23.10.10

kisah Iskandar Dzul Qarnain dengan Ya'juj dan Ma'juj

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah bahwa:

Dzul Qarnain adalah seorang Raja yang adil dan bijaksana yang telah menjelajahi Bumi sebelah Timur dan Bumi sebelah Barat. Ia adalah seorang mukmin penyebar agama Allah, melaksanakan sebab-sebab dalam mencapai tujuannya dan mempunyai banyak keajaiban atas kuasa Allah SWT. Ia mengajak penduduk negeri-negeri yang ditaklukkannya untuk beriman kepada Allah.

Dalam perjalanannya ke belahan barat bumi, Dzul Qarnain bertemu dengan suatu kaum yang hidup dalam ketakutan yang mencekam. Al-Qur’an menyebut tempat itu sebagai BAIN AS-SADDAIN, sebuah daerah yang terdapat diantara DUA GUNUNG yang sepadan tingginya.

Adalah YA’JUJ dan MA’JUJ. Mereka adalah termasuk keturunan ADAM alahissalam dari keturunan YAFITS bin NUH alaihissalam. Mereka juga adalah makhluk Allah, akan tetapi berparas dan berkelakuan sangat buruk.

Rasulullah SAW bersabda, “Allah azza wa jalla berfirman, ‘Hai Adam!’. Adam menjawab, ‘Aku memenuhi panggilan-Mu’. Allah berfirman, ‘Bangkitlah pada hari kebangkitan neraka!’. Adam pun bertanya, ‘Apakah hari kebangkitan neraka itu ya Allah?’. Allah berfirman, ‘Dari setiap seribu, yang sembilan ratus sembilan puluh sembilan itu ke neraka. Sedangkan yang masuk surga hanya satu. Pada hari itu, anak-anak kecil menjadi beruban dan orang-orang hamilpun melahirkan janinnya’. Lalu Allah melanjutkan firmannya, ‘Sesungguhnya ada diantara keturunanmu yang terdiri dari dua ummat, Aku memperbanyak mereka dalam sesuatu. Mereka adalah YA’JUJ dan MA’JUJ’” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri ra.)

Dzul Qarnain mendapati kaum itu, “Suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan” (QS. Al-Kahfi (18) : 93). Untuk mempertahankan diri, mereka tidak bisa lagi dan sangat ketakutan kepada kezaliman dan kerusakan yang diperbuat oleh Ya’juj dan Ma’juj.

Kaum itu berkata, “Wahai Dzul Qarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya kamu dapat membuat DINDING PEMISAH antara kami dan mereka?” (QS. Al-Kahfi (18) : 94)

Dzul Qarnain menolak tawaran harta dari kaum itu karena dia sudah mencukupi dengan harta yang diberikan Allah kepadanya. Ia hanya mengharap pahala jika dapat menolong mereka. Dzul Qarnain lalu berkata, “Maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat0alat)” (QS. Al-Kahfi (18) : 95)

Meskipun Dzul Qarnain mempunyai banyak bala tentara dan pengikut, ia tetap meminta pertolongan kaum tersebut dan tetap bertawakkal jepada Allah SWT. Inilah yang dinamakan MELAKSANAKAN SEBAB-SEBAB. Mereka lalu mengumpulkan harta, alat-alat, dan bersama-sama membantu Dzul Qarnain membangun DINDING PEMISAH dan menutup celah-celah diantara kedua gunung itu supaya dapat menutup jalan keluar terakhir bagi Ya’juj dan Ma’juj. Dzul Qarnain memenjarakan Ya’juj dan Ma’juj di negerinya sendiri. Bangunan seperti bendungan itu terbuat dari besi. Dinding dan tiang besarnya terdiri dari potongan-potongan besi dan tembaga.

Dzul Qarnain memerintahkan mereka, “Berilah aku potongan-potongan besi” (QS. Al-Kahfi (18) : 96)
Maka kaum itu pun mendatangkan potongan-potongan besi kepadanya. Kemudian dia meletakkan potongan-potongan besi itu bertumpuk satu sama lainnya diatas pondasi. Dan akhirnya besi-besi itu sama rata tingginya dengan kedua puncak gunung itu. Jadi, banunan itu bentuknya benar-benar tinggi dan besar.

“Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu” (QS. Al-Kahfi (18) :96)

Lalu Dzul Qarnain berkata, “Tiuplah (api itu)”. Sebagaimana pandai besi meniup api dengan semprongnya. Mereka pun menyalakan api pada seluruh besi itu hingga membara.
“Beri aku tembaga (yang mendidih) agar aku tuangkan keatas besi panas itu” (QS. Al-Kahfi (18) : 96)

Tembaga mendidih pun dialirkan keseluruh permukaan besi. Sungguh suatu pekerjaan yang sangat sulit dilakukan bahkan untuk dibayangkan. Membangun sebuah DInding Pemisah diantara dua buah gunung tinggi terbuat dari besi dan tembaga. Itulah kelebihan yang diberikan Allah kepada Dzul Qarnain. Suatu mukjizat seperti Allah mengilhamkan Nuh alaihissalam untuk membuat sebuah bahtera yang sangat besar. Maka Dzul Qarnain membuat sebuah Dinding besar yang menyatukan dua buah gunung yang tinggi dengan bahan-bahan yang tidak lazim pada masa itu yaitu BESI dan TEMBAGA.

Adapun Ya’juj dan Ma’juj, “Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melobanginya” (QS. Al-Kahfi (18) : 97)

Keberadaan besi dan tembaga itu membuatnya sangat licin dan sangat sulit untuk didaki ataupun dilobangi. Akhirnya Ya’juj dan Ma’juj terpenjara di balik kedua gunung itu dan kaum itu pun merasa aman.

Dzul Qarnain lalu berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar” (QS. Al-Kahfi (18) : 98)

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi” (QS. Al-Anbiyaa’: 96)

Demikianlah Kisah Dzul Qarnain yang membangun DINDING PEMISAH yang memenjarakan YA’JUJ dan MA’JUJ hingga batas waktu yang ditentukan Allah SWT. Batas waktu yang merupakan salah satu peristiwa besar yang merupakan babak akhir dari kehidupan di dunia. Sesungguhnya dinding itu akan terbuaka pada masa setelah kedatangan al-Masih ad-Dajjal. Dan adalah ISA PUTRA MARYAM alaihissalam yang akan membunuh Dajjal dan meberantas Ya’juj dan Ma’juj di akhir zaman nanti.

Apakah Benar The Great Alexander itu adalah Dzul Qarnain?

ISKANDAR AGUNG (The Great Alexander) yang KAFIR itu bukanlah DZUL QARNAIN yg diceritakan Allah dalam al-Qur'an surat al-Kahfi!

Berhati-hatilah wahai saudaraku, ma'asysyral muslimin wal muslimat...

Begitu banyak Kisah-kisah Israilliyat dan Nashara yang dipercayai sebagai kisah-kisah dari al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. Banyak ustadz/ulama yang mengangkat Kisah The Great Alexander sebagai Kisah Heroik Islami, bahkan mereka mengangkat kisah ini diatas mimbar.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah menjelaskan bahwa:
Iskandar al-Maqduni alias Iskandar Agung alias The Great Alexander adalh anak Raja Philips al-Maqduni yang mencatatkan sejarah bagi DINASTI ROMAWI. Adapun menterinya adalah ARISTOTELES seorang filosof terkenal. Iskandar Al-Maqduni adalah keturunan Iskandariyah. Barangsiapa yang berkata Dzul Qarnain adalh dia, maka orang itu SALAH BESAR dan mengalami kerusakan yang panjang dan tersesat sangat jauh.

