rusuk serta pelbagai lagi.


Sejak akhir-akhir ini, “talfiq” iaitu percampuran pelbagai mazhab (pendapat imam) memang tidak dapat dinafikan. Cuma, kebanyakan masyarakat masih belum sedar tentang kewujudannya. Apa tidaknya, bila ke Makkah seseorang bermazhab Syafie boleh menukar mazhab. Apabila berzakat, mengikut mazhab Imam Hanafi. Apabila bersolat pula, tangan diletakkan ke bawah pusat. Bukankah itu adalah menurut pandangan Imam Abu Hanifah?


Begitu juga dengan masalah kenduri arwah, Imam Syafi’e mengharamkannya. Tetapi ada juga yang melakukannya. Bukan orang bawahan, bahkan para ulama yang digelar ustaz dan guru. Contohnya, membaca al-Quran dan tahlilan yang dihadiahkan kepada si mati. Ini tiada dalam Mazhab Syafie.


Oleh itu, berpeganglah pada al-Quran dan sunnah yang sahih bukannya menurut hawa nafsu semata-mata. Janganlah kita mudah terpedaya dengan pendapat batil daripada ulama-ulama yang menyembunyikan ilmu. Lebih-lebih lagi mereka yang mengharapkan habuan dunia demi menjaga kepentingan diri.


Kurang ilmu agama yang sahih, tidak mahir berbahasa Arab dan tidak pernah berhujah menjadi faktor utama mengapa seseorang itu sanggup bertaklid tanpa membuat kajian. Sedangkan Imam Syafi’e sendiri mewajibkan pengikutnya mengambil dalil yang sahih serta mengkaji ilmu agama dan bukan hanya menerima tanpa penelitian.


Selain itu, beliau juga mengharamkan bertaklid kepadanya. Terdapat banyak kata-kata beliau yang melarang taklid kepada imam-imam mazhab. Imam Syafie r.h berkata:

“Setiap orang boleh mengingati dan melupai sesuatu riwayat. Apa yang benar ialah sesuatu yang bertepatan dengan sunnah Rasulullah s.a.w dan itulah pendapatku.” (Hadis maqtu’ riwayat al-Hakim dengan sanad sampai kepada al-Syafie. Rujuk Tarikh Dimasyq, Ibn ‘Asaakirr: 15/1/3, I’lam al-Muwaqqi’in, jil. 2, ms. 363-364 dan al-Iqazah, ms. 100)

“Sesiapa yang mengetahui hadis sahih, tidak boleh meninggalkan sunnah Rasulullah s.a.w hanya kerana mengikut pendapat seseorang.” (Rujuk Ibn al-Qayim, jil. 2, ms. 361 dan al-Fulani, ms. 68)

“Apabila kamu temui dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan hadis Rasulullah s.a.w yang sahih, berpeganglah pada hadis itu. Tinggalkanlah apa yang telah aku katakan itu.” Manakala dalam riwayat yang lain katanya: “Ikutilah hadis itu dan janganlah kamu menoleh kepada pendapat sesiapa pun.” (Rujuk Zaminul Kalam, karya al-Harawi, 3/47/1, al-Khaatib dalam al Ihtijaj bi al-Syafie, jil. 8/2, Ibn ‘Asaakir, 5/9/10, al-Nawawi, al-Majmu’, jil. 1, ms. 63, Ibn Qayyim, jil. 2, ms. 361, al Fulani, ms. 100. Manakala riwayat kedua daripada Abu Nu’aim dalam al-Hiliyyah, jil. 9, ms. 107)

Aku akan menarik semula pendapatku sama ada ketika hidup atau matiku jika ia berlawanan dengan sesuatu perkara yang sahih daripada Rasulullah s.a.w.” (Rujuk Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, jil. 9, ms. 107, al-Haraawiy, jil. 1, ms. 47, Ibn Qayyim dalam I’laam al-Muwaqqi’in, jil. 2, ms. 363 dan al-Fulaniy dalam al-Iqaz, ms. 104)

“Apabila aku mengeluarkan pendapat yang berlawanan dengan hadis Rasulullah s.a.w yang sahih, ketahuilah bahawa ketika itu aku sudah nyayuk.” (Rujuk karya Ibn Abi Hatim dalam Adab al-Syafie, ms. 93, Abu al-Qasim al-Samarqandi dalam al-Amali, Abu Hifshul Mu’addab dalam al-Muntaqa Minha, jil. 1, ms. 236, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, jil. 9, ms. 106 dan Ibn ‘Asaakir, 15/10/1, dengan jalur sanad yang sahih)


