27.6.10

Sholat Dhuha


Waktu sholat Dhuha

Sholat Dhuha adalah sholat sunnah yang dilaksanakan pada waktu dhuha, yaitu mulai matahari beranjak naik satu tombak (kira2 jam 7 atau 7.30) sampai pada waktu istiwa, menjelang sholat dhuhur (kira2 jam 11 siang).

"Dari Zaid bin Arqam, Bahwa ia melihat orang-orang mengerjakan sholat Dhuha (pada waktu blm begitu siang), maka ia berkata : "Ingatlah sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa Sholat Dhuha pada selain saat-saat seperti itu adalah lebih utama, karena sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda : Sholatnya Orang2 yang kembali kepada Allah adalah pada waktu anak-anak onta sudah bangun dari pembaringannya karena tersengat panasnya matahari." (HR. Muslim)

Dan qiyas dari saat bangunnya anak onta adalah sekitar jam 7 atau 7:30 karna negri Arab yg kita tahu adalah negri yang panas. untuk hati2nya sangat dianjurkan mulai jam 8 ke atas.

Boleh dikerjakan 2 rakaat, boleh 4 rakaat sampai 12 rakaat.

Menurut Imam Ar-Rauyani dan Imam Ar-Rafi’i, sebanyak-banyaknya dua belas rakaat. Dikerjakan dengan sekali salam setiap-tiap dua rakaat. Waktunya adalah sejak terbitnya matahari hingga tergelincirnya matahari. (Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab, 4/35-36).

Boleh sendiri boleh berjama'ah :

yaikh Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, misalnya, mengatakan,”Sholat Dhuha ini dapat dikerjakan secara sendirian dan dapat pula dikerjakan berjama’ah.” Beliau lalu menyebutkan dalilnya, yaitu hadis dari ‘Itban bin Malik RA yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Khuzaimah. (Mahmud Abdul Lathif ‘Uwaidhah, Al-Jami’ li Ahkam Ash-Shalah, 2/399).

Dalam kitab Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) karya Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani, dinukilkan hadis ‘Itban bin Malik RA tersebut, bahwa Rasulullah SAW telah melakukan sholat Dhuha (subhata adh-dhuha) di rumahnya [rumah 'Itban bin Malik], lalu orang-orang berdiri di belakang beliau dan mereka pun sholat dengan sholat beliau. (fa-qaamuu waraa`ahu fa-shalluu bi-shalaatihi). (Ibnu Hajar Al-’Asqalani, Fathul Bari, 4/177).

Imam Ibnu Hajar Al-’Asqalani menjelaskan bahwa hadis di atas adalah hadis riwayat Imam Ahmad. Beliau juga menyatakan bahwa hadis yang semakna ini telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari shahabat Ibnu Wahab bin Yunus RA. (Ibnu Hajar Al-’Asqalani, Fathul Bari, 4/177; HR Ahmad no 22657; Ibnu Khuzaimah no 1165).

Dari ‘A`idz bin Amr RA dia berkata,”Suatu saat air sedikit, maka Rasulullah SAW pun berwudhu dengan air dalam satu gelas (qadah) atau satu mangkuk besar (jafnah). Lalu Rasulullah SAW menasehati kami karena sedikitnya air saat itu. Rasulullah SAW bersabda,’Orang yang bahagia di antara kita adalah orang yang terkena musibah, tapi dia tidak memperlihatkan itu kepada kita. Kecuali kalau musibah itu sudah menimpa semua orang dalam satu kaum.’ Kemudian Rasululullah SAW shalat Dhuha bersama-sama kami (tsumma shalla binaa rasulullah SAW adh-dhuha).” (HR Ahmad no 19721; Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, no 14462)

Anjuran dan keutamaan :

Aisyah berkata, "Sesungguhnya Rasulullah meninggalkan amal padahal beliau senang untuk mengamalkannya, karena takut manusia mengamalkannya lalu difardhukan atas mereka. Saya tidak (pernah melihat Rasulullah 2/54) melakukan shalat sunnah seperti shalat sunnah dhuha, dan sesungguhnya saya mengerjakannya.(HR.Bukhori)

Abu Hurairah berkata, "Kekasih (baca: Rasulullah) aku berpesan kepadaku dengan tiga hal yang tidak aku tinggalkan sampai mati. Yaitu, puasa tiga hari setiap bulan, shalat (dua rakaat, 2/274) dhuha, dan tidur di atas witir (sebelum tidur shalat witir dulu)." (Bukhori)

Rasulullah bersabda : “Siapa saja yang dapat mengerjakan Shalat Dhuha dengan istiqomah akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan.” (HR. Turmudzi)

Dalam hadist Qusdi, Nuwas bin Sam’an ra menuturkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Wahai Anak Adam, jangai sekali-kali engkau malas mengerjakan empat raka’at pada waktu permulaan siang (yakni Shalat Dhuha), nanti pasti kucukupkan kebutuhanmu pada sore harinya.” (HR. Hakim dan Thabrani)

Dari Abu Dzar ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda : “hendaklah masing-masing kamu tiap-tiap pagi bershadaqah untuk persendian badannya. maka itap kali bacaan tasbih bacaan tasbih (subhanallah) itu shadaqah, tiap tahmid (alhamdulillah) itu shadaqah, setiap tahlil (laa ilaaha Illallah) itu shadaqah, menyuruh kebaikan dan melarang kejahatan itu shadaqah, dan sebagai ganti itu semua, cukuplah mengerjakan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Ahmad, Muslim dan Abu Daud)

Dari Abu Darda ia berkata: "Kekasihku telah berwasiat kepadaku tiga hal. Hendaklah saya tidak pernah meninggalkan ketiga hal itu selama saya masih hidup : 1. Menunaikan puasa tiga hari pada setiap bulan, 2. Mengerjakan Sholat Dhuha, dan 3. Tidak tidur sebelum menunaikan sholat Witir. (HR.Muslim Abu Dawud Turmudzi & nasa'ie)

Dari Anas ibn Malik, bahwa Nabi SAW bersabda : "Barang siapa mengerjakan sholat Dhuha 12 Rakaat, maka Allah akan membangunkan untuknya istana di syurga" (HR. Turmudzi dan Ibnu Majah, hadits Hasan)

Wallahu a’lamu bishowab

25.6.10

Shalat Jama’ah bagi Wanita

Shalat Jama’ah bagi Wanita Tidaklah Wajib

Shalat jama’ah tidaklah wajib bagi wanita dan ini berdasarkan kesepatakan para ulama kaum muslimin. Akan tetapi shalat jama’ah tetap dibolehkan bagi wanita –secara global- menurut mayoritas para ulama.

Wanita tidak wajib melaksanakan shalat secara berjama’ah. Shalat jama’ah hanya wajib bagi laki-laki. Adapun para wanita, mereka tidak wajib mengerjakan shalat secara berjama’ah. Akan tetapi boleh atau mungkin dianjurkan bagi mereka melaksanakan shalat secara jama’ah dengan imam di antara mereka (para wanita). Namun sebagaimana yang kami katakan bahwa imam mereka berdiri di antara shaf yang ada (bukan maju ke depan)” (Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 103, Dar Ibnul Haitsam)

Shalat Jama’ah Wanita Bersama Wanita Lainnya

Ini dibolehkan berdasarkan tiga alasan:
1. Berdasarkan keumuman hadits yang menceritakan keutamaan shalat jama’ah. Dan asalnya, wanita memiliki hukum yang sama dengan laki-laki sampai ada dalil yang membedakannya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إنما النساء شقائق الرجال

“Wanita adalah bagian dari pria.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Maksudnya adalah shalat jama’ah bersama wanita tetap dibolehkan sebagaimana pria berjama’ah dengan sesama pria.

2. Tidak ada larangan mengenai shalat wanita bersama wanita lainnya.

3. Hal ini juga pernah dilakukan oleh beberapa sahabat wanita seperti Ummu Salamah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma. (Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 509)
Dari Roithoh Al Hanafiyah, dia mengatakan:

أن عائشة أمتهن وقامت بينهن في صلاة مكتوبة

“’Aisyah dulu pernah mengimami para wanita dan beliau berdiri (sejajar) dengan mereka ketika melaksanakan shalat wajib.” (HR. ‘Abdur Rozak, Ad Daruquthniy, Al Hakim dan Al Baihaqi. An Nawawi mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Namun hadits ini dilemahkan/ didho’ifkan oleh Syaikh Al Albani, namun dia memiliki penguat dari hadits Hujairoh binti Husain. Lihat Tamamul Minnah, hal. 154)
Begitu juga hal yang sama dilakukan oleh Ummu Salamah. Dari Hujairoh binti Husain, dia mengatakan:

أمتنا أم سلمة في صلاة العصر قامت بيننا

“Ummu Salamah pernah mengimami kami (para wanita) ketika shalat Ashar dan beliau berdiri di tengah-tengah kami.” (HR. Abdur Rozak, Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqi. Riwayat ini memiliki penguat dari riwayat lainnya dari jalur Qotadah dari Ummul Hasan)

Ummul Hasan juga pernah melihat Ummu Salamah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengimami para wanita (dan Ummu Salamah berdiri) di shaf mereka. (Atsar ini adalah atsar yang bisa diamalkan sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah, hal. 504)
Ada pula ulama yang menganjurkan shalat jama’ah bagi wanita dengan sesama mereka berdasarkan hadits dalam riwayat Abu Daud dalam Bab “Wanita sebagai imam”,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزُورُهَا فِى بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا. قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا رَأَيْتُ مُؤَذِّنَهَا شَيْخًا كَبِيرًا.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi Ummu Waroqoh di rumahnya. Dan beliau memerintahkan seseorang untuk adzan. Lalu beliau memerintah Ummu Waroqoh untuk mengimami para wanita di rumah tersebut.”
‘Abdurrahman (bin Khollad) mengatakan bahwa yang mengumandangkan adzan tersebut adalah seorang pria tua.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Pelajaran penting: Dalam shalat jama'ah jika yang melaksanakannya adalah sesama wanita dan salah satu wanita menjadi imam, maka yang menjadi imam berdiri di tengah-tengah shaf dan bukan maju ke depan.