Beliau (Ibnu Katsir) juga berkata, Dzul Qarnain yang dimaksud dalam QS. AL-Kahfi adalah seorang HAMBA ALLAH yang MUKMIN, yang beriman dan beramal shalih serta seorang Raja yang adil dan bijaksana.

Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar Zulkarnain alias Iskandar Bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan MENIKAHI puterinya sendiri. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.

Menurut Asy-Syaukany rahimahullah, “Sungguh pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang KAFIR dan FILOSOF. Sedangkan al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” (QS- AL-Kahfi (18): 84).”

Menurut sejarawan muslim, Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.). Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur.

Menurut Ibnu Abbas rahimahullah, ia adalah seorang raja yang shalih. Ia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng.

Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.

Demikian, pendapat ketiga Imam diatas (Ibnu Katsir, asy-Syaukani, dan Ibnu Abbas rahimahullah lebih dapat dipercaya daripada ceita-cerita karangan filosof-filosof kafir barat. Jangan sampai ummat Islam terlena dan tertipu pada kisah-kisah yang sudah diselewengkan oleh Kaum Yahudi dan Nashara. Bahkan banyak juga ulama Islam yang terpengaruh, dan berpendapat hamper sama dengan kaum kafir tsb. Semoga Allah mengampuni mereka… Amiin…


Selengkapnya Kisah Dzul Qarnain dalam al-Quran Surat AL-Kahfi (18) ayat 83-98 (Sumber: Terjemahan al-Qur'anul-karim)

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya". (QS. al-Kahfi (18) : 83)


Perjalanan Dzul Qarnain ke belahan Timur dan Barat Bumi

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu.

Maka dia pun menempuh suatu jalan.
Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: "Wahai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka".

Berkata Dzulqarnain: "Adapun orang yang aniaya maka kami kelak akan mengazabnya dengan azab yang tidak ada taranya".
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami".
Kemudian dia menempuh jalan (yang lain)..

Hingga apabila telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu.
Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya.

Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi).
(QS. al-Kahfi (18) : 84-92)


Pertemuan Dzul Qarnain dengan Kaum yang tertindas oleh Ya'juj dan Ma'juj

Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan.
Mereka berkata: "Wahai Dzulqarnain, sesungguhnya Yajuj dan Majuj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara mereka?"
(QS. al-Kahfi (18) : 93-94)


Proses Pembuatan Dinding Pemisah

Dzulqarnain berkata: "Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka."

"Berilah aku potongan-potongan besi". Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: Tiuplah (api itu). Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: "Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu."
Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya.

Dzulqarnain berkata: "Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar".
(QS. al-Kahfi (18) : 95-98)

MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMAN-NYA.


Note:

Mari mengaji (membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an). Kisah Dzul Qarnain, Ya’juj dan Ma’juj dan Dinding Pemisah dapat ditemukan dalam al-Qur’an Surat al-Kahfi (18) : 83-98.

Kisah Dzul Qarnain dan Ya’juj dan Ma’juj ini disarikan dari terjemah Kitab Shahih Qashashil Qur’an. Karya Syaikh Hamid Ahmad ath-Thahir al-Basyuni. Darul Hadits, Kairo, Mesir. Bab Kisah Dzul Qarnain, Ya’juj dan Ma’juj.

mengenali YA'JUJ dan MA'JUJ

YA'JUJ dan MA'JUJ. Suatu kaum keturunan ADAM alaihissalam dari keturunan YAFITS bin NUH alaihissalam. Mereka juga adalah makhluk Allah, akan tetapi berparas dan berkelakuan sangat buruk.

Abu Sa'id al-Khudri ra. berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah azza wa jalla berfirman, ‘Hai Adam!’. Adam menjawab, ‘AKu memenuhi panggilan-Mu’. Allah berfirman, ‘Bangkitlah pada hari kebangkitan neraka!’. Adam pun bertanya, ‘Apakah hari kebangkitan neraka itu ya Allah?’. Allah berfirman, ‘Dari setiap seribu, yang sembilan ratus sembilan puluh sembilan itu ke neraka. Sedangkan yang masuk surga hanya satu. Pada hari itu, anak-anak kecil menjadi beruban dan orang-orang hamilpun melahirkan janinnya’. Lalu Allah melanjutkan firmannya, ‘Sesungguhnya ada diantara keturunanmu yang terdiri dari du ummat, Aku memperbanyak mereka dalam sesuatu. Mereka adalah YA’JUJ dan MA’JUJ’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ya'juj dan Ma'juj yang zhalim itu telah dipenjarakan oleh Dzul Qarnain di celah DUA GUNUNG yang tinggi dengan DINDING PEMISAH yang terbuat dari BESI dan TEMBAGA. Mereka akan terkurung disana sampai batas waktu yang Allah kehendaki.

Dzul Qarnain lalu berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar” (QS. Al-Kahfi (18) : 98)

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman, “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi” (QS. Al-Anbiyaa’: 96)

Lalu bagaimana kita dapat memahami dan meyakini bahwa mereka masih berada disana saat ini sampai akhir zaman nanti? Allah azza wa jalla Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ingatlah ketika Kaum Nabi MUSA alaihissalam yang tersesat di PADANG TEH selama 40 tahun.

Berkata Musa: "Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu".
Allah berfirman: " (Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Teh) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu."
(QS. al-Mai'dah (5) : 25-26)

Atau Allah menidurkan ASHABUL KAHFI didalam gua selama 309 tahun:

"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).
Katakanlah:" Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi..." (QS. al-Kahfi (18) : 25-26)

Allah Yang Maha Kuasa dengan mudah untuk berbuat apa saja yang manusia tidak akan mampu melakukannya bahkan dengan akalnya sekalipun.

"Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: "Jadilah", lalu jadilah dia..." (QS. Ali Imran (3) : 47)



Keluarnya Ya'juj dan Ma'juj setelah masa kedatangan al-Masih ad-Dajjal dan Turunnya ISA Putera Maryam alaihissalam.

Rasullullah SAW bersabda, “Para nabi adalah saudara anak-anak yang mempunyai satu bapak dengan beda ibu, ibu-ibu mereka banyak dan agama mereka satu. Aku orang yang pertama setelah Isa Putera Maryam, karena tidak ada diantara aku dan dia seorang nabi, sesungguhnya dia (Isa) akan turun, maka apabila kamu melihatnya maka kenalilah ia: Seorang laki-laki yang tinggi sedang, kulitnya antara merah dan putih, dia memakai dua pakaian yang dicelup dengan debu merah, kepalanya seolah-olah meneteskan air walaupun dia tidak kena basahnya, dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menetapkan pajak, menyeru manusia untuk memeluk Islam, maka Allah menyirnakan seluruh kebosanan pada zamannya kecuali Islam, dan ia bersama Allah akan membinasakan al-Masi ad-Dajjal pada zamannya, keamanan terkontrol dimuka bumi hingga singa dapat hidup bersama unta, harimau bersama lembu, serigala bersama kambing, dan anak-anak dapat bermain dengan ular. Dia menetap selama empat puluh tahun di bumi, kemudian wafat dan dishalatkan oleh kaum muslimin” (HR. Ahmad, dari Abu Hurairah ra. Dan dishahihkan oleh al-Adawi dalam kitab al-Fitan wa al-Malahim)


Isa alaihissalam juga akan memberantas Ya’juj dan Ma’juj.