“Semua hadis Rasulullah s.a.w yang sahih adalah pendapatku sekalipun kamu belum pernah mendengarnya daripadaku.” (Rujuk Ibn Abi Hatim, ms. 93-94)


“Apabila hadis itu sahih, itulah mazhabku.” (Rujuk al-Nawawi dalam al-Majmu’, jil. 1, ms. 63, al-Sya’raaniy, jil. 1, ms. 57. Beliau menghubungkan sanadnya kepada al-Hakim dan al-Baihaqi. Diriwayatkan juga oleh al-Fulani, ms. 107)


Al-Sya’raani r.h berkata: “Ibn Hazm berkata, maksud sahih ialah hadis sahih menurut Imam Syafie sendiri dan imam-imam yang lain.”


Imam Nawawi al-Syafie r.h berkata:

“Merujuk kepada kata-kata Imam Syafie ini, pengikutnya boleh mengamalkan hadis berhubung perkara tatswib (as solatu khairun minan naum) dan boleh bertahallul apabila sakit atau kerana sebab lain seperti yang tertulis dalam kitab-kitab pengikutnya yang bermazhab Syafie.


Antara ulama fikah bermazhab Syafie yang meninggalkan pendapat beliau ialah Abu Ya’kub al-Buwaiti dan Abu al-Qasim al-Daraqi. Manakala ahli hadis bermazhab Syafie yang meninggalkan pendapat beliau ialah Imam Abu Bakar al-Baihaqi.


Sebahagian ulama Syafi’eyah (pengikut imam Syafi’e) lebih mengutamakan hadis sahih walaupun ia tidak diamalkan oleh Imam Syafie. Menurut mereka, “setiap apa bertepatan dengan hadis sahih, itulah Mazhab Syafie.”


Syeikh Abu ‘Amr r.h berkata:

“Ulama Mazhab Syafie akan berbincang apabila terdapat hadis yang bercanggah dengan amalan mazhab mereka. Mereka akan mengamalkan hadis itu jika mereka mampu berijtihad. Sebaliknya jika mereka tidak mampu berijtihad, mereka tidak akan menyalahi hadis itu selepas berusaha mengkaji dan beramal mengikut ulama yang berhujah dengannya. Ini adalah suatu keuzuran untuk mereka meninggalkan mazhab yang diikuti.”


Taqiuddin al-Subki al-Syafi’e r.h berkata:

“Seseorang perlu mengamalkan hadis sahih jika dia yakin dengan kesahihan hadis itu walaupun tidak dapat bertemu dengan imam tersebut. Ketika itu, dia perlu membayangkan dirinya sedang berada di hadapan Nabi s.a.w dan mendengar sendiri sabda baginda. Apakah dia sanggup menangguhkan beramal dengan sabda Rasulullah s.a.w yang sahih? Tentu sekali tidak! Oleh itu, setiap orang menerima tariggungjawab sesuai dengan pemahamannya.” (Rujuk al-Syubki, Makna Qaul al-Syafi’e Iza Sohhal Hadis Fahuwa Mazhabi, ms. 103, jil. 3, I’lamul Muwaqqi’in, jil. 2, ms. 302 dan 307. Juga al-Fulani dalam Iqaz Himam Ula al-Absor Lii Iqtida Bisayyidil Muhajirin Wa al-Ansor Wa Tahziruhum ‘Anil Ibtidaa al-Syafi’e Fil Qura Wal Amsor Mm Taklidil Mazahib Ma’al Hammiyyah Wal Ashabiyyah Bainal Fuqahail A’sor)


Menurut Abdullah bin Ahmad bin Hanbal r.h, daripada ayahnya bahawa Imam Syafie r.h pernah berkata kepadanya:

