Memaparkan catatan dengan label wanita. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label wanita. Papar semua catatan

26.5.10

yang kedua...

Semua usaha untuk menjelaskan pemaknaan kerja cinta dalam poligami, misalnya melalui konsep tim kehidupan, dengan cara bagaimana pun, tetap akan lebih mudah dimasukkan ke dalam akal ketimbang membuatnya diterima perasaan. Bagi semua perempuan, inilah perjuangan maha berat di alam perasaan.

Yang membuatnya berat di alam perasaan adalah fakta bahwa kebanyakan perempuan menemukan rasa percaya dirinya dari persepsi lingkungan terhadap dirinya, termasuk dari si suami.
Maka di alam perasaan mereka, para perempuan yang menjadi bagian dari sebuah keluarga poligami lebih sering dipersepsi sebagai korban cinta yang perlu dikasihani. Sebab mereka hanyalah perempuan2 lemah yang tidak punya pilihan lain. Jangan lupa... ada diantara mereka asalnya sangat membenci poligami tetapi kerana takdir mereka pasrah.


Rasanya tidak ada yang perlu diingkari dari fakta-fakta tentang persepsi itu. Sama seperti tidak ada yang perlu diingkari bahwa fakta-fakta tentang kebanyakan perempuan yang menjadi bagian dari keluarga poligami umumnya tidak punya pilihan lain memang merupakan fakta yang nyata. Tidak ada yang salah pada fakta-fakta itu. Mengakuinya juga bukan suatu kehinaan.

Tapi untuk sebagiannya itu merupakan penjelasan tentang mengapa banyak keluarga poligami tidak berhasil menjadi sebuah tim kehidupan yang solid dan efektif. Dan untuk sebagian yang lain menjelaskan mengapa kebanyakan perempuan tidak bersedia menjadi bagian dari keluarga poligami, bahkan ketika pilihan itu jauh lebih baik dari pilihan yang lain.


Sebuah tim kehidupan tidak akan dapat dibentuk dan menjadi solid dan efektif kecuali apabila semua anggota tim itu menyadari secara mendalam mengapa ia bergabung dalam tim tersebut. Maka menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat misalnya, ketika kita tidak lagi punya pilihan lain karena berbagai alasan, bisa manjadi faktor yang menyulitkan proses team building.

Mungkin bukan karena kita kekurangan cinta. Tapi lebih karena secara mental kita sering merasa tidak sepadan. Menikah dari rasa kasihan bukan tidak mungkin bertahan lama dan abadi. Tapi sering tidak cukup untuk membangun fondasi yang kokoh bagi seluruh hubungan jangka panjang yang sehat dan produktif.


Maka menjadi isteri pertama, kedua, dan seterusnya harus merupakan sebuah pilihan yang diambil secara sadar dan proaktif. Persis ketika Aisyah menyadari bahwa walaupun perawan, muda, cantik, cerdas, kaya, ia bukan yang pertama bagi Rasulullkah saw. Ia adalah yang ketiga setelah Khadijah dan Saudah.

Persis ketika ia juga menyadari bahwa walaupun berkali-kali Rasulullah saw mendeklarasikannya sebagai sebagai isteri yang paling dicintai, Rasulullah saw tetap saja menikah lagi sesudahnya. Kemudaan, kecantikan, kecerdasan, dan kekayaan adalah gabungan dari semua faktor yang membuat perempuan mempunyai banyak pilihan. Tapi Aisyah telah memilih secara sadar.

Persis ketika Rasulullah saw dengan sadar menikahi Khadijah yang janda dan lebih tua dari beliau. Mereka semua punya pilihan lain selain itu. Tapi mereka memilih pilihan ini. Sebagai pilihan terbaik mereka. Secara sadar. Sadar penuh. Maka mereka berkembang menjadi tim kehidupan yang solid, efektif dan produktif.


3.5.10

Memahami makna Nusyuz


Isteri melakukan Nusyuz kepada Suami


“…Pergaulilah mereka (istri-istrimu) dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu tetapi Allah menjadikan padanya (dibalik itu) kebaikan yang banyak
(QS Al-Nisa' [4]: l9).

“…Istri-istri kamu (para suami) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakaian
untuk mereka…”.
(QS. Al-Baqarah [2]: 187).


Dalam kelangsungan berumah tangga, pada sisi lain seringkali dijumpai berbagai persoalan suami istri. Suka dan duka senantiasa silih berganti dalam kehidupan keluarga. Sadar atau tidak perselisihan, pergaduhan seringkali terjadi dikarenakan latar belakang dan keterbatasan pengertian serta pengetahuan pada masing-masing diri suami atau istri.
Hal ini mewarnai dalam kehidupan berkeluarga

“Sangat senangkah kini mencari suami? kerana ramai isteri di metropolis yang menggugat mahu bercerai suaminya. Alasannya macam-macam. Misalnya, polah suami banyak, tapi penghasilan minima. Alasan lainnya, istri tidak sabaran dan suka menuntut. Yang utama, erosi cinta sudah melanda hati mereka. Fenomena istri yang kian berani menggugat cerai suami dilihat ada dimana mana.

Banyak alasan mengapa istri "lebih ingin" menceraikan suami daripada suami menceraikan istrinya. Yang paling tahu sejatinya ialah pasangan masing-masing. Namun, ada penyebab umum yang paling sering jadi pemicu tekad istri menggugat cerai suami.
Di antaranya, kian banyaknya istri yang menjadi wanita berkerjaya dan penghasilan istri lebih besar. Penyebab lainnya, istri tidak sabaran dan menuntut hal-hal yang melebihi kemampuan suaminya

Adalah suatu dambaan seorang isteri bila suami menunaikan kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya dan dia memperoleh hak-hak dari isteri yang telah Allah tetapkan untuknya. Begitu juga sebaliknya seorang isteri menjadi dambaan suami bila isteri juga menunaikan kewajiban dan memenuhi hak-hak suaminya.

Namun terkadang salah seorang dari pasangan suami isteri ataupun keduanya berbuat tidak menunaikan apa yang seharus ia tunaikan hingga kebahagiaan yang didambakannya hanya sebatas fatamorgana. Persoalan ini ditimbulkan oleh beberapa sebab, yakni mungkin datang dari pihak isteri atau dari pihak suami, pihak kerabat, orang luar atau karena faktor lain.

1. Sebab yang datang dari pihak istri, misalkan: Seorang istri sibuk berkarier di luar rumah hingga menelantarkan urusan rumah tangga bahkan suami pun tersia-siakan, atau Istri tidak mengetahui bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga, tidak mengerti hak dan kewajiban terhadap suami.

2. Sebab yang timbul dari pihak suami, misalnya, ia terlalu bakhil kepada keluarga, sangat emosional keras dan kaku dalam tindakan melangkah dan bertindak tanpa peduli dengan istri dan tidak berupaya memberi pemahaman atau mengajak bertukar pendapat dengan istri.

3. Sebab dari pihak keluarga isteri. Seperti wanita yang menikah dengan seorang laki-laki karena dipaksa oleh walinya, padahal ia tidak menyukai laki-laki tersebut sehingga ketika memasuki kehidupan rumah tangga, ia tidak bisa mentaati atau malah membencinya.

4. Sebab faktor lain. Seperti ada perbedaan kejiwaan dan akhlak antara suami isteri pada meningkatnya taraf kehidupan/ekonomi keluarga, menyimpang pemikiran salah seorang dari kedua atau sakit salah seorang dari mereka atau cacat sehingga menghalangi untuk menunaikan kewajibannya.