Dari an-Nawwas bin Sam’an al-Kilabi, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Ketika dia dalam keadaan seperti itu, Allah memberi wahyu kepada ISA, ‘Sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba. Tidak satupun kaum yang tunduk jika diperangi oleh mereka. Mereka semakin kuat dari waktu ke waktu’. Kemudian Allah mengeluarkan Ya’juj dan Ma’juj. Dari setiap sisi mereka berkembang. Para penghulu mereka melewati laut kecil Tabristan dan meminum airnya. Sedangkan orang-orang terakhir dari mereka berkata, ‘Dalam laut ini terdapat air yang pahit’. Kemudian Nabi Isa dan para sahabatnya menjadi gelisah, hingga harga satu kepala sapi lebih mahal dari seratus dinar pada zaman kalian ini. Nabi Isa dan para sahabatnya menjadi tidak senang. Lalu Allah mengirimkan cacing-cacing di leher mereka (Ya’juj dan Ma’juj). Mereka pun mati seperti kuda yang mati. Lalu nabi Isa melewati bangkai-bangkai mereka. Mereka (nabi Isa dan para sahabatnya) tidak mendapati satu jengkal tanah pun kecuali telah dipenuhi bau busuk dari bangkai mereka. Nabi Isa lalu mengadu dan mohon pertolongan pada Allah. Lalu Allah mengirim burung-burung yang membawa bangkai-bangkai itu kesuatu tempat yang hanya Allah yang tahu. Kemudian Allah menurunkan hujan yang membasuh bumi hingga menjadi licin. Kemudian diperintahkan pada bumi, “Keluarkanlah buah-buahanmu!” (HR. Muslim)


Kemunculan Dajjal dan Terbukanya Dinding Pemisah yang memenjarakan Ya’juj dan Ma’juj merupakan tanda-tanda akan datangnya Hari Kiamat.

Hudzaifah bin Asid Al-Ghifari, ia berkata: “Rasullullah SAW tiba-tiba muncul di tengah-tengah kami saat kami sedang membicarakan sesuatu. Ketika melihat kami, Rasulullah SAW bertanya, ”Apa yang sedang kalian perbincangkan?”. Jawab mereka, “Tentang hari Kiamat”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya hari Kiamat tidak akan datang hingga kalian menyaksikan – sebelum itu – sepuluh tanda-tanda kedatangannya. Maka Beliau menyebutkannya, yaitu: adanya asap, munculnya Dajjal, keluarnya hewan melata, terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, turunnya Nabi Isa as, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, serta terjadinya tiga gerhana: gerhana di belahan bumi timur, gerhana di belahan bumi barat, dan gerhana di Jazirah Arab. Adapun tanda yang terakhir adalah munculnya api di Yaman yang menggiring manusia menuju tempat berhimpun, al-Mahsyar.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Laa ilaha illallah, celakalah orang Arab karena keburukan sudah semakin dekat. HARI KIAMAT datang sejak kehancuran Ya’juj dan Ma’juj seperti ini – beliau sambil melingkarkan jari jempolnya dengan jari sebelahnya – Zainab binti Jahsy bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami mendapat celaka padahal ada orang-orang yang shaleh diantara kami?”. Beliau SAW menjawab, “YA, jika perbuatan nista sudah banyak dilakukan (manusia)” (HR. Bukhari dan Muslim)

BEBERAPA PENELITIAN TENTANG KEBERADAAN DINDING YA’JUJ DAN MA’JUJ

Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama Buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah Bab al-Hadid. Orang Persia menyebutnya Dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya Tie-Men-Kuan. Semuanya bermakna PINTU GERBANG BESI.

Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul.

Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 m dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi.

Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.

Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di pegunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam maupun Rusia, terletak di Republik Georgia.

Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.

Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.

Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang).

Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Selama 27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu.

Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj-Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.

Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma’juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).

Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya’juj-Ma’juj itu.

Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya’juj-Ma’juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil.

Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.

Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.

Wallahu'alam...


DENGAN TELAH DITEMUKAN BUKTI-BUKTI KEBERADAAN DINDING PEMISAH YA'JUJ DAN MA'JUJ, PERTANDA HARI YANG DIJANJIKAN ALLAH (KIAMAT) ITU MAKIN DEKAT...

Tidak ada seorang manusia atau makhluk pun yang mengetahui kapan pastinya terjadi Hari Kiamat itu. Kita hanya diberi peringatan-peringatan atas tanda-tanda akhir zaman seperti yang telah banyak disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Firman Allah SWT:
Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS. al-A'raf (7) : 187)

Mari kita mempersiapkan bekal kita dengan memperbanyak amal kebaikan, tidak menunda-nunda berbuat baik, dan selalu pada jalur FASTABIQUL KHAIRAT...

"Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan". (QS. Thaha (20) : 15)

MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMAN-NYA...

Wallahu 'alam bishshawwab...
Wassalammu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Note:

Mari mengaji (membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an). Kisah Dzul Qarnain, Ya’juj dan Ma’juj dan Dinding Pemisah dapat ditemukan dalam al-Qur’an Surat al-Kahfi: 83-98)

Penelitian tentang keberadaan dinding pemisah Ya’juj dan Ma’juj, Sumber : http://artikelmenarik.wordpress.com/2010/04/27/mengulas-misteri-tembok-yajuj-dan-majuj-secara-tuntas/

14.10.10

YA Lathif, lembutkanlah our hearts, so we can understand and live with integrity and space destiny because no one could make a field other than Thee O God


YA Lathif, lembutkanlah our hearts, so be gentle as any action that we do. Lembutkanla our hearts to easily accept every decision-Mu, lembutkanlah receptive to our hearts to Your commandments, thus it can use as a torch in our lives, as a counselor in our step.

8.9.10

bermakna kah eidul fitri ku ini

Kita bersyukur kepada Allah kerana sudah berjaya meyempurnakan Ibadah puasa di bulan Ramadan, berjaya menghidup malam-malamnya dengan solat tarawikh, qiamullail, dan beri’tikaf sebagai persediaan hidup kita di alam barzakh dan alam akhirat.

Allah memfardukan amal-amal ibadah secara khsusus kepada kita sebagai syiar untuk kita membuktikan keimanan dan ketaatan kita kepada Allah dan juga bertujuan supaya umat Islam dapat membersihkan jiwa mereka daripada dosa-dosa dan mengangkat mereka ke darjat seorang yang bertakwa.

Namun kejayaan kita mendapat Syurga Allah di hari akhirat dan terlepas daripada azab neraka hanyalah kurnian Allah dan RahamtNya juga . Walau banyak mana sekalipun amal ibadah kita; kita tidak akan mampu terlepas daripada azab Allah dan mendapat kurnia syurganya pada hari akhirat tanpa kurnian Rahmat dan keampunanNya .

Sebab itulah Allah memerintahkan kita supaya mengabdikan diri kepadaNya dengan penuh keikhlasan dan sebagai tanda kesyukuran kita kepada nikmat-nikmat kurniaan Allah kepada kita yang tidak mampu dihitung.

Tugas dan tanggungjawab kita sebagai umat Islam ialah memahami amanah Allah yang telah kita terima dan melaksanakan segala amanah tersebut dengan penuh perihatin dan mengikut petunjuk rasulullah s.aw. Inilah intipati kepada sifat seorang yang takutkan Azab Allah atau sifat orang-orang yang bertaqwa yang akan mendapat Rahmat dan keampunan Allah pada hari akhirat.