“Kamu lebih luas pengetahuan mengenai hadis dan perawi. Jika ia sahih, beritahulah aku sama ada ia dari Kufah, Basrah atau Syam. Aku akan beramal dengannya jika ia benar-benar sahih.” (Rujuk Ibn Abi Hatim dalam Adab al-Syafie, ms. 94-95, Abu Nu’aim dalam al-Haliyyah, jil. 9, ms. 106, al-Khatib dalam al-Ihtijaj hi al-Syafi’e, 8/1, Ibn ‘Asaakir, 15/9/1, Ibn Abdul Baar dalam al-Intiqaa, ms. 75, Ibn al-Jauzi dalam Manaqib al-Imam Ahmad, ms. 499, al-Haraawiy, 2/47/2, Ibn Qayyim daiam I’laam al-Muwaqqi’in, jil. 2, ms. 32 dan al-Fulaniy dalam al-Iqaz, ms. 152)


Al-Baihaqi al-Syafie r.h berkata:

“Syafi’e banyak beramal dengan hadis. Beliau mengumpulkan ilmu ahli Hijaz, Syam, Yaman dan Iraq. Beliau akan berpegang pada hadis yang sahih menurut pendapatnya sendiri tanpa mengikut mazhab penduduk negaranya. Walaupun jelas kebenarannya pada pendapat orang lain dan tidak cenderung kepada mereka terdahulu.”


Taqiuddin al-Subki al-Syafie r.h telah menyatakan dalam Kitab al-Fataawa, jilid 1, muka surat 148:

“Solat ialah urusan umat Islam yang paling penting. Setiap muslim wajib mengambil berat dan memeliharanya. Terdapat perkara yang disepakati oleh ulama yang mesti diamalkan. Begitu juga dengan perkara yang tidak disepakati ulama.


Mereka boleh memilih sama ada keluar daripada perselisihan itu atau berusaha meneliti semula hujah-hujah yang digunakan. Solat mereka sah dan betul jika mereka bijak mengkaji kerana ibadah itu sesuai dengan firman ALLAH S.WT:


“Sesiapa yang mengharapkan pertemuan dengan TUHANnya, dia hendaklah beramal soleh.” (Surah al-Kahfi 18: 110)

Al-Muzanni al-Syafie r.h berkata:

“Saya ringkaskan Kitab al-Umm dan huraikan maksudnya kepada sesiapa yang memerlukan. Saya juga menjelaskan larangan Imam Syafie daripada bertaklid kepadanya dan juga orang lain. Seseorang itu perlu meneliti dan mengkaji urusan agamanya serta mengambil ilmu pengetahuan dan kitab ini. (Rujuk Mukhtasar Li Fiqh al-Syafi’e, jil. 9, ms. 3)



Para Ulama Terkemudian (khalaf)

Ibn al-Jauzi r.h menyatakan dalam kitabnya Talbisul Iblis:

“Orang yang bertaklid tidak ada pegangan yang teguh dengan apa yang ditaklidkan. Taklid merosakkan fungsi akal untuk berfikir dan tadabbuz. Celakalah bagi orang yang memadam lilin yang dinyalakan untuk menerangi kegelapan.”


Imam al-Tahawi r.h berkata:

“Seseorang tidak akan bertaklid melainkan jika dia bersifat keras kepala dan berfikiran beku.”

Ibn Hazm r.h menyatakan dalam kitabnya Masaail Minal Usul:

“Tidak dibenarkan sesiapa pun hertaklid kepada seseorang yang masih hidup atau yang telah mati.”


Abu Syamah r.h menyatakan dalam Kitab al-Mu,ammal:

“Taklid kepada orang lain selain rasul-rasul ALLAH adalah haram.”

Imam Abdullah bin al-Mu’tamir r.h berkata:

“Tidak ada perbezaan antara binatang ternakan yang menuruti perintah dan seorang manusia yang bertaklid.”


Imam Sanad bin ‘Anan r.h berkata:

“Seseorang yang bertaklid tidak berada pada pandangan dan ilmu yang benar kerana ia bukan jalan yang membawa kepada ilmu pengetahuan.”



Beberapa langkah untuk menjauhi taqlid

Memandangkan taqlid sudah menjadi satu kelaziman umat Islam tanah air, berikut disenaraikan beberapa langkah untuk menjauhi taqlid:


1 - Menetapkan di dalam diri masing-masing bahawa menuntut ilmu adalah wajib hukumnya ke atas setiap individu muslim. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap Muslim. (Sahih: Hadis mutawatir yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, Ibn Hibban, al-Thabarani dan lain-lain, dinilai sahih oleh al-Albani di dalam Shahih Jami’ al-Shagheir – no: 3913) Bertaqlid tidak termasuk di dalam kategori menuntut ilmu melainkan bagi orang yang benar-benar tidak mampu dari sudut kecerdasan akal dan kemudahan fizikal.