Dalam Islam persoalan tersebut, sudah digambarkan secara global dan jelas. Istilah yang muncul pada persoalan tersebut adalah ada kata Nusyuz.
Mari kita kaji bersama.


Memahami Nusyuz.

Istilah nusyuz adalah Bahasa Arab, perkataan asalnya ialah al-nasyzu bermaksud tempat yang tinggi. Perkataan nusyuz bererti berada di tempat yang tinggi. Isteri yang nusyuz ialah isteri yang ingkar kepada suaminya dan membangkitkan kemarahannya. Nusyuz suami apabila dia memukul isterinya atau bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadapnya.
( Fairuz al-Abadi: Qamus al-Muhit, 678).

Kesesuaian pengertian ini dengan nusyuz isteri atau suami ialah isteri atau suami yang nusyuz meletakkan dirinya di tempat yang tinggi dengan ingkar kepada perintah Allah yang diwajibkan ke atasnya terhadap suami atau isterinya. Nusyuz ialah kedurhakaan dan meninggi diri wanita dari mematuhi apa yang diwajibkan Allah ke atas mereka, seperti taat kepada suami. Isteri menimbulkan kemarahan suami
(Al-Qurtubi: al-Jami` Li Ahkam al-Quran ibid 5:170 dan 71).

Perempuan nusyuz ialah perempuan yang meninggi diri daripada suaminya, meninggalkan perintahnya, menjauhkan diri daripadanya, mengelak diri dari suaminya, menyebabkan suaminya marah. (Ibn Katsir: Tafsir al-Quran al-Azim, 1: 492) .



Tanda isteri dianggap nusyuz.

Nusyuz isteri ditandai oleh dua perkara.
Pertama,
melalui perbuatan dengan menjauhkan diri, bermuka masam dan enggan ketika dipanggil. Semua ini berlaku setelah sebelumnya dia bersikap mesra.

Kedua
melalui perkataan seperti berinteraksi dengan suami dengan perkataan yang kasar, ia berlaku setelah sebelumnya dia bercakap lembut. (Wahbah al-Zuhaili: al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, 7:338).

Ada juga beberapa gambaran yang menandakan seorang isteri itu nusyuz :


1. Suami telah menyediakan rumah kediaman yang sesuai dengan keadaan suami, tiba-tiba isteri tidak mau berpindah ke rumah itu, atau isteri meninggalkan rumah tanpa izin si suami.

2. Apabila kedua suami tinggal di rumah kepunyaan isteri dengan izin isteri kemudian suatu masa isteri mengusir atau melarang suami memasuki rumah tersebut.

3. Apabila isteri bermuka masam atau pun ia memalingkan muka, berbicara kasar dan sebagainya sedangkan suami berkeadaan lemah lembut, bermanis muka dan sebagainya.


Kepada suami bila isteri mengalami nusyuz, maka apa yang dilakukannya ?

Dalam QS. An-Nisa [4]:34, Allah berfirman ; “ …perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, Maha Besar”.

Dari ayat tersebut ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh suami yakni Menasehati (bila masih tidak mau taat), maka selanjutnya suami memilih pisah ranjang (bila masih tidak taat lagi), selanjutnya suami bias memukulnya. Namun dalam memukul hendaknya menjauhi muka dan tempat-tempat lain yang menghawatirkan. Karena tujuan memukul adalah untuk memberi pelajaran dan bukan membinasakan.

Maka dari itu, mejaga keluarga yang utuh adalah sangat penting untuk mewujudkan keluarga yang sakinah. Jagalah dirimu, keluargamu dari kerusakan. Bukankah Nabi saw. mengajarkan kepada kita tentang keluarga?

Sebagaimana salah satu Hadits Nabi saw.:


Abu Dawud meriwayatkan dari Hujaim bin Mu’awiyah al-Qusyairi dari ayahnya, ia berkata : saya bertanya : “Wahai Rasulullah apakah hak seorang istri kita pada suaminya ? Sabdanya : “ hendaklah kau beri makan dia jika engkau makan, memberi pakaian kepadanya jika engkau berpakaian. Jangan kau pukul mukanya, jangan kau mengejeknya, dan jangan engkau meninggalkannya kecuali masih dalam serumah…”
( Fiqhu Sunah, Sayid Sabiq, alih bahasa Moh. Thalib, Al-Ma’arif, Bandung, jilid 7 hal. 31-32)



Nabi saw. bersabda :
“ Andaikan sujud kepada selain Allah itu boleh, pastilah saya suruh isteri sujud kepada suaminya”. (HR. Ahmad dai ‘Aisyah. Dan yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Abi Auf dalam Nail al-Authar, jilid 2, hal. 4490).


Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon perlindungan serta petunjuk atas segala persoalan yang menimpa keluarga kita. Hanya Allah-lah tempat kita mengadu atas segala tatanan kehidupan manusia.


3.4.10

Wanita yang patut dijauhi oleh lelaki

Ada satu pandangan daripada pakar cinta di luar negara berkenaan ciri-ciri wanita yang wajib dijauhi.

1. Wanita kategori liar.

Inilah jenis wanita yang sering dinasihati oleh mana-mana ibu untuk dijauhi. Pada awalnya, perhubungan dengan wanita sebegini sememangnya menyeronokan.

Dia selalu melakukan sesuatu di luar jangkaan. Perasaan selalu mencuba sesuatu yang bagus, tetapi sikap cuba-cubanya tidak wujud sempadan. Kita teruja dengan kegilaannya tetapi tak kita sedar, tersadung dalam masalah yang diciptanya.

2. Wanita si Bom jangka.

Wanita bersifat bom jangka seumpama emosi yang akan meletus tanpa apa-apa amaran ketika anda menjangka semuanya erkawal.

Dia kelihatan normal luarannya sehinggalah kita menjadi sasarannya.

Individu seperti ini bukan sahaja menjadi bom jangka dalam emosi kemarahan malah emosinya akan mengubah keputusan-keputusan penting.

3. Wanita si Gula-gula

Gadis muda seumpama gula-gula yang melihat kita sebagai pembimbingnya dan menyukai kewujudan kita.

Dalam keadaan ini kita seolah-olah bertindak seperti seorang yang mengajarnya untuk menjadi wanita idaman dan cuba mencipta kehidupan yang penuh kematangan untuknya.

Hakikatnya kita sudah tertipu, gadis muda seumpama ini sebenarnya sedang menguji kuasa tarikan yang ada pada dirinya.

4. Wanita si Bintang

Wanita bersifat bintang menjadikan pasangannya sebagai jalan untuk mempopularkan atau menguntungkan dirinya semata-mata, lebih-lebih lagi jika dia mempunyai keinginan besar terhadap sesuatu yang jelas bukannya diri kita.

5. Wanita si Penggapai.

Penggapai mempunyai kedudukan kewangan lebih dari apa kita miliki dan dia menyukai keadaan demikian, ia memberi jaminan kepada dirinya.

Mengapa dia suka? Dia memilih pasangan yang bukan dalam kelompoknya agar ia memberinya ruang bergerak.

Kita menjadi sasaran jika matlamat kewangannya gagal, dan kita dilihat sebagi punca terbazir masanya sekadar untuk aktiviti bersama.

Dia cenderung mengatakan setiap usahanya adalah untuk kebahagian bersama.

6. Wanita yang Tercedera.

Hubungan yang terjejas menjadikan wanita dalam kategori ini tercedera emosinya sepanjang masa.

Kewujudan kita adalah kapal persinggahannya sementara baginya untuk memikirkan kesilapannya, apa yang terjadi, siapakah dia dan apa yang perlu dilakukannya.