Shalat Jama’ah Wanita Bersama Lelaki

Hal ini dibolehkan bagi wanita, baik wanita itu sendiri sebagai makmum atau bersama makmum wanita lainnya atau dia berada di belakang jama’ah pria. Hal ini berdasarkan banyak dalil di antaranya adalah hadits dari Anas.

Anas mengatakan, “Aku shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami secara jama’ah di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ibuku –yakni Ummu Salamah (nama aslinya adalah Rumaysho)- berada di belakang kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu juga terdapat hadits dari Ummu Salamah. Dia mengatakan, “Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat.” (HR. Bukhari)

Tidak Dibolehkan Wanita yang Bukan Mahrom Bermakmum di Belakang Seorang Lelaki

Kalau seorang wanita bermakmum di belakang suami atau yang masih mahrom dengannya, ini dibolehkan karena tidak ada ikhtilath yaitu campur baur yang terlarang di antara pria dan wanita karena masih mahrom.

Namun jika wanita tersebut bermakmum sendirian di belakang imam yang bukan mahrom tanpa ada jama’ah wanita atau pria lainnya, maka ini terlarang. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)

Namun boleh jika ada wanita yang lain, sedangkan imamnya sendiri tanpa ada jama’ah pria karena pada saat ini sudah tidak ada fitnah (godaan dari wanita). Akan tetapi, jika masih ada fitnah, tetap hal ini tidak dibolehkan. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik, 510)

Yang Lebih Baik Bagi Wanita Adalah Shalat Di Rumahnya

Wanita tetap diperkenankan mengerjakan shalat berjama’ah di masjid, namun shalat wanita lebih baik adalah di rumahnya.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Lihat pembahasan terkait di sini.

3 Syarat yang Harus Dipenuhi Wanita Jika Ingin Melakukan Shalat Jama’ah Di Masjid

Pertama, minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami tidak melarangnya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ
“Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.” (HR. Muslim). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “Keluarnya wanita ke masjid, jika tidak menimbulkan fitnah dan selama tidak menggunakan harum-haruman.”

Bahkan tidak boleh seseorang menghalangi wanita atau istrinya ke masjid sebagaimana dapat dilihat dalam kisah berikut. Lihatlah kisah Bilal bin Abdullah bin ‘Umar dengan ayahnya berikut.
Dalam Shohih Muslim no. 442 dari jalan Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا
“Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.”

Kemudian Bilal bin Abdullah bin ‘Umar mengatakan,
وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ

“Demi Allah, sungguh kami akan menghalangi mereka.”


Lalu Abdullah bin ‘Umar mencaci Bilal dengan cacian yang keras yang aku belum pernah mendengar sama sekali cacian seperti itu dari beliau. Kemudian Ibnu Umar mengatakan, “Aku mengabarkan padamu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu engkau katakan, ‘Demi Allah, kami akan mengahalangi mereka!!’

Kedua, tidak boleh menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang dapat menimbulkan fitnah.


Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ

“Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya’ bersama kami.” (HR. Muslim)


Zainab -istri ‘Abdullah- mengatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada para wanita,

إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيبًا

“Jika salah seorang di antara kalian ingin mendatangi masjid, maka janganlah memakai harum-haruman.” (HR. Muslim)

Ketiga, jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur yang terlarang antara pria dan wanita) ketika masuk dan keluar dari masjid.
Dalilnya adalah hadits dari Ummu Salamah:

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا سلم قام النساء حين يقضي تسليمه ويمكث هو في مقامه يسيرا قبل أن يقوم . قال نرى - والله أعلم - أن ذلك كان لكي ينصرف النساء قبل أن يدركهن أحد من الرجال

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dan ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat sebelum dia berdiri. Kami menilai –wallahu a’lam- bahwa hal ini dilakukan agar wanita terlebih dahulu meninggalkan masjid supaya tidak berpapasan dengan kaum pria.” (HR. Bukhari)

12.6.10

Jiwaku berkata kepadaku

Jiwa

Jiwaku berkata kepadaku
Hai kau yang telah disibukkan oleh
Fatamorgana dunia .....
Apa yang ingin kau cari dari dunia...?
Lihatlah...tak ada orang yang memandangmu
Cahaya pun enggan menyinari mu
Dirimu dirimu dikala pagi
Tuhanpun muak dengan dosa dosamu
Tingkahlakumu...............
Kau beribadah kepada Nya
Tapi kau juga bermaksiat kepada Nya
Apakah kau yakin ibadahmu diterima oleh Nya?
Apakah kau yakin taubatmu di ampuni oleh NYa?
Tangisilah dirimu dengan tangisan penyesalan
Sepanjang hidupmu

Jiwaku bertanya kepadaku
Apa yang ingin kau cari dari sandiwara dunia ini
Apakah kau mencari cinta....?
Lihatlah cinta...
Lihatlah berapa banyak orang yang terluka
Karena cinta
Lihatlah cinta...
Apakah kau ingin cari cinta
Sampai bila kau akan disibukkan dengan urusan cinta?

Sebelum jiwaku menasehatiku
Aku berkata........
Cinta yang ada dihatiku
Bagaikan seutas benang tipis yang terikat oleh pasak
Jiwaku menasehati dan meng ajariku
agar mencintai mereka yang membenciku
Dan menjalin persahabatan dengan mereka yang memusuhiku

Jiwaku menunjukan kepadaku,
cinta mengembangkan dirinya
Tidak hanya kepada mereka yang mencintai,
Tetapi juga kepada mereka yang dicintai
Namun sekarang cinta sudah menjadi
Lingkaran cahaya tanpa awal maupun akhir
Cinta mengelilingi insan dan perlahan akan merengkuh semuanya

Sebelum jiwaku menasehatiku
Aku melihat kecantikan laksana obor yang bergoyang
Diantara kepulan asapnya...
Namun manakal asap itu hilang tersapu angin
Aku tak melihat apapun melainkan
Api yang menyala nyala

Jiwaku menasehatiku dan mengajari aku
Untuk mendengar suara yang tak terdengar
Oleh telinga, takterucapkan oleh lidah
Tenggorokan dan bibir insan

Sebelum jiwaku menasehatiku
Aku tak mendengar suara apapun
Kecuali tangisan dan jeritan
Namun, kini aku mencari keheningan dan
Mampu mendengarnya melantunkan lagu dan sajak
Kepada usia dan angkasa serta mimpi
Mengungkapkan rahasia dari Yang Tak terlihat

Jiwaku menasehatiku
Untuk menyentuh impianku
Yang belum terwujud
Jiwaku mengatakan padaku bahwa
Apapun yang kita sentuh itu
Sebenarnya bagian dari keinginan kita
Namun kini jemariku tak kuasa
Untuk melukis semua yang ada dalan khayalanku
Dan menulis semua yang ada dalam hatiku
Yang bercampur dengan kegelisahan yang tak Nampak

Jiwaku menasehatiku
Janganlah kau mengukur waktu dengan berkata
semalam adalah masa lalu dan
Esok adalah impian
Sebelum jiwaku mengatakan hal itu
Aku membayangkan
Masa lalu sebagai yang tek terulang
Dan masa depan adalah sesuatu yang tak teraih

Jiwaku berkata kepadaku
Apa yang kau inginkan dari dunia ini
Apakah kau tak melihat kuasa Tuhanmu
Lihatlah.....
Langit membentang tanpa tiang
dan planet planet bergerak sesuai perhitungan
dan air yang dipertemukan
tapi ada perbedaan diantara keduanya
lihatlah kuasa Tuhanmu
Ia menjadikan manusia berpasang pasangan
Dan Ia menciptakan pasanganmu dari jenismu sendiri
Agar kau senang akan hal itu
Apakah kau tak lihat surga
Yang diceritakan dalam kitab sucimu
Yang di bawahnya mengalir air susu dan arak
Yang setiap saat kau bisa meneguknya
Tanpa kau merasa kenyang akan hal itu
Apa yang perlu kau ragukan lagi
Di surga sana terdapat bidadari bidadari
Bermata bening yang belum pernah di sentuh oleh siapapun
Dan kau halal akan bidadari itu
semua yang tercipta adalah untukku, untukmu,dan untuk kita

sebelum jiwaku berkata kepadaku akan hal itu
aku mencuba mensyukuri atas nikmat Tuhanku
yang telah di anugerahkan kepadaku
sehingga hatiku dapat mendengar semua yang kau ucapkan
aku mencuba bersyukur atas nikmat Tuhanku....

jiwaku mengajariku dan menasehatiku
tentang banyak hal......
saudaraku sebagaimana pula jiwamu menasehatimu
sesungguhnya engkau dan diriku adalah Satu
tak ada perbedaan diantara kita
kecuali ketegasan yang ada di dalam diriku
yang engkau jaga sebagai sebuah rahsia
yang ada dalam hatimu


7.6.10

Berserah kepada Allah

Persoalan menyerah diri sering menimbulkan kekeliruan kepada orang yang berlarutan membincangkan mengenainya. Suasana hati dan darjat akal mengeluarkan berbagai-bagai huraian tentang berserah diri kepada Allah s.w.t.