2 - Menetapkan keyakinan di dalam diri masing-masing bahawa menuntut ilmu agama adalah mudah sebagaimana menuntut ilmu-ilmu yang lain. Lebih dari itu sesiapa yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu atas tujuan memperbaiki agamanya, maka dia akan dipimpin oleh Allah sebagaimana firman-Nya:

Dan orang-orang yang berusaha dengan bersungguh-sungguh kerana memenuhi kehendak agama Kami, sesungguhnya Kami akan memimpin mereka ke jalan-jalan Kami dan sesungguhnya (pertolongan dan bantuan) Allah adalah berserta orang-orang yang berusaha membaiki amalannya. (al-Ankabut 29: 69)


3 - Lazimkan diri untuk menghadiri kuliah agama dan membaca buku yang bersifat ilmiah. Pastikan setiap pendapat/ulasan yang dikemukakan disandarkan kepada dalil al-Qur’an dan al-Sunnah diikuti dengan hujah tokoh/ulama yang muktabar pada generasi awal Islam. Jauhilah kuliah atau buku agama yang hanya membicarakan agama tanpa dalil dan hujah.


4 - Memberi perhatian dan keutamaan kepada para ustaz dan ustazah yang “junior”. Alhamdulillah, negara kita memiliki ramai graduan tempatan mahupun luar negara dalam jurusan agama yang mampu menyampaikan ilmu dengan menjauhi kaedah taqlid. Akan tetapi mereka tidak diberi perhatian yang sewajar oleh masyarakat sebagai sumber rujukan ilmu semata-mata kerana umur mereka yang agak muda.


5 - Berdoa kepada Allah agar diberi kecerdasan akal dan kemudahan fizikal untuk menuntut ilmu sebagaimana firman-Nya:

“Wahai Tuhanku, tambahilah ilmuku.” (Taha 20: 114)



Beberapa Contoh Sikap Taksub Mazhab

Sikap taksub mazhab juga boleh menyebabkan para pengikut sesebuah mazhab sanggup mencipta hadis-hadis palsu bagi membenarkan mazhab sendiri.


Berikut adalah beberapa contoh dari sikap taksub mazhab yang pernah dan sedang dialami oleh dunia Islam masa kini. Tujuannya ialah untuk menyedarkan kita akan kekerdilan fikiran sesetengah pihak sehingga menyebabkan timbulnya perselisihan yang besar daripada satu perkara yang asalnya tidak berselisih.



Contoh Pertama: Jamaah berlainan mahzab

Suasana taksub bermazhab yang paling jelas ialah apabila jamaah yang melaksanakan solat fardhu dibahagikan kepada 4 kumpulan di Masjid al-Haram. Perkara ini berlaku sebelum tahun 1342H/1924M. Lebih menyedihkan, suasana begini berlaku di hadapan Ka’bah padahal Ka’bah itu sendiri merupakan binaan yang mengisyaratkan persatuan umat Islam.


Suasana sebegini masih berlaku di beberapa masjid yang lain di negara yang rakyatnya mengikuti lebih dari satu mazhab. Ini sebagaimana yang diterangkan oleh al-Albani rahimahullah tentang apa yang berlaku di Syria:


Adakalanya didapati sebahagian jemaah itu masih menunggu kedatangan imam mazhab mereka padahal di sebelah mereka jamaah mazhab lain sudahpun memulakan solat bersama imam mereka. Mereka enggan berjamaah bersama di belakang satu imam hanya kerana perbezaan mazhab. Mereka berpendapat solat imam mazhab lain diragu-ragukan dan boleh dipersoalkan, malah ada yang mengatakan ianya tidak sah. (Rujuk: The Prophet’s Prayer Described, ms. xxix)



Contoh Kedua: doa qunut

Contoh yang lain ialah berkenaan membaca doa qunut dalam solat Subuh. Dalam Mazhab al-Syafi‘e, membaca doa qunut dihukum sunat manakala dalam mazhab Hanafi dan Hanbali ianya tidak sunat.