Sepanjang kita menjadi pasangannya, kita mendengar segala kisah buruknya. Kita akan menjadi pendengar setia kisah sedihnya semalam, hari ini dan esok.

Dalam jangkaan kita kewujudannya untuk menyintai kita, tetapi dia lebih memikirkan keadaan dirinya.

8.3.10

Cara Mendidik Wanita

Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, fikiran dan perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya. Apa lagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s tetap rindukan Siti Hawa. Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, isteri atau puteri.


Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau lelaki sendiri yang tak lurus, tak mungkin mampu nak meluruskan mereka. Tak logik kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus.


Luruskanlah wanita dengan cara yang ditunjuk Allah, kerana mereka dicipta sebegitu rupa oleh Allah. Didiklah mereka dengan panduan dariNya. Jangan cuba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar. Jangan hiburkan mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita. Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah suisnya.


AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU.
HATI SEPARUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN.
PERASAAN SELEMBUT SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK.


Suburkanlah kerana dari situlah nanti mereka akan nampak nilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan bahagialah hati mereka, walaupun tidak menjadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahawa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan.


Sebaliknya di situlah kasih sayang Tuhan. Kerana rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki-lelaki waja - negarawan, karyawan, jutawan dan 'wan-wan' yang lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan. Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan sahaja tidak boleh diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkannya.


LEBIH RAMAI LELAKI YANG DIROSAKKAN OLEH PEREMPUAN DARIPADA PEREMPUAN YANG DIROSAKKAN OLEH LELAKI. SEBODOH-BODOH PEREMPUAN PUN BOLEH MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI.


Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja ramai boss telah kehilangan secretary, bahkan anak pun akan kehilangan ibu, suami kehilangan isteri dan bapa akan kehilangan puteri.


Bila wanita derhaka, dunia lelaki akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rosaklah jantung, hati dan limpa. Para lelaki pula jangan hanya mengharapkan ketaatan semata tetapi binalah kepimpinan. Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah, pimpinlah diri sendiri dahulu kepadaNya. Jinakkan diri dengan Allah, nescaya akan jinaklah segala-galanya di bawah kepimpinan kamu wahai LELAKI

27.2.10

Haid.... Kitataran haid




Kitaran haid

Haid atau datang bulan merujuk kepada satu fisiologi tetap dan teratur yang dialami oleh perempuan yang berada dalam lingkungan umur yang berupaya untuk mengandung. Semasa kedatangan haid, seseorang perempuan akan kehilangan darah. Tempoh pembiakan seseorang perempuan dicirikan dengan perubahan ritma pada rembesan hormon yang diperlukan untuk pembiakan. Corak ritma ini dikenali sebagai kitaran haid.

Fungsi kitaran haid ialah untuk menghasilkan ovum yang matang daripada ovari dan menyediakan lapisan dalam rahim untuk penempelan embrio. Jika tidak berlaku persenyawaan, ovum akan mengalami kemerosotan dan dibuang bersama bahan-bahan lain yang keluar daripada tubuh wanita melalui faraj.

Proses haid akan membuang keluar darah, mukus dan sel-sel yang sudah mati. Proses ini berlaku dalam tempoh yang agak tetap daripada masa akil baligh sehinggalah menopaus (putus haid) kecuali semasa mengandung dan penyusuan. Proses haid bermula daripada umur 12 atau 13 tahun tetapi kadang kala seawal umur 10 tahun dan selewat-lewatnya 16 tahun. Permulaan haid banyak bergantung kepada beberapa faktor seperti kaum, genetik, suhu persekitaran dan pemakanan. Putus haid berlaku pada purata umur 47 tahun (julat umur antara 45 hingga 55 tahun). Purata tempoh kitaran haid bagi wanita yang biasa ialah 28 hari. Hari pertama haid dianggap sebagai hari pertama bagi setiap kitaran baru. Setiap kitaran bagi seorang wanita yang biasa dan sihat ialah antara 20 hingga 45 hari. Perbezaan tempoh kitaran bergantung kepada umur. Tempoh aliran keluar haid juga berbeza-beza.

Purata kitaran haid ialah 6.6 hari manakala pada umur 21 tahun, purata tempoh haid menjadi enam hari sehinggalah mencapai tahap putus haid. Lebih kurang lima peratus perempuan yang sihat datang haid kurang daripada empat hari dan lima peratus lagi perempuan yang mengalami lebih daripada lapan hari. Jumlah purata darah dan tisu yang hilang semasa kedatangan haid ialah 70 mililiter. Wanita yang berumur kurang daripada 35 tahun akan kehilangan darah lebih banyak berbanding wanita yang berumur 35 tahun ke atas.

Jumlah keseluruhan cecair badan yang hilang semasa haid ialah antara 60 hingga 200 mililiter.

Sesetengah perempuan akan mengalami simptom atau gejala yang tidak selesa dalam tempoh haid tersebut. Dalam tempoh tersebut, wanita akan mengalami masalah seperti sakit kepala, pengumpulan cecair, ketegangan payu dara, mudah meradang, keresahan, sakit tulang belakang, kesakitan dan kekejangan pada bahagian abdomen serta tekanan perasaan.

Kehadiran dan keterukan gejala ini berbeza-beza di kalangan perempuan. Masalah ini boleh dibantu oleh ahli farmasi atau diurus sendiri oleh perempuan tersebut. Mereka yang mengunjungi kedai farmasi akan ditemu bual untuk memastikan keterukan masalah dan sama ada perempuan berkenaan harus mendapatkan pemerhatian doktor. Temu bual ini juga dapat membantu ahli farmasi untuk menilai masalah pesakit dan memilih atau menyarankan ubat yang sesuai dan berkesan bagi mengatasi masalah tersebut.

Makna Haid Dan Hikmahnya


Panduan : Syaikh al-Utsaimin rahimahullah

Makna Haid

Dari sudut bahasa, haid (الحيض) ialah: turun sesuatu secara mengalir.

Dari sudut syara’, haid ialah darah yang keluar dari wanita kerana fitrah kejadiannya tanpa sebarang sebab. Ia keluar pada waktu-waktu yang diketahui. Ia adalah darah fitrah yang keluar bukan kerana sakit, luka, keguguran atau kelahiran.


Hikmah Haid

Sesungguhnya janin yang berada di dalam perut ibunya tidak mungkin mendapat makanan seperti orang yang di luar. Ini kerana tidak mungkin bagi seorang ibu untuk menyampaikan makanan kepada anaknya dengan cara yang biasa.


Atas sebab ini Allah Ta’ala menjadikan makanan untuk janin dalam perut ibu daripada darah (ibunya). Ia tidak memerlu kepada pemakanan biasa (solid food) dan penghadaman. (Zat makanan yang berada di dalam darah ibu) sampai ke dalam badan janin melalui pusatnya dan lantas memasuki urat-urat sarafnya. Inilah cara janin mendapat makanan.


Maha Mulia Allah sebagai sebaik-baik pencipta. Inilah hikmah darah haid. Oleh itu apabila berlaku kehamilan, seorang wanita terputus haidnya. Amat jarang berlaku haid ketika hamil. Demikian juga bagi ibu-ibu yang menyusu, sangat sedikit di kalangan mereka yang datang haid terutamanya di awal masa menyusu.