Ada dua Amanah Allah kepada kita:

1. Mengabdikan diri kepadaNya dengan penuh keikhlasan atau Hablul minallah
2. Menjadi Pengganti Allah mengurus kepimpinan dan pentadbiran dunia ini kepada matlamat yang telah ditentukan Allah atau Hablul minannas atau melaksanakan amanah sebagai khalifah Allah.

Ada amanah Allah kepada kita berkaitan hubungan kita dengan Allah. Kita wajib mengenal Allah dengan mengenal nama-namaNya dan sifat-sifatNya. Kita wajib mengetahui hak-hak Allah ke atas kita. Kita wajib beriman kepada Allah dan segala perkhabaran yang disampaikan kepada kita melalui Rasulnya nabi s.a.w. di dalam al-Quran dan hadis-hadisnya.

Antara amanah Allah kepada kita ialah kita bertanggungjawab berusaha membersihkan diri dan jiwa kita daripada saki baki jahiliyyah dalam akidah dan akhlak-akhlak kita. Sehingga kita memiliki jiwa mutmainnah dan menjadi hamba Allah yang diredai dan di kasihi oleh Allah azza wajalla. Tanggungjawab ini juga diistilahkan oleh para ulama sebagai tuntutan fardu Ain.

Menyempurnakan keperibadian Islam dengan memiliki kefahaman Islam yang Syumul sebagaimana terkandung dalam al-Quran dan al-Sunnah, memiliki akhlak dan perilaku yang mantap dalam hubungan dengan Allah dan sesama manusia menjadi asas kepada kesempurnaan melaksanakan tugas sebagai khalifah Allah di dunia ini.

Khalifah adalah peganti. Allah telah melantik manusia untuk menggantiNya memakmurkan dunia ini dan memerintahnya mengikut acuan dan sistem yang ditentukan Allah dalam al-Quran. Oleh itu manusia perlu memiliki ciri-ciri seorang muslim yang Rabbani sebelum mereka mampu melaksanakan amanah Allah yang amat berat ini.

Tugas khalifah adalah tugas melaksanakan sistem politik atau pemerintahan berteraskan kehendak-kehendak Allah. Kita tidak akan mampu melaksanakan kehendak Allah untuk memberi manfaat kepada ummah sebelum kita sendiri melaksakan kehendak Allah ke atas diri kita sendiri. Bagaimana kita hendak membawa manusia kembali kepada Allah jika kita sendiri jauh daripada Allah dan sentiasa mengabaikan segala suruhanNya.

Allah yang mengetahui misiNya telah mendidik rasulullah s.a.w. dan membimbing gerakan dakwahnya bagi mengubah manusia sehingga generasi sahabat bersama-sama baginda menjadi generasi al-Quran yang unggul bukan sahaja berjaya mengislamkan seluruh Jazirah Arab malah Islam berkembang sehingga hidayahnya memayungi 2/3 dunia.

Realiti kita.

Kini Jahiliyyah kembali menguasai dunia; menguasai sistem pemerintahan dan jentera penggerak yang menggerakkan pemerintahan dunia. Jahiliyyah menguasai sistem perundangan, sistem kehakiman, sistem pendidikan yang menjadikan dunia dan kebendaan sebagai asas pendidikan dan mengetepikan menjadikan generasi Rabbani sebagai matlamatnya, sistem kebudayaan dan kesenian yang menjadikan nafsu dan keseronokan sebagai tujuan dan sistem pentadbiran urusan agama yang menyempitkan amalan agama kepada rutin-rutin ibadah yang memisahkan identiti muslim daripada individu soleh yang bermanfaat kepada muslim yang lain menjadikan muslim yang hidup hanya mementingkan diri sendiri dan meletakkan keutamaan kepada diri sendiri dan keluarganya sebelum kepada saudaranya yang lain.

Kita lihat ramai umat Islam dibandar dan taman-taman perumahan. berduyun-duyun menunaikan solat sunat tarawikh tetapi mereka tidak mengenali siapakah Imam yang mengimamkan solat mereka, tidak mengenali siapakah saudara muslim yang berada di kiri dan kanan mereka.

Bertaaruf, bersilaturrahim, bertolong-menolong dan amar makruf nahi munkar bukan lagi budaya masyarakat hari ini melainkan mereka yang menyertai gerakan Islam. Semua keadaan ini adalah hasil sistem hidup yang kita warisi daripada zaman penjajah yang bukan budaya Islam yang diwarisi sejak zaman nabi s.a.w.

Selagi umat Islam masih tebal dengan budaya materialistik dan mengutamakan diri sendiri sistem jahiliyyah akan mudah menghasut dan menguasai mereka dan memecahkan kesatuan persaudaraan sesama umat Islam. Tanpa kekuatan ukhuwwah dan kasih sayang sesama umat Islam umat Islam hilang kekuatan mereka yang digeruni oleh musuh-musuh mereka.

Islam bukan sekadar bergembira menyambut hari raya aidil fitri dengan beranika warna baju raya, kuih-muih, berhibur didepan kaca television.

Erti `Aidil Fitri.

`Aidil Fitri amat beerti kepada mereka yang terlibat dalam perjuangan untuk mengembalikan kedudukan Islam ditempatnya yang sebenar. Ketakwaan yang diraih hasil menikmati hidangan al-Rahman di musim Ramadan akan menambahkan tajarrud mereka untuk agama Allah.

Mereka lebih mampu mengasingkan tuntutan emosi, sentimen dan naluri manusiawi jika bertembung dengan tuntutan Rabbani. Tuntutan Rabbani menjadi asas neraca keutamaannya daripada kepentingan pendapat sendiri, puak dan taksub membabi-buta. Sebaliknya sikap ehsan, izzah dengan Islam, memaafkan sesama muslimin dan meletakkan kemaslahatan ummah mendahului segala kepentingan lain.

Bagi seorang pejuang, solat, zakat, puasa, tilawah al-Quran, sedeqah, qiamullail, istighfar dan i’tikaf di bulan Ramdan hanyalah penyempurnaan kepada amal ibadah mereka di hari-hari lain. Ia hanyalah sebagai pencerna dan pembentukan keperibadian mereka bukan matlamat hidup mereka terakhir.

Menjadi syuhada’ dijalan Allah dan pengiktirafan Allah terhadap pengakuan tauhid mereka itulah setinggi-tinggi cita-cita mereka di dunia ini. Itulah kesempurnaan ikhlas, tajarrud dan amal soleh mereka untuk Allah azza wajalla.

Kalau tidak mereka hanya mendapat lapar dan dahaga berpuasa di zaman Islam menuntut pengorbanan mereka ini.

Menjadi pejuang untuk meletakkan Islam di atas mengatasi ism-ism lain adalah tuntutan ketakwaan masa kini, tanpanya kita belum memiliki sifat orang yang bertakwa. Salam `aidil fitri dan semoga Allah menerima amalan jihad kita.

7.9.10

SEBAGAI PERINGATAN UTK KITA BERSAMA!!!

Di dalam hidup manusia, yang penting ialah BERKAT.
Bila hidup kita berkat, diri ini akan selamat.
Apabila diri selamat, rumahtangga jadi sepakat.
Apabila rumahtangga jadi sepakat, masyarakat jadi muafakat. Apabila
masyarakat jadi muafakat, negara kita menjadi kuat. Apabila negara
menjadi kuat, negara luar jadi hormat. Apabila negara luar jadi
hormat, permusuhan pun tersekat. Apabila permusuhan tersekat,
pembangunan pun meningkat. Apabila pembangunan pun meningkat,
kemajuan menjadi pesat.

TETAPI AWAS, apabila pembangunan meningkat, kemajuan menjadi pesat,
kita lihat bangunan naik bertingkat-tingkat.

Ditengah-tengah itu, tempat maksiat tumbuh macam kulat. Apabila
tempat-tempat maksiat tumbuh macam kulat, KETIKA ITU manusia mula
mengubah tabiat. Apabila manusia telah mengubah tabiat,
ada yang jadi lalat ada yang jadi ulat.
Apabila manusia dah jadi ulat, sembahyang makin hari makin liat.
Apabila sembahyang jadi liat, orang baik ada yang bertukar jadi
jahat.
Apabila orang baik bertukar jahat, orang miskin pula nak kaya cepat.
Apabila orang miskin nak kaya cepat, orang tua pula nak mati
lambat.
Apabila orang tua nak mati lambat, tak dapat minum madu telan jerla
minyak gamat.

Yang lelaki, budak budak muda pakai seluar ketat.
Semua nak tunjuk kuat.
Bila berjudi, percaya unsur kurafat.
Tapi hidup pula yang melarat.
Tali kasut dah tak berikat.
Rambut pun jarang sikat.

Yang perempuan, pakai mini sekerat.
Suka pakai baju ketat.
Suka sangat menunjukkan pusat.
Hingga tak pedulikan lagi batasan aurat.
Pakai pulak yang singkat-singkat.
Kadang-kadang ternampak benda 'bulat'.

Bila jadi macam ini, siapa lihat pasti tercegat.
Silap gaya jadi gawat, bohsia bohjan lagi hebat.
Duduk jauh berkirim surat .
Bila berjumpa, tangan berjabat.
Kemudian pakat lawan peluk siapa erat.
Masa tu, nafas naik sampai tersekat-sekat.
Usah peduli agama dan adat.
Usah takut Allah dan malaikat.
Yang penting apa kita nak buat?
Kita 'bukti' lah kita buat.
Akhirnya perut kempis dah jadi bulat.
Apabila perut kempis dah jadi bulat, maka lahirlah
pula anak-anak yang tak cukup sifat.
Bila anak-anak tak cukup sifat, jam tu kita tengok bayi dibuang di
merata tempat.

MAKNANYA KETIKA ITU, IBLIS MULA MELOMPAT.
Dia kata apa? Habis manusia dah masuk jerat.
Habis manusia telah tersesat.
Inilah dia fenomena masyarakat.
Oleh itu wahai saudaraku dan para sahabat,
Marilah kita pakat mengingat,
Bahawa dunia hari ini makin singkat,
Esok atau lusa mungkin kiamat,
Sampai masa kita semua akan berangkat! .
Berangkat menuju ke negeri akhirat.

Di sana kita akan ditanya apa yang kita buat.
Masa tu, sindri mau ingat.

amalan sebelum tidur

Tafsir Haqqi
Rasulullah berpesan kepada Aisyah ra : Ya Aisyah jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara,iaitu :

1. Sebelum khatam Al Qur'an.
2. Sebelum membuat para nabi memberimu syafaat di hari akhir.
3. Sebelum para muslim meredhai kamu.
4. Sebelum kau laksanakan haji dan umrah....

"Bertanya Aisyah : "Ya Rasulullah.... Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?
"Rasul tersenyum dan bersabda : "Jika engkau tidur bacalah :

- Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Qur'an.
- Membaca selawat untukKu dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat.
- Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meredoi kamu.
- Dan,perbanyaklah bertasbih,bertahmid,bertahlil,bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umrah"

Keluasan Neraka

dari Anas bin Malik ra. berkata:
Jibrail datang kepada Nabi saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s. a. w.: "Mengapa aku melihat kau berubah muka?"
Jawabnya: "Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya."

Lalu nabi s. a. w. bersabda: "Ya Jibrail, jelaskan padaku sifat Jahannam."
Jawabnya: "Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Qur'an itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan seorang di hujung barat tersiksa, nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi, dan minumannya air panas campur nanah, dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang tertentu dari orang laki-laki dan perempuan."

Nabi s. a. w. bertanya: "Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu
rumah kami?"
Jawabnya: "Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain 70 kali ganda." (nota kefahaman: iaitu yg lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah s. a. w.: "Siapakah penduduk masing-masing pintu?"
Jawab Jibrail: "Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a. s. serta keluarga Fir'aun sedang namanya Al-Hawiyah.
Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim,
Pintu ketiga tempat orang shobi'in bernama Saqar.
Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,
Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah.
Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa'eir." Kemudian Jibrail diam segan pada Rasulullah s. a. w. sehingga ditanya Rasulullah s. a. w. : "Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?"
Jawabnya: "Di dalamnya orang-orang yg berdosa besar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat."Maka nabi s. a. w. jatuh pengsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibrail meletakkan kepala nabi s. a. w. di pangkuannya sehingga sedar kembali dan sesudah sedar

Rasulullah s. a. w. bersabda: "Ya Jibrail, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?"
Jawabnya: "Ya, iaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu." Kemudian nabi s. a. w. menangis, Jibrail juga menangis, kemudian nabi s. a. w. masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab "Peringatan Bagi Yg Lalai")

Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat
sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku. Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu:

1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat

2. Setiap tingkat mempunyai 70,000 daerah

3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung

4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah

5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik

6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak

7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum

8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular

9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi
lautan racun yang hitam pekat.

10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai

11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

6.9.10

Hukum Mendoakan Bukan Islam Dalam KHUTBAH JUMAAT

Hukum Mendoakan Bukan Islam Dalam KHUTBAH JUMAAT
Dimasukkan oleh IbnuNafis Label: Soal Jawab Ibadah

Oleh: Dr. Asmadi Mohamed Naim


Pada mulanya saya tidak berminat mengulas isu ini. Saya hanya teringat, ketika pengajian saya di Jordan dulu, ada perdebatan mengenai keharusan mendoakan pemimpin Islam (Sultan, Presiden dan sebagainya yang beragama Islam). Tentunya perdebatan mengenai adakah ianya bid'ah atau tidak di antara aliran umum Ahlussunnah dan aliran Salafi tetapi bukan Wahhabi dalam ertikata mereka lebih mengikut pandangan Shaykh Ibn Taymiyyah Rahimahullah dan tidak merujuk kepada Shaykh Abdul al-Wahhab al-Najdi.

Saya juga menyedari bahawa isu ini telah dipolitikkan cukup hangat antara parti-parti politik samada UMNO mahupun PAS. Bila kita membelek surat khabar harian yang dilabelkan sebagai suratkhabar kerajaan seperti Utusan Malaysia dan sebagainya, ataupun portal berita PAS seperti Harakahdaily.net, pertentangan pendapat ini dengan mudah kita lalui.


Pertentangan ini juga berlaku di kalangan orang-orang agama seperti Sahibussamahah Dato' Harussani dan bekas Mufti Perlis Dr. Asri Zainal Abidin Saya tidak meneliti secara jelas apa yang diperkatakan oleh Mufti Perak apabila mengharamkan 'doa YAB Guan Eng masuk Islam atau doa kesejahteraan kepada bukan Islam' di dalam khutbah. Dalam masa yang sama saya membaca ulasan Dr Asri melalui postingnya di dalam lamannya yang dinukilkan oleh sahabat saya Ustaz Khairul Anwar al-Muqry dalam blognya.

Pada saya, dalam berdepan isu ini, kita sepatutnya memahami bahawa kita berdepan dua isu utama iaitu:

1. Mendoakan kesejahteraan bukan Islam secara umum iaitu di luar khutbah.

2. Mendoakan kesejahteraan bukan Islam di dalam khutbah.


Isu Pertama: Mendoakan kesejahteraan bukan Islam di luar khutbah.


Pada saya, tidak ada isu atau tidak ada khilaf (setakat yang saya ketahui) mengenai keharusan mendoakan kesejahteraan bukan Islam di luar khutbah. Ini dijelaskan oleh peristiwa-peristiwa yang berlaku di zaman Rasulullah SAW sendiri apabila mendoakan supaya Islam dikuatkan dengan masuknya antara Abu Jahal ataupun Umar al-Khattab. Bahkan apabila Nabi SAW diusir dan dan dipukul dalam dakwahnya sehingga berdarah, Nabi berdoa: Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.

Isu Kedua: Mendoakan kesejahteraan bukan Islam di dalam khutbah.

Manakala mendoakan kesejahteraan bukan Islam di dalam khutbah, perdebatan ulama dari dahulu hingga sekarang khususnya isu mendoakan Sultan yang muslim dan larangan 'mujazafah' iaitu memuji keadilan sultan atau pemimpin yang zalim dan sebagainya. Adakah amalan itu termasuk dalam sunnah cara berkhutbah iaitu mendoakan kesejahteraan Muslim? Tidak ada isu langsung mengenai doa kepada bukan Islam oleh ulama-ulma Islam sebab doa untuk khutbah dikhususkan kepada kesejahteraan Umat islam.


Kalau kita mengikut analisis aliran Salafi, banyak larangan ketika berkhutbah, antaranya makmum tidak boleh mengangkat tangan ketika berdoa kerana ianya bid'ah dan semua yang bid'ah adalah sesat. Larangan bid'ah ini adalah kerana tidak ada nas jelas makmum mengangkat tangan mengaminkan doa imam. Manakala sekiranya Imam mengangkat tangan berdoa, adalah tidak langsung dibenarkan bahkan haram dan bid'ah mengikut aliran Salafi. Ungkapan 'Sayyidina' pada Nabi Muhammad SAW ketika berkhutbah mungkin juga akan ditentang habis-habisan sebab tidak boleh membuat penambahan dalam ibadah.


Shaykh Al-Buti Hafizahullah dan Shaykh Mustafa al-Zarqa Rahimahullah apabila ditanya mengenai perbuatan mengangkat tangan oleh makmum ketika imam berdoa, mereka lebih suka 'membiarkan tanpa jawapan dengan berkata 'tidak sunnah Imam (bukan makmum) mengangkat tangan ketika berdoa'. Dalam ertikata, makmum mengangkat tangan ketika berdoa kembali kepada dalil umum yang lain mengenai mengangkat tangan meng'amin'kan imam berdoa. Tambahan lagi, tidak ada nas yang menunjukkan sahabat atau ulama melarang mengamimkan doa Imam ketika berkhutbah dengan mengangkat tangan. Dan amalan inilah yang diikuti oleh masyarakat Islam di Malaysia dan di seluruh dunia.

Berbalik kepada isu mendoakan pemimpin Islam dalam khutbah, saya suka menukilkan penjelasan Imam al-Nawawi Rahimahullah (al-Majmuk, j4,h.521):


قال إمام الحرمين: أرى أنه يجب أن يكون الدعاء متعلقا بأمور الآخرة، وإنه لا بأس به بتخصيصه بالسامعين بأن يقول: رحمكم الله، وأما الدعاء للسلطان فاتفق أصحابنا على أنه لا يجب ولا يستحب، وظاهر كلام المصنف وغيره أنه بدعة، إما مكروه وإما خلاف الأولى، هذا إذا دعا له بعينه، فأما الدعاء لأئمة المسلمين وولاة أمورهم بالصلاح والإعانة على الحق والقيام بالعدل ونحو ذلك ولجيوش الإسلام، فمستحب بالاتفاق، والمختار أنه لا بأس بالدعاء للسلطان بعينه إذا لم يكن مجازفة في وصفه ونحوها والله أعلم. (المجموع للنووي، ج4، ص521)

Berkata Imam al-Haramain: Aku melihat bahawasanya wajib doa (ketika berkhutbah) itu berkait dengan perkara-perkara keakhiratan, dan tidak ada kesalahan menkhususkan kepada orang-orang yang mendengar dengan berkata: "Allah merahmati kamu". Manakala doa untuk Sultan, sepakat Sahabat-Sahabat kami bahawa tidak wajib dan tidak mustahab (tidak sunat). Zahir kata-kata pengarang dan ulama lain bahawasanya ia adalah 'bid'ah', samada makruh atau 'khilaf aula' iaitu sekiranya mengkhususkan sultan tertentu dalam doanya. Manakala doa untuk imam-imam Muslimim dan pemimpin-pemimpin Islam dengan kebaikan dan dibantu menegakkan haq dan mendirikan keadilan dan selainnya, dan untuk tentera-tentera Islam, maka ia adalah mustahab (sunat) secara ittifaq (persetujuan ulama). Pandangan yang terpilih )menurut Imam Nawawi): bahawasanya tidak apa mendoakan Sultan tertentu sekiranya bukan 'mengatakan sesuatu yang bukan sifatnya dan selainnya, Wallahu a'lam.

Dari penjelasan Imam Nawawi Rahimahullah di atas ada beberapa perkara iaitu:

1. Kewajipan doa itu berkait dengan perkara-perkara keakhiratan, dan pandangan ini tidak menafikan keharusan bahkan mustahab iaitu juga membenarkan doa yang memasukkan kesejahteraan muslimin di dunia ini beserta dengan doa ke arah perkara keakhiratan.

2. tidak ada kesalahan mengkhususkan kepada orang-orang yang mendengar dengan berkata: "Allah merahmati kamu". Justeru, Khatib boleh mendoakan kesejateraan masyarakat setempat.

3. Manakala doa untuk Sultan, sepakat Sahabat-Sahabat kami bahawa tidak wajib dan tidak mustahab (tidak sunat). Zahir kata-kata pengarang dan ulama lain bahawasanya ia adalah 'bid'ah', samada makruh atau 'khilaf aula' iaitu sekiranya mengkhususkan sultan tertentu dalam doanya.

Zahir ulama mengatakan bid'ah. Kalau mengikut aliran Salafi, semua bid'ah adalah sesat dan masuk ke neraka, wal'iyazubillah. Sebab itu perkara ini menjadi pertikaian di Timur Tengah dan saya lebih mudah memahami 'manhaj sahabat-sahabat Salafi saya di Timur Tengah, kerana mereka agak konsisten dengan manhaj ini. Namun, hujah-hujah Dr Asri dalam komen di blognya menjadikan saya melihat 'manhaj'nya agak 'berselerak'. Pertama, ulama sepakat mengatakan ia bid'ah dan bid'ah pada pandangan buku Dr Asri sendiri semuanya sesat. Lebih tidak konsisten, beliau menggunakan hujah-hujah umum keharusan berdoa kepada bukan Islam dan dalil syaz boleh bagi salam kepada bukan Islam, untuk mengharuskan berdoa kepada bukan Islam dalam khutbah.

4. Manakala doa untuk imam-imam Muslimim dan pemimpin-pemimpin Islam dengan kebaikan dan dibantu menegakkan haq dan mendirikan keadilan dan selainnya, dan untuk tentera-tentera Islam, maka ia adalah mustahab (sunat) secara ittifaq (persetujuan ulama). Saya kira, Khatib sepatutnya mengkhususkan doa ini di dalam khutbah kerana inilah sunnahnya dan amalan imam-imam ummah.

5. Pandangan yang terpilih (menurut Imam Nawawi): bahawasanya tidak apa mendoakan Sultan tertentu sekiranya bukan 'mengatakan sesuatu yang bukan sifatnya dan selainnya.

Sultan dalam sejarah Islam ialah Sultan yang muslim. Tidak ada riwayat setahu saya yang mengatakan berubahnya doa kepada doa kepada bukan Islam ketika pemerintahan Tartar atau ketika pemerintahan bukan Islam di India dan Sepanyol. Saya kira, kita tidak perlu mengubah doa khutbah tersebut kepada kesejahteraan bukan Islam di dalam khutbah sebagai satu lagi 'bid'ah' baru di dalam khutbah. Doakanlah mereka mereka mendapat hidayah di waktu-waktu lain. Kekalkanlah sunnah mendoakan ummah di dalam khutbah-khutbah Jumaat dan mendoakan pemimpin-pemimpin Islam dengan kebaikan mengikut pandangan kebanyakan ulama.

Saya tidak berhasrat untuk menyebelahi Dato' Harussani mahupun Dr Asri. Namun masyarakat perlu diperjelaskan dengan kefahaman yang tepat mengenai perkara ini. Secara peribadi. saya akan terus menentang sebarang usaha menjadikan teks wajib mendoakan bukan Islam dalam teks-teks khutbah yang disebut oleh ulama sebagai satu 'bid'ah'. Pada saya, persoalan ini merentasi pegangan parti politik dan mimbar masjid sepatutnya tidak menjadi mangsa kepada perbezaan pandangan politik. Sekiranya khatib tersilap dalam praktiknya, tegurlah khatib tersebut dan jangan dipolitikkan isu ini.

Wallahu Ta'ala A'lam.

Sumber : Http://DrAsmadinet.Blogspot.Com

nUZUL aL-qURAN

Terdapat dua pendapat mengikut ahli sejarah, termasuk pendapat para ahli hadis, tentang Al-Quran yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad S.A.W.

Pendapat pertama menyatakan bahawa Al-Quran diturunkan p......ada malam Isnin tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah (6 Ogos 610 M). Pendapat kedua pula menyatakan bahawa Al-Quran telah diturunkan pada malam Isnin, tanggal 24 Ramadhan (13 Ogos 610 M). Pendapat yang pertama adalah berdasarkan ayat 41 dari Surah Al-Anfaal, manakala pendapat kedua dasarnya adalah ayat 1 Surah Al-Qadr dan ayat 1-4 Surah Ad-Dukhan.

Walaupun tradisi Nuzul Al-Quran telah lazim diperingati pada tanggal 17 Ramadhan, namun sesungguhnya pendapat kedua adalah lebih kuat dan lebih mungkin benarnya. Ini adalah kerana malam Lailatul Qadar yang dipercayai sebagai malam turunnya Al-Quran bukanlah terjadi pada tanggal 17 Ramadhan.

Adapun dalam firman Allah SWT pada ayat 41 surah Al-Anfaal, yaitu: “…jika kamu beriman kepada Allah dan apa-apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad S.A.W) pada hari Furqan, iaitu di hari bertemunya dua pasukan (diperang Badar, antara muslimin dan kafirin)…” (Al-Anfaal 8 : 41) Ayat tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan Nuzul Al-Quran.

Tetapi sebenarnya ayat tersebut merupakan penjelasan tentang hukum pembahagian harta rampasan perang (seperti yang terdapat pada awal ayat tersebut). ” Ketahuilah sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, RasulNya, kerabat-kerabat (Rasul), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil (orang yang sedang dalam perjalanan)…” (Al-Anfaal 8 : 41).

Dan apabila diteliti dengan lebih lanjut, yakni dengan menghubungkan hadis-hadis tentang turunnya Al-Quran, iaitu pada Lailatul-Qadar dan kelahiran Rasullullah pada hari Isnin serta pada catatan-catatan waktu di dalam takwim, maka akan diperolehi kesimpulan yang lebih tepat, iaitu Al-Quran diturunkan pada hari Isnin, malam 21 bulan Ramadhan, 13 tahun sebelum Rasullulah S.A.W berhijrah ke Madinah.

Menurut para mufassirin, Al-Quran yang diturunkan pada malam “Lailatul Qadar” sebagaimana disebut di atas adalah Al-Quran yang turun sekaligus di “Baitul Izzah” di langit dunia. Sedangkan Al-Quran yang diturunkan ke bumi dan diterima Rasullullah sebagai wahyu terjadi secara beransur-ansur selama sekitar 23 tahun.

wallahualam...

2.9.10

TANDA GAGALNYA RAMADHAN


1. Kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban. Misalnya, tidak berkeinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Sya’ban,
sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam hadits Bukhari dan Muslim, dari Aisyah Radhiallaahu ‘anha berkata, ”Saya tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa selain di bulan Sya’ban.”

2.Meringankan shalat fardhu. “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shalih.” (Maryam: 59) Menurut Sa’id bin Musayyab, yang dimaksud dengan tarkush-shalat (meninggalkan shalat) ialah tidak segera mendirikan shalat tepat pada waktunya. Misalnya menjalankan shalat zhuhur menjelang waktu ashar, ashar menjelang maghrib, shalat maghrib menjelang isya, shalat isya menjelang waktu subuh serta tidak segera shalat subuh hingga terbit matahari.
Orang yang berpuasa Ramadhan sangat disiplin menjaga waktu shalat, karena nilainya setara dengan 70 kali shalat fardhu di bulan lain.


3. Malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah. Termasuk di dalamnya menjalankan ibadah shalatul-lail. Mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shalih. “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Al-Anbiya:90)
“Dan hamba-Ku masih mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah, sampai Aku mencintainya.” (Hadits Qudsi)


4. Kikir dan rakus pada harta benda. Takut rugi jika mengeluarkan banyak infaq dan shadaqah adalah tandanya. Salah satu sasaran utama puasa agar manusia mampu mengendalikan sifat rakus pada makan minum maupun pada harta benda, karena ia termasuk sifat kehewanan (Bahimiyah). Cinta dunia serta gelimang kemewahan hidup sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya. Mendekat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan (Insaniyah).


5. Malas membaca Al-Qur’an. Ramadhan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadhan untuk membaca Al-Qur’an.
“Ibadah ummatku yang paling utama adalah pembacaan Al-Qur’an.” (HR Baihaqi) Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadhan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci.


6. Mudah marah. Ramadhan adalah bulan kekuatan. Nabi Saw bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang selalu menang ketika berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai diri ketika marah.”
Dalam hadits lain beliau bersabda: “Puasa itu perisai diri, apabila salah seorang dari kamu berpuasa maka janganlah ia berkata keji dan jangan membodohkan diri. Jika ada seseorang memerangimu atau mengumpatmu, maka katakanlah sesesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)


7. Gemar bercakap yang sia-sia dan dusta. “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan yang sia sia dan suka berdusta, maka Allah tidak memerlukan perbuatan orang yang tidak bersopan santun, maka tiada hajat bagi Allah padahal dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah) Kesempatan Ramadhan adalah peluang bagi kita untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik. Umar ibn Khattab Ra berkata: “Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga dari dusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia.” (Al Muhalla VI: 178)
Ciri orang gagal memetik buah Ramadhan kerap berkata di belakang hatinya. Kalimat-kalimatnya tidak ditimbang secara masak: “Bercakapdahulu baru berpikir, bukan sebaliknya, berpikir dulu, disaring, baru diucapkan.”


8. Memutuskan tali silaturrahim. Ketika menyambut datangnya Ramadhan Rasulullah Saw bersabda: “…Barangsiapa menyambung tali persaudaraan (silaturrahim) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya. Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya…” Puasa mendidik pribadi-pribadi untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta. Pelaku shiyam jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu. Apabila ada atau tidak adanya Ramadhan tidak memperkuat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan, itu tanda kegagalan.


9. Mensia-siakan waktu. Al-Qur’an mendokumentasikan dialog Allah Swt dengan orang-orang yang menghabiskan waktu mereka untuk bermain-main. “Allah bertanya: ‘ Berapa tahunkan lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari. maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tingal di bumi melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.’ Maka apakah kamu mengira sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang sebenarnya; tidak Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mu’minun: 112-116)
Termasuk gagal dalam ber-Ramadhan orang yang lalai atas karunia waktu dengan melakukan perbuatan sia-sia, kemaksiatan, dan hura-hura. Disiplin waktu selama Ramadhan semestinya membekas kuat dalam bentuk cinta ketertiban dan keteraturan.


10. Resah gelisah dalam menjalani hidup. Resah, khawatir, risau, serta gelisah dalam menjalani hidup juga tanda gagal Ramadhan. Pesan Rasulullah Saw: “Sesungguhnya telah datang bulan Ramadhan yang penuh berkah. Allah telah memfardhukan atas kamu berpuasa di dalamnya. Dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu segala syetan. Di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tiada diberikan kebajikan malam itu, maka sungguh tidak diberikan kebajikan atasnya.” (HR Ahmad, Nasa’i, Baihaqi dari Abu Hurairah) Bila seseorang meraih berkah bulan suci ini, jiwanya mantap, hatinya tenteram, perasaannya tenang dalam menghadapi keadaan apapun.


11. Tidak bersemangat mensyiarkan Islam. Salah satu ciri utama Ramadhan yang berhasil ialah tingkat taqwa yang tinggi. Dan setiap orang yang ketaqwaannya semakin kuat ialah semangat mensyiarkan Islam. Berbagai kegiatan ‘amar ma’ruf nahiy munkar dilakukannya, karena ia ingin sebanyak mungkin orang merasakan kelezatan iman sebagaimana dirinya. Jika semangat ini tak ada, gagal lah Ramadhan seseorang.


12. Khianat terhadap amanah. Puasa adalah amanah Allah yang harus dipelihara (dikerjakan) dan selanjutnya dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak. Puasa itu ibarat hutang yang harus ditunaikan secara rahasia kepada Allah. Orang yang terbiasa memenuhi amanah dalam ibadah sir (rahasia) tentu akan lebih menepati amanahnya terhadap orang lain, baik yang bersifat rahasia maupun yang nyata. Sebaliknya orang yang gagal Ramadhan mudah mengkhianati amanah, baik dari Allah maupun dari manusia.


13. Rendah motivasi hidup berjama’ah. Frekuensi shalat berjama’ah di masjid meningkat tajam selama Ramadhan. Selain itu, lapar dan haus menajamkan jiwa sosial dan empati terhadap kesusahan sesama manusia, khususnya sesama Muslim. Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang berjuang secara berjama’ah, yang saling menguatkan. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam saatu barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf: 4)
Ramadhan seharusnya menguatkan motivasi untuk hidup berjama’ah.


14. Tinggi ketergantungannya pada makhluk. Hawa nafsu dan syahwat yang dikekang selama bulan Ramadhan merupakan pintu utama ketergantungan manusia pada sesama makhluk. Hawa nafsu kepada kebendaan . Jika jiwa seseorang bebas dari kerakusan hawa nafsu dan syahwat setelah Ramadhan, maka yang mengendalikan dirinya adalah fikrah dan akhlaq. Orang yang tunduk dan taat kepada Allah lebih mulia dari mereka yang tunduk kepada makhluk.


15. Malas membela dan menegakkan kebenaran. Sejumlah peperangan dilakukan kaum Muslimin melawan tentara-tentara kafir berlangsung di bulan Ramadhan. Kemenangan Badar yang spektakuler itu dan penaklukan Makkah (Futuh Makkah) terjadi di bulan Ramadhan. Di tengah gelombang kebathilan dan kemungkaran yang semakin berani unjuk gigi, para alumni akademi Ramadhan seharusnya semakin gigih dan strategis dalam membela dan menegakkan kebenaran. Jika bulan suci ini tidak memberi bekal perjuangan baru yang bernilai spektakuler, maka kemungkinan besar ia telah meninggalkan kita sebagai pecundang.


16. Tidak mencintai kaum miskin, anak yatim. Syahru Rahmah, Bulan Kasih Sayang adalah nama lain Ramadhan, karena di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang ekstra. Puasa Ramadhan menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat. Faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kemelaratan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti Anda perlu segera instrospeksi.

17. Salah dalam memaknai akhir Ramadhan. Khalifah Umar ibn Abdul Aziz memerintahkan seluruh rakyatnya supaya mengakhiri puasa dengan memperbanyak istighfar dan memberikan sadaqah, karena istighfar dan sadaqah dapat menambal yang robek-robek atau yang pecah-pecah dari puasa. Menginjak hari-hari berlalunya Ramadhan, mestinya kita semakin sering melakukan muhasabah (introspeksi) diri.
“Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr: 18)


18. Sibuk mempersiapkan Lebaran. Kebanyakan orang semakin disibukkan oleh urusan lahir dan logistik menjelang Iedul Fitri. Banyak yang lupa bahwa 10 malam terakhir merupakan saat-saat genting yang menentukan nilai akhir kita di mata Allah dalam bulan mulia ini. Menjadi pemenang sejati atau pecundang sejati. Konsentrasi pikiran telah bergeser dari semangat beribadah, kepada luapan kesenangan merayakan Idul Fitri dengan berbagai kegiatan, akibatnya lupa seharusnya sedih akan berpisah dengan bulan mulia ini.


19. Idul Fitri dianggap hari kebebasan. Makna Idul Fitri berarti “hari kembali ke fitrah”. Namun kebanyakan orang memandang Iedul Fitri laksana hari dibebaskannya mereka dari “penjara” Ramadhan. Akibatnya, hanya beberapa saat setelah Ramadhan meninggalkannya, ucapan dan tindakannya kembali cenderung tak terkendali, Mereka lupa bahwa Iedul Fitri seharusnya menjadi hari di mana tekad baru dipancangkan untuk menjalankan peranan khalifah dan abdi Allah secara lebih profesional. Kesadaran penuh akan kehidupan dunia yang berdimensi akhirat harus berada pada puncaknya saat Iedul Fitri, dan bukan sebaliknya.