Dalam menghadapi suasana perbezaan seperti ini, segelintir ulama’ al-Syafi‘eyyah (al-Syafi‘eyyah bermaksud ulama’-ulama’ dalam Mazhab al-Syafi‘e yang hidup selepas Imam Muhammad bin Idris al-Syafi‘e) yang berfatwa bahawa seorang jamaah mazhab al-Syafi‘e wajib melakukan sujud sahwi di akhir solat subuhnya apabila dia menjadi makmum kepada seorang imam dari mazhab lain yang tidak membaca doa qunut. (Lihat Fiqh dan Perundangan Islam (edisi terjemahan oleh Syed Ahmad Syed Hussain; Yayasan Pembangunan Ekonomi Islam Malaysia & Dewan Bahasa dan Pustaka, K.Lumpur 1994), jld. 01, ms. 856 oleh Wahbah al-Zuhaili). Di samping itu ada pula yang memfatwakan bahawa seorang jamaah mazhab al-Syafi‘e yang menjadi makmum di belakang imam mazhab lain yang tidak membaca doa qunut boleh mengangkat tangannya membaca doa qunut subuh selagi sempat ketika imam tersebut sedang iktidal mahupun sedang turun ke posisi sujud. (Lihat Reliance of The Traveller (Amana Publications, Maryland, 1994), F12-23 oleh Ahmad ibn Naqib al-Misri, terjemahan dan nota tambahan oleh Nuh Ha Min Keller)


Kedua-dua fatwa di atas jelas merupakan sesuatu yang dikeluarkan kerana sikap taksub kepada mazhab. Ia jelas menyalahi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan bahawa imam itu adalah untuk diikuti oleh jamaah dalam setiap perlakuannya. Perintah baginda:

Sesungguhnya dijadikan seorang imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kamu berbeza dengannya. Maka apabila (dia) rukuk maka rukuklah, apabila dia membaca “Sami Allahuliman Hamidah” maka bacalah “Rabbana lakalhamdu”. Dan apabila (dia) sujud maka sujudlah dan apabila (dia) solat duduk maka bersolatlah kamu semua dengan cara duduk. (Sahih: Hadis daripada Abu Hurairah radhiallahu ‘anh, diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan lain-lain. Lihat Shahih al-Bukhari – no: 722 (Kitab Azan, Bab meluruskan saf termasuk kesempurnaan solat))


Fatwa dan pendapat di atas juga menyalahi contoh yang ditunjukkan oleh al-Syafi‘e sendiri di mana dalam satu riwayat yang terkenal, beliau telah mengimami solat subuh bersama ahli jamaah mazhab Hanafi tanpa berqunut. Apabila ditanya kenapa dia tidak berqunut, al-Syafi‘e menjawab bahawa ia adalah sebagai menghormati Abu Hanifah. (Riwayat al-Dahlawi di dalam Hujjat Allah al-Balighah, ms. 335.)



Contoh Ketiga:

Sikap taksub mazhab tidak terhad kepada persoalan ibadah sahaja. Ia juga melibatkan perkara-perkara lain seperti keturunan, politik dan kehidupan harian. Sebahagian pihak dalam Mazhab al-Syafi‘e pernah mengagungkan Muhammad bin Idris al-Syafi‘e rahimahullah sehingga menghina para imam mazhab lain dengan alasan sebuah hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:


Para pemimpin (mestilah) daripada (keturunan) Quraish. (Hadis daripada Anas bin Malik radhiallahu ‘anh, diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Ya’la dan al-Thabarani. al-Haitsami menyebutnya di dalam Majma’ al-Zawa‘id (ed: ‘Abd Allah M. Darwaisy; Dar al-Fikr, Beirut 1994) – no: 8978 dan beliau berkata: Para perawi (dalam riwayat) Ahmad adalah terpercaya)


Berdasarkan hadis ini mereka berkata:

Kita tidak dapati di kalangan imam-imam mujtahid (para imam mazhab) yang berketurunan Quraish selain Imam al-Syafi‘e.