Penerangan Syaikh al-Utsaimin rahimahullah di atas merujuk kepada kes setelah berlakunya persenyawaan dan wanita menjadi hamil. Jika tidak hamil, darah haid berperanan membersihkan sel-sel telur dalam sistem pembiakan wanita yang tidak disenyawakan. Lebih lanjut rujuk buku:

1. Hukum-hukum Wanita Hamil oleh Dr. Yahya ‘Abd al-Rahman (edisi terjemahan oleh Abu Wafa’; al-Izzah, Jakarta 2003).

2. Tuntutan Haidh, Nifas & Darah Penyakit: Tinjauan Fiqih dan Medis oleh Dr. ‘Abd al-Rahman Muhammad al-Rifa’i (edisi terjemahan oleh Mahfud Hidayat & Ahmad Muzayyin; Mustaqim, Jakarta 2003) (penyunting)

Perkara-Perkara Yang Berlaku Ketika Haid.

Pertama: Perbezaan masa haid.

Kadangkala berlaku perbezaan masa haid seorang wanita.

Perbezaan ini wujud dalam dua bentuk:


  1. Tempoh mengalirnya bertambah atau berkurang daripada kebiasaan. Contohnya ialah seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama enam hari, tetapi berlarutan selama tujuh hari. Atau seorang wanita yang kebiasaannya mengalami haid selama tujuh hari, lalu dia suci dalam masa enam hari sahaja
  2. Permulaan masa mengalirnya (putaran haid) menjadi awal atau lambat daripada kebiasaan. Contohnya seorang wanita yang kebiasaannya datang haid pada akhir bulan, lalu dia melihat haid hanya datang pada awal bulan. Atau kebiasaannya datang haid pada awal bulan lalu dia hanya melihatnya di akhir bulan.

Sesungguhnya para ilmuan berbeza pendapat dalam dua kes di atas. Namun pendapat yang terkuat dan benar ialah apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid). Penentuan ini tidak disyaratkan oleh perbezaan masa sama ada lebih lama atau singkat, sama ada lebih awal atau lewat. Dalil-dalil bagi hal ini telah dikemukakan dalam bab yang sebelumnya. Ini merupakan mazhab Imam al-Syafi’e rahimahullah dan dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah serta dikuatkan lagi oleh Imam Ibn Qudamah di dalam kitabnya al-Mughni, jld. 1, ms. 353:

Jika sesuatu perkara itu berlaku secara lazim dan memerlukan penjelasan (hukum-hukumnya), pasti akan dijelaskan (hukum-hukumnya) oleh Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tanpa melengah-lengahkannya. Ini kerana sesuatu yang memerlukan penjelasan tidak boleh dilengah-lengahkan.

Para isteri Rasulullah dan selainnya memerlukan penjelasan akan persoalan ini pada setiap masa dan baginda tidak pernah lalai daripada memberikan penjelasan tentangnya.

Tidak pernah lahir daripada baginda sesuatu yang wujud secara lazim melainkan diikuti dengan penjelasannya, kecuali dalam persoalan darah istihadah.

Kedua: Cecair yang kekuningan atau kekeruhan.


Kadangkala bagi seorang wanita mengalir keluar daripadanya cecair (discharge) yang:

  1. Berwarna kekuningan seperti air yang keluar akibat luka. Ini dikenali sebagai Sufrah.
  2. Berwarna kekeruhan antara kuning dan hitam. Ini dikenali sebagai Kudrah.


Sufrah atau Kudrah, jika ia mengalir keluar ketika sedang haid atau bersambungan di akhir masa haid, sebelum suci, maka ia dikategorikan sebagai haid dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa.

Jika ia mengalir keluar secara terpisah daripada masa haid, yakni dalam masa suci, maka ia tidak dikategorikan sebagai haid.


Dalilnya adalah kenyataan Umm Athiah radhiallahu 'anha:

“Kami tidak mengira (cecair yang berwarna) kekeruhan dan kekuningan (jika ia keluar) selepas suci sebagai apa-apa (yakni bukan haid).” [Sunan Abu Daud – no: 246 (Kitab al-Thaharah) dengan sanad yang sahih]

Imam al-Bukhari rahimahullah menyusun hadis ini dalam kitab sahihnya di bawah bab: Bab al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari selain haid. Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah di dalam kitabnya Fath al-Bari berkata:

al-Bukhari mengisyaratkan dengan demikian bertujuan menyelaraskan antara hadith ‘A’isyah (yang bermaksud): “sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih” dengan hadis Umm ‘Athiah di atas.

Hadis ‘A’isyah merujuk kepada seseorang yang melihat al-Sufrah dan al-Kudrah pada hari-hari haid, manakala hadis Umm ‘Athiah merujuk kepada hari-hari selain haid.

Hadith ‘A’isyah radhiallahu 'anha yang dimaksudkan adalah apa yang disebut oleh Imam al-Bukhari di dalam kitab sahihnya:

Sesungguhnya para wanita telah mengutus kepada ‘A’isyah bekas yang ada padanya kapas yang padanya ada al-Sufrah, maka ‘A’isyah menjawab:

“Jangan kamu semua segera (bersuci) sehingga kamu semua melihat sesuatu seperti benang putih (yang keluar selepas berhenti darah bercampur al-Sufrah tersebut).”


Ketiga: Haid yang terputus-putus.

Kadangkala juga seorang wanita menghadapi haid yang terputus-putus alirannya, di mana sehari dia didatangi haid manakala hari yang seterusnya tidak ada haid (selang sehari). Permasalahan ini terbahagi kepada dua kes yang berlainan:

  1. Jika ia berlaku secara berterusan, maka ia adalah darah istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah. (hukum-hukumnya akan dibahas dalam Bab 5 insya-Allah)
  2. Jika ia tidak berlaku secara berterusan, bahkan hanya sekali-sekala sehingga ada tempoh waktu suci yang jelas baginya. Bagi kes kedua ini, para ilmuan berbeza pendapat: Adakah sehari yang tidak keluar darah itu dikira suci atau dikira haid? Terhadap persoalan ini terdapat tiga pendapat yang dianggap kuat:


Pendapat Pertama:

Ia dianggap sebagai “hari haid” dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan hari haid biasa.

Ini merupakan satu pendapat yang benar antara dua pendapat Imam al-Syafi’e rahimahullah dan menjadi pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah dan Mazhab Abu Hanifah. Sebab-sebabnya adalah seperti berikut:

  1. Selagi mana tidak kelihatan sesuatu seumpama benang putih pada satu hari yang tidak didatangi haid, ia tetap dianggap sebagai hari haid.
  2. Jika dikatakan satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya hari sebelum dan selepasnya adalah hari haid. Hal seperti ini tidak pernah diperkatakan orang.
  3. Jika dianggap satu hari yang tidak didatangi haid sebagai hari suci nescaya iddah al-Quru’ akan selesai dalam masa lima hari sahaja.Jika dijadikan “satu hari” yang tidak didatangi haid sebagai hari suci pasti ia akan menimbulkan kesempitan dan kesusahan kerana wajib mandi pada setiap dua hari. Sesungguhnya kesempitan dan kesusahan adalah sesuatu yang dinafikan dalam syari’at ini, dan segala puji bagi Allah.


Pendapat Kedua:

Dalam tempoh masa selang sehari tersebut, jika darah mengalir keluar maka dianggap sebagai hari haid, jika tidak maka dianggap sebagai hari suci. Kecuali jika hal ini berlaku melebihi daripada bilangan hari-hari kebiasaan haid, maka ia dianggap sebagai darah istihadah.

Ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Hanbali.