Ada orang beranggapan berserah diri adalah berpeluk tubuh, tidak melakukan apa-apa. Ada pula berpendapat orang yang berserah diri itu hidup dalam ibadat semata-mata, tidak memperdulikan kehidupan harian. Banyak lagi anggapan dan pendapat yang dikemukakan dalam menjelaskan mengenai berserah diri.

Sifat orang yang berserah diri adalah merujuk sesuatu perkara yang diperselisihkan kepada Allah s.w.t. Mereka tidak taasub memegang sesuatu fahaman yang diperolehi melalui fikirannya atau pendapat orang lain. Mereka bersedia melepaskan fahaman dan pendapat peribadi sekiranya ia bercanggah dengan peraturan dan hukum Tuhan. Sewaktu hidup di dalam dunia ini lagi mereka mengembalikan segala urusan kepada Allah s.w.t kerana mereka yakin bahawa diri mereka dan urusan mereka akan kembali juga kepada Allah s.w.t di akhirat kelak.

Perjumpaan dengan Allah s.w.t di akhirat menguasai tindakan mereka sewaktu hidup di dunia ini.
Dan (katakanlah wahai Muhammad kepada pengikut-pengikutmu): “Apa jua perkara agama yang kamu berselisihan padanya maka hukum pemutusnya terserah kepada Allah; Hakim yang demikian kekuasaan-Nya ialah Allah Tuhanku; kepada-Nya jualah aku berserah diri dan kepada-Nya jualah aku rujuk kembali (dalam segala keadaan)”. ( Ayat 10 : Surah asy-Syura )

Orang yang berserah diri kepada Allah s.w.t, mengembalikan urusan mereka kepada-Nya, meyakini bahawa golongan manusia yang benar-benar mengerti kehendak Allah s.w.t adalah golongan nabi-nabi. Oleh itu pegangan dan tindakan para anbia mesti dijadikan sandaran dalam membentuk pegangan peribadi dan juga dalam melakukan tindakan.

Dan ia (Yaakub) berkata lagi: “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk (ke bandar Mesir) dari sebuah pintu sahaja, tetapi masuklah dari beberapa buah pintu yang berlain-lain. Dan aku (dengan nasihatku ini), tidak dapat menyelamatkan kamu dari sesuatu takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Kuasa menetapkan sesuatu (sebab dan musabab) itu hanya tertentu bagi Allah. Kepada-Nya jualah aku berserah diri, dan kepada-Nya jualah hendaknya berserah diri orang-orang yang mahu berserah diri”. ( Ayat 67 : Surah Yusuf )

Ayat di atas menceritakan sifat berserah diri yang ada pada Nabi Yaakub a.s. Beliau a.s menasihatkan anak-anaknya yang sebelas orang itu memasuki kota Mesir melalui pintu-pintu yang berlainan. Ia menunjukkan Nabi Yaakub a.s mengakui tuntutan berikhtiar sebagaimana kedudukan mereka sebagai manusia. Walaupun begitu Nabi Yaakub a.s mengingatkan pula anak-anaknya bahawa mengikuti nasihat beliau a.s bukanlah jaminan yang anak-anaknya akan selamat dan mendapatkan apa yang mereka cari.

Ikhtiar pada zahir mesti disertai dengan iman pada batin. Orang yang beriman meyakini bahawa Allah s.w.t sahaja yang mempunyai kuasa penentuan. Oleh yang demikian orang yang beriman dituntut agar berserah diri kepada Allah s.w.t sahaja, tidak berserah diri kepada yang lain, sekalipun yang lain itu adalah malaikat, wali-wali ataupun ayat-ayat Allah s.w.t. Allah s.w.t yang menguasai malaikat, wali-wali dan ayat-ayat-Nya.

Penyerahan bulat kepada Allah s.w.t bukan kepada sesuatu yang dinisbahkan kepada-Nya. Perkara ini dinyatakan oleh Nabi Hud a.s sebagaimana yang diceritakan oleh ayat berikut:

“Kerana sesungguhnya aku telah berserah diri kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu! Tiadalah sesuatupun dari makhluk-makhluk yang bergerak di muka bumi melainkan Allah jualah yang menguasainya. Sesungguhnya Tuhanku tetap di atas jalan yang lurus”. ( Ayat 56 : Surah Hud )

Tuhan berada di atas jalan yang lurus. Tuhan tidak mengantuk, tidak lalai, tidak keliru dan tidak melakukan kesilapan. Apa sahaja yang Tuhan lakukan adalah benar dan tepat. Tuhan berbuat sesuatu atas dasar ketuhanan dan dengan sifat ketuhanan, tidak ada pilih kasih. Dia adalah Tuhan Yang Maha Adil. Pekerjaan-Nya adalah adil. Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengerti dan Maha Bijaksana. Pekerjaan-Nya adalah sempurna, teratur dan rapi. Dia adalah Tuhan Pemurah dan Penyayang. Pekerjaan-Nya tidak ada yang zalim. Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan yang baik-baik itu mengadakan peraturan untuk diikuti. Mengikuti peraturan-Nya itulah penyerahan kepada-Nya. Nabi-nabi dan orang-orang yang beriman diperintahkan supaya menyampaikan kepada umat manusia apa yang datang daripada Allah s.w.t. Pekerjaan manusia adalah menyampaikan. Jika apa yang disampaikan itu tidak diterima, maka serahkannya kepada Allah s.w.t. Dia memiliki Arasy yang besar, yang memagari sekalian makhluk. Tidak ada makhluk yang dapat menembusi Arasy-Nya. Arasy-Nya adalah pagar Qadar. Apa yang dia ciptakan dan tentukan untuk makhluk-Nya dipagari oleh Arasy.

Kemudian jika mereka berpaling ingkar, maka katakanlah (wahai Muhammad): “cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; kepada-Nya aku berserah diri, dan Dia jualah yang mempunyai Arasy yang besar”. ( Ayat 129 : Surah at-Taubah )
Tauhid adalah kesudahan pencapaian. Pada peringkat ini, syirik tidak ada lagi walaupun sebesar zarah. Dalam proses mencapai tauhid perlu ada pengasingan dan perbezaan antara Tuhan dengan yang selain Tuhan. Tidak boleh diadakan sekutu bagi Tuhan. Tidak boleh meletakkan anasir alam, amal, doa dan sebagainya pada kedudukan yang boleh menyebabkan timbul anggapan yang selain Tuhan itu mampu mencabar kekuasaan Tuhan. Tidak boleh terjadi ketaatan dan penyayangan terhadap sesuatu melebihi ketaatan dan penyayangan terhadap Allah s.w.t.

SANDARKAN NIAT KEPADA ALLAH S.W.T

SANDARKAN NIAT KEPADA ALLAH S.W.T

TIDAK SIA-SIA SESUATU MAKSUD APABILA DISANDARKAN KEPADA ALLAH S.W.T DAN TIDAK MUDAH TERCAPAI TUJUAN JIKA DISANDARKAN KEPADA DIRI SENDIRI.

Hikmat yang lalu menggambarkan keadaan hamba Allah s.w.t yang mempunyai maksud yang baik iaitu mahu mengubah dunia supaya menjadi tempat kehidupan yang sentosa, tetapi ternyata gagal melaksanakan maksudnya apabila dia bersandar kepada kekuatan dirinya sendiri. Allah s.w.t menyifatkan dunia sebagai tempat huru-hara dan kekeruhan. Sesiapa yang memasukinya pasti berjumpa dengan keadaan tersebut.

Kekuatan huru-hara dan kekeruhan yang ada pada dunia sangatlah kuat kerana Allah s.w.t yang meletakkan hukum kekuatan itu padanya. Percubaan untuk mengubah apa yang Allah s.w.t tentukan akan menjadi sia-sia. Allah s.w.t yang menetapkan sesuatu perkara, hanya Dia sahaja yang dapat mengubahnya.

Segala kekuatan, baik dan buruk, semuanya datang daripada-Nya. Oleh yang demikian jika mahu menghadapi sesuatu kekuatan yang datang dari-Nya mestilah juga dengan kekuatan-Nya. Kekuatan yang paling kuat bagi menghadapi kekuatan yang dipunyai oleh dunia ialah kekuatan berserah diri kepada Allah s.w.t. Kembalikan semua urusan kepada-Nya.

Rasulullah s.a.w telah memberi pengajaran dalam menghadapi bencana dengan ucapan dan penghayatan:


Kami datang dari Allah. Dan kepada Allah kami kembali.

Semua perkara datangnya dari Allah s.w.t dan akan kembali kepada Allah s.w.t juga. Misalnya, api yang dinyalakan, dari mana datangnya jika tidak dari Allah s.w.t dan ke mana perginya bila dipadamkan jika tidak kepada Allah s.w.t.

Apabila sesuatu maksud disandarkan kepada Allah s.w.t maka menjadi hak Allah s.w.t untuk melaksanakannya.

Nabi Adam a.s mempunyai maksud yang baik iaitu mahu menyebarkan agama Allah s.w.t di atas muka bumi ini dan menyandarkan maksud yang baik itu kepada Allah s.w.t dan Allah s.w.t menerima maksud tersebut.

Setelah Nabi Adam a.s wafat, maksud dan tujuan beliau a.s diteruskan. Allah s.w.t memerintahkan maksud tersebut dipikul oleh nabi-nabi yang lain sehingga kepada nabi terakhir iaitu Nabi Muhammad s.a.w.

Setelah Nabi Muhammad s.a.w wafat ia dipikul pula oleh para ulama yang menjadi pewaris nabi-nabi. Ia tidak akan berhenti selama ada orang yang menyeru kepada jalan Allah s.w.t.

Jika dipandang dari segi perjalanan pahala maka boleh dikatakan pahala yang diterima oleh Nabi Adam a.s kerana maksud baiknya berjalan terus selama agama Allah s.w.t berkembang dan selagi ada orang yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya ini.

Maksud menyerah diri kepada Allah s.w.t, bersandar kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya mesti difahami dengan mendalam. Kita hendaklah memasang niat yang baik, dan beramal bersesuaian dengan makam kita. Allah s.w.t yang menggerakkan niat itu dan melaksanakan amal yang berkenaan.

Cara pelaksanaannya adalah hak mutlak Allah s.w.t. Kemungkinan kita tidak sempat melihat asas yang kita bina siap menjadi bangunan namun, kita yakin bangunan itu akan siap kerana Allah s.w.t mengambil hak pelaksanaannya. Maksud dan tujuan kita tetap akan menjadi kenyataan walaupun kita sudah memasuki liang lahad. Pada masa kita masih hidup kita hanya sempat meletakkan batu asas, namun pada ketika itu mata hati kita sudah dapat melihat bangunan yang akan siap.

Tidak ada jalan bagi seseorang hamba kecuali berserah diri kepada Tuannya. Semua penuh hikmat , sekiranya disambungkan akan membentuk satu landasan yang menuju satu arah iaitu berserah diri kepada Allah s.w.t. Hikmat-hikmat yang telah dipaparkan membicarakan soal pokok yang sama, disuluh dari berbagai-bagai sudut dan aspek supaya lebih jelas dan nyata bahawa hubungan sebenar seorang hamba dengan Tuhan ialah berserah diri, reda dengan lakuan-Nya.

Rasulullah s.a.w telah mewasiatkan kepada Ibnu Abbas r.a:

Apabila kamu bermohon, maka bermohonlah kepada Allah s.w.t. Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah s.w.t. Dan, ketahuilah bahawa sekiranya sekalian makhluk saling bantu membantu kamu untuk memperolehi sesuatu yang tidak ditulis Allah s.w.t untuk kamu, pasti mereka tidak akan sanggup mengadakannya. Dan, sekiranya sekalian makhluk mahu memudaratkan kamu dengan sesuatu yang tidak ditulis Allah s.w.t buat kamu, nescaya mereka tidak sanggup berbuat demikian. Segala buku telah terlipat dan segala pena telah kering.

26.5.10

yang kedua...

Semua usaha untuk menjelaskan pemaknaan kerja cinta dalam poligami, misalnya melalui konsep tim kehidupan, dengan cara bagaimana pun, tetap akan lebih mudah dimasukkan ke dalam akal ketimbang membuatnya diterima perasaan. Bagi semua perempuan, inilah perjuangan maha berat di alam perasaan.

Yang membuatnya berat di alam perasaan adalah fakta bahwa kebanyakan perempuan menemukan rasa percaya dirinya dari persepsi lingkungan terhadap dirinya, termasuk dari si suami.
Maka di alam perasaan mereka, para perempuan yang menjadi bagian dari sebuah keluarga poligami lebih sering dipersepsi sebagai korban cinta yang perlu dikasihani. Sebab mereka hanyalah perempuan2 lemah yang tidak punya pilihan lain. Jangan lupa... ada diantara mereka asalnya sangat membenci poligami tetapi kerana takdir mereka pasrah.


Rasanya tidak ada yang perlu diingkari dari fakta-fakta tentang persepsi itu. Sama seperti tidak ada yang perlu diingkari bahwa fakta-fakta tentang kebanyakan perempuan yang menjadi bagian dari keluarga poligami umumnya tidak punya pilihan lain memang merupakan fakta yang nyata. Tidak ada yang salah pada fakta-fakta itu. Mengakuinya juga bukan suatu kehinaan.

Tapi untuk sebagiannya itu merupakan penjelasan tentang mengapa banyak keluarga poligami tidak berhasil menjadi sebuah tim kehidupan yang solid dan efektif. Dan untuk sebagian yang lain menjelaskan mengapa kebanyakan perempuan tidak bersedia menjadi bagian dari keluarga poligami, bahkan ketika pilihan itu jauh lebih baik dari pilihan yang lain.


Sebuah tim kehidupan tidak akan dapat dibentuk dan menjadi solid dan efektif kecuali apabila semua anggota tim itu menyadari secara mendalam mengapa ia bergabung dalam tim tersebut. Maka menjadi isteri kedua, ketiga atau keempat misalnya, ketika kita tidak lagi punya pilihan lain karena berbagai alasan, bisa manjadi faktor yang menyulitkan proses team building.

Mungkin bukan karena kita kekurangan cinta. Tapi lebih karena secara mental kita sering merasa tidak sepadan. Menikah dari rasa kasihan bukan tidak mungkin bertahan lama dan abadi. Tapi sering tidak cukup untuk membangun fondasi yang kokoh bagi seluruh hubungan jangka panjang yang sehat dan produktif.


Maka menjadi isteri pertama, kedua, dan seterusnya harus merupakan sebuah pilihan yang diambil secara sadar dan proaktif. Persis ketika Aisyah menyadari bahwa walaupun perawan, muda, cantik, cerdas, kaya, ia bukan yang pertama bagi Rasulullkah saw. Ia adalah yang ketiga setelah Khadijah dan Saudah.

Persis ketika ia juga menyadari bahwa walaupun berkali-kali Rasulullah saw mendeklarasikannya sebagai sebagai isteri yang paling dicintai, Rasulullah saw tetap saja menikah lagi sesudahnya. Kemudaan, kecantikan, kecerdasan, dan kekayaan adalah gabungan dari semua faktor yang membuat perempuan mempunyai banyak pilihan. Tapi Aisyah telah memilih secara sadar.

Persis ketika Rasulullah saw dengan sadar menikahi Khadijah yang janda dan lebih tua dari beliau. Mereka semua punya pilihan lain selain itu. Tapi mereka memilih pilihan ini. Sebagai pilihan terbaik mereka. Secara sadar. Sadar penuh. Maka mereka berkembang menjadi tim kehidupan yang solid, efektif dan produktif.


24.5.10

all .... i can do

it's hard to let go the past.....
i wish i can do it
all i can do...
endure the pain
and stay bright in front of people....

all i can do...
sit at the end of corner...
scream in my heart...
and crying all alone....
that's all

tentang KASIH SAYANG

KASIH SAYANG DARIKU BUKAN YANG TERINDAH,
TETAPI KU CUBA MENJADIKAN INSAN ITU MERASA INDAH.
KEIKHLASAN TAK MUNGKIN DILIHAT,NAMUN MAMPU DINILAI YANG BERHAK MENILAI.MOGA KEIKHLASAN ITU MILIK KITA

MANUSIA AKAN BERUSAHA UNTUK BERKORBAN PADA YANG DISAYANGI,
WALAU PAYAH.
IA TETAP AKAN BELAJAR.
KERANA BERKORBAN JUGA HARUS BELAJAR.
HATI TAKKAN TERIMA UNTUK BERKORBAN ANDAI TAK DIPAKSA.
MEMAKSA HATI ITULAH SATU PEMBELAJARAN

Tentang RINDU

Rindu ini bukan rindu uda dan dara,
Rindu ini tak sehebat Laila dan Majnun,
tetapi rindu ini hebat kerana sandaran Ilahi.
Rindu ini akan dibaja dengan ibadah,
Rindu ini ikatannya akidah
Rindu ini takkan kalah dek mehnah
Rindu ini mekar kerna percaya
Rindu yang'kaya' dan 'berjaya'
Rindulah wahai Sang Perindu
Rindulah pada berhak dirindu
Rindu yang pastinya membawa keredhaan dan bahagia

14.5.10

Sakit Sebagai Lahan Sabar dan Tafakur


Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym)

Semoga Allah SWT yang menguasai tubuh kita memberikan karunia kesehatan lahir dan batin yang dapat disyukuri. Sebab ada saatnya sehat yang tidak disyukuri mengantarkan orang kepada maksiat. Kalaupun Allah memberikan ujian sakit, mudah-mudahan orang yang sakit itu bisa menyikapinya dengan sabar. Sebab, adakalanya orang yang sakit menjadi hina karena ketidaksabarannya dan orang yang sehat menjadi hina karena ketidaksyukurannya.

Allah berfirman dalam Alquran, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran” (Q.S. al-Ashr: 1-3).

Dari ayat di atas dapat kita lihat bahwa kata-kata “sabar” adalah kuncinya. Dalam ayat lain juga disebutkan tentang sabar seperti, “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.S. Albaqarah: 153).

Begitu pentingnya kesabaran sehingga pahala orang yang sabar bighayri hisaab, lewat dari perhitungan Allah (melampaui batas).

Kalau kita sadari, hidup sukses, menang mengarungi hidup, mendapatkan pertolongan Allah di kala sulit, dan kemampuan untuk akrab bersama-Nya, ternyata hanya dimiliki oleh orang-orang yang sabar. Maka sudah sepatutnya bagi kita untuk lebih serius lagi mengevaluasi kualitas kesabaran kita. Makin sabar kita, maka makin mantap kita menghadapi hidup ini.

Lalu, apa sebenarnya “sabar” itu? Sederhananya, sabar itu adalah kegigihan kita untuk tetap berada di jalan yang disukai oleh Allah.

Dalam tulisan berikut ini akan kita bahas kesabaran ketika kita sedang ditimpa sakit.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan, Innalillahi wa inna ilaihi raaji`uun (Q.S. Albaqarah: 155-156).

Ayat di atas hendaknya menjadi tuntunan bagi kita ketika sedang ditimpa musibah, khususnya sakit.

Berprasangka baik kepada Allah

Ada beberapa akhlak sabar yang sebenarnya bisa kita latih saat kita sakit. Pertama-tama kita harus sabar dalam berprasangka baik kepada Allah. Dengan begini kita akan menyadari bahwa tubuh ini sebenarnya milik Allah bukan milik kita. Sedikit pun kita tak punya kuasa pada tubuh ini.

Karena kita sadar kalau tubuh ini bukan milik kita tetapi milik Allah, sehingga kuasa-Nya tak akan bisa dicegah oleh makhluk. Meski dokter-dokter diturunkan untuk menolong kita, tanpa kehendak-Nya, sakit yang kita alami tak akan sembuh-sembuh, betapapun gagahnya tubuh kita.

Namun, Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya. Sakit yang menimpa tubuh kita sudah pasti telah diukur oleh Allah. Sesakit apa pun derita yang kita alami pasti sudah diukur. Bahkan sampai yang “luar biasa” pun telah diukur oleh Allah. Tidak mungkin Allah memberikan kepada kita sesuatu yang tidak sanggup kita pikul. Karena yang menciptakan saraf sakit juga Allah yang Mahakuasa.

Maka yakinilah selalu bahwa setiap sakit yang kita derita pada hakikatnya sudah diukur oleh Allah. Karena itu, biasakanlah untuk selalu mengucapkan, “Innalillahi wa inna ilaihi raaji`uun”, saya adalah milik Allah, Allah sangat mampu berbuat apa saja kepada diri ini. Karena, kalau saja tenggorokan ini milik kita, maka kita akan melarangnya untuk terbatuk-batuk. Kenyataannya, tetap saja tubuh ini milik Allah yang tidak bisa kita atur seenaknya.

Tidak berkeluh kesah

Akhlak kedua agar kita bisa bersabar ketika sakit adalah berusaha untuk tidak berkeluh kesah. Sebab keluh kesah termasuk tanda-tanda dari ketidaksabaran, Ngarasula kalau dalam bahasa Sunda. Sampai-sampai berucap begini, Auuhhh… aing ieu mah nyeri pisan (Aduh, ini sakit sekali rasanya). Alaahhh siah mamah ieu mah teu kuat, ngajeletotna kabina-bina (Aduh Mak, nggak kuat, sakitnya sakit sekali).

Biasanya, orang menderita itu bukan karena sakitnya, tapi karena dramatisasinya. Dan termasuk tidak sabar kalau kita ingin menceritakan sakit kita dan yang diceritakan itu lebih daripada kenyataan. Belum-belum berkata begini, “Aduuuhh, ieu, peurih…, peurih yeuh” (Aduuh, ini sakit sekali) Padahal sebenarnya biasa-biasa saja rasa sakitnya itu.

Kebiasaan mendramatisasi rasa sakit ini ternyata ada saja yang menyukainya. Entah mengapa, ada semacam kesenangan ketika melihat ada orang yang bersimpati padanya. Dia puas mengajak orang lain menderita. Padahal, ini pun termasuk dari sikap tidak sabar menghadapi sakit.

Oleh karena itu, betapa pun parahnya penyakit kita, cobalah untuk memproporsionalkannya. Tak usah kita sampai berteriak-teriak segala. Maka ketika kita sakit cobalah latihan sabar untuk tidak mendramatisasinya.

Kalau awalnya kita mengekspos ke mana-mana, maka ada baiknya mulai saat ini kita mengeluh dengan menyebut nama Allah. Seperti, “Yaa Allah, ya Rabb, ya Syafii….” Ucapan semacam ini jelas akan membawa manfaat dan pahala.

Untuk ibu-ibu yang akan melahirkan, misalnya, tak usah sampai menyebut-nyebut nama pendamping. Soalnya suami pun tidak bisa berbuat apa-apa saat itu, sampai berucap, “Papaahhh….” Kalau kemudian kita meninggal saat itu, bisa jadi tidak ada pahalanya. Na`udzubullahi min dzaliq. Lebih baik nama Allah saja yang disebut, seperti, “Ya Allah, ya syafii, ya ghafururrahiim, ya arhamar raahimiin, ya shabuur, ya arhamarraahimiin”. Insya Allah sakitnya akan diubah oleh Allah menjadi nikmat.

Di samping itu, jangan jadikan sakit kita itu membuat kita bermanja-manja dengan membebani orang lain. Selagi masih sanggup, jangan korbankan harga diri kita kecuali kalau orang itu senang membantu. Namun kalau kita sampai diharuskan bed rest (beristirahat di tempat tidur), maka, adalah suatu kezaliman pada diri sendiri bila kemudian kita memaksakan tubuh kita untuk bergerak.

Menafakuri hikmah sakit

Akhlak selanjutnya adalah sabar menafakuri hikmah sakit. Banyak hikmah ketika sakit yang sebenarnya bisa kita raup. Ambil contoh kecil, ketika kita sariawan. Bibir memang terasa tak enak, makan pun jadi tak enak. Tapi, bandingkanlah sakit kita dengan mereka yang lebih sulit lagi dari sariawan, yang lebih parah lagi sakitnya. Maka dari sini kita bisa menilai bahwa masih ada lagi orang yang lebih parah sakitnya daripada yang kita rasakan.

Bersabar dalam menafakuri hikmah sakit dapat pula berarti bersabar menjalani proses sakit yang kita alami. Salah satu hikmah sakit ialah gugurnya dosa bagaikan gugurnya daun-daun pepohonan. Dengan begitu, salah satu hikmah sakit yang bisa kita reguk ialah kesempatan kita untuk ber-muhasabah, mengintrospeksi diri, terutama terhadap sejumlah kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan.

Menyempurnakan ikhtiar untuk sembuh

Ada kalanya orang yang sakit terkadang tidak disiplin memakan obat. Ada orang yang harus ke dokter ini-itu tetapi terus mengeluh karena uangnya habis untuk berobat. Padahal tanpa disadarinya biaya itu pun pada dasarnya dari Allah. Ada juga yang bertahun-tahun terus mengeluh karena penyakit yang ia derita tidak sembuh-sembuh, padahal telah berobat ke sana-kemari.

Untuk menyikapinya, cobalah pakai “teori jeruk”. Gambarannya kurang lebih seperti ini, ada seorang ibu yang membeli jeruk sebanyak satu kilo. Ketika ia mencoba mencicipinya ternyata jeruk itu masam semua. Kemudian ia protes pada penjualnya dengan mengatakan, “Kok jeruknya asem semua?” Si penjual balik bertanya, “Ibu beli berapa kilo?” Ibu itu menjawab, “Tiga kilo saya beli!” Penjualnya lantas balik menjawab, “Ibu beli tiga kilo, saya tiga karung! asem semua.

”Untuk itu bersabarlah, karena sakit juga akan menggugurkan dosa-dosa kita. Dalam sebuah hadis Bukhari diriwayatkan bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas’ud r.a. menghampiri Rasulullah yang tengah sakit. Saat itu ia meraba tangan rasul sambil berkata, “Ya Rasulullah, penyakit Anda sangat berat.” Rasulullah memberikan jawaban, “Benar, penyakit saya ini sama dengan penyakit dua orang di antara kamu.” Abdullah menjawab lagi, “Itulah sebabnya Anda mendapat pahala dua kali lipat.” Segera Rasul membalas, “Benar!” Dan dilanjutkan dengan sabdanya lagi, “Setiap orang Islam yang mendapat bencana penyakit dan lain-lain, maka Tuhan menggugurkan (mengampuni) kesalahan-kesalahannya, sebagaimana pohon kayu menggugurkan daunnya.

”Tidak ada yang salah dengan sakit. Yang salah adalah sikap kita terhadapnya. Kalau kita rida, Wa man radhiya falahu ridha, barang siapa rida pada ketentuan Allah, Dia pun akan rida kepadanya.

Berniat untuk sembuh

Terakhir, kita harus terus ber-azam untuk berniat sembuh. Jangan sampai sakit menjadi alasan serta sarana untuk menggampang-gampangkan ibadah. Sabar untuk berniat sembuh akan memotivasi kita agar tidak menyerah pada rasa sakit. Perjuangan kita menjalani rasa sakit insya Allah dicatat sebagai jihad fii sabilillah. Justru di saat sakit itulah kita membuktikan ketaatan kita kepada Allah SWT.

Dengan selalu memancangkan niat untuk sembuh akan membuat diri kita benar-benar sembuh, tidak cuma sembuh secara fisik tapi juga sembuh dari sisi spiritual. Inilah yang sering kita sebut dengan sehat walafiat. Ukurannya adalah, ketika kita sembuh ibadah kita justru makin meningkat. Ini berarti kita telah mencapai kesembuhan secara afiat. Karena sakit justru telah menjadi sarana peningkatan ibadah dan inilah yang akan mengantarkan kita untuk lebih baik lagi dalam mengarungi hidup dengan penuh kesabaran. Wallahualam bishshawab.***

3.5.10

Adakah amal kita diterima Allah??


Tanda Diterima Amal

Siapa yang dapat merasakan buah dari amal ibadatnya di dunia ini, maka itu dapat dijadikan tanda diterimanya amal itu oleh Allah kelak.

Buah dari amal ibadat di dunia ini ialah merasakan lazat manisnya amal itu, sehingga terasa sebagai nikmat yang tidak ada bandingnya.


Atabah al-Ghulam berkata:

“Saya melatih diri sembahyang malam dua puluh tahun, setelah itu baru saya merasakan nikmat bangun malam”.


Tsabit al-Bunany ra. Berkata:

“Saya melatih membaca al-Quran dua puluh tahun, setelah itu baru saya merasakan nikmat membaca al-Quran”.


Abu Turaab berkata:

“Jika seseorang bersungguh-sungguh dalam niat amalnya, dapat merasakan nikmat amal itu sebelum mengerjakannya, dan apabila ikhlas dalam melakukannya merasakan manisnya amal ketika melakukannya, dan amal yang sedemikian sifatnya, itulah amal yang diterima dengan kurnia Allah”.


Al-Hasan berkata:

“Carilah manisnya amal itu pada tiga, maka apabila kamu telah mendapatkannya bergembiralah dan teruskan mencapai tujuanmu, apabila belum kamu dapatnya, ketahuilah bahawa pintu masih tertutup iaitu ketika membaca al-Quran, dan berzikir, dan ketika sujud”.


Ada pula yang menerangkan:

dan ketika bersedekah dan ketika bangun malam. Sejak bilakah kau merasakan telah mengenal Allah? Iaitu setiap kali saya akan berbuat pelanggaran terhadap ajaranNya, merasa malu daripadanya… Malukah kita bila berbuat maksiat!!!





Memahami makna Nusyuz


Isteri melakukan Nusyuz kepada Suami


“…Pergaulilah mereka (istri-istrimu) dengan baik dan apabila kamu tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu tetapi Allah menjadikan padanya (dibalik itu) kebaikan yang banyak
(QS Al-Nisa' [4]: l9).

“…Istri-istri kamu (para suami) adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakaian
untuk mereka…”.
(QS. Al-Baqarah [2]: 187).


Dalam kelangsungan berumah tangga, pada sisi lain seringkali dijumpai berbagai persoalan suami istri. Suka dan duka senantiasa silih berganti dalam kehidupan keluarga. Sadar atau tidak perselisihan, pergaduhan seringkali terjadi dikarenakan latar belakang dan keterbatasan pengertian serta pengetahuan pada masing-masing diri suami atau istri.
Hal ini mewarnai dalam kehidupan berkeluarga

“Sangat senangkah kini mencari suami? kerana ramai isteri di metropolis yang menggugat mahu bercerai suaminya. Alasannya macam-macam. Misalnya, polah suami banyak, tapi penghasilan minima. Alasan lainnya, istri tidak sabaran dan suka menuntut. Yang utama, erosi cinta sudah melanda hati mereka. Fenomena istri yang kian berani menggugat cerai suami dilihat ada dimana mana.

Banyak alasan mengapa istri "lebih ingin" menceraikan suami daripada suami menceraikan istrinya. Yang paling tahu sejatinya ialah pasangan masing-masing. Namun, ada penyebab umum yang paling sering jadi pemicu tekad istri menggugat cerai suami.
Di antaranya, kian banyaknya istri yang menjadi wanita berkerjaya dan penghasilan istri lebih besar. Penyebab lainnya, istri tidak sabaran dan menuntut hal-hal yang melebihi kemampuan suaminya

Adalah suatu dambaan seorang isteri bila suami menunaikan kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya dan dia memperoleh hak-hak dari isteri yang telah Allah tetapkan untuknya. Begitu juga sebaliknya seorang isteri menjadi dambaan suami bila isteri juga menunaikan kewajiban dan memenuhi hak-hak suaminya.

Namun terkadang salah seorang dari pasangan suami isteri ataupun keduanya berbuat tidak menunaikan apa yang seharus ia tunaikan hingga kebahagiaan yang didambakannya hanya sebatas fatamorgana. Persoalan ini ditimbulkan oleh beberapa sebab, yakni mungkin datang dari pihak isteri atau dari pihak suami, pihak kerabat, orang luar atau karena faktor lain.

1. Sebab yang datang dari pihak istri, misalkan: Seorang istri sibuk berkarier di luar rumah hingga menelantarkan urusan rumah tangga bahkan suami pun tersia-siakan, atau Istri tidak mengetahui bagaimana menjalani kehidupan rumah tangga, tidak mengerti hak dan kewajiban terhadap suami.

2. Sebab yang timbul dari pihak suami, misalnya, ia terlalu bakhil kepada keluarga, sangat emosional keras dan kaku dalam tindakan melangkah dan bertindak tanpa peduli dengan istri dan tidak berupaya memberi pemahaman atau mengajak bertukar pendapat dengan istri.

3. Sebab dari pihak keluarga isteri. Seperti wanita yang menikah dengan seorang laki-laki karena dipaksa oleh walinya, padahal ia tidak menyukai laki-laki tersebut sehingga ketika memasuki kehidupan rumah tangga, ia tidak bisa mentaati atau malah membencinya.

4. Sebab faktor lain. Seperti ada perbedaan kejiwaan dan akhlak antara suami isteri pada meningkatnya taraf kehidupan/ekonomi keluarga, menyimpang pemikiran salah seorang dari kedua atau sakit salah seorang dari mereka atau cacat sehingga menghalangi untuk menunaikan kewajibannya.


Dalam Islam persoalan tersebut, sudah digambarkan secara global dan jelas. Istilah yang muncul pada persoalan tersebut adalah ada kata Nusyuz.
Mari kita kaji bersama.


Memahami Nusyuz.

Istilah nusyuz adalah Bahasa Arab, perkataan asalnya ialah al-nasyzu bermaksud tempat yang tinggi. Perkataan nusyuz bererti berada di tempat yang tinggi. Isteri yang nusyuz ialah isteri yang ingkar kepada suaminya dan membangkitkan kemarahannya. Nusyuz suami apabila dia memukul isterinya atau bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadapnya.
( Fairuz al-Abadi: Qamus al-Muhit, 678).

Kesesuaian pengertian ini dengan nusyuz isteri atau suami ialah isteri atau suami yang nusyuz meletakkan dirinya di tempat yang tinggi dengan ingkar kepada perintah Allah yang diwajibkan ke atasnya terhadap suami atau isterinya. Nusyuz ialah kedurhakaan dan meninggi diri wanita dari mematuhi apa yang diwajibkan Allah ke atas mereka, seperti taat kepada suami. Isteri menimbulkan kemarahan suami
(Al-Qurtubi: al-Jami` Li Ahkam al-Quran ibid 5:170 dan 71).

Perempuan nusyuz ialah perempuan yang meninggi diri daripada suaminya, meninggalkan perintahnya, menjauhkan diri daripadanya, mengelak diri dari suaminya, menyebabkan suaminya marah. (Ibn Katsir: Tafsir al-Quran al-Azim, 1: 492) .



Tanda isteri dianggap nusyuz.

Nusyuz isteri ditandai oleh dua perkara.
Pertama,
melalui perbuatan dengan menjauhkan diri, bermuka masam dan enggan ketika dipanggil. Semua ini berlaku setelah sebelumnya dia bersikap mesra.

Kedua
melalui perkataan seperti berinteraksi dengan suami dengan perkataan yang kasar, ia berlaku setelah sebelumnya dia bercakap lembut. (Wahbah al-Zuhaili: al-Fiqh al-Islami Wa Adillatuhu, 7:338).

Ada juga beberapa gambaran yang menandakan seorang isteri itu nusyuz :


1. Suami telah menyediakan rumah kediaman yang sesuai dengan keadaan suami, tiba-tiba isteri tidak mau berpindah ke rumah itu, atau isteri meninggalkan rumah tanpa izin si suami.

2. Apabila kedua suami tinggal di rumah kepunyaan isteri dengan izin isteri kemudian suatu masa isteri mengusir atau melarang suami memasuki rumah tersebut.

3. Apabila isteri bermuka masam atau pun ia memalingkan muka, berbicara kasar dan sebagainya sedangkan suami berkeadaan lemah lembut, bermanis muka dan sebagainya.


Kepada suami bila isteri mengalami nusyuz, maka apa yang dilakukannya ?

Dalam QS. An-Nisa [4]:34, Allah berfirman ; “ …perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi, Maha Besar”.

Dari ayat tersebut ada beberapa tahapan yang harus dilakukan oleh suami yakni Menasehati (bila masih tidak mau taat), maka selanjutnya suami memilih pisah ranjang (bila masih tidak taat lagi), selanjutnya suami bias memukulnya. Namun dalam memukul hendaknya menjauhi muka dan tempat-tempat lain yang menghawatirkan. Karena tujuan memukul adalah untuk memberi pelajaran dan bukan membinasakan.

Maka dari itu, mejaga keluarga yang utuh adalah sangat penting untuk mewujudkan keluarga yang sakinah. Jagalah dirimu, keluargamu dari kerusakan. Bukankah Nabi saw. mengajarkan kepada kita tentang keluarga?

Sebagaimana salah satu Hadits Nabi saw.:


Abu Dawud meriwayatkan dari Hujaim bin Mu’awiyah al-Qusyairi dari ayahnya, ia berkata : saya bertanya : “Wahai Rasulullah apakah hak seorang istri kita pada suaminya ? Sabdanya : “ hendaklah kau beri makan dia jika engkau makan, memberi pakaian kepadanya jika engkau berpakaian. Jangan kau pukul mukanya, jangan kau mengejeknya, dan jangan engkau meninggalkannya kecuali masih dalam serumah…”
( Fiqhu Sunah, Sayid Sabiq, alih bahasa Moh. Thalib, Al-Ma’arif, Bandung, jilid 7 hal. 31-32)



Nabi saw. bersabda :
“ Andaikan sujud kepada selain Allah itu boleh, pastilah saya suruh isteri sujud kepada suaminya”. (HR. Ahmad dai ‘Aisyah. Dan yang diriwayatkan Ahmad dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Abi Auf dalam Nail al-Authar, jilid 2, hal. 4490).


Hanya kepada Allah-lah kita berserah diri dan memohon perlindungan serta petunjuk atas segala persoalan yang menimpa keluarga kita. Hanya Allah-lah tempat kita mengadu atas segala tatanan kehidupan manusia.


2.5.10

Hari ini dan masa lalu



Hari ini adalah masa lalu bagi masa yang akan datang. Begitu juga dengan masa yang akan datang akan menjadi masa lalu bagi masa yang akan datangnya lagi. Semuanya berjalan begitu cepat. Tak heran kiranya, bila kita hanya berpangku tangan dan tidak berbuat sesuatu apa, kita akan ditinggalkan oleh waktu yang terus berlari kencang di hadapan kita.


Masa yang sudah berlalu adalah masa yang tidak akan mungkin kembali dan tak akan pernah kembali lagi. Maka kita sebagai pelaku peristiwa dituntut untuk bersikap arif dan belajar memperbaiki apa yang sudah pernah kita lakukan pada masa lalu. Agar peristiwa pahit atau perbuatan salah yang pernah kita lakukan di masa lalu itu tidak akan pernah terjadi lagi pada masa-masa selanjutnya.


Bagaimana Kita Bila Bicara Mengenai CINTA pada-NYA...?





Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."

Dalam amal ubudiyah, cinta (mahabbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan Rasul-Nya adalah melaksanakan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.

Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya



Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engaku mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu,telah bersatu dalam dakwah pada-MU,telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.


Demikian juga dg Yahya bin Mu’adz bila bicara mengenai kerinduan kepada-Nya;

“Seandainya akal dapat melihat hiburan surga melalui mata imannya, niscaya akan leburlah jiwa ini karena rindu kepadaNya. Seandainya hati dapat mengetahui eksistensi kecintaan ini kepada Khaliqnya, niscaya akan terlepaslah semua sendi-sendinya karena tergila-gila kepadaNya dan niscaya akan terbanglah ruh ini dari badannya karena terkejut ingin menghadap kepada-Nya.” [Yahya bin Mu'adz]


Bagaimana dengan kita bila bicara mengenai cinta pada-Nya...?


“I reached every possible place for shahadah, but it was written in my fate that I should die on my bed. In my opinion there is no deed dearer than my waiting with my horse and shield in darkness of night, the sky to be glittering due to the rain, waiting for the onset of down, so I can attack the enemy”
- Khalid Bin Walid. R.A

20.4.10

Pertolongan dan Perlindungan Allah.

Abu Abbas Abdillah bin Abbas r.a . berkata, Suatu hari aku berada dibelakang Rasullah sallallahu alaihi wasallam, lalu beliau bersabda :

"Wahai pemuda ! Aku hendak mengajarimu beberapa kalimat : 'Jagalah Allah maka Ia akan menjagamu, jagalah Allah nescaya engkau akan mendapati-Nya, bila engkau memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya, bila engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah.

Ketahuilah bahawa seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang bermanfaaat bagimu, maka mereka tidak akan boleh memberi manfaat bagimu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah kepadamu. Dan seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu yang merugikanmu, maka mereka tidak akan boleh merugikanmu kecuali sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah terhadapmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah mengeringkan tintanya".

Hadis riwayat Tirmidzi, hasan sohih.

19.4.10

Hadis pilihan -

'Abdullah b. Umar said that Rasulullah saw said : "The muslim is he from whose tongue and hand a Muslim is safe, and the muhajir he who gives up what Allah has prohibited for him ".
( Bukhari, Muslim )

Abu Hurairah said that Rasulullah saw said : "Beware of envy, for envy devours good (deeds) like fire devours firewood". ( Abu Dawud )


Jabir b. Abdullah said that Rasulullah saw said : "Allah is not merciful to whim who is not merciful to people ". ( Bukhari, Muslim )

18.4.10

Hakikat Sujud

Hakekat Sujud

عن ابي فراس ربيعة بن كعب الأسلمي خادم رسول الله ص م ومن أهل الصفة قال: كـنت أبيت مع رسول الله فآتيه بوضوئه وحاجته, فقال: سلني ؟, فقلت: أسـألك مرافـقـتـك في الجنة, فقال: أو غـير ذلك؟ , فقلت: هـو ذاك, قال: فأعـني علي نفـسـك بكثرة السجود [رواه مسلم]

Dari Abu Faras Rabi`ah ibn Ka`ab al-Aslamy, pelayan Rasulullah SAW dan ia dari ahli Shaffah berkata: Ketika saya tidur bersama Rasulullah, maka sebelumnya saya melayani wudhu` dan keperluannya, lalu Beliau bersabda: “Silakan minta dari ku?”, maka saya berkata: Saya minta dari mu adalah mendampingimu didalam surga, maka beliau bersabda: “Atau selain itu?”, lalu saya jawab: Itu saja Ya Rasulullah, kemudian Beliau bersabda: “Maka berjanjilah kamu atas diriku untuk banyak sujud”. (HR. Muslim).

Hakekat Sujud
Sujud adalah rahasia shalat dan rukun shalat yang paling mulia, ia adalah penutup dalam rakaat seakan-akan rukun-rukun yang sebelumnya adalah sebagai pembukaan bagi sujud.

Sujud dalam hadits diatas merupakan suatu amalan yang pantas untuk diperbanyak dalam melakukannya. Sebab seorang pelayan Rasulullah SAW ingin mendampingi beliau dalam surga dan tidak ada permintaan lain kecuali itu, namun beliau anjurkan untuk banyak sujud kepada Allah.

Sujud adalah sarana yang Allah buat agar manusia melepaskan kesombongan dan keangkuhan dari dirinya, dengan menyadari bahwa asal manusia diciptakan dari tanah dan ia tidak bisa keluar dari asalnya. Tanah adalah lambang kehinaan dan kerendahan diri manusia dihadapan Allah, sehingga sujud akan menjadikan manusia seakan-akan kembali pada asalnya.

Sebenarnya yang mengetahui rahasia sujud atau apa rahasia dibalik sujud tentunya hanya Allah dan Rasulullah SAW, namum kita sebagai orang beriman yang dibekali dengan akal dan iman perlu mancari sesuatu dibalik rahasia perintah sujud baik dalam shalat ataupun diluarnya. Maka dalam hal ini, sujud tersebut ditinjau dari sisi psikologi mempunyai rahasia, diantaranya:

1. Menghilangkan egoisme dan kesombombongan
2. Meningkatkan kesabaran dan kepercayaan kepada Allah
3. Menaikkan stasiun rohani dan menghasilkan energi batin yang tinggi di seluruh tubuh
4. Posisi sujud menunjukkan ketundukan dan kerendahan hati yang tertinggi dan ini adalah esensi dari shalat

S U J U D (SEBAIK-BAIK TEMPAT UNTUK DOA)

عن ابن عباس رضىالله عنه عن النبي صلي الله عليه وسلم قال: أقرب مايكون العبد من ربه وهو ساجد فأكثروا الدعاء فقمن أن يستجاب لكم [رواه أحمد و مسلم و أبوداود و النسائى]

Dari Ibnu Abbas RA dari Nabi SAW bersabda: Kondisi yang paling dekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa, hal itu patut untuk dikabulkan bagimu. (HR Ahmad, Muslim, Abu Daud dan al-Nasai)

Disyariatkan sujud untuk dilaksanakan dengan sempurna karena sujud adalah puncak dari ketundukan kepada Allah dimana saat itu seluruh anggota tubuh mengambil bagian untuk melaksanakannya.

Said bin Zubair berkata: “Bahwa tidak ada sesuatu yang paling disukai kecuali kita menghempaskan wajah kita diatas tanah untuk Allah”.

bila saitan melihat manusia sedang melakukan sujud untuk Allah, setan menempatkan dirinya disuatu sudut sambil menangis dan seraya berkata: malangnya diriku ini, disaat aku diperintahkan untuk sujud, aku menentang perintah itu maka bagiku neraka, tapi mereka melakukannya dan bagi mereka balasan surga.

Keistimewaan sujud merupakan inti dari shalat sehingga Rasulullah SAW mengatakan keadaan terdekat antara hamba dengan Allah adalah ketika sujud. Karena sujud sebaik-baik keadaan bagi seorang hamba terhadap Allah, untuk itu memanjatkan doa kepada Ilahi Rabb pada saat sujud adalah doa yang paling dekat untuk dikabulkan.

HUKUM DOA SAAT SUJUD
Dalam mazhab Hanafiah tidak boleh mengucapkan kata-kata kecuali tasbih saja, bagi Malikiah hukum doa baik urusan agama dan dunia ataupun akhirat saat sujud adalah sunat.
Mazhab Hanabilah meletakkan hukum la ba`sa (tidak apa-apa) doa saat sujud. Sedangkan mazhab Syafi`iyah menganggap sunat muakkad untuk doa saat sujud.

Diantara Doa-Doa :

عن أبي سعيد ان النبي صلي الله عليه وسلم قال: " يا معاذ, اذا وضعت وجهك ساجدا فقل: اللهم أعني على شكرك و حسن عبادتك ". [رواه مسام]
Dari Abu Said bahwa Nabi SAW bersabda: “Wahai Mu`az, apabila kamu letakkan wajahmu saat sujud bacalah: Ya Allah bantu aku dalam bersyukur kepada-MU dan baik ibadah kepada-MU”.

علي رضي الله عنه قال: أحب الكلام الي الله أن يقول العبد وهو ساجد: رب اني ظلمت نفسى فاغفرلى [رواه مسلم]
Ali RA berkata: “Ucapan yang paling disenangi oleh Allah, yang diucapkan seorang hamba saat ia sujud: Ya Allah, aku menzhalimi diriku maka ampunilah aku”.

عن أبي هريرة أن النبي صلي الله عليه وسلم كان يقول في سجوده: اللهم اغفرلى ذنبى كله, دقه و جله, وأوله و أخره , و علا نيته و سره [رواه مسلم]
Dari Abu Hurairah bahwa Nabi SAW mengucapkan saat sujudnya: Ya Allah, ampuni dosaku semuanya, baik kecil atau besar, awal atau akhirnya, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi”.

SUJUD SYUKUR

عن ابي بكرة أن النبي صلي الله عليه وسلم كان اذا أتاه أمر يسره أو بشري به خر ساجدا شكرا لله [ رواه ابوداود و الترمذى ]

Dari Abu Bakrah ”Sesungguhnya apabila datang kepada Nabi SAW sesuatu yang menggembirakan atau kabar suka, beliau langsung sujud terima kasih kepada Allah” (HR Abu Daud dan Tirmizi).

PENJELASAN
Sujud syukur adalah sujud kepada Allah SWT yang dilakukan saat mendapatkan nikmat dan terima kasih atas nikmat yang diberikan Allah SWT, baik berupa kesenangan dunia atau terlepas dari bahaya atau nikmat-nikmat baik yang kita sadari ataupun tidak.

Hukum melakukan sujud syukur menurut kebanyakan jumhur Ulama adalah sunat. Hal itu didasari pada sunnah-sunnah Rasulullah SAW yang senantiasa merealisasikan syukur bukan dengan lisan saja tapi dengan perbuatan seperti sujud syukur.

Ketentuan-ketentuan sujud syukur mancakup syarat wajib dan syarat sah, sebagaimana berikut;

Syarat wajib: Islam, Berakal dan Balig, Bersih dari haid dan nifas.
Syarat sah:
1. Bersih dari hadats dengan wudhu` atau mandi
2. Bersih dari najis baik badan, pakaian, tempat sujud dan duduk
3. Menutup aurat
4. Menghadap kiblat
5. Niat untuk sujud syukur

Cara melaksanakan sujud syukur dapat dimulai dari saat berdiri atau saat duduk dengan:
1. Menghadap kiblat
2. Niat diteruskan dengan takbir
3. Sujud (hanya sekali)
4. Kembali duduk dengan takbir
5. Diteruskan dengan mengucapkan salam

Bacaan Sujud Syukur
Saat sujud dianjurkan untuk membaca bacaan tertentu, tapi dalam hal ini terdapat banyak bacaan yang dapat dibaca. Diantara bacaan tersebut adalah:
1. Bacaannya sama dengan apa yang dibaca saat sujud tilawah/sajadah:
سجد وجهي للذى خلقه وشق سمعه وبصره بحوله وقوته
“Aku sujud kepada Allah yang menjadikan diriku, dan Allah yang membuka pendengaran dan penglihatan dengan kekuasaan dan kekuatan-NYA”

2. Doa yang diucapkan Nabi Sulaiman AS dalam surat al-namal ayat 19 :
رب أوزعنى أن أشكر نعـمتـك التى أنعـمـت عـلى وعلى والدي وأن أعـمل صالحا تـرضاه و أدخـلني برحمتـك فى عبادك الصالحين

‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-MU yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan untuk mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba –MU yang sholeh”
3. Tahmid dengan kesyukuran:
اللـهـم لـك الحـمـد شـكـرا ولـك المـن فـضـلا
“Ya Allah, bagi-MU segala pujian syukur, dan bagi-MU segala pemberian keutamaan”
4. Zikir
سبحان الله و الحمد لله ولا اله الا الله و الله اكبر


SUJUD TILAWAH
عـن أبي هـريرة قـال:قـال النـبي صـلي الله عـليه وسـلم: اذا قـرأ ابن ادم السـجـدة فسـجـد اعـتـزل الشـيطان يـبكى يقـول: يا ويـلتا امـر ابن ادم بالسجـود فسـجد فـله الجـنة وامـرت بالسجـود فعـصـيت فـعـلي النـار [رواه مـسـلم]
Dari Abu Hurairah berkata: bahwasanya Nabi SAW telah bersabda: “Apabila manusia membaca ayat sajadah kemudian ia sujud, menghindarlah setan dan ia menangis seraya berkata, “Hai celaka! Anak Adam (manusia) disuruh sujud, lantas ia sujud, maka baginya surga, dan saya disuruh sujud juga tetapi saya enggan (tidak mau), maka bagi saya neraka”. (HR. Muslim)


Sujud tilawah artinya sujud bacaan. Maksud darinya adalah sujud yang dilakukan pada saat bertemu dalam membaca ayat-ayat al-Quran dengan ayat sajadah. Sujud tilawah dikenal juga dengan sebutan sujud Sajadah. Hukum mengerjakan sujud tilawah adalah sunat, dan dapat dikerjakan dalam shalat dan diluar shalat.

Sujud tilawah dalam Shalat:
1. Bila terbaca ayat-ayat sajadah maka bertakbir terus sujud sekali
2. Kembali berdiri dengan takbir
3. Meneruskan bacaan ayat sholat yang dibaca
4. Bagi makmum mengikuti imam dalam sujud dan tidak boleh sujud sendiri.

Sujud tilawah diluar Sholat:
1. Menghadap kiblat terus takbir dengan niat
2. Sujud sekali dan kembali duduk
3. Mengucapkan salam
4. Bagi pendengar boleh sujud bila pembaca al-Quran sujud

Bacaan Sujud Tilawah

سـجـد وجـهي للـذى خـلقه وشـق سـمعه وبـصره بحـوله وقـوته
“Aku sujud kepada Allah yang menjadikan diriku, dan Allah yang membuka pendengaran dan penglihatan dengan kekuasaan dan kekuatan-NYA”

SUJUD SAHWI

عن أبي سعيد الخدرى أن رسول الله ص م قال: اذا شك أحدكم فى صلاته فلم يدر كم صلي, ثلاثا او اربعا , فليطرح الشك وليبن علي ما استيقن ثم يسجد سجدتين قبل أن يسلم [رواه البخارى]
Dari Abu Said al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya sedangkan ia tak tahu sudah berapa ia shalat, tiga atau empat, maka buanglah keraguan itu dan jelaskan atas apa yang ia yakini, kemudian hendaklah ia sujud (sujud sahwi)dua kali sebelum salam” (HR. al-Bukhari).

PENJELASAN
Sujud sahwi merupakan sujud yang dilakukan dalam shalat sebelum salam disebabkan kelupaan dalam pelaksanaan shalat. Sujud sahwi ini sama dengan dua sujud yang biasa, yakni dimulai dengan takbir dan duduk antara dua sujud baru salam.

Sebab-Sebab Sujud Sahwi
1. Lupa salah satu rukun shalat dan teringat sebelum mengerjakan rukun seperti itu pada rakaat berikutnya, maka wajib kembali mengerjakan rukun ketinggalan tersebut dan terus menyempurnakan shalat. Sebelum salam melakukan untuk sujud sahwi.

2.Lupa salah satu rukun shalat dan ingatnya pada saat/setelah mengerjakan rukun yang sama pada rakaat setelahnya, maka rakaat sesudahnya itu sebagai penggantinya dan rakaat yang lupa salah satu rukun tadi dianggap tidak ada. Selanjutnya menyempurnakan shalat dan sebelum salam melakukan sujud sahwi.

3. Lupa jumlah bilangan rakaat yang telah dikerjakan seperti tiga atau empat, maka diambil bilangan yang kecil dan disempurnakan shalat. Sebelum salam melakukan sujud sahwi.

4. Bila seorang yang melaksanakan shalat sudah salam tapi ada orang yang memberitahu bahwa shalatnya kurang/ ada yang terlupa, maka kembali shalat menambah kekurangan itu dan sebelum salam sujud sahwi.

5.Bila seorang yang melaksanakan shalat sebelum salam teringat bahwa shalatnya lebih rakaat, maka hendaklah ia melakukan sujud sahwi.

6. Bila seorang imam melakukan sujud sahwi, maka makmum hendaknya mengikuti imam, walaupun makmum tidak tahu sebabnya dan begitu juga terhadap makmum yang masbuk belum menyudahi shalatnya.

7.Bila lupa salah satu sunat ab`ad (1. Tasyahhud atau tahiyatul awal, 2. Duduk dalam tasyahhud atau tahiyatul awal, 3. Membaca shalawat dalam tasyahhud awal, 4. Membaca shalawat atas kelurga (Aali) Nabi Muhammad SAW saat dudk penghabisan, 5. Dalam mazhab Syafi`iyah; lupa membaca doa qunut pada shalat subuh dan shalat witir setelah setengah yang akhir ramadhan) dan teringat tidak usah kembali kepad sunat tersebut tapi sebelum salam melakukan sujud sahwi.


Wallahu a’lam bish-shawab. semoga bermanfaat ...

Sumber : Riau Pos.Com