Sedangkan Imam Abu Hanifah berketurunan bekas hamba, Imam Malik bin Anas daripada qabilah Zi-Asbah, Imam an-Nakha‘e daripada qabilah Nakha’ al-Yaman. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Muhammad al-Hassan, keduanya dari Bani Syabani dan bukannya dari Mudhar. Imam al-Tsauri berasal dari Bani Thaur dan Imam al-Awza‘e pula juga dari bekas keturunan hamba. (Demikian tulisan Abu Mansur ‘Abd al-Qahar al-Tamimi sebagaimana di dalam buku Rahmat Allah di Sebalik Perbezaan Mazhab, ms. 37 oleh Muhammad Fadli Ismail, yang mana beliau berkata buku ini ialah tulisan al-Suyuti. Buku ini perlu diteliti apakah benar ia tsabit dari al-suyuti, kerana di dalamnya terkandung begitu banyak hadis-hadis yang palsu)


Sikap taksub mazhab oleh golongan di atas menyebabkan mata hati mereka tertutup daripada ayat Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang menyatakan bahawa sebaik-baik manusia bukanlah berdasarkan keturunan atau bangsa akan tetapi ketaqwaannya kepada Allah. Firman Allah:


Wahai umat manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari lelaki dan perempuan, dan Kami telah menjadikan kamu pelbagai bangsa dan bersuku puak supaya kamu berkenal-kenalan (antara satu dengan yang lain). Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih taqwanya di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya. (al-Hujurat 49: 13)


Adapun maksud sebenar hadis “Para pemimpin (mestilah) daripada (keturunan) Quraish” ialah bahawa sesuatu negara atau komuniti Islam itu seharusnya memilih pemimpin mereka daripada kalangan kaum atau bani yang majoriti jumlahnya dan besar pengaruhnya supaya kepimpinan rakyat lebih teratur dan baik. Sebaliknya jika pimpinan dipegang oleh pihak minoriti ia akan membawa kekecohan di kalangan orang ramai.


Bani Quraish disebut dalam hadis ini kerana merekalah kumpulan terbesar dan terpengaruh di Semenanjung Arab pada ketika itu. Akan tetapi hadis ini tidaklah membatasi Bani Quraish sahaja kerana mereka sebenarnya hanya sebagai kaum minoriti berbanding dengan dunia Islam yang kini menjangkau jumlah 1 billion umatnya. Hadis ini juga lebih khusus kepada persoalan pimpinan duniawi tidak dalam persoalan pimpinan agama kerana banyak dalil-dalil lain yang menyatakan bahawa hal agama tiada bersangkut paut dengan keturunan dan bangsa.



Contoh Keempat:

Sikap taksub mazhab juga boleh menyebabkan para pengikut sesebuah mazhab sanggup mencipta hadis-hadis palsu bagi membenarkan mazhab sendiri. Contohnya ialah hadis berikut yang dicipta oleh pengikut Mazhab Hanafi yang bencikan Mazhab al-Syafi‘e bahawa kononnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada berkata:


Akan muncul di kalangan umat aku seseorang yang bernama Muhammad bin Idris (al-Syafi‘e) yang akan mendatangkan kerosakan kepada umatku lebih buruk daripada Iblis dan akan muncul pula di kalangan umat aku seorang lelaki bernama Abu Hanifah yang akan menjadi cahaya penyuluh umat aku.


Riwayat palsu ini dikenal pasti oleh Ibn al-Jawzi dalam kitabnya al-Maudu‘at, jld. 1, ms. 457 dan diutarakan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadis al-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah, no: 570.


Pengikut Mazhab al-Syafi‘e juga tidak kurang hebatnya dengan mencipta sebuah hadis lain bagi menentang Mazhab Hanafi. Diketahui bahawa bagi Mazhab Hanafi disunatkan mengangkat tangan ketika membaca takbir bagi setiap pergerakan rukun solat manakala bagi Mazhab al-Syafi‘e mereka tidak menyunatkannya. Oleh itu pengikut Mazhab al-Syafi‘e telah mencipta suatu hadis bahawa kononnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah berkata:


Sesiapa yang mengangkat tangan ketika solat maka tiadalah solat itu baginya (iaitu tidak sah).

Riwayat ini juga telah dinyatakan kepalsuannya oleh beberapa tokoh hadis seperti Ibn al-Qayyim, al-Dzahabi dan lain-lain sebagaimana terang al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadis al-Dha‘ifah wa al-Maudhu‘ah, no: 568. (Ibn al-Qayyim ialah al-Imam Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub bin Qayyim al-Jawziyya. Lahir di Damaskus pada 691H/1292M. Antara tulisan beliau yang masyhur ialah Zaad al-Ma'ad dan I'lam al-Muwaqqi‘in, kedua-duanya telah diterjemahkan. Meninggal dunia di Damsyik pada 751H/1350M)


Demikian empat contoh yang sempat dikemukakan tentang sikap taksub sebahagian pengikut mazhab.