Pendapat Ketiga:

Pendapat ketiga diberikan oleh Imam Ibn Qudamah rahimahullah dan ia merupakan jalan pertengahan antara dua pendapat yang pertama di atas. Beliau menulis di dalam kitabnya al-Mughni, jld. 1, ms. 355:

(Bagi kes darah haid yang terputus-putus selang sehari), apabila ia berhenti mengalir dan belum genap satu hari (daripada saat berhentinya), seorang wanita itu tidak dikira suci. Ini berdasarkan riwayat yang telah kita sebut dalam perbahasan darah nifas, di mana ia tidak mengambil kira darah yang berhenti dalam tempoh yang belum genap sehari. Riwayat ini adalah sahih, insya-Allah.

Darah yang sekejap ia mengalir dan sekejap ia berhenti akan menyulitkan orang kerana perlu kerap kali mengulangi mandi wajib. Ini menyalahi firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

Dan Ia tidak menjadikan kamu menanggung sesuatu keberatan dan susah payah dalam perkara agama. [al-Hajj 22:78]

Maka atas ini tidaklah dikira suci darah yang berhenti mengalir keluar dalam tempoh yang belum genap sehari. Kecuali jika kelihatannya tandanya yang jelas, seperti ia kering di akhir hari secara kebiasaannya atau ia melihat keluar (sesuatu seumpama) benang putih (barulah dikira suci).


Keempat: Darah haid yang tidak mengalir.

Jika darah haid tidak mengalir, seperti menjadi kering atau hanya lembab, maka hukumnya terbahagi kepada dua kes:

  1. Jika ia berlaku ketika sedang haid atau atau bersambungan di akhir masa haid, sebelum suci, maka ia dikategorikan sebagai haid (dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum yang bersamaan dengan darah haid biasa).
  2. Jika ia berlaku selepas haid, yakni dalam masa suci, maka ia tidak dikategorikan sebagai haid.

Hukum bagi kedua-dua kes ini adalah sebagaimana kes cecair kekuningan atau kekeruhan yang telah dibahas di atas.

Atau boleh sahaja berbeza-beza sehingga menjadi lebih lama atau lebih singkat antara satu masa haid dengan masa haid yang lain (penyunting).

Maksudnya, persoalan haid adalah persoalan yang lazim bagi para isteri dan wanita di zaman baginda. Persoalan-persoalan ini memerlukan penjelasan yang terperinci daripada Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Alhamdulillah, baginda telah menjelaskannya secara terperinci dan telah sampai kepada kita dalam kitab-kitab hadis.

Justeru seandainya wujud sesuatu persoalan dalam bab haid ini yang tidak diperjelaskan oleh baginda, bererti ia sememangnya tidak memerlukan penjelasan. Kes perbezaan masa haid adalah antara perkara yang lazim berlaku yang tidak diperjelaskan oleh Rasulullah, bererti ia tidak memiliki apa-apa hukum khusus yang berbeza dengan yang umum.

Hukum umum yang dimaksudkan adalah: Apabila seorang wanita melihat darah mengalir keluar bererti dia haid dan apabila darah berhenti mengalir bererti dia suci (tidak haid) tanpa dipengaruhi oleh perbezaan masanya. (penyunting)

Juga disahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abu Daud – no: 119. (penyunting)

Di sini Syaikh al-Utsaimin rahimahullah mengemukakan 3 pendapat tanpa menerangkan yang manakah yang lebih kuat atau benar. Ini bererti di sisi beliau ketiga-tiga pendapat ini adalah sama-sama benar. Para pembaca boleh mengamalkan salah satu daripadanya. Setiap satu daripadanya adalah benar dan tidaklah ia saling membatal antara satu sama lain. (penyunting)

Ini kerana beliau memiliki dua pendapat: Qaul Qadim dan Qaul Jadid. (penyunting)

Yakni tempoh iddah bagi seorang wanita yang diceraikan ialah tiga kali suci. Jika dijadikan tempoh masa bagi haid dan suci ialah selang sehari, nescaya waktu iddah ini akan berakhir dalam masa lima hari sahaja. (penyunting)

Maksudnya seorang wanita jangan menganggap dirinya telah suci daripada haid melainkan dengan dua petunjuk:

1. Haid sudah berhenti dan wujud tanda-tanda yang jelas bahawa tempoh haid sudah berakhir. Ini lazimnya merujuk kepada kes haid yang normal.

2. Haid sudah berhenti akan tetapi tidak wujud tanda yang jelas bahawa tempoh haid akan berakhir. Malah wujud kemungkinan ia akan mengalir semula. Ini merujuk kepada kes haid yang terputus-putus atau selang sehari. Maka tunggulah sehingga genap sehari, jika tiada lagi darah mengalir pada esoknya maka barulah pasti tempoh haid sudah berakhir.

Istihadah Dan Hukum-Hukumnya


Istihadah (الاستحاضة) ialah darah yang keluar secara berterusan bagi seorang wanita. Ia keluar tanpa terputus-putus atau mungkin terputus sekejap seperti sehari-dua dalam sebulan.

Dalil bagi kes pertama, yakni darah keluar tanpa terputus-putus ialah sebagaimana aduan Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana di dalam Shahih al-Bukhari: “Ya Rasulullah! Sesungguhnya aku tidak suci” manakala dalam satu riwayat yang lain: “Aku didatangi istihadah maka aku tidak suci.”

Dalil bagi kes kedua, yakni darah keluar dengan terputus sekejap ialah kisah Himnah binti Jahsy radhiallahu 'anha yang datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku didatangi darah istihadah yang banyak.” [Musnad Ahmad, Sunan Abu Daud dan Sunan al-Tirmizi dan beliau (al-Tirmizi) mensahihkannya.]

Terdapat tiga cara bagi membezakan antara darah haid dan istihadah:

Pertama:

Wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya). Maka baginya hukum haid dalam masa yang tetap tersebut dan hukum istihadah bagi waktu selainnya.

Contohnya ialah seorang wanita yang lazimnya didatangi haid selama enam hari bermula awal setiap bulan. Kemudian (pada satu bulan) dia mengalami pendarahan yang berterusan. Maka pendarahan enam hari yang pertama bermula dari awal bulan dikira sebagai haid manakala hari-hari selebihnya dikira sebagai istihadah.

‘A’isyah radhiallahu ‘anha menerangkan bahawa Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya aku didatangi istihadah, maka aku tidak suci. Adakah aku perlu meninggalkan solat?”. Rasulullah menjawab: “Tidak, sesungguhnya itu ialah ‘irq (penyakit). Tinggalkan solat pada kadar haid yang kebiasaan bagi kamu, kemudian hendaklah kamu mandi dan dirikan solat.” [Shahih al-Bukhari – no: 325 (Kitab al-Haid)]

Hal yang sama pernah berlaku kepada Umm Habibah binti Jahsy radhiallahu ‘anha dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada beliau:

“Duduklah (dalam keadaan haid) sekadar mana yang pernah kamu alami dari hari-hari haid kamu (yang biasa), kemudian hendaklah kamu mandi dan solat”. [Shahih Muslim – no: 334 (Kitab al-Haid)]

Kesimpulannya, bagi wanita yang memiliki masa haid yang tetap (tempoh dan putarannya), hendaklah dia mengira masa haidnya mengikut kebiasaan. Jika ada pendarahan pada hari-hari seterusnya, hendaklah dia mandi dan solat mengikut ukuran masa haidnya yang biasa. Tidak perlu diberi perhatian kepada pendarahan pada hari-hari seterusnya kerana itu adalah istihadah.

Kedua:

Wanita yang tidak memiliki masa haid yang tetap atau diketahui (tempoh dan putarannya). Contohnnya darah yang keluar secara berterusan sejak awal. Maka baginya dibezakan antara darah haid dan darah istihadah dengan memerhatikan sifat-sifat darah tersebut. Darah yang berwarna hitam (merah kehitaman) dan/atau pekat dan/atau berbau, ia adalah darah haid. Selainnya adalah darah istihadah.

Sebagai contoh, seorang wanita yang mengalami pendarahan secara berterusan. Akan tetapi pada hari kesepuluh kelihatan perbezaan sifat darah:

q Sehingga hari kesepuluh darah berwarna hitam (merah kehitaman) manakala selepas itu ia berwarna merah. Maka darah yang berwarna hitam adalah haid, darah yang berwarna merah adalah istihadah.

q Sehingga hari kesepuluh darah bersifat pekat manakala selepas itu menjadi cair. Maka darah yang pekat adalah haid, darah yang cair adalah istihadah.

q Sehingga hari kesepuluh darah memiliki bau manakala selepas itu tiada lagi bau. Maka darah yang berbau adalah haid, darah yang tidak berbau adalah istihadah.

Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu ‘anha:

“Apabila darah itu adalah haid maka sesungguhnya ia hitam (lagi) dikenali, justeru hendaklah kamu menahan dari melakukan solat. Jika ia adalah (darah) selain itu maka hendaklah kamu berwudhu’ dan mendirikan solat kerana sesungguhnya ia adalah (darah) penyakit.” [Sunan Abu Daud – no: 247 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Nasa’i dengan disahihkan oleh Ibn Hibban dan al-Hakim]

Hadis di atas memiliki perbincangan dari sudut sanad dan matannya, akan tetapi para ilmuan rahimahumullah telah beramal dengannya. Bahkan ia adalah lebih utama daripada membiarkan persoalan ini kepada adat kebiasaan wanita.

Ketiga:

Wanita yang tidak memiliki masa (tempoh dan putaran) haid yang tetap dan tidak juga memiliki sifat-sifat darah yang dapat dibezakan antara haid dan istihadah. Maka baginya masa haid diukur berdasarkan kebiasaan wanita, waktu selebihnya dikira sebagai istihadah.

Sebagai contoh, wanita yang menghadapi kes ketiga ini melihat darah keluar secara berterusan bermula pada hari Khamis yang pertama dalam bulan tersebut. Maka hendaklah dia melihat kebiasaan para wanita lain yang menghampirinya dan menjadikan tempoh haid mereka sebagai ukuran ke atas dirinya. Jika pada kebiasaannya mereka didatangi haid selama enam atau tujuh hari, maka demikianlah juga ukuran ke atas dirinya. Oleh itu enam atau tujuh hari yang pertama pendarahan, bermula daripada hari Khamis, dianggap sebagai haid. Hari-hari seterusnya dianggap sebagai istihadah.

Hadis berikut menjadi rujukan dalam kes ketiga ini. Himnah binti Jahsy radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Ya Rasulullah! Sesungguhnya saya seorang wanita yang didatangi istihadah yang amat banyak, apakah pandangan engkau berkenaannya? Sesungguhnya ia menegah aku daripada mendirikan solat dan puasa.”

Rasulullah menjawab: “Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj), sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah.”

Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ia (pendarahan kamu) adalah hentakan dari hentakan-hentakan syaitan, maka (apabila) kamu didatangi haid selama enam atau tujuh hari pada ilmu Allah Ta’ala, hendaklah kamu mandi apabila kamu lihat bahawa kamu telah suci (dari darah haid), maka hendaklah kamu solat pada pada dua puluh tiga malam atau dua puluh empat malam dan siangnya dan hendaklah kamu berpuasa.” [Sunan Abu Daud – no: 248 (Kitab al-Thaharah) dan Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan berkata al-Tirmizi, hadis ini hasan sahih]

Sabda Rasulullah: “Enam atau tujuh hari” bukanlah penetapan tetapi ijtihad. Oleh itu hendaklah setiap wanita yang menghadapi kes ketiga ini berijtihad akan satu tempoh haid yang sesuai baginya. Ijtihad dibuat dengan merujuk kepada tempoh haid yang lazim dihadapi oleh para wanita lain yang menghampiri dirinya, seperti daripada keluarga atau adik beradik yang sama, rakan-rakan yang sebaya umurnya dan lain-lain lagi.

Demikian tiga cara yang paling lazim bagi membezakan antara darah haid dan istihadah. Sebagai penjelasan tambahan, kadang-kala berlaku pendarahan yang disalah anggap sebagai istihadah. Kesalahan ini boleh berlaku dalam dua kes:

Pertama:

Wanita yang mengetahui dengan jelas bahawa dia tidak akan didatangi haid lagi, seperti setelah melakukan pembedahan yang melibatkan pemotongan atau ikatan rahim. Maka baginya, yang mengalir keluar bukanlah istihadah tetapi al-Sufrah (cecair kekuningan) dan al-Kudrah (cecair kekeruhan antara kuning dan hitam) atau basahan. Maka hendaklah dia mendirikan solat dan puasa, serta boleh bersetubuh dengan suaminya. Dia tidak diwajibkan mandi (mandi wajib) kerana darah yang keluar tersebut.

Akan tetapi hendaklah dia membasuh faraj serta mengikatnya dengan kainsupaya dapat mencegah darah daripada mengalir keluar. Bagi setiap solat fardhu, hendaklah dia berwudhu’ sesudah masuk waktu kemudian terus bersolat. Bagi setiap solat sunat, hendaklah dia berwudhu’ apabila sahaja hendak mendirikannya.

Kedua:

Wanita yang tidak tahu secara jelas sama ada dia akan didatangi haid atau tidak. Maka baginya, pendarahan yang berlaku dianggap sebagai haid dan istihadah, dibezakan dengan tiga cara yang telah disebut di atas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada Fathimah binti Abi Hubaisy:

“Sesungguhnya yang demikian itu ialah ‘irq (penyakit) bukanlah darah haid maka apabila datang haid maka hendaklah kamu meninggalkan solat.” [Shahih al-Bukhari – no: 306 (Kitab al-Haid)]

Sabda Rasulullah: “…Maka apabila datang haid…” menjadi petunjuk yang membezakan antara haid dan istihadah. Maka bagi seorang wanita yang mungkin baginya untuk datang haid, maka hendaklah dia membezakan antara haid dan istihadah sepertimana tiga cara yang disebut di atas. Bagi wanita yang tidak mungkin didatangi haid maka yang wujud hanyalah ‘Irq (penyakit) dalam apa jua keadaan sekalipun.

Hukum-Hukum Istihadah.

Sebelum ini dalam Bab 4 kita telah bahas hukum-hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang sedang haid. Kini kita akan bahas pula hukum-hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang beristihadah. Apabila seorang wanita telah memastikan bahawa dia sedang mengalami pendarahan istihadah dan bukan haid, maka hukum-hukum yang diwajibkan ke atasnya adalah sama sepertimana wanita yang suci kecuali dalam tiga perkara berikut:

Pertama:

Wanita yang beristihadah wajib berwudhu’ setiap kali hendak solat. Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Fathimah binti Abi Hubaisy radhiallahu 'anha di dalam Shahih al-Bukhari – no: 228: “Kemudian hendaklah kamu berwudhu’ pada setiap solat.” Hadis ini memberi makna bahawa dia tidak berwudhu’ untuk solat yang berwaktu kecuali selepas masuk waktunya. Adapun bagi solat yang tidak berwaktu (solat sunat) maka dia berwudhu’ ketika hendak melaksanakannya.

Kedua:

Apabila wanita yang beristihadah hendak berwudhu’, hendaklah dia membasuh kesan darah dan mengikat farajnya dengan cebisan kain yang dilapik dengan kapas supaya dapat menahan darah Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada Himnah radhiallahu 'anha:

“Aku akan terangkan untuk kamu (cara menggunakan) al-Kursuf (kapas yang diletakkan di faraj), sesungguhnya ia dapat menghilangkan darah.”

Himnah berkata: “Ia (darah saya) lebih banyak dari demikian itu”.

Rasulullah bersabda: “Maka hendaklah kamu mengekangnya (mengikatnya)….” [Sunan al-Tirmizi – no: 118 (Kitab al-Thaharah) dan beliau berkata: Hadis ini hasan sahih]

Apa yang keluar (apa-apa pendarahan) selepas itu tidaklah memudaratkan (tidak membatalkan wudhu’) berdasarkan hadis berikut riwayat Ahmad dan Ibn Majah:

“Wahai Rasulullah, Sesungguhnya aku seorang wanita yang mengalami istihadah sehingga aku tidak suci, apakah aku patut meninggalkan solat? Tidak, hendaklah kamu jauhi solat pada hari-hari haidmu (sahaja) kemudian hendaklah kamu mandi dan berwudhu’ untuk setiap solat kemudian dirikanlah solat walaupun darah menitis jatuh ke atas tikar [Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syu‘aib al-Arnauth]

Ketiga:

Bersetubuh, maka para ilmuan berselisih pendapat mengenai kebolehannya. Pendapat yang sahih adalah ianya harus (dibolehkan) tanpa sekatan berdasarkan sebab-sebab berikut:

  1. Merupakan satu kelaziman bagi para wanita pada zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengalami istihadah. Akan tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menegah para suami daripada menyetubuhi isteri mereka.
  2. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan (jangan bersetubuh dengan isteri kamu) dalam masa datang darah haid itu. [al-Baqarah 2:222] Ayat ini menjadi dalil bahawa larangan bersetubuh hanyalah ke atas isteri yang sedang haid, tidak selain itu.

  1. Jika diharuskan solat bagi wanita yang beristihadah, maka sudah tentu diharuskan juga bersetubuh kerana bersetubuh adalah sesuatu yang lebih kecil berbanding solat.

Pendapat yang melarang bersetubuh mengqiyaskan wanita yang beristiadhah dengan wanita yang haid. Ini adalah qiyas yang tidak benar kerana wanita istihadah dan wanita haid adalah dua kes yang saling berlainan.

Maksudnya, jika persoalan ini dibiarkan kepada adat kebiasaan wanita, ia akan terdedah kepada pelbagai pendapat dan hukum yang tidak benar. Justeru lebih baik menggunakan hadis di atas sebagai rujukan. Sekalipun ia memiliki perselisihan pendapat dari sudut kekuatannya, maksudnya tetap selari dengan lain-lain petunjuk syari‘at sehingga menjadi amalan para ilmuan sejak dari dahulu. (penyunting)

“Para wanita lain” ini hendaklah memiliki tempoh dan putaran haid yang normal. Sebagai contoh, jika seorang wanita menghadapi kes ketiga ini, hendaklah dia merujuk kepada tempoh dan putaran haid yang lazim bagi adik beradiknya yang lain. Jika mereka didatangi haid selama 10 hari setiap satu bulan, maka tempoh 10 hari tersebut menjadi ukuran bagi dirinya juga. Maka bagi pendarahan berterusan yang dihadapinya, 10 hari setiap bulan dianggap sebagai haid manakala selebihnya dianggap istihadah. (penyunting)

Atau tuala wanita (penyunting).

Maksudnya, satu wudhu’ bagi satu solat. Hukum ini khusus sebagai satu kemudahan (rukhsah) untuk kes ini sahaja supaya apa-apa yang mengalir keluar dari faraj tidak dikira membatalkan solat. Justeru tidak boleh menggunakan wudhu’ yang sama untuk dua solat, seperti menggunakan wudhu’ yang sama untuk menunaikan solat Maghrib dan “menyimpannya” untuk solat Isya’ kemudian. Juga tidak boleh berwudhu’ jauh sebelum waktu solat, seperti mengambil wudhu’ pada pukul 6 petang untuk solat Maghrib pada pukul 7.30 malam. (penyunting)

Atau dengan memakai tuala wanita. (penyunting)

Musnad Ahmad – no: 25681 dan disahihkan oleh Syaikh Syu‘aib al-Arnauth.

Nifas dan Hukum-hukumnya

Nifas (النفاس) ialah darah yang keluar dari rahim wanita atas sebab melahirkan anak. Ia keluar sama ada di saat melahirkan anak, selepas melahirkan anak atau dua hingga tiga hari sebelum melahirkan anak. Yang terakhir (sebelum melahirkan anak) hendaklah yang disertai dengan tolakan melahirkan anak(terasa nak bersalin).

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata:

Apa yang dilihat oleh wanita semasa bermula tolakan bersalin ialah darah nifas. Ia (nifas) tidak disyaratkan oleh dua atau tiga hari sebelum bersalin tetapi disyaratkan oleh tolakan yang mengiringi bersalin. Jika berlaku pendarahan selain itu (tolakan bersalin), maka ia bukan nifas.

Para ilmuan berselisih pendapat tentang tempoh bagi nifas, sama ada lama atau pendek. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata:

Bagi nifas tidak ada tempoh minimum atau maksimum. Jika ditakdirkan seorang wanita melihat darah lebih daripada 40 atau 60 atau 70 hari lalu kemudian barulah ia berhenti, maka itu adalah darah nifas. Akan tetapi jika pendarahan berlaku secara berterusan (melebihi tempoh di atas) maka ia adalah darah fasid (istihadah). Maka batasnya (bagi kes ini) ialah 40 hari kerana sesungguhnya tempoh 40 hari adalah kebiasaan (bagi wanita yang sudah bersalin) sebagaimana yang disebut dalam atsar-atsar (pendapat tokoh terdahulu). [al-Risalah fi al-Asma’ allati ‘Alaq al-Syar‘i al-Ahkam biha, ms. 37]

Berdasarkan penjelasan di atas:

  1. Apabila menjadi kebiasaan bagi seorang wanita untuk mengalami nifas melebihi 40 hari dan dia dapat mengenali tanda berhentinya, maka hendaklah dia menunggu sehingga nifasnya berhenti.
  2. Jika hal di atas bukanlah kebiasaan bagi dirinya, hendaklah dia menjadikan tempoh 40 hari sebagai tanda berhenti. Hendaklah dia mandi wajib setelah genap 40 hari. Pendarahan seterusnya dikira sebagai istihadah dan diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah sebagaimana yang dibahas sebelum ini.
  3. Jika nifas berhenti dalam tempoh kurang 40 hari, maka (setelah mandi wajib) dia dianggap suci tanpa perlu menunggu genap 40 hari. Akan tetapi hendaklah dipastikan bahawa nifasnya benar-benar sudah berhenti. Jika nifasnya hanya berhenti dalam tempoh kurang sehari, dia belum dikira sudah berakhir tempoh nifasnya.
  4. Jika nifas bersambung dengan haid, maka hendaklah dia tunggu sehingga berhenti haidnya. Diwajibkan ke atasnya hukum-hukum haid sebagaimana yang dibahas sebelum ini.

Pendarahan hanya boleh dikategorikan sebagai nifas apabila ia keluar dengan sebab fitrah mengandung dan melahirkan anak. Jika ia keluar dengan sebab selain itu, seperti keguguran, maka ia bukanlah nifas tetapi darah penyakit (al-‘Irq) yang diwajibkan ke atasnya hukum-hukum istihadah.

Masa yang paling awal untuk nifas secara fitrah ialah 80 hari sedangkan yang lazim ialah 90 hari daripada hari mula hamil. Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah menulis, sebagaimana yang dinukil daripada kitab al-Iqna’:

Apabila berlaku pendarahan kerana tolakan bersalin sebelum 80 hari (daripada hari mula hamil), maka janganlah dipedulikan (kerana ia bukan nifas). Seterusnya:

1. Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana tolakan bersalin, hendaklah dia tidak bersolat dan tidak berpuasa (kerana ia adalah nifas

2. Jika berlaku pendarahan selepas 80 hari kerana keguguran, hendaklah dia mendirikan solat dan berpuasa (kerana ia bukan nifas tetapi istihadah).

3. Jika tidak jelas baginya (sama ada pendarahan disebabkan kehamilan atau keguguran) maka hendaklah dihukum berdasarkan yang zahir (yang paling diyakini).[2]

Hukum-Hukum Nifas

Sebagaimana haid dan istihadah, terdapat beberapa hukum yang diwajibkan ke atas wanita yang mengalami nifas. Secara umumnya hukum-hukum nifas adalah sama dengan hukum-hukum haid kecuali dalam perkara-perkara berikut:

Pertama: Iddah.

Nifas tidak dijadikan ukuran iddah bagi seorang isteri yang dijatuhkan talak (diceraikan) oleh suaminya. Oleh itu apabila seorang isteri yang hamil dicerai oleh suaminya, maka tempoh iddahnya ialah sehingga melahirkan anak, bukan dengan berhentinya nifas. Apabila seorang isteri yang baru sahaja melahirkan anak dicerai oleh suaminya, maka iddahnya ialah menunggu hingga datang haid lalu dikira berdasarkan putaran haidnya, bukan berdasarkan nifasnya. Yang terakhir ini (iddah berdasarkan putaran haid) adalah sebagaimana yang telah dibahas dalam Bab 4, hukum haid yang Ketujuh dan Kelapan.

Kedua: Ila’

Ila’ ialah tindakan seorang suami yang bersumpah tidak akan menyetubuhi isterinya buat selama-lamanya atau untuk satu tempoh yang melebihi empat bulan. Jika ini berlaku, maka tempoh empat bulan (atau lebih sebagaimana yang disumpah) dikira berdasarkan putaran haid isteri dan bukan berdasarkan nifasnya.

Ketiga: Baligh.

Tahap baligh bagi seorang wanita diukur berdasarkan datang haid dan bukan datang nifas. Ini kerana seorang wanita tidak mungkin akan mengalami nifas jika dia tidak hamil, dan dia tidak mungkin akan hamil jika tidak terlebih dahulu mengalami haid.

Keempat: Nifas yang terputus-putus

Bagi darah haid, jika ia keluar, kemudian terhenti sebentar, kemudian keluar semula, maka mudah untuk diyakini bahawa yang keluar semula itu adalah haid juga. Sebagai contoh, seorang wanita yang lazimnya memiliki tempoh haid lapan hari setiap bulan, lalu dia haid pada empat hari yang pertama, kemudian ia terhenti pada hari kelima dan keenam, kemudian ia keluar semula pada hari ketujuh dan lapan, maka mudah untuk diyakini bahawa yang datang semula pada hari ketujuh dan lapan tersebut adalah haid juga.

Berbeza pula bagi darah nifas, para ilmuan berbeza pendapat ke atas kes nifas yang terputus. Umumnya terdapat dua pendapat:


Pendapat Pertama:

Apabila nifas terhenti sebelum 40 hari kemudian ia keluar semula pada hari ke-40, maka yang keluar semula itu dikategorikan sebagai “darah yang disyaki”. Dalam kategori ini, wanita yang mengalaminya wajib bersolat dan berpuasa. Sebelum itu ketika sedang nifas, diharamkan ke atasnya apa yang diharamkan ke atas wanita yang sedang haid. Dia wajib mengqada puasanya selepas suci (jika dia nifas dalam bulan Ramadhan). Ini adalah pendapat yang mayshur dalam Mazhab Hanbali.

Pendapat Kedua:

Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor nifas, maka ia adalah nifas. Apabila darah keluar pada suasana yang lazimnya disebabkan oleh faktor haid, maka ia adalah haid. Apabila darah keluar secara berterusan, ia adalah istihadah.

Pendapat yang kedua inilah dianggap yang benar. Imam Ibn Qudamah rahimahullah di dalam kitabnya al-Mughni, jld. 1, ms. 349 menukil kata-kata Imam Malik rahimahullah: Jika dia (wanita) melihat darah selepas dua atau tiga hari, yakni selepas habis nifas, maka ia adalah darah nifas dan jika selepasnya ( lebih dari tiga hari) maka ia adalah darah haid

Pendapat kedua ini juga merupakan pilihan Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah.


Kelima: Bersetubuh

Apabila seorang wanita menjadi suci daripada haidnya lebih awal daripada tempoh yang biasa baginya, diharuskan bagi suami menyetubuhinya. Akan tetapi apabila seorang wanita yang sedang nifas suci daripada nifasnya lebih awal daripada tempoh 40 hari, wujud perselisihan pendapat sama ada harus atau tidak bagi suami menyetubuhinya.

Yang benar diharuskan bagi suami menyetubuhinya dan ini adalah pendapat majoriti ilmuan. Untuk berkata “tidak harus” memerlukan dalil syarak padahal tidak wujud dalil syarak dalam permasalahan ini. Terdapat sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah di mana isteri ‘Utsman ibn Abi al-‘Aas (yang baru suci daripada nifas) telah menghampirinya padahal di saat itu belum genap tempoh 40 hari. Maka ‘Utsman berkata: “Janganlah kamu menghampiri aku.” Kisah ini tidak boleh dijadikan dalil menghukum “tidak harus” kerana tindakan ‘Utsman mungkin di atas sikap berhati-hati kerana tidak yakin bahawa isterinya telah benar-benar suci atau akan keluar darah semula disebabkan persetubuhan atau sebagainya, Allah yang lebih mengetahui.

Dalam ertikata lain, syarat nifas ialah (1) ia keluar disebabkan tolakan bersalin dan (2) Ia keluar selepas 80 atau 90 hari daripada hari mula hamil (penyunting)

Demikian adalah bagi zaman Ibn Taimiyyah yang meninggal dunia pada tahun 728H. Alhamdulillah, di masa kini sudah ada peralatan yang boleh menentukan kehamilan atau keguguran. Maka mudah bagi seorang wanita untuk membezakan pendarahannya sama ada disebabkan kehamilan (nifas) atau keguguran (istihadah). (penyunting)

Seperti solat, puasa dan tawaf. (penyunting)

Yang dimaksudkan dengan faktor nifas ialah hamil, disertai tolakan dan paling awal 80 hingga 90 hari selepas hari pertama hamil. Faktor haid adalah apa yang selain daripada faktor nifas kecuali jika ia berterusan, maka ia adalah istihadah. (penyunting)

Maksudnya jika nifas terhenti kurang daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula, yang keluar itu adalah nifas juga. Jika nifas terhenti lebih daripada tiga hari lalu kemudian keluar semula, yang keluar semula itu bukanlah nifas tetapi haid. Maka tempoh berhenti selama tiga hari adalah pembeza antara darah nifas atau haid.