Sikap taksub sebegini timbul hanya kerana ikutan mereka kepada tuntutan nafsu lalu mereka mengunggulkan imam serta mazhab mereka kepada kedudukan yang terbaik. Pada waktu yang sama mereka menghina imam dan mazhab yang lain padahal pengunggulan dan penghinaan mereka hanyalah berdasarkan anggapan semata-mata, bukan berdasarkan kajian dan perbandingan ilmiah. Seandainya dilakukan kajian dan perbandingan ilmiah, pasti mereka akan menyedari bahawa semua para imam dan mazhab fiqh Islam adalah baik. Sikap taksub sebegini akhirnya akan membawa kepada perdebatan, pergaduhan dan perpecahan kepada umat Islam. Ibn Taimiyyah rahimahullah mengulas fenomena ini:


Adapun mengunggulkan sebahagian imam atau syaikh di atas sebahagian yang lain seperti orang-orang yang mengunggulkan imam mazhab mereka sebagai yang paling faqih atau yang mengunggulkan syaikh mereka sebagai sebaik-baik pembimbing di atas selainnya, sepertimana sebahagian orang yang mengunggulkan al-Syaikh ‘Abd al-Qadir (al-Jailani) atau al-Syaikh Abu Madyan atau (al-Imam) Ahmad (bin Hanbal) atau selain mereka, maka kebanyakan manusia di dalam hal ini berbicara tentangnya berdasarkan sangkaan dan kecintaan yang berlebih-lebihan.


Sesungguhnya mereka tidak mengetahui hakikat sebenar akan martabat para imam dan syaikh tersebut mahupun bermaksud mengikuti mereka kerana kebenaran yang sebenar-benarnya. Akan tetapi setiap mereka hanya mengikut nafsu dengan mengunggulkan tokoh ikutan mereka dengan pengunggulan yang merupakan anggapan demi anggapan semata-mata.


Mereka tidak memiliki apa-apa bukti bagi anggapan tersebut. Sikap seperti inilah yang sering kali menyebabkan perdebatan, pergaduhan dan perpecahan di antara mereka. Ini semua diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagaimana firman-Nya:


Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam. Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai-berai; dan kenanglah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu bermusuh-musuhan (semasa jahiliyah dahulu), lalu Allah menyatukan di antara hati kamu (sehingga kamu bersatu-padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara. Dan kamu dahulu telah berada di tepi jurang neraka (disebabkan kekufuran kamu semasa jahiliyah) lalu Allah selamatkan kamu dari neraka itu (disebabkan nikmat Islam juga). Demikianlah Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat keterangan-Nya supaya kamu mendapat petunjuk hidayah-Nya. Dan hendaklah ada di antara kamu satu kumpulan yang menyeru kepada kebajikan dan menyuruh berbuat segala perkara yang baik serta melarang daripada segala yang salah (buruk dan keji). Dan mereka yang bersifat demikian ialah orang-orang yang berjaya. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah bercerai-berai dan berselisihan (dalam agama mereka) sesudah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas nyata (yang dibawa oleh Nabi-nabi Allah), Dan mereka yang bersifat demikian, akan beroleh azab seksa yang besar. (‘Ali Imran 3:102-105) (Majmu’ al-Fatawa (Dar al-Wafa’, Kaherah 2002), jld 20, ms. 291-292)


Oleh itu yang benar, semua mazhab dan para imamnya adalah baik. Orang yang mencenderungi satu mazhab, sebagaimana ulas Ibn Taimiyyah, tidak boleh mengkritik mazhab yang lain dan begitulah sebaliknya. Beliau rahimahullah menulis:


Maka sesiapa yang pada pendapatnya adalah lebih baik untuk mengikuti (Mazhab) al-Syafi‘e tidak boleh mengingkari sesiapa yang pada pendapatnya adalah lebih baik untuk mengikuti (Mazhab) Maliki dan sesiapa yang pada pendapatnya adalah lebih baik untuk mengikuti (Mazhab) Ahmad tidak boleh mengingkari sesiapa yang pada pendapatnya adalah lebih baik untuk mengikuti (Mazhab) al-Syafi‘e dan begitulah seterusnya. (Majmu’ al-Fatawa, jld 20, ms. 292-293)


Sikap taksub hanya dibolehkan dalam satu perkara, iaitu dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya.